
"Ingat! Pria itu adalah penyebab kematian kakakmu. Dan perempuan itu adalah pilihan dari si pria itu hingga membuat kakakmu patah hati dan rela mengakhiri hidupnya sendiri" ucap wanita cantik berambut panjang pada pria yang lebih muda darinya.
"Iya, gue tahu. Dan lo nggak usah ingetin gue terus-terusan tentang hal itu" ucap si pria dengan amarah tertahan, yang sewaktu-waktu bisa meluap dan pecah seperti bom waktu.
"Aku hanya mengingatkanmu saja, adikku. Sepertinya kamu sedikit lupa tentang hal itu dan ingat lagi satu hal, jangan sampai kamu memakai hati kamu dalam misi kita kali ini" lagi-lagi wanita itu mengingatkan hal yang membuat si pria sakit hati.
"Adik yang baik, baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya. Masih banyak yang harus aku lakukan" ucap si wanita dengan nada menyebalkan, meninggalkan pria muda itu yang kini tersulut emosi yang membara.
★★★★★
"Dah kak, hati-hati di jalan. Sampai ketemu nanti di rumah. Ingat, nggak usah jemput aku ya" ucap Vee dengan girangnya, hari ini adalah hari pertamanya dijemput supir sepulang kuliah nanti.
Dia sudah tidak sabar untuk pergi sejenak barang mencari spot foto yang bagus untuk diisikan ke akun yutubnya.
"Kamu juga nanti langsung pulang, tidak usah pergi kemanapun. Karena situasinya belum aman untuk kita pergi sembarangan" Seno juga mengingatkan jika para pengincar mereka masih berkeliaran, karena Vee adalah saksi kunci percobaan pembunuhan terhadap Senopati beberapa bulan yang lalu.
"Siap bos" ucap Vee sambil bersikap hormat seperti sedang upacara, senyumnya terlihat seperti mentari pagi yang menghangatkan hati. Seno selalu terpikat dengan senyuman itu.
Dengan langkah riang, Vee melangkahkan kakinya menuju ke dalam gedung kampus yang akan menemaninya selama empat tahun ke depan.
"Hallo Vee cantik, baru datang nih" sambut James dan Rey, dua pria yang beberapa hari ini menemaninya kemanapun dia pergi.
"Hai James dan Rey, selamat pagi. Apa kabar kalian hari ini?" sapa Vee yang moodnya sedang luar biasa baik.
"Kita selalu happy dong" ucap keduanya lantas berjalan bersisian dengan Vee hingga sampai di kelasnya.
Mereka duduk berjejer di bangku deretan paling belakang, ketiganya sangat mudah mengantuk saat jam pelajaran.
"Haduh, masih pagi juga. Kenapa tuh makhluk malah nyamperin sih" gumam Vee yang kembali melihat sosok berwajah hitam yang terlihat sedang mengamatinya dari jendela kelas.
Padahal dosennya sudah datang dan sedang memberikan materinya, Vee kan jadi tidak bisa berkonsentrasi.
Sedangkan sosok itu hanya berdiri tegap tak melakukan apapun tapi kedua mata hitamnya seolah sedang mengamati Vee dengan seksama.
"Sstt, kenapa lo kelihatan kayak orang bingung sih?" tanya James setengah berbisik pada Vee, sejak tadi Vee terlihat sangat gelisah.
"Aku ok" ucap Vee dengan gerakan isyarat.
"Lo ngelihat makhluk itu juga ya, Vee?" tanya Rey tak kalah pelan.
__ADS_1
Vee tentu terkejut dengan penuturan Rey, "Apa dia juga bisa melihatnya?" gumam Vee dalam hati.
"Kalian yang dibelakang, kalau tidak berminat dengan mata kuliah saya, bisa tinggalkan saja kelas ini sekarang juga" dosen pengajar yang mendengar suara ketiga mahasiswa bandelnya mulai menegur.
"Veronica, kemarin kamu ini tidur di kelas. Hari ini kamu ribut di kelas. Tolonglah, jadilah pemuda yang berguna, jangan yang minim prestasi begini" kata dosen itu lagi.
Teman sekelasnya sudah pasti menertawakan penuturan sang dosen pada Vee kali ini.
Tapi semua itu tak membuat Vee sakit hati meski sedikit malu, belum tahu saja pak dosen jika prestasi Vee di bidang fotografi sudah diakui oleh banyak pengguna yutub hingga bisa menghasilkan sebuah rumah mewah.
"Terimakasih atas perhatian bapak, nasehat bapak akan saya ingat sepanjang masa" jawaban Vee sontak membuat seisi kelas semakin pecah tawanya. Padahal Vee rasa dia tidak sedang melucu.
"Huft, baiklah. Semuanya harap tenang, dan kita lanjutkan materi kita" ucap sang dosen yang tak ingin memperpanjang masalah.
Hingga jam pelajaran memasuki masa istirahat, seisi kelas mulai menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Tak terkecuali Vee dan kedua teman barunya, James dan Rey.
"Hei Rey, kamu serius bisa melihat sosok itu juga?" tanya Vee penasaran.
"Iya sudah beberapa hari ini gue lihat tuh sosok selalu ngintilin elo kemana-kemana. Tapi nggak sampai pergi keluar pintu gerbang kampus ini sih" jawab Rey santai, seolah diapun sudah terbiasa dengan pemandangan semacam itu.
"Yang benar kamu Rey. Aku sih sering juga lihat dia, tapi nggak setiap saat kok" ucap Vee yang mulai memandangi sekitarnya.
"Kalian ini lagi ngomongin apaan sih?" kepo James.
"Ada deh, lo mana tahu. Kita jelasin juga nggak bakalan paham sih lo" kata Rey.
"Siang Vee, gue boleh gabung sebentar nggak?" tiba-tiba Daren datang dengan senyuman mautnya.
"Tiap hari aja lo gabung, senior" sindir James yang tak suka ketampanannya disaingi oleh Daren si bule.
"Gue cuma mau nawarin lo untuk gabung sama kita sebagai anak Pecinta Alam, gimana lo tertarik kan?" Daren menawarkan ekskul yang menarik sebenarnya, tapi Vee masih ingat untuk harus meminta izin pada Seno.
"Ehm, aku pikir-pikir dulu deh kak. Aku minta izin sama keluarga dulu ya" jawab Vee dengan pandangan penuh kekaguman pada sosok Daren.
"Oke, gue cuma mau menyampaikan itu doang kok. Jangan lupa segera hubungi gue kalau lo berminat. Ini brosur kita" kata Daren sambil menyerahkan selembar brosur pecinta alam.
"Tentu, makasih kak" kata Vee senang.
__ADS_1
Daren pergi dengan lambaian tangan yang terlihat sangat cool di mata Vee.
"Orangnya sudah pergi kali, Vee. Lo begitu banget ngelihat cowok lain di depan gue" keluh James seolah sedang patah hati.
"Apaan sih James. Aduuhh, dia datang lagi kan Rey. Kamu lihat juga kan?" tanya Vee yang kembali melihat sosok berwajah hitam sedang berdiri tak jauh dari meja mereka.
"Iya, gue lihat. Aneh, kenapa baru nongol tuh makhluk" jawab Rey yang masih berusaha santai selama sosok itu tak melakukan apapun.
"Sosok apaan sih?" tanya James heran.
"Mendingan lo nggak usah tahu daripada lo ngompol di celana, James" jawab Rey.
"Kamu sejak kapan bisa melihat mereka, Rey?" tanya Vee.
"Sejak kecil Vee. Turunan kayaknya, soalnya ayah gue juga bisa melihat mereka. Terkadang gue juga ngobrol sama mereka yang gue anggap nggak bahaya" jawab Rey.
"Menarik banget. Kalau aku sih baru-baru ini Rey. Awalnya sangat mengerikan. Tapi kalau dipikir-pikir, mereka juga makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti kita juga kan. Jadi kenapa harus takut, iya kan?" tanya Vee mencari pembenaran.
"Benar. Tapi lo juga kudu hati-hati, Vee. Karena nggak semua dari mereka itu baik, terkadang mereka suka menyerang tanpa ada alasan. Ngomong-ngomong, kalung lo itu juga ada isinya kan?" tanya Rey yang sebenarnya sudah penasaran sejak pertama bertemu dengan Vee.
"Eh, kamu juga bisa tahu ya. Iya, kalung ini isinya tiga makhluk kecil lucu yang masih harus beristirahat karena telah rela menolongku tanpa pamrih" jawab Vee sambil mengelus sayang pada kalung kristal yang berisi HoRoCi yang tengah berhibernasi.
"Kalian ini ngomingin apa sih? Jelasin ke gue juga dong, please" kata James.
"Oke, aku jelasin deh. Tapi janji nggak usah takut dan celingukan ya, James" Vee sedikit berpesan sebelum menjelaskan semuanya terhadap James.
"Oke, gue janji" kata James dengan raut wajah serius.
Selanjutnya, Vee dan Rey bergantian untuk menjelaskan semua yang tengah mereka lihat pada James.
Dan benar saja, reaksi ketakutanlah yang James berikan. Hingga membuat Vee dan Rey malah semangat untuk menakuti James.
"Tuh kan, lo cemen. Badan doang gede berotot, nyali lo segede tayi amoeba" ejek Rey diiringi gelakan dari Vee.
.
.
.
__ADS_1
.
.