Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Upaya pembebasan Ibu


__ADS_3

Tepat sasaran, Hideo datang disaat yang sangat tepat. Dimana Bogo sedang ingin bermain layaknya suami istri dengan mommy yang ketakutan.


Sedikit saja Hideo terlambat, mungkin mommy yang akan menolak kembali ke pelukan papi karena merasa kotor akibat ulah Bogo.


"Dasar makhluk jelek" seru Hideo sambil melempar sebuah jarum yang selalu tersemat di ikatan rambutnya pada punggung Bogo yang sedang memaksa mommy untuk menanggalkan pakaiannya.


Pantas saja di dunia nyata, mommy terlihat sangat gelisah hingga keringatnya bercucuran deras. Ternyata Bogo sedang berusaha melecehkannya.


Sebagai seorang anak yang berbakti, tentu Hideo akan berusaha menggagalkan aksi bejat jin mesum itu.


"Aargh!! Sialan!! Siapa yang sudah berani masuk ke kawasanku" geram Bogo saat aksinya terancam gagal.


"Kau itu sangat jelek, seharusnya kau sadar diri. Kau sangat tidak pantas bersanding dengan ibu" ujar Hideo yang semakin membuat Bogo belingsatan.


"Mulutmu penuh racun. Jadi kau makhluk yang sedang diincar oleh tuanku? Buruk! Seharusnya aku yang lebih pantas" kata Bogo melupakan Mommy, dan mengalihkan perhatiannya pada Hideo yang baru saja memasuki alam kekuasaannya.


"Kau pikir aku mau jadi budak dari manusia rakus seperti tuanmu? Najis! Aku makhluk sempurna yang Tuhan ciptakan dengan penuh kasih sayang" jawab Hideo enteng, sengaja dia mengulur waktu agar mommy bisa lebih tenang sebelum mengembalikan beliau ke alam manusia.


"Kau pikir aku akan termakan oleh ocehan recehmu itu? Kau belum mengenal Bogo rupanya. Aku adalah makhluk terkuat di alam ini, hahaha" tawa membahana keluar dari mulut Bogo yang sombong.


"Sebenarnya kau hanya punya mulut dan badan yang besar, tapi otakmu kecil. Buktinya, kau mau-mau saja dijadikan budak oleh manusia serakah seperti tuanmu itu" ejek Hideo sambil sesekali mengamati mommy yang sepertinya sudah cukup siap untuk kembali pulang.


"Kau hanya anak kecil. Lebih baik kita buktikan saja siapa yang lebih unggul diantara kita berdua" ujar Bogo yang sudah siap dengan mode tempurnya.


"Kau yakin? Jangan menyesal ya" lanjut Hideo.


Kedua makhluk itu kini terlihat saling beradu kekuatan. Tapi tak seperti perkelahian pada umumnya, mereka berkelahi layaknya perang mantra.


Setelah mulut mereka berhenti merapalkan sesuatu, maka dari tangan mereka akan muncul pendaran cahaya aneka warna sesuai keinginan mereka.


Dan lesatan cahaya yang dilemparkan dari telapak tangan mereka akan menghasilkan bunyi gedebum yang kasat mata, tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang hancur saat serangannya bisa ditangkis.


Mungkin seperti itu pula cara para dukun saat menargetkan mangsanya. Dengan tembakan cahaya jarak jauh, mereka akan berusaha membuat mangsanya jatuh. Tapi tembakan tak kasat mata itu akan membuat benda lain hancur saat si target ternyata memiliki tameng yang 'Kadang' tanpa disadari lebih kuat daripada tembakan sang dukun.

__ADS_1


Misalnya, pecahnya bola lampu saat si target ternyata punya perlindungan yang bahkan tak disadari. Terutama perlindungan dari Tuhan yang tak rela jika hambanya disakiti.


"Kena kau!" ejek Hideo saat satu serangannya tepat mengenai ulu hati Bogo hingga membuat makhluk besar itu jatuh telungkup, tapi lekas dia kembali berdiri demi rasa gengsi.


"Permulaan yang menyenangkan. Baiklah, sekarang kita mulai serius" ujar Bogo yang tak mau dipermalukan.


"Memangnya kau pikir aku sedang apa sejak tadi? Main kelereng?" ejek Hideo lagi.


Sebenarnya jiwa Hideo sudah cukup letih hari ini. Apalagi setelah berhasil menyelamatkan papanya, Hideo harus kembali ke rumahnya demi untuk menyelamatkan ibunya kali ini.


Sekuat-kuatnya sebuah makhluk, pasti ada rasa letihnya juga. Pun begitu yang sedang Hideo rasakan. Hanya saja, dia harus berpura-pura kuat demi bisa menjatuhkan mental lawannya.


Serangan pamungkas Hideo, jantung Bogo menjadi incarannya. Dia harus tepat sasaran kali ini meski mungkin serangannya tak bisa membuat Bogo musnah, setidaknya bisa melumpuhkannya agar Hideo bisa membawa mommy pulang dan segera berusaha mencari asal muasal dari segala penyerangan ini.


"Rasakan ini makhluk jelek" ujar Hideo saat hendak menyerang Bogo.


Dan meski sudah berusaha menghindar, rupanya serangan Hideo mengenai tubuh Bogo hingga membuat makhluk besar menyeramkan itu tumbang dan jatuh terduduk lesu.


Perlahan langkahnya mendekati Bogo yang nampak lunglai. Rencananya Hideo ingin menyerap sisa energi yang Bogo punya agar bisa dengan mudah membawa keluar ibunya kembali ke alam manusia dan menemui keluarganya disana.


Sudah tak ada waktu, melihat semua pertarungan di depan matanya membuat mommy menggeleng tak percaya. Wanita itu semakin ketakukan bahkan untuk sekedar bergeser sedikit saja dari posisi duduknya.


Hideo sudah berada di atas tubuh Bogo yang terkulai lemas. Telapak tangannya sudah menekan bibir tebal Bogo hingga menganga agar bisa menyerap semua energi yang Hideo perlukan.


Rapalan mantra sudah terucap sempurna dan Hideo telah bersiap mengambil sisa energi Bogo. Tapi konsentrasinya terpecah karena kedatangan jiwa dari si pria berkupluk.


"Hentikan! Jangan musnahkan Bogo kalau kau ingin kekasih nakalmu ini selamat" kata si pria berkupluk hitam sambil menunjukkan gambar serupa hologram yang rupanya itu adalah Vee yang nampak ketakutan.


Hideo mengehentikan aksinya dengan tangan yang masih mencengkeram pipi Bogo dan kilatan mata pemusnah.


Hideo menoleh, melihat dengan seksama ekspresi Vee yang sedang ketakutan di dalam tendanya.


Pilihan yang sulit!

__ADS_1


Di satu sisi Hideo perlu tambahan energi agar bisa membawa dirinya dan juga sang ibu untuk kembali pulang.


Tapi disisi lain, dia harus memikirkan keselamatan Vee yang entah takut pada apa dalam gambar yang pria itu tampilkan.


"Sial! Saya harus berhati-hati kali ini" ujar Hideo lirih dengan kondisinya yang cukup lemah.


Dan benar saja. Di tempat Vee berada, gadis itu tengah ditemani oleh Rey, James dan Daren yang sejak tadi ingin sekali melindungi Vee dengan caranya sendiri.


Sudah cukup larut untuk para peserta camping agar bisa membangun kembali tenda mereka setelah guyuran hujan beserta angin kencang merobohkan semua tenda yang telah dibangun.


Bahkan api unggun sulit untuk dinyalakan karena kayu yang basah akibat guyuran hujan.


"Kenapa cuacanya bisa mendadak berubah begini, ya?" gumaman Daren terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.


"Mendingan lo balik ke kelompok senior deh, kak. Nggak ada gunanya juga disini" ucap James yang selalu memberikan sindiran pedas tiap kali ada Daren di sisi Vee.


"Lo nggak lihat kalau semua senior juga lagi mencar buat mastiin keselamatan semua anggota baru?" balas Daren sedikit ngegas, panas juga kupingnya kalau sering mendengar sindiran dari mulut pedas James.


"Sudah, nggak usah ribut. Mendingan sekarang bantuin aku buat mikirin cara supaya bisa ngambil tenda yang nyangkut di atas pohon itu. Tadi kebawa angin" rengek Vee manja kali ini.


Pasalnya tenda yang sudah kokoh berdiri itu bisa-bisanya terbawa angin dan nyangkut di atas pohon.


Terlalu beresiko kalau dia harus memanjat pohon tinggi itu meski jika dalam kondisi normal, Vee pasti bisa melakukannya.


Tapi kan sekarang pohon tinggi itu nampak licin dengan lumut tebal karena hujan deras yang tadi sempat melanda meski hanya tak lebih dari satu jam.


Lantas apa hal yang membuat Vee nampak ketakutan dalam gambar serupa hologram yang tadi ditampilkan oleh si pria berkupluk?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2