
"Apa aku terlihat sedang bermain-main, Hideo?" tanya Vee yang melihat keraguan dari suara Hideo yang terdengar lirih.
"Tapi ini akan terasa sangat sakit, Vee. Dan saya tak mau membuat kamu merasakan sakit" kata Hideo, dia sangat tulus untuk tak menyakiti Vee.
Buliran bening keluar dari kelopak mata Vee saat melihat Hologram Hideo semakin menipis.
Tanpa sadar, Vee menggumamkan doa setulus hatinya agar Hideo terselamatkan.
Menggunakan kekuatan Al-fatihah, Vee mengucapkan Nama Hideo.
"Khususon Hideo Akihiro, Al Fatihah" Vee melantunkan ketujuh ayat Al Fatihah dengan sepenuh hatinya dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan melindungi Hideo.
Doanya terdengar, ternyata Allah mengabulkan doa setulus hati seorang Veeronica.
Selama bibir Vee menggumamkan ayat pembuka Al Qur'an, selama itu pula entah darimana Hideo mendapatkan energi hingga membuat bayangannya semakin terlihat jelas.
Saat Vee membuka matanya di akhir surat yang dia lantunkan, bibirnya tersenyum saat melihat Hideo yang semakin jelas.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah" kata Vee dengan senyum tulusnya, hingga dia bersujud demi mengutarakan kelegaan dalam hatinya.
Hideo masih saja merasa sedang menerima transferan energi dari alam semesta yang Tuhan berikan padanya.
Tubuh tegapnya semakin terlihat jelas dengan kedua tangan disamping dan kepalanya yang menengadah.
"Saya merasa semakin kuat, Vee" kata Hideo sambil mengamati kedua tangannya setelah membuka matanya karena Vee telah menyelesaikan doanya.
"Kamu menangisi saya, Vee?" tanya Hideo saat melihat Vee masih sedikit berair mata.
"Nggak ada ya, mana ada aku menangisimu, om" sanggah Vee.
Malas saja kalau sampai kepulan asap itu merasa GR.
"Sudah ya, diam! Aku mau solat lagi" kata Vee membungkam mulut Hideo yang sudah menganga, bersiap bersuara.
Vee bertahajjud lagi, kali ini entah mengapa dia sangat ingin mensyukuri kondisi Hideo yang semakin membaik.
Masih mempertahankan senyumnya, Hideo memandangi Vee yang nampak begitu sempurna malam ini saat bersujud pada Tuhannya.
Setelah mengucap salam di akhir raka'atnya, Vee masih betah untuk berdzikir dan berdoa untuk kebaikan masa depannya, masa depan keluarganya.
"Maukah kamu memberi saya energi tambahan, Vee?" tanya Hideo setelah Vee menyelesaikan doanya.
"Mau aku bacain Al Fatihah lagi, om?" tanya Vee.
"Ya, itu sangat membuatku merasa lebih baik. Kalau kamu tidak keberatan" kata Hideo.
"Tentu, aku ikut senang kalau kamu semakin sehat" kata Vee yang kembali menengadahkan tangannya untuk meminta segala kebaikan untuk Hideo.
★★★★★
"Bangun Vee, ayo sarapan dulu" Vani, bunda dari Vee tengah membangunkan putri bandelnya.
"Iya bun, sebentar lagi ya" kata Vee yang masih betah dengan gulungan selimutnya.
"Makanya jangan tidur terlalu malam, Vee. Dan lagi, sehabis subuh itu jangan tidur lagi. Anak gadis kok malas sekali kamu ini" bundanya masih saja berceloteh di pagi hari.
"Iya bun" dengan malas Vee berusaha membuka matanya.
Duduk sebentar untuk memulihkan nyawanya dan bersiap untuk mendengar lagi wejangan dari kedua orang tuanya pagi ini.
"Kemana asap jelek itu?" gumam Vee yang celingukan mencari keberadaan Hideo.
Puff
Dalam sekejap mata, Hideo sudah ada didepan wajahnya.
"Ya Allah, tuhan... Kaget aku om" teriak Vee sambil memukuli asal terbang di depannya.
Dan seperti asap pada umumnya, Tubuh Hideo akan berantakan karena terkena hempasan dari tangan Vee.
"Om? Om siapa kak? Hayoo, kakak masukin om-om ke kamar ya?" tiba-tiba Alina melongokkan kepalanya dari balik pintu.
__ADS_1
Alina, adiknya yang telah mantap berhijab sejak SD itu suka sekali mengganggu Vee.
"Enak saja, jangan kencang-kencang kalau ngomong kayak gitu, Lin. Nanti bunda mikir yang enggak-enggak" tegur Vee, dia tak mau bundanya salah paham dan mengomelinya sepanjang hari.
Hideo telah kembali ke bentuk asalnya, dia sedang berdiri mematung di dekat Alina dengan seringai tawa yang menjengkelkan.
Vee semakin merengut, paginya sangat menyebalkan.
"Iya, maafin Alin ya kak. Jangan marah dong, nanti cantiknya hilang" kata Alina yang sudah membuka lebar pintu kamar Vee.
"Ayo sarapan kak. Bunda bikin nasi goreng tuh" kata Alin.
"Iya" kata Vee dengan malas menuruni ranjangnya dan bersiap menuju ke meja makan.
Sudah ada Varo dan ayahnya disana, sementara bunda Vani masih sibuk di dapur untuk membuat teh hangat.
"Bagaimana perjalanan kamu ke Banyuwangi kemarin Vee?" tanya Jovan, ayahnya yang sangat baik.
"Nggak begitu asyik yah. Malah dapat sial" Vee menggerutu. Dan perkataannya malah membuat Hideo melotot di sampingnya. Asap itu selalu ikut kemanapun Vee pergi.
"Hus, nggak boleh ngomong kayak gitu. Nggak ada kata sial, yang ada kitanya saja yang kurang hati-hati" kata ayahnya.
"Benar apa kata ayahmu, Vee. Saya setuju dengannya" kata Hideo yang mengamati Jovan dengan seksama.
"Ayah kamu tampan juga ya, Vee. Meskipun masih lebih tampan saya" kata Hideo yang masih betah memandangi Jovan.
"Kakak punya kamera baru ya? Alin baru lihat tadi pas ke kamar kakak" kata Alina.
"Iya" jawab Vee malas.
"Yang lama boleh buat Alin nggak?" tanya adiknya yang sangat cantik itu.
"Yah, sudah kakak kasih ke anaknya pak dhe Andik, Lin" kata Vee sedikit menyesal, kenapa tak terpikirkan untuk memberikan pada adiknya saja.
"Yah, sayang banget dong. Telat aku mintanya" gumam Alin menyesal.
"Nanti kakak belikan yang baru deh buat kamu" kata Vee yang tak tega melihat wajah menyesal dari adiknya.
Vee mengangguk dan ikut tersenyum melihat adiknya gembira.
"Adik kamu cantik sekali, Vee. Kenapa dia tidak mirip sama kamu, ya?" tanya Hideo, perkataannya sedikit mengandung ejekan di telinga Vee.
Vee hanya mendengus, tak mungkin untuk mendebati asap tak tahu diri itu sekarang, karena Vee bisa saja dianggap gila oleh keluarganya karena bicara sendiri.
"Lho, kenapa belum makan? Ini tehnya" kata bunda Vani.
"Nungguin kamu, bun" kata ayah Jovan.
Vani tersenyum, dan mulai mengambilkan nasi untuk suami dan anak-anaknya.
Perlakuan hangat seperti ini yang setiap hari Vani berikan pada keluarganya. Dan Jovan selalu bersyukur karena dia telah berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
"Bunda dan Ayah dapat salam dari pak dhe Andik" kata Vee di sela-sela makannya.
"Iya, nanti biar bunda sempatkan untuk menelponnya" kata Vani.
"Nanti siang, Vee mau pulang ke rumah ya bun. Banyak tugas yang belum Vee kerjakan" kata Vee lagi.
"Iya, tapi ingat ya Vee. Meskipun kamu nggak sedang dalam pantauan bunda, ada Allah yang selalu mengawasi kamu. Jadi, jangan pernah berbuat buruk saat kamu sendirian di rumah kamu" Vani menasehati putrinya yang tak bisa diatur itu.
"Iya, bunda. Vee akan selalu mengingat nasehat bunda. Lagian kan ada cctv di gerbang depan, di pintu belakang, dan di ruang tengah. Bunda bisa lihat videonya kalau masih nggak percaya sama Vee" jawab gadis itu.
"Bukannya bunda nggak percaya, Vee. Kamu kan sendirian di rumah kamu, bunda cuma khawatir sama orang-orang yang berniat jahat sama kamu" kata bundanya.
"Tenang saja bun, selain ada Allah yang melindungi Vee, ada juga security yang siap siaga 24 jam melindungi warganya" kata Vee tak terbantahkan.
Sebenarnya Vani sangat bangga pada putrinya ini. Di usianya yang masih sangat muda, dia sudah bisa membeli sebuah rumah mewah berdesain minimalis di area bukit yang tak jauh dari rumahnya sendiri.
Vee mendapatkan banyak uang dari hobinya yang suka membuat video dan meng-upload ke social medianya.
Banyaknya peminat dari videonya membuat sedikit demi sedikit uang dapat dikumpulkan oleh Vee dan bisa mewujudkan keinginannya untu membeli rumah.
__ADS_1
"Eekk.. Alhamdulillah" Tak merasa malu, Vee bersendawa setelah merasa kenyang.
"Kamu memalukan, Vee" ejek Hideo.
"Tutup mulut kamu kalau sendawa, Vee. Anak gadis itu sikapnya yang manis dong" kata Vani sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, maaf" kata Vee segera beranjak ke dapur untuk mencuci piring dan gelas bekas makannya.
Setelah itu, dia kembali ke kamarnya untuk melihat hasil rekaman video saat dia sedang berlari ketakutan malam itu.
Saat dimana Vee dikejar oleh Sri si wanita berkebaya tanpa kepala.
Hideo masih membuntutinya, dia tak bisa jauh dari gadis penyelamatnya.
"Kok nggak kelihatan sih, padahal kan aku jelas-jelas merekamnya saat dia menyatukan kepala dan tubuhnya" gumam Vee yang fokus menonton video di kameranya.
"Kenapa, Vee?" tanya Hideo.
"Sosok Sri kenapa nggak nampak di video ini, ya? Padahal sangat jelas kalau aku merekamnya malam itu" kata Vee masih tidak percaya.
Vee bangun, keluar kamarnya dan tengah mencari keberadaan sang kakak.
"Kak, Kak Varo" teriak Vee mencari kakaknya.
"Kenapa teriak-teriak, Vee?" tanya bundanya yang baru saja masuk setelah melepas kepergian ayahnya untuk bekerja.
"Kak Varo kemana, Bun?" tanya Vee.
"Biasanya ya dikamarnya" kata bundanya.
Vee melangkah menuju kamar Varo, dan benar saja. Kakaknya terlihat fokus pada layar laptopnya yang menampilkan semacam grafik yang tak Vee mengerti.
"Kak, tolongin Vee dong" kata Vee yang masuk kamar kakaknya tanpa izin.
"Kakak lagi sibuk, kamu mau apa?" tanya Varo tanpa mau menatap Vee.
"Please kak. Vee cerita sama kakak, tapi kakak janji jangan ceritain sama bunda ya?" perkataan Vee membuat Varo menoleh padanya.
Ada rasa tertarik saat Vee berkata 'jangan bilang sama bunda' . Karena pasti ada suatu hal yang sedang serius yang tengah dihadapi sang adik.
"Ada apa?" tanya Varo yang sudah mengamankan grafiknya dan mulai serius menanggapi Vee.
"Waktu Vee ikut pak dhe Andik, malam harinya Vee diganggu sosok wanita berkebaya dan nggak ada kepalanya, kak. Vee bahkan sempat lari sampai masuk hutan terlarang di belakang gudang pupuk" Vee bercerita dengan serius, dan Varo terlihat antusias kali ini
"Semua yang Vee alami sudah terekam di memory kamera ini kak. Tapi setelah Vee putar videonya, kenapa sosok itu tak nampak ya kak?" tanya Vee.
Varo adalah ahli di bidang komputer, kamarnya saja sudah seperti warnet yang memuat beberapa komputer dan laptop miliknya.
"Coba kakak lihat" kata Varo yang mencolokkan memory kamera Vee pada salah satu laptopnya.
Varo, Vee dan Hideo terlihat serius melihat rekaman video yang Vee bawa.
Terutama Varo, dia yang ahli komputer tentu merasa tertantang saat adiknya membawa kabar mengenai rekaman dunia lain.
Cukup lama mereka hanya melihat rekaman tak jelas karena Vee merekam sambil berlari. Hanya teriakan tak jelas dari Vee dan suara binatang malam yang nampak.
"Yes, I got it Vee" kata Varo yang menekan tombol pause dan mengamati layar laptopnya.
"Apa kak?" tanya Vee senang.
Hanya sekelebat bayangan, Varo bisa melihat sesosok wanita yang Vee maksud tengah menancapkan kepalanya.
"Ini sangat mengerikan Vee" kata Varo yang masih serius memotong gambar Video yang dia maksud.
.
.
.
.
__ADS_1