Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Bertemu Senopati lagi


__ADS_3

"Ini tempat yang tadi kamu lihat dari atas bukit. Bukannya kamu sendiri yang ingin kesini?" kata Hideo.


Aneh saja saat melihat Vee celingukan seperti anak ayam kehilangan induknya.


"Dari atas terlihat tidak seramai ini, kak" kata Vee lirih, takut saja kalau dikira aneh oleh orang lain karena berbicara sendiri.


Vee mengamati keadaan sekelilingnya, menatap lautan manusia yang dari beribu-ribu jumlahnya tapi tidak satupun dari mereka yang Vee kenali.


Banyak orang yang menatap aneh pada Vee yang berpenampilan seperti orang yang ingin mendaki gunung, padahal mereka sedang berada di tengah kota.


Beruntung Vee berada di barisan paling akhir dari tumpahan manusia yang tengah menyatu di tempat asing ini. Jadi dia hanya bisa melihat punggung-punggung yang sedang beradu di depannya.


Ada sebuah panggung raksasa yang berada jauh di depan sana. Sepertinya panggung itu akan sangat mewah saat malam hari karena terlihat banyak sekali lampu yang terpasang di sekitarnya.


"Sudah hampir maghrib, kak" kata Vee yang melihat jarum pendek di jam tangannya sudah berada diantara angka lima dan enam.


"Ya" jawab Hideo singkat.


Tiba-tiba sebuah tangan terasa menepuk pundak Vee dari belakang.


Tentu saja membuatnya langsung menoleh karena sedikit merasa terkejut.


"Benar kan ini kamu. Katanya lagi ada acara keluarga?" tanpa ada cadangan jawaban, ternyata James yang bertanya kali ini.


Vee sedikit gugup, ketahuan bohong padahal sebenarnya tidak bohong.


Dengan adanya James disini, berarti bisa dipastikan kalau mereka sedang berada di balai kota.


Tempat yang sudah direncanakan selama beberapa bulan yang lalu akan diadakan konser Akbar dari beberapa penyanyi terkenal dengan bintang tamunya seorang Senopati OW.


"Eh, hai James" kata Vee bingung.


"Tadi kakak aku yang tiba-tiba ngajak jalan, tapi sekarang malah ngilang, hehe" jawab Vee sebisanya.


Akal bulusnya sedikit linglung.


James mengernyit heran, mau dibilang bohong juga tidak enak. Karena dari pakaiannya memang sepertinya Vee tidak ada niatan untuk melihat konser.


"Terus?" tanya James.


"Aku mau mencari kakakku dulu ya, takut kalau sampai nanti aku ketinggalan" jawab Vee yang sudah ingin pergi.


"Tunggu, biar aku antar kamu ya" kata James.


Hideo menggeleng, menyiratkan agar Vee menolak meski gadis itu tidak sedang menatapnya.


"Tidak usah James, soalnya kakakku juga lagi sama kak Kenzo. Males banget kalau nanti mereka ngadu yang enggak-enggak sama bundaku" tolak Vee yang entah dari mana mengikutsertakan nama Kenzo.


"Oh, ok" kata James singkat, membiarkan Vee pergi yang sepertinya memang menuju ke arah parkiran.


James hanya bisa mengendikkan bahu, dan kembali berjalan mencari keberadaan teman-temannya yang tadi menitipkan beberapa makanan padanya.


Entah bagaimana caranya, langkah kebingungan seorang Veeronica malah membawanya ke belakang panggung.


Tempat dimana para artis dan kru sedang bersiap-siap untuk tampil.


Seingatnya acara ini akan dimulai dari jam delapan belas malam, jadi memang sudah sewajarnya jika sekarang sudah terkumpul banyak sekali manusia yang menyebut diri mereka sebagai Fans dari para artis yang akan tampil malam ini.


"Aku kesasar kak" kata Vee sambil terkikik geli.

__ADS_1


Mungkin karena membawa tas ransel dan kamera mahal membuat para petugas keamanan meloloskan Vee sampai sejauh ini dibelakang panggung.


Berada di satu ruangan luas dengan beberapa sekat yang tak dimengerti, Vee berdiri dengan banyak orang yang terlihat sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Segerombolan orang terlihat sedang menghafalkan tarian yang akan mereka tampilkan dengan kostum yang sudah menempel di tubuh masing-masing meski masih belum ada accesories selayaknya penari latar.


Kembali Vee harus mengamati keadaan sekitarnya, menilik satu persatu wajah orang-orang disana.


Dan matanya terhenti pada seorang wanita cantik yang tengah duduk bersisian dengan seorang pria berwajah datar tapi tampan yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


Meski masih ada jarak dari keduanya, tapi tak bisa dibohongi jika tatapan wanita itu terlihat penuh damba pada si pria.


"Kayak nggak asing sama orang-orang yang disana ya kak?" tanya Vee.


Kelemahannya yang mudah lupa pada wajah orang yang baru dikenalnya membuat Vee sering diharuskan untuk berfikir keras saat otaknya merasa mengenali seseorang.


"Hei, kamu wartawan dari mana? Bisa masuk kesini sudah ada izin apa belum? Coba tunjukkan kartu identitas kamu" sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Vee yang sedang mengamati keadaan.


Betapa terkejutnya Vee saat melihat seorang security berada dibalik tubuhnya.


"Hehe, sore pak. Ehm, saya wartawan sekolah pak" kata Vee dengan wajah sok imut.


"Kalau nggak punya izin, dilarang masuk kesini" kata security itu galak.


Vee sedikit gemetar, memang wajar kalau merasa takut saat ketahuan berbuat salah kan?


"Eh, iya. Maafkan saya pak" kata Vee yang sigap balik kanan dan berlari menuju pintu keluar.


Security itu hanya menggelengkan kepala, dan mengambil HT nya untuk mengabarkan pada rekannya yang lain agar memperketat keamanan.


Saat sedang asyik berlari, kembali Vee harus menghadapi seseorang karena tidak sengaja bertabrakan.


Tak mendengar adanya sahutan apapaun, kepalanya tergerak untuk melihat wajah dari orang yang tak sengaja ditabraknya.


Mata Vee membola saat bertatapan dengan mata hazel yang sama dengan mata yang juga ditatapnya tadi siang di atas bukit.


Seketika ingatan Vee tertuju pada wanita yang tadi dilihatnya sedang duduk dengan seorang pria lain yang bukan lagi orang dihadapannya ini.


Pria itu masih saja mengenakan masker, begitupun tampilan pakaiannya masih sama seperti yang tadi.


Tiba-tiba pria itu mencengkeram lengan Vee, rupanya dia masih sedikit emosi dengan kejadian tadi siang.


"Argh" tiba-tiba saja pria itu berteriak sambil melepas cengkeraman tangannya. Vee hanya menatapnya bingung.


"Seperti kesetrum" gumam pria itu yang sudah berdiri dengan jarak dua meter dari Vee.


Melihat pria itu menjauh, segera saja Vee mempercepat langkahnya ke arah lain. Yang penting jauh dari orang ini. Aura berbahaya sangat menonjol darinya.


Dan karena terburu-buru, Vee malah tak menyadari jika dia malah memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari panggung.


"Semoga disini aman" kata Vee lirih sambil mengintip dari celah pintu yang belum ditutupnya dengan benar.


"Ehm, lo siapa?" tanya sebuah suara yang berada dibalik punggung Vee.


Merasa terkejut, Vee menghentikan aksi mengintipnya dan segera menoleh ke sumber suara.


Suara yang sangat menenangkan dan menghanyutkan.


Ternyata si empunya suara itupun tak kalah menarik, pria yang duduk santai dengan wajah teduh itu sedang memandangi Vee. Membuat gadis itu seolah terhipnotis.

__ADS_1


"Ganteng banget" suara batin Vee yang tak bisa dikeluarkan lewat bibirnya.


Vee hanya merasa terpesona pada wajah tampan yang tengah duduk dengan kaki yang diangkat satu dan terlihat penuh menatapnya.


"Hei, lo siapa?" pria itu kembali bertanya pada Vee yang masih saja melongo di tempatnya.


Pria itu tersenyum, melihat ada setoples kacang diatas meja. Pria itu mengambil satu dan melempar ke arah wajah Vee.


Dan lemparan itu tepat mengenai mulut Vee yang tengah menganga hingga membuyarkan lamunan Vee.


Pria itu terkikik geli melihat ekspresi wajah Vee. Dan dia terlihat sabar menunggu pembelaan yang akan Vee tuturkan.


"Eh, maaf kak. Saya salah masuk ruangan" kata Vee yang sudah berwajah merah.


Malu sekali karena dia malah mengunyah lemparan kacang itu dan menelannya.


Saat bersiap balik kanan dan ingin mengambil langkah seribu, kembali Vee mendengar pria ini berbicara.


"Tunggu, lo siapa? Ada perlu apa? Gue nggak akan laporin lo ke security kalau lo mau jujur sama gue" kata si pria yang masih betah di posisi duduknya.


Seperti siswa yang ketahuan menyontek, Vee hanya berdiri sambil menunduk. Tak berani menatap lawan bicaranya.


"Maafkan saya, kak. Saya beneran nggak sengaja masuk kesini, niatnya saya mau ke parkiran. Mau pulang" kata Vee lirih.


Sungguh pria ini merasa sangat terhibur, seperti mengingatkan pada masa-masa remajanya dulu.


"Oh, jadi kamu kesasar? Atau memang sengaja menjadi paparazi?" tanya pria tampan yang sadar saat Vee membawa kamera.


Belum juga mendapat jawaban, tapi tiba-tiba ada yang datang dari pintu yang berada di belakang tubuh Vee.


"Senopati, waktunya kamu di touch up. Sebentar lagi kamu tampil" kata orang dibelakang Vee.


"Hei, kamu siapa?" tanya orang ini.


Vee bingung harus menjawab bagaimana dan harus memanggil apa pada sosok yang tak jelas laki-laki atau perempuan yang tengah berdiri melotot padanya.


Yang jelas, dari name tagnya dia adalah seorang kru di acara ini.


"Ehm, maaf kak. Saya kesasar sampai masuk kesini" kata Vee jujur.


Hideo muncul dari balik tembok, tapi saat dia sampai di ruangan ini dan bertatapan dengan Senopati, mereka berdua malah sama-sama berteriak.


"Aargh" teriak Senopati dan Hideo secara bersamaaan, tangan mereka juga sama-sama memegangi dada mereka masing-masing.


"Oh Senopati, kamu kenapa?" tanya kru itu dan buru-buru menghampiri Senopati.


Sedangkan Vee sudah tentu menghampiri Hideo yang masih mengernyitkan wajahnya seolah sedang kesakitan.


"Kakak kenapa?" tanya Vee panik.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2