
Tak lama setelah pesawat yang ditumpangi Senopati dan Vee take off dari Bandara Abdurrahman Saleh, Seno membisikkan sesuatu yang membuat Vee jadi tidak tenang.
Orang tua Seno duduk tepat di depan mereka, sedangkan beberapa bodyguard yang mereka bawa hanya ada dua orang yang sama-sama duduk di penerbangan first class ini, selebihnya mereka berjaga-jaga di kelas lainnya.
"Vee, ada beberapa orang jahat yang membuntuti kita di dalam pesawat ini" kata Seno lirih.
Seketika Vee menegang, tentu dia merasa khawatir karena bukan hanya keselamatannya saja yang terancam tapi juga orang tuanya.
"Jangan bercanda di saat yang tidak tepat begini kak, aku bisa marah padamu" ucap Vee yang masih berusaha tenang.
"Saya tidak bercanda Vee, ehm... Mungkin ada sekitar empat orang yang sedang mengincar kita. Satu dari tiga orang itu adalah seorang wanita yang tadi tidak sengaja menyenggolmu saat memasuki pesawat ini" kata Seno sambil memejamkan matanya, seolah sedang mendengar bisikan angin.
"Wanita yang tadi memakai blazer coklat selutut itu ya kak?" tanya Vee yang kini sedikit mengedarkan pandangannya.
"Nggak akan kelihatan Vee, sudah ya kamu istirahat saja dengan nyaman. Biar mereka akan saya awasi dari sini" ucap Seno.
"Seperti punya kekuatan super saja. Coba kalau kamu punya kekuatan super kak, nggak akan mungkin jatuh dari sepeda motor" cibir Vee yang masih saja merasa khawatir.
"Lagian darimana kakak bisa tahu kalau ada yang membuntuti kita? Ah, kakak cuma mau menakutiku saja ya. Dasar menyebalkan" kata Vee sambil memukul ringan lengan Seno.
"Baiklah, anggap saja seperti itu. Yang penting kita harus tetap waspada ya. Sekarang kamu istirahat saja, penerbangan kita masih lama" kata Seno.
"Oh iya kak, ini kan pertama kalinya kakak naik pesawat? Kenapa bisa sesantai ini? Kakak nggak merasa takut atau apa gitu? Kan di zaman dulu nggak ada yang beginian" tanya Vee heran karena Seno terlihat biasa-biasa saja di penerbangan pertamanya.
"Kalau aku sih jujur baru pertama kali ini naik first class, dulu waktu liburan ke Bali sama bunda dan ayah, kami cuma naik pesawat kelas Ekonomi" ucap Vee.
"Kamu mengejekku ya?" kata Seno sambil memencet hidung Vee hingga memerah.
"Aduh, sakit kak" rengek Vee setelah Seno melepas cubitannya, kini gantian Vee yang mencubit paha Seno dengan sekuat tenaga.
"Auwh, sakit Vee. Otot di tanganmu sangat terlatih ya" keluh Seno sambil mengusap bekas cubitan Vee di pahanya.
"Tinggal jawab saja masih sempat-sempatnya mencubit" gerutu Vee yang masih saja mengelus hidungnya.
"Iya, maafkan saya ya Vee" kata Seno merendah.
Vee hanya mendengus dan mengambil minumannya untuk mengalihkan perhatiannya.
"Jadi kenapa saya tak merasa aneh disini, karena saya menggunakan memori yang ada di dalam otak Senopati untuk membiasakan diri dengan kehidupannya" ucap Seno yang hanya mendapat lirikan tajam dari Vee.
"Tidak usah melihat saya begitu. Saya kan sudah minta maaf" ucap Seno.
"Iya" jawab Vee singkat, dia memilih tiduran saja untuk menghabiskan waktunya di pesawat.
Melihat Vee yang mulai tenang, Hideo yang sudah merasa nyaman dengan tubuh Senopati mulai memfokuskan diri.
Niatnya untuk mencari apakah ada orang lain yang mengincarnya kali ini.
Diapun memejamkan mata dan mulai merapalkan mantra tanpa sepengetahuan dari Vee.
"Ternyata hanya empat orang saja" gumamnya setelah beberapa saat berkonsentrasi.
"Sekarang saya harus membuat mereka tertidur sepanjang perjalanan ini agar mereka tak bisa melakukan rencananya untuk mencelakai kami lewat makanan di pesawat ini" Seno masih bergumam setelah mendalami pikiran para penguntitnya.
__ADS_1
Kembali Seno memejamkan matanya, dia memfokuskan diri untuk membaca mantra sirep agar membuat para penjahat itu tertidur.
"Niat insun moco rapalan
supoyo wong-wong podo lalian
ajian sirep tak wanti-wanti
supoyo Kabeh podho lali
supoyo kabeh podho sare"
Beberapa saat berlalu, Seno telah selesai dengan mantranya. Setelah meniup kedua telapak tangannya perlahan, dengan gerakan lambat dia seolah sedang melemparkan sesuatu ke udara.
Dan diapun membuka matanya untuk melihat apakah dia masih bisa menggunakan kekuatannya dengan baik.
"Loh, kenapa malah semua orang tertidur?" gumamnya saat berdiri dan melihat keseluruhan isi di ruang first class yang tertidur dengan pulasnya.
Bahkan Vee, kedua orang tuanya, dan juga bodyguardnya pun juga ikut terlelap.
"Sepertinya saya masih harus banyak berlatih. Tapi tidak apa-apa, ini saja sudah cukup memuaskan mengingat saya yang sudah lebih dari seratus tahun tidak pernah menggunakan semua kesaktian saya" gumam Seno yang masih menelisik seluruh isi ruangan.
"Tidak ada yang boleh tahu kalau saya punya kekuatan gaib, bahkan kamupun juga tidak akan saya beritahu, Vee. Karena saya tidak mau kalau kamu akan merasa takut untuk berada di samping saya jika tahu mengenai kekuatan ini" gumam Sebo sambil mengamati wajah cantik Vee yang terlelap di sisinya.
"Entah mengapa saya sangat tertarik padamu, Vee. Dan sayapun yakin jika pemilik raga ini yang sebelumnya juga pasti punya perasaan yang sama dengan saya" kata Seno lirih, sambil membelai sayang pada wajah istrinya.
"Karena debaran jantungnya selalu lebih kencang saat berdekatan denganmu. Dan rasanya saya ingin selalu melihat wajahmu. Mungkinkah kamu juga punya perasaan yang sama dengan saya, Vee?" gumam Seno.
"Saya tidak berani untuk menyelami perasaanmu lebih dalam, karena saya takut akan merasakan kekecewaan jika seandainya kamu tak membalas perasaan ini. Biarlah saya yang akan selalu menjagamu meski kamu menolaknya sekalipun. Saya akan berbuat sedikit egois kali ini untuk membiarkan perasaan ini tetap bahagia" Seno masih bergumam pada dirinya sendiri.
Bukan hal yang mudah baginya untuk mempelajari semua ilmu itu. Karena dulu dia selalu melalukan tirakat bersama dengan Sri saat menimba ilmu dari orang tua Sri tanpa sepengetahuan orang tua Hideo.
Untuk Sri yang lebih sakti darinya, itu karena memang waktu berlatihnya yang lebih banyak. Sedangkan Hideo harua membantu orang tuanya berdagang sepanjang siang hari.
Baru sore atau malam bahkan menjelang pagi waktu untuk Hideo fokus untuk berlatih.
------
Hampir dua jam perjalanan, terdengar suara pramugari yang mengingatkan untuk memakai seat belt karena sudah akan landing.
"Bangun Vee, sudah mau landing. Kamu tidur atau pingsan sih?" kata Seno sambil menggoyangkan lengan Vee yang masih tak berkutik.
Para pramugari juga terlihat agak sibuk membangunkan para penumpang.
Melihat itu semua membuat Seno sedikit terkekeh, "Maafkan saya ya para petugas, gara-gara saya tugas kalian bertambah untuk membangunkan mereka" gumamnya sambil tetap berusaha membangunkan Vee.
"Bangun Vee, atau kamu minta saya menciummu ya biar kamu membuka mata?" tanya Seno tepat di telinga Vee yang sudah sedikit menggeliat.
"Ehm, apaan sih kak. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya" ucap Vee sambil mendorong wajah Seno yang berada di dekat telinganya setelah sedikit memicingkan matanya.
Seno hanya terkekeh sambil memegang telapak tangan Vee yang tadi bertengger di wajahnya.
"Kamu itu sangat tidak sopan" kata Seno pelan.
__ADS_1
"Tidurku pulas sekali" gumamnya sambil menguap.
"Tutup mulutmu saat menguap Vee, dasar jorok" kata Seno.
"Biarin, weekk" ledek Vee.
"Nggak terasa sudah sampai saja, padahal aku pengen banget menikmati penerbangan di first class. Malah ketiduran" gerutu Vee.
"Lain kali saya ajak kamu liburan ke tempat yang jauh naik pesawat first class ya. Sekarang kamu kencangkan sabuk pengaman dulu. Pramugarinya audah mengingatkan daritadi" kata Seno.
"Iya" jawab Vee singkat.
Tak berapa lama, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat di bandara internasional Soekarno Hatta.
"Ayo kita turun, sayang" ajak mommy Seno yang sudah dibuntuti oleh kedua bodyguardnya.
Seno dan Vee menurut, berjalan di belakang orang tuanya dan bersiap keluar.
"Nggak biasanya papi ketiduran saat terbang, mommy tadi juga tidur ya?" tanya papi Seno.
"Iya pi, mommy tadi juga ketiduran. Tumben banget ya" kata mommy Seno yang juga merasa heran.
"Mungkin kalian terlalu lelah" ucap Seno yang paham dengan kondisi sebelumnya.
"Bisa jadi. Tapi tidak apa-apa lah my, setidaknya kita bisa beristirahat sebelum beraktivitas nanti. Iya kan?" kata Papi Seno.
"Iya pi" jawab sang mommy sambil terus berjalan untuk mengambil koper karena mobil jemputan merekapun sudah sampai.
"Mommy senang banget bisa kembali pulang sama kamu, Seno. Ingat waktu kami berangkat kemarin, mommy sedih banget karena mendengar berita kamu yang hilang" kata mommy mengingat momen yabg sudah terlewati.
"Apalagi lita dapat bonus menantu ya, my" kata papi Seno yang membuat Vee semakin merasa malu.
"Iya, mommy nggak nyangka sama sekali kalau kamu bisa menikah secepat ini nak. Rasanya seperti baru kemarin kamu lulus SMA, tapi sekarang malah sudah punya istri" kata Mommy Seno.
"Sudah bu, jangan membahas itu disini. Nanti ada yang mendengarnya" ucap Seno yang merasa sejak keluar dari pesawat tadi audah banyak kamera yang mengintainya.
"Oh iya, mommy lupa kalau kamu kan masih artis ya, hehehe" mommy terkekeh tanpa merasa bersalah.
Dan benar saja, baru keluar dari bandara sudah banyak sekali wartawan yang menyambutnya.
Beruntung rombongan Seno semuanya memakai masker, hingga membuat wajah Vee setidaknya sedikit aman sampai memasuki mobil jemputan.
Para body guard terlihat sedikit kesulitan untuk mengamankan perjalanan Seno sekeluarga.
Bahkan ucapan papi yang memberitakan bahwa mereka belum bisa menjawab semua pertanyaan dari wartawan bahkan tidak bisa membuat mereka jadi lebih tenang.
Tapi pada akhirnya mereka bisa memasuki mobil.
.
.
.
__ADS_1
.
.