Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
pagar gaib


__ADS_3

"Bagaimana kalian bisa disini?" tanya Vee heran.


Ho Ro dan Ci mendekat dengan bimbang, dan Kakek Hasan sedikit bergeser agar mereka bertiga bisa duduk dengan mereka.


"Dengan kamu membicarakan mereka saja, itu sudah seperti sebuah undangan bagi mereka agar mendekat" kata kakek Hasan.


"Maksudnya, kek?" tanya Vee yang masih belum mengerti.


"Tadi kan kamu membicarakan mereka bertiga sama kakek, dengan hanya menyebutkan namanya saja itu sudah seperti sebuah panggilan bagi mereka untuk datang" kata kakek Hasan menjelaskan.


"Itu berlaku untuk semua makhluk gaib atau hanya untuk mereka bertiga saja, kek?" tanya Vee.


"Tentu untuk semua makhluk gaib, cu. Meskipun kamu hanya membatin saja, itu seperti sebuah panggilan untuk mereka agar datang" kata kakek.


"Bagaimana kalau aku panggil Sri? Apa dia bisa kesini juga?" tanya Vee berpendapat, siapa tahu dengan memanggil namanya bisa mendatangkan sosoknya.


Jadi, Vee bisa mengembalikan Hideo padanya agar hidup Vee tidak terganggu lagi dengan berbagai makhluk gaib.


"Sri itu bukan makhluk gaib, Vee. Arwahnya sudah pergi ke sisi Tuhannya" kata Hideo.


"Terus kamu kenapa nggak pulang ke sisi tuhan, om?" tanya Vee heran.


"Kamu ingin saya benar-benar mati, Vee?" tanya Hideo dengan tampang masamnya.


"Ya bukannya gitu, om. Aku heran saja, kenapa harus aku sih yang dapat mandat untuk mencarikan tubuh pengganti buat kamu. Kan aku nggak ada basic sama sekali di bidang seperti ini" keluh Vee.


Jika ada kesempatan, boleh lah ada orang lain yang menggantikannya untuk mencarikan tubuh pengganti untuk Hideo.


"Saya juga tidak mengerti, Vee. Kalaupun ada kesempatan, saya lebih memilih untuk hidup di zaman saya sendiri saja" kata Hideo yang juga keberatan karena kembali dalam wujud asap di zaman yang sangat berbeda.


"Di zaman ini, banyak hal baru yang sama sekali belum pernah saya jumpai sebelumnya. Dan saya sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri" kata Hideo yang merasa nyaman untuk mengutarakan isi hatinya sore ini.


"Pangeran ikut kami saja ke dunia kami. Disana kamu bisa menjadi pimpinan kami, karena ratu kami rupanya juga tertarik pada pangeran" kata Ho menawarkan kedudukan lagi pada Hideo.


"Saya tidak sudi berhubungan dengan kaum kalian. Kaum kerdil, tak ada menariknya sama sekali" pedasnya mulut Hideo membuat HoRoCi mendecak sebal.


"Pantas saja banyak yang ingin membunuhmu, om. Omongan mu sangat menyakiti hati makhluk lainnya" kata Vee yang ikut sebal mendengar ucapan Hideo.


"Itu bukan urusan kamu, Vee" kata Hideo sambil memalingkan muka.


"Sebentar lagi sudah masuk waktu surup, cu. Lebih baik kamu segera pulang. Bawalah garam kasar ini, lalu baca ayat kursi tiga kali, surat tiga kul sebanyak tiga kali, dan tiupkan ke garam ini. Setelah itu sebarkan ke sekeliling rumahmu" kata kakek Hasan sambil memberikan sekantong kecil garam kasar pada Vee.


"Semoga pertolongan Allah selalu menyertaimu. Kakek pamit dulu, Assalamualaikum" kata kakek Hasan sambil melambaikan tangannya.


Dan ajaib, kakek tua itu menghilang seperti sedang berteleportasi.


Lagi-lagi Vee berurusan dengan makhluk aneh, dia hanya menggelengkan kepalanya karena secara tidak sengaja malah mendapatkan nasib seperti ini.


"Waalaikumsalam" Vee membalas salam kakek Hasan dengan lirih.


Berurusan dengan para makhluk gaib tidak pernah terlintas dalam benaknya selama ini.


"Aku mau pulang, kalian mau ikut denganku atau pergi duluan?" tanya Vee kepada empat makhluk yang hanya bisa dilihat olehnya.


"Ikut denganmu, ikut denganmu" teriak ketiga bocil setan kesenangan.


Selama ini memang mereka bertiga sangat ingin bisa merasakan naik motor. Sampai-sampai mereka bertiga sering mengganggu pengguna jalan yang kebetulan melintas di depan rumah bunda Vani saat malam hari.

__ADS_1


"Ok, ayo pulang" kata Vee yang sudah bersiap diatas motornya sementara ketiga bocil sudah mencari tempat yang nyaman juga.


Mereka bertiga jadi rebutan kan agar bisa duduk di depan agar bisa melihat pemandangan sore.


"Jangan rebutan dong" bentak Vee, dan ketiganya terdiam. Menurut pada petunjuk yang Vee katakan.


Ci yang terkecil naik di depan, sementara Ho dan Ro di belakang. Dan Hideo terbang melayang di samping mereka.


"Aaaaa..... uuuu.... yeyeyyee" mereka bertiga kegirangan.


Berteriak-teriak diatas motor dengan sedikit berjingkrak hingga membuat motor Vee sedikit oleng.


Pasti pengguna jalan lainnya, yang kebetulan melihat Vee yang melintas seperti sedang membawa beban terlalu berat akan heran.


Dia kan sendang sendirian, kenapa bisa oleng begitu. Padahal ada tiga makhluk kerdil yang sedang berjingkrak di atas motornya.


"Jangan teriak-teriak dong, berisik tahu!" bentak Vee.


Mereka bertigapun terdiam, tapi tak lama. Kembali mereka berulah dengan melakukan gerakan aneh diatas motor.


"Diam kenapa sih! Bahaya tahu!" tuh kan, dimarahi lagi sama Vee


Akhirnya, dengan penuh liku, Vee mulai memasuki gapura di komplek perumahannya.


"Sore pak" Seperti biasanya, Vee selalu menyapa satpam komplek yang sedang berjaga di dalam pos.


"Sore Vee" jawabnya.


Satpam itu melihat keanehan pada motor Vee yang seperti keberatan. Tapi dia hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu memang unik, Vee" gumam security itu.


"Akhirnya, sampai rumah juga" kata Vee yang menaruh motornya di depan garasi untuk menutup pintu gerbang dulu.


"Terimakasih lho ya" kata Vee sambil melepaskan helmnya.


Kini dia mengambil kunci di dalam tasnya untuk membuka pintu garasi.


Tapi rupanya Ci mencium adanya makanan di dalam kantong kresek dihadapannya. Tangannya tergerak untuk mengacak-acak kantong itu.


"Hei, kamu ngapain Ci?" tanya Vee yang melihat kantong kresek itu sudah sedikit sobek.


"Aku lapar, Vee. Aku mencium bau makanan disini" kata Ci.


"Hidung kamu sudah kayak kucing saja" sindir Vee yang melupakan adanya tulang di motornya.


"Sebentar aku ambilkan" kata Vee lagi. Mengambil kantong kresek itu dan meletakkan di dalam garasi. Ketiga makhluk kerdil itu mengikuti langkah Vee.


"Kalian makan disini saja ya, ingat jangan sampai berantakan" ancam Vee sebelum memberi mereka makanan.


"Siap, bos" kata mereka dengan riang.


Mereka bertiga mulai bergerumbul bersama, dan sudah mengangkat beberapa tulang ditangannya dan siap memasukkan ke dalam mulut saat Vee kembali menghentikan aksinya.


"Eeits!! Tunggu dulu. Sebelum makan itu berdoa dulu dong. Masak kalah sama anak TK. Ayo berdoa dulu" kata Vee.


"Kami setannya Vee, tidak perlu berdoa" kata Ro.


"Oh, tidak bisa. Selama kalian bersamaku, berdoa sebelum makan harus dijadikan kebiasaan. Ayo, aku tuntun kalian buat berdoa" kata Vee.

__ADS_1


Mereka bertiga menurut lagi, mengikuti doa sebelum makan yang Vee ajarkan.


"Nah, sekarang sudah boleh makan" kata Vee melebarkan senyumnya.


Vee melihat mereka makan dengan aneh, hingga kepala Vee ikut teleng karena belum terbiasa melihat HoRoCi yang makan dengan bibir vertikal begitu.


Setelahnya, Vee memasuki kamar mandi untuk berwudhu dan melakukan apa yang telah Kakek Hasan ajarkan tadi.


Membaca beberapa surat dalam Al Qur'an dan meniupkan pada garam kasar di dalam kantong. Lalu menebarkan disekitar rumahnya.


"Memangnya kenapa sih aku harus menebarkan garam ini, om?" tanya Vee setelah garam terakhir sudah habis dalam genggamannya.


Kini dia sedang bersama Hideo di halaman belakang.


"Karena mereka, para makhluk gaib itu mempunyai indra penciuman yang sangat tajam, Vee. Mereka sedang mengincar saya agar mau bergabung dengan salah satu dari mereka" kata Hideo.


Vee memicingkan matanya, alasan yang Hideo katakan terlalu berlebihan menurutnya.


"Alasan yang tidak masuk akal. Ayo dong om, kasih tahu alasan yang sebenarnya" kata Vee sedikit memaksa.


"Memang itu alasannya, Vee. Makhluk halus itu jarang sekali yang berjenis laki-laki, dan saya, yang mereka anggap sebagai makhluk halus dengan jenis laki-laki akan menarik perhatian mereka agar bisa terus memberikan keturunan bagi salah satu dari golongan mereka" kata Hideo menjelaskan.


"Dan beruntungnya saya juga punya ilmu yang cukup untuk melawan mereka jika ajakannya saya tolak" kata Hideo lagi.


"Mereka itu egois, Vee. Jika keinginan mereka tidak terpenuhi, maka mereka akan melawan sampai mereka hancur. Tapi jika mereka sudah terikat suatu perjanjian, maka mereka juga akan setia sampai tuannya meninggal" penjelasan Hideo sedikit membuat Vee ngeri.


"Oh, jadi kalau salah satu dari mereka berhasil membawamu, mereka akan menjadikanmu mesin produksi keturunan ya om?" tanya Vee.


"Bisa dibilang seperti itu" jawab Hideo.


"Terus gunanya garam ini untuk apa?" tanya Vee lagi.


"Itu untuk pagar gaib yang bisa menghancurkan mereka saat berusaha memasuki rumah ini. Dan untuk sementara, rumah ini aman untuk saya dan ketiga bocah setan itu" kata Hideo.


"Bisa nggak efek dari pagar gaib itu hilang?" tanya Vee, takut juga kan kalau seandainya Vee tidak tahu jika efeknya hilang dan rumahnya dimasuki berbagai macam makhluk halus.


"Semua yang tercipta di dunia ini ada masanya, Vee. Terkecuali tuhan yang menciptakan alam semesta" jawaban Hideo tak membuat Vee puas.


"Jadi, berapa lama efeknya bisa bertahan? Agar aku bisa memperkuatnya sebelum di jebol oleh mereka" kata Vee sambil menyiratkan tanda kutip.


"Tergantung seberapa banyak makhluk yang mencoba untuk meruntuhkannya. Dan sebaiknya, kamu malam ini bersiap untuk mendengarkan banyak gangguan dari luar rumah" kata Hideo yang mulai melihat beberapa makhluk mulai datang.


Kilatan mata Hideo mulai terlihat, sesekali seringainya mengeluarkan taring untuk menakuti makhluk yang datang.


Tentu semua itu dilakukan saat Vee tak melihat ke arahnya, karena Hideo tahu jika Vee akan merasa takut padanya saat melihatnya sedang menggunakan kekuatan.


"Sebaiknya kita masuk, Vee. Sudah semakin sore, sebentar lagi waktunya Maghrib" kata Hideo.


Vee tahu ada yang disembunyikan oleh asap pria ini, tapi demi keamanannya sendiri. Memang lebih baik untuk masuk ke dalam rumahnya saja.


Dan sebenarnya, apa yang akan terjadi malam ini?


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2