
"Mereka sudah pulang" kata bunda Vani yang melihat mobil Seno memasuki halamannya.
"Dasar anak muda, kira-kira mereka membahas apa ya?" tanya mommy Seno.
"Entahlah, yang penting bukan hal yang merugikan saja nantinya" sambung ayah Jovan.
"Kamu tidak keberatan kan nak Varo kalau dilangkahi untuk nikah duluan sama adik kamu?" tanya Papi Seno, seketika membuat Varo yang sejak tadi sibuk dengan ponsel kini mengangkat kepalanya.
"Ah, tidak masalah om. Saya memang tidak berencana nikah muda" jawab Varo ringan.
"Assalamualaikum" sapa Vee saat memasuki ruang tamu.
"Waalaikumsalam" jawab semua yang ada di dalam ruang tamu serempak.
"Sudah bicara seriusnya? Kira-kira rahasia apa enggak nih hasil perundingannya?" goda bunda Vani.
"Apaan sih, bun" jawab Vee sedikit malu, diapun duduk setelah mencium tangan para orang tua.
"Kalian ngobrolin apa? Boleh dong sharing sama kita" kata Mommy Seno.
"Tidak ada yang penting, bu. Hanya saja kami minta setelah kami menikah nanti, kami mohon pada kalian agar mau merahasiakan pernikahan kami karena kami masih ingin melanjutkan pendidikan kami tanpa beban status" kata Seno serius.
"Kenapa harus dirahasiakan?" tanya bunda sedikit tidak suka, dia kan ingin pamer sama tetangga kalau punya mantu artis terkenal.
"Karena kami masih ingin melanjutkan kuliah tanpa beban status, bun. Vee kan masih delapan belas tahun, bisa di bully kalau ketahuan sudah nikah" gerutu Vee.
"Alasan macam apa itu" kata ayah Jovan.
"Tidak apa-apa, kalau memang kalian punya alasan yang kalian anggap tepat untuk itu, ya kami selaku orang tua hanya bisa menuruti sejauh semua itu tidak merugikan siapapun. Benar kan?" kata papi Seno dengan bijak.
"Benar juga sih" kata semua orang sambil manggut-manggut.
"Setelah saya menikah, saya sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia keartisan dan akan fokus pada pendidikan saya nanti" kata Seno.
Vee menoleh padanya, dia sedikit terkejut dengan keputusan itu karena tadi mereka tidak membahas itu sama sekali.
"Kenapa harus berhenti Sen? Bukan hal mudah lho buat kamu untuk sampai di titik ini. Terus dengan mudahnya kamu mau melepas itu semua?" tanya mommy Seno yang tahu bagaimana perjuangan Seno sejak pertama masuk dunia hiburan dulu.
"Saya akan berusaha menjadi suami yang baik, bu" jawab Seno dengan ringannya, padahal hati Vee sedikit berdegub saat mendengar itu.
"Papi rasa keputusan Seno sudah benar, mom. Papi akan mengajari Seno bisnis saja agar ke depannya bisa langsung terjun ke perusahaan setelah dia lulus kuliah nanti" kata papi Seno senang.
"Huft, terserah deh" kata mommy Seno sedikit kecewa.
"Jadi, kapan pernikahannya akan dilaksanakan? Kami sudah ingin kembali ke Jakarta karena banyak urusan kami yang terbengkalai disana" tanya papi Seno.
"Hari ini juga saya bersedia" kata Seno yang mendapat ledekan dari orang-orang disana.
"Terburu-buru sekali. Persiapannya belum ada, nak. Besok malam saja ya. Pagi-pagi sekali besok kita sama-sama siapkan semua keperluan pernikahannya" kata ayah Jovan.
"Ayah benar. Jadi malam ini, kamu harus menginap dirumah ini ya Vee. Biarkan Seno ikut orang tuanya dulu, dan besok pagi kita bertemu lagi disini. Bagaimana?" tanya bunda Vani mencari persetujuan.
"Iya, itu lebih baik. Kalau begitu lebih baik sekarang kita pamit dulu saja ya, pi. Kita istirahat dulu biar besok kita semua bisa hadir dalam kondisi sehat" kata mommy Seno.
"Baiklah, saya rasa pembicaraan ini sudah cukup. Kami permisi dulu ya pak, bu" pamit papi Seno.
"Kalian tinggal dimana?" tanya bunda Vani, masak iya calon besan tidak tahu tempat tinggalnya.
__ADS_1
"Kami tinggal di The Empire hotel, nggak jauh kok dari sini" kata mommy Seno.
Bunda Vani terdiam, ayah Jovan juga bertingkah aneh saat mendengarnya.
"Yasudah, kami permisi dulu" ucap papi Seno sambil menggiring istri dan anaknya untuk pergi.
Keluarga Vee mengantar mereka sampai teras, dan kembali masuk ke dalam rumah setelah rombongan itu tak terlihat lagi.
Mereka masih ingin mengintrogasi Vee setelah ini.
Sedangkan di dalam mobilnya, Seno sudah diapit oleh kedua orang tuanya.
"Bagaimana kamu bisa langsung memutuskan untuk menikah sih, Seno? Mommy lihat Vee juga gadis yang biasa-biasa saja, tapi kenapa kamu langsung minta nikah sama dia? Apa dia mengancam kamu?" mommy Seno mulai mencerca anaknya dengan berbagai pertanyaan.
"Saya hanya merasa jika sudah menemukan jodoh saya, bu. Dan tidak ada ancaman apapun disini. Semua murni karena keinginan saya pribadi" jawab Seno mantap.
"Mommy, Seno. Kenapa kamu jadi panggil Mommy dengan sebutan ibu, sih" keluh mommy Seno.
"Tapi papi senang kalau kamu mau serius begini, itu tandanya kamu sudah dewasa. Dan papi harap kamu bisa mempertanggungjawabkan semua keputusan kamu" kata papi Seno.
"Iya, pa" jawab Seno.
Selanjutnya, perjalanan mereka dihabiskan dalam keheningan karena Hideo yang kini menjadi Seno masih merasa canggung dengan kondisinya sebagai seorang anak.
Sedangkan Mommy nya masih tidak terima saat Seno yang tiba-tiba memanggilnya ibu.
Kembali ke rumah Vee, gadis itu segera berlari memasuki kamar dan menguncinya setelah kepergian Seno.
Dia tahu jika keluarganya masih menyimpan banyak pertanyaan. Jadi, lari dari kenyataan adalah jalan ninjanya.
★★★★★
"Saya terima nikah dan kawinnya Veronica Setiawan binti Jovan Setiawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" jawab Seno dengan satu tarikan nafas setelah ayah Jovan sedikit menghentak jabatan tangannya.
"Bagaiman saksi, sah?" tanya penghulu yang diundang dengan mendadak tadi siang.
"Sah" ucap para saksi yang telah ditunjuk.
"Alhamdulillah, barokallahu lakuma wa barakna alaikuma, wa jama'a bainakuma fi khair" kata pak ustadz yang dilanjutkan dengan doa pernikahan.
"Mempelai wanita bisa dipanggil untuk tandatangan disini" ucap pak penghulu.
Meski pernikahan ini mendadak, tapi surat yang dibutuhkan sudah tersedia dengan menggunakan kekuatan harta. Semua bisa serba instan.
Vee datang diapit mommy dan bunda Vani, Senopati sedikit terpana melihat tampilan Vee menggunakan kebaya putih modern dengan balutan hijab dengan warna senada.
Wajahnya terlihat sangat cantik dengan busana itu.
"Silahkan cium tangan suami kamu, Nak Veronica" kata penghulu.
Seno memberikan tangannya untuk dicium sang istri. Setelahnya, Seno memberi kecupan ringan di kening istrinya.
Hati keduanya berdegub kencang saat ini. Pertama kali bagi mereka merasakan sensasi luar biasa saat bersentuhan dengan lawan jenis yang sudah sah sebagai pasangan hidup.
Dan kini waktunya sesi foto bersama. Alin adalah orang yang paling bersemangat disini. Dia sangat bahagia di hari pernikahan kakak yang sangat diidolakannya.
Apalagi mengetahui jika kakaknya menikah dengan artis idolanya, Alin jadi tambah bahagia.
__ADS_1
"Malam ini kalian menginap dirumah bunda dulu, ya. Kata mommy kamu, besok sudah mau terbang ke Jakarta, ya" kata bunda sedikit bersedih, tidak pernah tinggal serumah dengan Vee sejak SMA dan kini harus ditinggalkan oleh anak gadisnya untuk pergi dengan sang suami.
"Iya bun, sekalian Vee mau kemas-kemas barang" ucap Vee sedikit sendu, sekarang dia merasakan sedihnya berpamitan dengan orang tuanya.
"Nanti kalau Vee sudah pergi, tolong kak Varo tinggal di rumah Vee ya kak. Sayang kan kalau rumahnya dibiarkan kosong" kata Vee.
Sekarang beberapa tamu yang tadi sempat diundang sudah pulang, menyisakan pihak keluarga inti yang tengah berdiskusi dengan serius.
"Iya" jawab Varo singkat.
"Bapak dan ibu tidak usah khawatir, kami pasti akan menjaga nak Vee dengan sebaik mungkin. Karena sekarang diapun adalah anak kami juga" kata papi Seno yang merasakan kesedihan orang tua Vee.
Sama seperti sedihnya saat Seno dikabarkan menghilang.
"Iya, saya harap bapak dan ibu tidak menganggap anak kami sebagai menantu. Anggaplah dia sebagai anak kandung. Saya percayakan keselamatan dan kebahagiaan anak saya pada kalian. Jangan sampai menyakitinya karena kami sangat menjaganya saat dia masih sebagai anak kami" ucap ayah Jovan sedikit sendu, berat rasanya melepaskan anak gadis tersayang pada keluarga suaminya.
"Tentu pak. Bapak tidak usah khawatir, kami pasti akan selalu menyayanginya" kata papi Seno.
Tiba-tiba bunda Vani menangis, ibu mana yang tega melepas kepergian anaknya.
"Kok nangis sih bun? Biasanya bunda senang kalau nggak lihat muka aku?" Vee masih sempat menggoda bundanya di suasana sedih seperti ini.
Seno segera mencubit lengan istrinya yang bercanda di waktu yang salah.
"Aduh, sakit kak. Tuh kan, belum apa-apa sudah kdrt" keluh Vee sambil mengusap lengannya.
Bunda sedikit tersenyum melihat itu, Vee memang sangat ceroboh.
"Yasudah, berhubung sudah malam. Kami permisi dulu, besok kami jemput kalian sore ya. Sengaja papi ambil penerbangan malam biar kamu bisa melepas rindu dengan orang tua kamu, Vee" kata papi Seno.
"Iya pak" jawab Vee.
"Panggil papi dan mommy, ya. Sekarang kamu kan anak kami juga" kata mommy Seno.
Vee hanya tersenyum dan mengangguk.
Dan setelah melepas kepergian orang tuanya, Vee segera mengajak Seno masuk ke kamarnya untuk berkemas.
Seno nampak asyik dengan buku di tangannya sambil rebahan diatas ranjang kecil Vee. Sedangkan Vee yang baru masuk kamar dengan kebayanya yang masih lengkap jadi bingung sendiri dan hanya berdiri di balik pintu.
"Kenapa cuma berdiri saja? Apa kamu tidak lelah?" tanya Seno melirik singkat pada Vee.
"Nggak kenapa-kenapa. Aku mau berkemas dulu" ucap Vee yang langsung membuka lemarinya dan mengambil koper.
"Nggak ganti baju dulu? Kamu suka dengan pakaian pengantin begitu ya sayang? Bagaimana kalau kita mengadakan pesta pernikahan selama tujuh hari tujuh malam dengan mengundang tokoh pewayangan?" goda Seno yang melihat Vee salah tingkah.
Vee hanya melirik sebal, "Nggak perlu, kita kan nikahnya rahasia" jawab Vee singkat.
"Yasudah kamu ganti dulu saja biar nggak ribet" kata Seno yang masih betah dengan bukunya.
Seno membiarkan Vee dengan aktivitasnya, dia tahu kalau istrinya itu sedang berusaha menghindar darinya.
Untuk memberikan kenyamanan pada istrinya, Seno berpura-pura tidur saja. Dia mengerti jika Vee masih sangat keberatan dengan pernikahan ini.
.
.
__ADS_1
.
.