Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
sungguh tidak peka


__ADS_3

"Lagi ngapain sih kak? Serius banget?" Vee tidak tahan untuk diam sementara Seno terlihat sangat memperhatikan laptopnya.


Kini, Hideo si orang jadul sudah mulai terbiasa dengan gadget. Laptop dan ponsel sudah sangat melekat padanya. Karena Papanya sering menyuruhnya secara tiba-tiba untuk menangani suatu masalah di kantor.


"Sedang membaca artikel tentang bicara di depan klien" jawab Seno tanpa memutar wajahnya dari layar laptop.


"Oh, memangnya kakak jadi ikut papa ke Bandung besok?" tanya Vee, karena sekarang sudah hari Kamis, dan rencananya Seno akan ke Bandung Jum'at siang selepas kuliah.


"Jadi, dan sekali saya tegaskan padamu untuk tidak meneruskan keinginanmu pergi camping, Vee. Entah mengapa, akhir-akhir ini saya sering merasa ada sesuatu yang sedang mengintai keluarga kita dari jauh. Saya hanya berharap keselamatan semuanya, terutama kamu" cukup panjang Seno berkata-kata, nyatanya niat Vee masih sama.


Seperti seorang anak kecil, semakin dilarang maka akan semakin penasaran.


"Iya-iya, kakak tidak usah khawatir. Aku dirumah terus kok. Atau kalau mau keluar pasti juga sama Rey atau James. Mereka ahli bela diri" jawab Vee sambil mengepalkan kedua tangannya seperti akan menonjok seseorang.


"Tapi jangan pulang terlalu malam dan selalu bawa supir untuk menemanimu. Ingat juga untuk selalu menjaga ibu. Karena menurut pandangan saya, ibu adalah orang yang paling mudah untuk di serang oleh sesuatu yang terlihat maupun yang kasat mata" tegas Seno sekali lagi.


"Iya, aku pasti jagain mama. Padahal bundaku saja tidak pernah aku jagain loh kak, sekarang malah disuruh jagain emaknya orang" kesal Vee.


"Mereka berbeda, Vee. Bunda kamu tak mudah goyah, sedangkan ibu adalah orang yang mudah terhasut dan mudah dimasuki oleh sesuatu. Dan kalau bukan kamu sebagai menantunya, lantas siapa lagi yang akan menjaganya saat saya sedang tak bersamanya?" tanya Seno melunak, dia sadar jika Vee masih terlalu muda untuk mengerti kekejaman dunia.


"Huft, iya" kata Vee mengalah. Sebenarnya dalam hatinya, Vee jadi sering membandingkan Seno dengan Daren.


Kakak tingkatnya itu sering sekali menghubunginya akhir-akhir ini. Apalagi dari segi penampilan dan wajah. Daren adalah pria seperti yang selama ini Vee inginkan.


Pria blasteran Eropa dan Timur Tengah. Seperti kebanyakan artis Turki.


Semasa kecil Vee jatuh cinta pada aktor dalam Film Cansu Hazal. Terlihat tampan dan keren di matanya. Dan saat bertemu dengan Daren, seolah hatinya terpanggil untuk tidak sekedar mengaguminya.


Tidak seperti Seno yang mungkin di mata wanita lain sangat tampan, tapi tidak menurut Vee. Seno yang sekarang seperti salju di gunung Fuji, putih dan dingin. Bahkan warna kulitnya lebih putih daripada kulit Vee.


"Ingat Vee, seorang istri harus patuh pada suaminya. Selangkah saja dia pergi tanpa izin dari suaminya, maka setiap langkahnya menjadi dosa" merasa perkataan sejak tadi hanya dianggap angin lalu, Seno menggunakan jurus agama sebagai pamungkasnya.

__ADS_1


Karena bunda Vani membekali semua anaknya dengan ilmu agama yang lumayan bagus. Jadi meski bengal, Vee masih tahu batasannya.


"Iya kak, iya. Kakak kira aku nggak ngerti sama omongan kamu sejak tadi? Aku ngerti kok, aku paham. Nggak usah diceramahi panjang lebar segala. Memangnya kamu kira aku anak sd yang ketahuan sedang mencuri?" kata Vee sedikit emosi.


Setelah mengatakan itu, Vee lantas pergi ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi malam-malam begini.


"Bukannya begitu, Vee. Kamu jangan salah paham dengan ucapan saya" teriak Seno saat melihat Vee yang tersinggung.


Merasa tak digubris, Seno menjentikkan jarinya untuk membuka pintu kamar mandi dan sekali lagi menjentikkan jarinya untuk menyeret Vee hingga gadis itu terjatuh di atas pangkuannya.


"Aaahhhh" teriak Vee yang tiba-tiba muncul dan seolah sedang di seret oleh sesuatu.


Brugh!!


Kini tubuhnya berada di atas pangkuan Seno. Dua insan itu jadi saling pandang.


Dalam jarak sedekat itu, Vee yang sangat kesal jadi berkesempatan untuk memandangi wajah Seno.


Sebenarnya dalam hatinya, dia menyadari jika memang wajah suaminya itu sangat tampan. Seperti aktor Korea saja!


"Jangan curang! Bisanya pakai ilmu gaib" celetuk Vee yang masih saling berpandangan.


"Sudah saya katakan kalau jangan ada lelaki lain saat perjanjian pernikahan ini masih berlangsung" ujar Seno sambil memegang kedua pipi Vee dengan salah satu tangannya.


"Nggak ada tuh, memangnya menurut kakak, aku sedang mikirin siapa?" kata Vee berusaha tenang.


"Saya rasa ada seorang pria yang sedang mengusik pikiranmu. Dan saya tidak suka itu, Vee. Karena seperti yang kamu tahu, kalau saya itu menyukaimu, menyayangimu, dan mencintaimu. Dan saya sedang berusaha membuatmu untuk membalas perasaan saya. Jadi, tidak akan saya biarkan ada pria lain yang akan memasuki pikiran dan hatimu" kata Seno yang tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Vee.


Serangan tiba-tiba seperti itu tentu membuat Vee terkejut. Tapi nyatanya tak membuat gadis itu memberontak.


Vee telah memberikan ciuman pertamanya pada Seno yang jiwanya adalah Hideo. Pria yang tak tahu bagaimana cara Vee mendefinisikannya.

__ADS_1


Namun, perlakuan lembut Seno padanya tetap bisa membuatnya melayang. Karena sepertinya, pria itupun sebenarnya sudah masuk ke dalam hati Vee tanpa gadis itu sadari.


Dan saat sebuah gigitan kecil mendarat di leher jenjangnya, Vee tersadar untuk tak berbuat terlalu jauh meski mereka sudah sah sebagai sepasang suami-istri.


"Aahh" Vee berteriak kecil sembari mendorong dada bidang Seno yang sudah terlihat berkabut menahan sebuah hasrat.


"Kakak jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan ya" lanjutnya bersiap untuk mengomel.


Membuat Seno yang masih memangkunya sedikit terdorong dan menopang badannya dengan kedua tangan di belakangnya.


"Cg, apa saya harus menggunakan kekuatan untuk membuatmu menuruti kemauan saya, Vee?" tanya Seno sedikit kecewa.


"Ingat, selama belum lulus kuliah, maka aku tetap menjadi seorang perawan. Jangan kotori aku yang polos ini dengan keinginan burukmu, Hideo Akihiro" tegas Vee sambil berusaha berdiri, tapi tangannya di cekal oleh Seno, dan tangan lainnya kembali menangkup pipi Vee.


"Saya tidak janji kali ini. Karena status sebagai seorang suami harus membuatmu patuh terhadap saya, Vee" ujar Seno sambil sekali lagi mengecup bibir Vee singkat lalu menjatuhkan Vee diatas ranjang hingga telentang. Sedangkan Seno berdiri di hadapannya.


"Kakak mau apa?" tanya Vee lirih.


Sorot mata Seno yang baru kali ini dilihatnya membuat Vee sedikit gugup. Hingga membuatnya menutupi kedua gunung kembarnya dengan tangan.


"Saya mau ke kamar mandi" ujar Seno yang langsung pergi ke kamar mandi.


"Aneh sekali" gumam Vee dengan ekor mata yang masih tertuju pada Seno yang terlihat sangat kesal saat memasuki kamar mandi.


Dia belum tahu saja bagaimana sulitnya seorang pria menahan hasratnya. Apalagi sebenarnya untuk melakukan hal yang lebih jauh, Seno tentu diperbolehkan.


Tapi sebagai seorang pria yang harus bisa menjaga kepercayaan, maka dia memilih untuk menjadikan Vee sebagai bahan imajinasi saja terlebih dahulu.


Nanti saat ada kesempatan, pasti Seno tidak akan menyia-nyiakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2