
"Mau kemana tujuannya mbak?" tanya supir taksi setelah kedua penumpangnya duduk dengan tenang.
"Perumahan Bukit Atas, pak" jawab Vee.
"Siap" kata pak supir, dan tak lama taksi itu melaju santai menuju tempat tujuan.
"Sepertinya masuk ke dalam tubuh ini adalah sebuah kesalahan" celetuk Hideo sambil menyenderkan punggungnya.
"Kenapa begitu kak?" tanya Vee heran.
"Lebih baik tak beraga daripada harus dikejar orang-orang seperti tadi" kata Hideo.
Pak supir rupanya sedikit kepo, diam-diam pria tua itu menajamkan telinganya karena merasa topik yang penumpangnya bahas cukup menarik.
"Sudahlah kak. Semua yang terjadi pasti adalah yang terbaik untuk kita. Syukuri saja semuanya, beruntung kita masih diberi nafas oleh Tuhan" Vee berusaha menenangkan Hideo kali ini.
Pria itu hanya membuang nafasnya kasar. Dan sepertinya dia menyadari jika si supir sedang menguping sambil sesekali mencuri pandang pada mereka berdua.
"Kenapa pak?" tanya Hideo saat mendapati si supir melihatnya dari kaca spion.
"Eh, tidak apa-apa dik. Bapak penasaran saja sama kamu. Apa benar kalau kamu Senopati si artis terkenal itu?" tanya pak supir sambil tersenyum.
"Bukan" jawab Hideo kesal.
"Kenapa memangnya pak?" tanya Vee.
"Anak saya yang masih SMP ngefans banget sama Senopati. Di kamarnya banyak sekali poster kamu, dik. Hampir setiap hari saya mendengar dia selalu nyanyi lagu kamu. Makanya saya hafal sekali sama muka kamu karena saya jadi cemburu karena anak gadis saya yang lebih mengidolakan kamu daripada bapaknya sendiri" kata pak supir, sepertinya ada harapan yang masih akan dia sampaikan.
"Boleh saya minta foto dan tandatangan kamu, dik? Anak saya pasti sangat senang jika nanti menerimanya" tuh kan, harapan seorang ayah tidak muluk-muluk agar anaknya bahagia.
Hideo bingung kali ini, bagaimana bentuk tandatangan Senopati kan dia tidak tahu. Kalau foto sih sepertinya bisa dia berikan.
"Saya bukan Senopati, mungkin wajah kami saja yang mirip" kata Hideo datar, tak tega sebenarnya untuk mematahkan harapan seorang ayah.
"Oh, baiklah. Maafkan saya kalau begitu" ucap si supir sedikit kecewa.
Vee bingung harus bagaimana, menyuruh Hideo agar mengabulkan keinginan si supir juga tidak mungkin.
Akhirnya perjalanan itu berlanjut dengan suasana hening, kecanggungan sangat terasa di dalam mobil itu.
"Sudah sampai, mbak" ucap pak supir sambil menghentikan mobilnya.
Vee menyodorkan sejumlah uang sesuai kargo, "Terimakasih, pak" ucapnya sambil menuruni mobil.
"Saya sudah sangat membebanimu, Vee. Sepertinya saya harus segera mencari pekerjaan dan tempat tinggal" kata Hideo saat mereka memasuki kawasan rumah Vee.
"Kita bicarakan di dalam saja ya, kak" kata Vee.
"Hai Vee, kemana HoRoCi? Kenapa kami tidak melihat mereka sejak kemarin?" tanya duo gendruwo yang melihat Vee baru sampai.
__ADS_1
"Mereka sedang beristirahat, pak. Tidur didalam sini" ucap Vee sambil mengusap kalung kristalnya.
Duo gendruwo itu saling pandang, mereka sepertinya paham dengan keadaan ketiga bocil itu jika sampai harus beristirahat di dalam kalung kristalnya.
"Pasti akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa bertemu dengan mereka lagi" kata salah satu gendruwo dengan tampang sedih.
Tapi mereka tak berniat untuk menanyakan lebih lanjut.
"Sebentar ya, aku mau cari hiburan dulu" kata gendruwo genit saat melihat suami dari tetangga cantik Vee sudah pergi dengan mobilnya.
Dan merubah wujudnya menjadi pria tampan sebelum mengetuk rumah si wanita cantik yang tengah sendirian di rumahnya.
"Dasar genit" ledek gendruwo lain, dan diapun lebih memilih untuk kembali ke tempatnya.
Vee hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku makhluk astral yang kadangkala sedikit mirip dengan ulah manusia.
Saat memasuki rumahnya, terlihat Hideo tengah asyik melihat televisi. Entah apa yang sedang ditontonnya.
"Lihat apa sih kak?" tanya Vee yang duduk di sebelah Hideo.
"Wajah pria ini sudah ada dilayar kaca itu, Vee. Lihat saja, siapa yang tadi sempat merekam kejadian saat kita berlari di lorong rumah sakit? Beritanya sudah menyebar luas" kata Hideo sambil tetap menatap televisi.
"Wah, benar. Lihat deh, aku juga ikut masuk ke tv kak" kata Vee dengan hebohnya.
Mendengar itu, Hideo malah menjitak kepala Vee ringan.
"Ah, sakit. Kenapa sih" keluh Vee sambil mengusap bekas jitakan Hideo di kepalanya.
"Biarkan saja. Kan enak kamu nggak usah bingung cari pekerjaan, kak. Jadi artis kan gajinya besar, jadi terkenal, dan juga dikelilingi banyak wanita cantik" kata Vee dengan entengnya.
"Kamu pikir saya mau meninggalkan kamu demi semua itu? Tujuan utama saya untuk ke depannya adalah selalu menjagamu, Vee. Karena kamu adalah orang pertama yang sangat tulus yang ada di samping saya saat saya dalam masalah besar" kata Hideo tanpa pikir panjang.
Ucapan Hideo malah membuat Vee melongo, tak menyangka saja jika Hideo sampai berfikir seperti itu. Padahal semua yang Vee lakukan tulus ikhlas tanpa meminta imbalan apapun.
"Kamu terlihat semakin bodoh jika berekspresi seperti itu" ledek Hideo yang kembali fokus pada layar televisi.
"Aku tersanjung mendengar kata-katamu, kak" kata Vee yang kini sedang sibuk dengan ponselnya karena ada panggilan masuk.
"Kenapa, Bin?" tanya Vee saat mengangkat telepon dari Bintang.
"Kamu lagi nyembunyiin Senopati ya, Vee?" tanya Bintang sedikit berteriak.
"Apaan sih Bin, ngaco kamu. Memangnya kenapa?" tanya Vee, dia tahu jika Bintang adalah salah satu fans berat Senopati.
"Jangan bohong kamu ya. Aku lihat di Ig foto-foto kamu lagi gandengan tangan sambil lari dari kejaran banyak orang di rumah sakit tadi pagi. Berita tentang Senopati dan cewek misterius lagi viral, Vee. Dan aku yakin kalau cewek yang dimaksud itu adalah kamu" kata Bintang dengan hebohnya.
"Kamu salah lihat pasti, Bin. Mana ada aku nyembunyiin Senopati. Kenal aja enggak" jawab Vee ringan.
"Buktiin kalau memang kamu nggak nyembunyiin dia. Aku datangi rumah kamu ya" ancam Bintang.
__ADS_1
"Aku aja lagi dirumah bunda, weekk" kata Vee sedikit berbohong.
"Ya nggak apa-apa, sekalian aku mau kenalan sama kakak kamu yang ganteng itu" kata Bintang tak mau kalah, Bintang memang penggila pria tampan.
"Nggak boleh. Aku lagi sibuk. Sudah ya, dada Bintang" kata Vee sambil menutup teleponnya dan membiarkan Bintang kesal sendiri.
"Uwah, beritanya sudah menyebar kemana-mana kak. Bagaimana ini?" tanya Vee sedikit bingung.
"Ternyata jadi artis tak semenyenangkan kelihatannya ya, kak" gumam Vee.
"Sri memang sangat sialan. Kenapa harus tubuh ini yang dia pilih. Seharusnya dia biarkan saja saya mati daripada harus semakin merasa susah seperti ini" Hideopun bingung harus berbuat apa kali ini.
Sedangkan Vee kembali sibuk dengan ponselnya untuk mengecek sosial media seperti yang Bintang sampaikan tadi.
Dan ternyata memang benar, fotonya bersama Hideo saat dikejar orang-orang tadi sudah menyebar luas. Hingga banyak sekali yang meneruskan berita di akun mereka untuk mencari keberadaan Senopati.
"Kamu lihat apa?" tanya Hideo yang melihat Vee sangat serius.
"Foto dan video saat orang-orang mengejar kita tadi di rumah sakit, kak" kata Vee.
Hideo hanya mendesah ringan, dia semakin bingung kali ini.
"Masalahnya wajahku terlihat sangat bodoh di foto ini kak. Seperti orang ling-lung, hahahaha" Vee malah tertawa melihat fotonya sendiri yang dianggapnya lucu.
Hideo semakin kesal dibuatnya, kenapa di saat genting begini malah sempat-sempatnya dia menilai dari sudut pandang yang lain.
"Dasar kamu ini" ucap Hideo sambil mengangkat tangannya untuk kembali menjitak kepala Vee.
Sebenarnya dia senang karena Vee menyikapi berita ini dengan tak terlalu serius. Hanya saja tingkah laku Vee yang terlalu santai kadang membuatnya gemas.
"Aahh, jangan berani-beraninya untuk menjitak kepalaku lagi ya, kak" ancam Vee sambil menutupi kepalanya.
Dan saat Hideo sudah bersiap untuk mendaratkan tangannya di kepala Vee, suara bel di rumah Vee membuyarkan kegiatan mereka.
"Ada tamu, kak" kata Vee yang masih menaruh tangannya di kepala.
"Sepertinya iya, biar saya saja yang keluar" kata Hideo yang sudah berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu.
"Eh, tunggu kak. Jangan dibuka dulu, kita intip dulu dari tirai jendela. Siapa tahu yang datang orang jahat" kata Vee sambil mengejar Hideo yang sudah membuka sedikit pintu ruang tamu.
Terlalu lambat berfikir membuat Vee terlambat untuk memperingatkan Hideo jika banyak orang jahat yang mengincar nyawanya.
Tapi kini, pintu ruang tamu sudah terbuka. Dan Vee terlambat untuk memperingatkan Hideo.
.
.
.
__ADS_1
.