
"Alhamdulillah, tendanya bisa diambil" sorak Vee senang karena berkat bantuan teman-temannya, dia bisa menurunkan tendanya dan sedang berencana untuk mendirikannya lagi.
"Makanya, pasaknya dipakai bego!" kata James yang masih menggaruk sebagian badannya yang gatal karena gigitan semut saat menaiki pohon besar itu sendirian.
"Makasih ya James, kamu baik sekali" ujar Vee dengan senyum lucunya, sambil tetap sibuk memperbaiki tendanya dibantu Rey dan Daren.
"Kalian jangan jauh-jauh ya" ujar Vee setelah berhasil mendirikan tendanya dan duduk bersama ketiga kawannya.
"Kenapa?" tanya Vee heran karena Daren terus saja memperhatikan.
"No, I just thinking that You are so charming" jawab Daren santai.
Memang Vee terlihat sedikit berkilau dibawah temaramnya sinar bulan. Rambutnya seolah sedang memantulkan pendar cahaya dari sinar bulan yang turun ke bumi.
"Hadeehh .. Gombalan receh lo nggak bakalan sukses masuk ke hatinya Vee. Dia sudah ada yang punya" celetuk James yang membuat Vee mendelik ke arahnya.
"Apaan sih James, diam!" seru Vee sambil menunjuk ke arah bibir lemes James.
Dia belum tahu saja perjanjian pernikahan yang dilakukannya bersama Seno.
Kalau mungkin menurut wanita lainnya, dicintai dan dinikahi Seno adalah sebuah mimpi yang terwujud, tidak berarti sama bagi Vee yang masih menginginkan kebebasan dan tipe pria yang berbeda dengan Seno.
Tipenya ya seperti Daren ini, wajah Timur Tengah dengan sedikit bulu tipis di bagian rahang dan pipinya, dengan mata dan rambut kecoklatan dan bulu mata lebat, bukannya wajah Asia yang putih rupawan dengan wajah mulus dan mata sedikit sipit seperti Seno yang digilai hampir semua gadis.
"Awas lo, Vee. Banyak buaya bertebaran. Lo aja yang masih terlalu lugu dalam menilai laki-laki" tutur James lagi, didepan Daren yang berwajah masam padanya.
"Apaan sih kamu ini, James. Diem deh" ujar Vee lagi.
"Gue cuma ngasih tahu doang sih. Terserah lo mau percaya atau enggak" ucap James malas.
Kini mereka semua sedang duduk melingkar di bawah naungan bulan dengan api unggun di tengahnya.
Bulan purnama kali ini terasa berbeda karena entah mengapa sejak tadi kalung HoRoCi masih saja bergetar dan bahkan sekarang terasa sedikit panas.
Bukannya Vee mengesampingkan itu semua, hanya saja dia harus menyembunyikan semua itu dihadapan kawan-kawannya.
Dan bersikap ceria seolah tak terjadi apa-apa adalah jalan ninjanya.
Acara api unggun berakhir hampir tengah malam karena jadwal yang harus diubah dengan adanya angin kencang dan hujan deras yang tadi sempat melanda kawasan itu.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa lo langsung hubungi kita ya, Vee" kata Rey yang sedikit merasa tak nyaman juga malam ini. Tapi untuk bisa melindungi Vee di dalam tendanya juga tidak mungkin.
Bisa dikeroyok semua orang kalau Rey nekat masuk ke tenda Vee. Padahal niatnya hanya ingin melindungi.
Vee masuk ke dalam tendanya setelah berpamitan pada semua. Termasuk pada Daren, salah satu alasan mengapa dia mau ikut camping ini adalah adanya lelaki itu.
"Haduh, ngeri juga sih kalau sendirian begini" keluh Vee.
"Coba saja tadi nggak ada angin kencang, pasti si Sulis masih ada di dalam tenda ini bersamaku" gerutu gadis itu sambil bersiap tidur.
Sebenarnya, ada dua orang dalam satu tenda. Dan kebetulan Vee berada satu tenda dengan Sulis yang memilih untuk bergabung dengan temannya di tenda yang lain saat tenda milik Vee terbang terbawa angin tadi sore.
Si Sulis ngambek, gara-gara Vee yang sulit di atur.
Tadi Sulis bilang untuk memasang pasak tenda agar lebih kuat, tapi Vee dengan entengnya menolak dengan alasan cuaca sedang cerah, jadi tidak perlu pasak kecil itu tendanya juga sudah kuat.
"Coba kalau aku tadi nurut, pasti aku nggak sendirian" kata Vee yang sudah bersiap tidur.
Kelelahan membuatnya mudah mengantuk, dan tak butuh waktu lama untuk menggerutu, Vee sudah memasuki alam tidurnya.
Dia tak tahu jika ada bahaya sedang mengintainya. Dan bahaya itu sedang berusaha mencari celah agar bisa menyerang Vee di waktu yang tepat.
Seolah terkena sirep!
Tak ada satupun mata yang terbuka di malam menjelang pagi ini. Saat dimana kekuatan hitam sekaligus kekuatan putih sedang berada di puncak tertingginya.
Di sepertiga malam.
Saat dimana banyak penyerang ilmu sihir melancarkan aksinya.
Saat dimana para lelembut berada di puncak tertinggi kekuatannya.
Saat dimana para pelaku tirakat berada di pusat ujiannya.
Dan juga saat dimana semua doa akan terkabul jika dipinta dengan segenap jiwa.
Tapi di saat yang sama ini, Hideo yang keluar dari raga Seno dan sedang berjuang untuk membebaskan ibunya sedang berada di masa yang cukup sulit karena bertatap muka dengan musuhnya yang nyata.
Musuh yang mengetahui titik terlemah dalam hidupnya. Musuh yang sudah memperhitungkan cara penyerangannya. Musuh yang tahu jika hal terlemah dari rivalnya adalah pemilik hatinya sendiri.
__ADS_1
Pria berkupluk hitam yang tengah memperlihatkan wajah Vee yang sedang ketakutan.
Hal yang sebenarnya terjadi adalah, Vee yang malam itu tengah tertidur pulas ternyata di datangi oleh sosok wanita berwajah hitam yang selama ini selalu menampakan diri padanya saat di kampus.
Awalnya sosok itu tidak begitu bernafsu untuk mengutarakan maksudnya pada Vee. Namun karena pengaruh dari kekuatan pria berkupluk hitam, sosok wanita berwajah hitam itu jadi terlihat ingin menyerang Vee.
Saat Vee tertidur, angin dingin merambat pelan dari ujung kakinya yang tertutup kaos kaki tebal. Rasa dingin itu menjalar naik hingga Vee merasa menggigil kedinginan.
Resleting tenda itu sebenarnya tertutup rapat. Tapi entah darimana datangnya angin sepoi yang menyebabkan tenda Vee bergerak pelan. Seolah ada kipas angin di dalamnya.
Rasa dingin membuatnya terganggu hingga membuat netranya harus terbuka perlahan.
Sama halnya manusia, rupanya sosok wanita berwajah hitam itu nampak terhipnotis oleh kekuatan pria berkupluk hingga membuatnya lupa terhadap tujuannya mendekati Vee.
Hanya ada keinginan untuk mencelakai Vee yang terus tertancap di ingatannya.
Saat Vee perlahan membuka matanya, sudah nampak sosok wanita itu menyeringai dengan mata menyala dan senyum mengerikannya. Sungguh tak seperti sosok yang selama ini Vee lihat, sosok yang pendiam dan lugu.
Melihat itu semua tentu membuat Vee merasa ketakukan. Rasa kantuknya tiba-tiba hilang. Berganti rasa awas akan sesuatu yang bersiap menyerang.
"Astaghfirullah, Tuhan" seru Vee yang terkejut dengan si wanita yang berdiri di hadapannya.
"Apa maumu?" tanya Vee berpura-pura berani, dengan suara yang dipaksakan lantang dan berwajah garang.
Tapi yang terlihat malah sebaliknya, wajah ketakutan Vee yang terpampang nyata.
"Ya Allah ya Tuhanku, tolonglah aku" gumam Vee dalam hatinya, dan entah melihat penampakan mengerikan ini membuatnya lupa dengan semua bacaan-bacaan yang sudah dihafalnya sejak kecil.
"Ya Allah ya Tuhanku, tolonglah aku dengan semua perantaramu" ujar Vee dalam hatinya dengan mata awas yang tak pernah lepas dari sosok di depannya ini.
Sosok yang semakin lama semakin terlihat menyeringai mengerikan dengan kedua tangan terangkat sebatas dada dan menampilkan deretan kuku hitam dan tajam yang pasti akan menyakitkan jika terkena tusukannya.
"Kenapa wujud mu jadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya?" gumam Vee sambil terus mengamati sosok itu.
Bahkan Vee merasa sangat takut untuk sekedar berkedip.
Pemandangan inilah yang sedang diperlihatkan oleh si pria berkupluk hitam pada Hideo.
Saat dimana Vee terlihat ketakutan saat mengamati sosok wanita berwajah hitam yang sedang dipengaruhi oleh kekuatan jahat si pria berkupluk.
__ADS_1