
"Jawab dong Vee, kenapa lo malah melamun sih. Kesambet baru tahu rasa" perkataan Daren membuat acara Vee yang tengah melamun manja jadi terganggu.
"Ih, kak Daren. Aku kan kaget" kata Vee sedikit sewot.
"Makanya jawab. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita. Kita saling berkata jujur satu sama lainnya, gimana?" tanya Daren menawarkan sebuah kejujuran.
"Kak Daren duluan saja deh. Kan dimana-mana kalau mengungkapkan kata hati itu lebih baik kalau cowok dulu" kata Vee, Daren tersenyum melihat Vee yang seolah tertarik dengan pertanyaannya.
"Ok, gue bakalan jujur sama lo" akhirnya Daren mengalah.
Terdiam sebentar untuk menerawang lagi, menatap bola lampu yang tengah berpendar di tengah plafon. Satu-satunya barang yang ada di dalam ruangan itu.
Tak mendengar satu perkataan pun, membuat Vee sedikit melirik ke arah Daren yang sedang menengadah.
Vee tahu jika pria itu tengah merangkai kata agar terdengar nyaman saat dituturkan padanya. Dan itu membuat Vee sabar untuk bisa mendengarnya.
"Ehm, sebenarnya gue sudah lama ngerasain ada getaran aneh saat gue ada di dekat elo, Vee" awal kalimat panjang yang Vee yakini akan terucap dari mulut Daren, dengan sabar gadis itu akan mendengarkannya.
"Sejak kapan?" tanya Vee santai, entah dia itu gadis yang seperti apa. Karena tak pernah ada getaran aneh dalam hatinya meski sudah beberapa pria berusaha mendekatinya, termasuk Daren kali ini. Vee pun tak juga merasakannya, meski diakuinya jika wajah Daren adalah kesempurnaan menurutnya.
"Sejak lo nabrak gue pagi itu. Pagi dimana lo terlambat untuk ikut ospek. Dan sejak saat itu, gue bertekad buat nyari tahu tentang lo" kata Daren yang kini menoleh, dan mendapati wajah imut Vee yang tengah menatap serius padanya.
Daren menghela nafasnya berat, susah sekali untuk bertutur jujur.
"Awalnya gue cari seluk beluk lo dari data kampus. Tapi info tentang lo sulit banget buat didapatkan. Pihak kampus seolah menyembunyikan identitas lo" kata Daren.
"Merasa sulit untuk nyari lewat data kampus, gue cari tahu tentang lo dari teman-teman lo. Tapi sama, semuanya kerasa sulit" kata Daren lagi.
"Dan suatu hari, gue malah melihat pemandangan menyakitkan waktu Senopati sedang nganterin lo berangkat kuliah pagi itu" tutur Daren yang kini memberanikan diri menatap kedua netra polos Vee yang memandanginya dengan penuh keseriusan.
Vee menyenderkan kepalanya diatas lutut yang tertekuk. Dengan kedua tangan yang diikat ke belakang, begitupun kakinya yang diikat kuat. Sama seperti Daren.
"Gue lihat lo cium tangan Senopati, terus dia juga nyuri kesempatan buat nyium kening lo, Vee" Daren menjeda perkataannya, menunggu respon dari Vee yang ternyata diam saja tanpa tanggapan apapun.
"Reaksi marah yang lo tunjukin waktu itu lebih ke arah untuk menutupi hubungan kalian dari orang lain. Dan hati gue sakit banget melihat semua itu Vee".
"Apa lo nggak ingin menceritakan sesuatu tentang kalian berdua? Maksud gue, tentang lo dan Senopati" tanya Daren sambil menghirup banyak oksigen. Rasa sesak di hatinya semakin terasa saat bersiap untuk merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Sekarang giliran lo, mau cerita apa? Biar gue dengerin selagi masih ada waktu" kata Daren.
Keduanya saling pandang meski hanya sebentar. Karena Vee segera mengalihkan pandangan untuk berusaha menata kata dan hatinya.
Mencari kata yang tepat agar semua perkataannya nanti tak begitu menyakitkan untuk Daren.
"Ehm... Aku bingung juga sih harus mulai darimana, kak" tutur Vee memulai perkataannya.
"Kak Seno itu adalah penyelamat hidupku. Dan lebih dari itu semua, sekarang dia adalah penanggung jawab di sisa hidupku jika mungkin kami masih diperkenankan untuk bisa bertemu lagi" kata Vee sambil membuang nafasnya yang berat.
"Sejak lama dia selalu bersikap baik dan mengutarakan isi hatinya padaku. Tapi aku selalu menyangkalnya dan menganggap semua itu hanyalah angin lalu. Karena tak ada sedikitpun perasaanku untuknya" kata Vee.
"Tapi semakin kesini, aku menyadari jika dia memang benar-benar penyelamatku yang mungkin memnag telah diutus oleh Tuhan meski harus menunggu dalam waktu yang sangat lama" Vee jujur dengan masih menutupi hal yang seharusnya tak diketahui oleh orang lain.
"Dia selalu datang disaat aku dalam keadaan bahaya, dia selalu datang disaat aku butuh pertolongan. Dia selalu bisa menemukanku dengan caranya sendiri meski aku bersembunyi".
"Dari semua itu, aku sadar jika aku harus menerimanya dengan tangan terbuka. Dengan hati yang tulus. Dia itu, segalanya bagiku, kak" kata Vee yang merasa sedikit lega meski telah berkata jujur pada orang yang salah.
Bukan pada Daren seharusnya kejujuran itu Vee katakan, tapi harusnya pada Senopati yang selama ini sangat memprioritaskannya.
Ya, tapi mungkin kali ini takdir masih berkata lain. Vee berjanji jika masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Seno, dia akan mengatakan semua perasaannya.
Sedangkan Daren, setelah mendengar semua perkataan Vee tentu membuat rasa patah hatinya terasa meski belum berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Seolah kesempatan itu sudah tertutup rapat oleh keyakinan Vee terhadap cinta seorang Senopati.
Daren pun menyadari jika Seno memang lebih dari segalanya daripada dia.
Sedangkan keadaan kalut masih menyelimuti kediaman keluarga Widjojo.
Dimana Senopati yang kekuatannya masih sangat full setelah menyerap semua kekuatan milik Bogo, malah tak bisa mendeteksi dimana keberadaan Vee.
__ADS_1
"Aahh .. Sial. Dimana sebenarnya kamu, Vee? Kenapa mata batin ini tak bisa melihat keberadaanmu?" keluh Seno setelah berulang kali mencoba mencari keberadaan Vee pagi itu, setelah dia menunaikan kewajiban ibadahnya.
"Mungkin sebaiknya saya harus mencari ke tempat campingnya saja. Mungkin disana nanti, saya bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaannya, atau bahkan mungkin dia masih disana? Hanya saja sesuatu sedang berusaha menutupinya dari saya" tekad Seno untuk segera mendatangi tempat camping Vee timbul.
Bersama Aish dan Hendra, dia sudah berencana untuk segera pergi ke tempat dimana Vee dan teman-temannya camping.
Dan waktu seolah sangat lama berputar jika dalam kondisi mencekam seperti ini.
Perasaan Seno sangat tidak nyaman. Seolah sesuatu yang besar akan datang dan membuatnya kewalahan nantinya.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa HoRoCi juga tak memberi kabar apapun tentang situasi disana? Apa yang sedang mereka bertiga hadapi?" gumam Seno yang juga masih belum bisa melakukan komunikasi dengan HoRoCi, ketiga bocil setan yang ditugaskannya untuk menjaga Vee selama dia belum datang.
Tapi sudah sejak semalam, saat terakhir dia berhasil mengeluarkan mereka dari dalam kalung Vee, Seno pun belum menerima berita terbaru dari mereka.
Dan itu semakin membuat perasaan Seno semakin tidak nyaman. Dia yakin sedang terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.
.
.
__ADS_1
.