
"Hai, gadis aneh. Kau kenapa berbaring di ranjang itu?" pertanyaan awal yang keluar dari mulut Seno menggegerkan semua orang.
Karena semuanya tidak menyangka jika Seno akan menegur Vee terlebih dahulu, menomorduakan Aish yang biasanya selalu menjadi prioritasnya.
"Aku? Kakak bertanya padaku?" tanya Vee memastikan jika telinganya tidak salah dengar.
"Tentu saja, gadis aneh" jawab Seno yang kini mulai mengedarkan pandangannya pada semua orang satu per satu.
"Mommy, Seno sangat rindu sama mommy" ucap Seno sambil memeluk mommynya yang berdiri di sampingnya.
Tentu mommy Seno semakin kencang tangisannya, menyadari jika anaknya sudah kembali membuat orang tua itu merasa sangat bahagia.
"Mommy juga sangat merindukanmu, nak. Kamu kemana saja selama ini?" tanya Mommy Seno.
"Seno juga nggak tahu, mom. Rasanya kita sudah tidak bertemu sangat lama" ujar Seno sambil mengurai pelukannya dan beralih memandangi Aish yang berdiri di sisi yang lain.
"My princess Aishyah, kenapa lo nangis? Gue bikin lo sedih, ya?" tanya Seno lirih, dia masih belum bisa mengendalikan tubuhnya dengan baik. Bahkan untuk berdiri saja dia tidak bisa.
"Seno" teriak Aish dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, tidak ada pelukan tentunya, hanya saja Aish memegang lengan Seno dengan kuat untuk merasakan kehadiran sahabatnya itu lagi.
"Sudah, lo jangan nangis lagi ya. Apa gadis aneh ini sudah memberitahukan ke elo tentang pesan gue?" tanya Seno sambil melirik ke arah Vee yang hanya bisa melihat semua kejadian di depannya dengan mata berlinang.
"Sudah Sen. Bahkan Helen sudah ditangkap sama polisi. Lo nggak akan ninggalin kita lagi kan, Sen? Lo bakalan selalu ada sama kita semua, kan?" tanya Aish yang tak begitu jelas karena keadaannya yang sesenggukan.
"Baguslah kalau begitu" ujar Seno yang kini memindai ruangan itu lagi dan melihat ketiga pria yang menatapnya dengan serius.
"Pi, Seno titip Mommy ya. Jangan pernah sakiti hati Mommy dan sayangilah Mommy sampai kapanpun" tutur Seno.
"Richard, gue tahu banyak banget fans yang menggilai lo, tapi Lo jangan sampai terlena dan menduakan princess gue. Karena kalau sampai itu terjadi, maka gue bakalan cari lo meski sampai ke neraka sekalipun" kata Seno penuh ancaman, layaknya seseorang yang memberikan pesan terakhirnya.
"Hendra, gue tahu kalau sebenarnya dalam hati Lo itu penuh dengan kata maaf. Jadi, apapun yang akan terjadi nanti, maafin gue dan sosok gue yang baru" ucap Seno yang kini kembali memandangi Vee.
__ADS_1
"Hei gadis aneh, bisa nggak lo cerita sama gue kenapa lo ngomong sendiri di tepi jalan di bawah papan reklame sewaktu senja itu?" tanya Seno yang rupanya terlalu penasaran dengan tingkah Vee yang menurutnya sangat lucu.
"Ehm, aku waktu itu nggak lagi ngobrol sendiri kok, aku kan ngobrol sama kak Hideo yang nggak mau turun dari papan besar itu" kata Vee berusaha menjelaskan dengan singkat.
"Sejak saat itu, saat gue ngelihat keanehan lo, malah membuat gue terus kepikiran tentang lo, cewek aneh. Tapi rupanya waktu dan takdir tak mengizinkan gue untuk memperjuangkan Lo di hidup gue. Pertemuan kita selanjutnya malah menjadi pertemuan terakhir yang nggak ngizinin gue untuk deketin lo" ujar Seno dengan senyum malasnya.
"Makanya sekarang, saat ada kesempatan ini gue pingin bilang sama lo kalau sepertinya perasaan gue agak berlebihan sama lo. Ehm, entah kenapa gue jadi sayang sama lo" ujar Seno yang diakhiri dengan kekehan pelan.
Seno tak menyangka jika di kesempatan terakhir dalam hidupnya malah memiliki perasaan sayang yang tiba-tiba datang pada gadis aneh yang tak sesuai dengan tipenya.
Mendengar hal itu membuat Vee kebingungan. Entah bagaimana perasaannya yang tak bisa membedakan mana Seno dan mana Hideo karena keduanya memiliki rasa yang sama padanya dalam balutan satu raga yang juga sama.
Vee hanya diam, tak berani membuka suara untuk menanggapi perkataan Seno.
"Mommy dan Papi, nanti, seandainya waktu Seno sudah benar-benar habis, maka Seno harap kalau Mommy dan Papi menerima dengan lapang dada akan semua yang sudah digariskan" kata Seno yang mulai melantur.
"Untuk siapapun yang ditakdirkan meneruskan kehidupan di dalam raga ini, sebenarnya siapaun dia dan Seno adalah orang yang sama meski dalam pribadi yang berbeda".
"Jadi, Seno harap tetaplah kalian menyayanginya seperti kalian yang menyayangi Seno".
"Waktu Seno sudah tidak banyak, mom. Sudah waktunya Seno kembali dan menunggu kalian semua datang mengunjungiku yang entah kapan kita akan bertemu lagi" kata Seno dari tempat duduknya, karena meski sudah cukup lama berada di raganya, Seno masih tak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Selamat tinggal, semuanya" lanjut Seno.
Selanjutnya, raga itu kembali berguncang hebat. Tapi sebelum semua kesadaran Seno habis, cowok itu masih sempat menyunggingkan senyuman pada semua orang yang melihatnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Perlahan netra coklat terang itu terpejam dengan guncangan yang membuat Mommy, papi, Aish, Hendra dan Richard berusaha menenangkan dengan cara memeganginya.
Sementara Vee yang masih lemah hanya bisa memandangi semua kejadian itu dalam tangisan yang menyayat hati.
Vee tak menyangka jika akan mendapatkan kejutan sebesar itu. Jika mungkin afa kesempatan, mungkin Vee akan berusaha menggagalkan kejahatan Helen di masa lalu agar semua orang yang menyayangi Seno tak akan merasakan sedihnya kehilangan.
__ADS_1
Dan saat raga itu sudah berhenti bergetar, kedua netranya masih nyaman untuk terpejam.
"Seno, Seno! Bangun nak, ayo bangunlah. Cuma kamu satu-satunya anak yang Mommy punya. Kalau kamu ninggalin mommy, nanti Mommy sama siapa, nak?" tanya Mommy Seno pada raga yang entah masih berisi sebuah jiwa atau tidak.
"Seno, bangun nak. Apa kamu sudah tidak menyayangi papi lagi?" tanta Papi Seno yang ikut menangis sedih.
"Bangun Sen, bangun" Aish tak kuasa untuk lebih banyak berkata-kata.
Kesedihan luar biasa tengah ia rasakan karena melihat sahabat terbaiknya pergi meninggalkannya untuk selamanya di depan matanya sendiri.
Saat kesedihan masih melingkupi ruang rawat Vee, ternyata waktu sudah memasuki jadwal kontrol dokter yang harus mengobservasi keadaan Vee setelah beberapa jam keluar dari UGD.
"Maaf kalau saya mengganggu, ada apa kalau boleh saya tahu, kenapa semuanya menangis?" tanya dokter yang merasa segan karena datang di waktu yang tidak tepat.
"Dokter, untung saja ada dokter disini. Saya Minta tolong untuk memeriksa keadaan anak saya, dok" kata Mommy sambil menunjuk Seno yang terlihat lelap sambil duduk.
"Ada apa dengannya, bu? Kenapa mas Seno bisa pingsan begini?" tanya dokter yang tentunya juga tahu siapa Seno.
"Tolong periksa keadaannya, dok. Apa dia hanya pingsan atau terjadi hal lainnya?" kata papi Seno menegaskan.
"Baiklah, akan saya periksa Mas Seno nya terlebih dahulu ya, pak" jawab dokter itu sambil melangkah mendekati Seno yang terlihat nyaman dalam tidurnya.
Semua orang nampak gelisah saat dokter yang dibantu oleh seorang asistennya untuk memeriksa keadaan Seno.
Semua orang semakin merasa takut saat melihat wajah sang dokter menampilkan ekspresi terkejutnya.
Apa yang telah dokter itu rasakan hingga berekspresi seperti itu?
Apa yang sebenarnya terjadi terhadap raga yang baru saja Seno tinggalkan?
.
__ADS_1
.
.