Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
hari pertama dengan tubuh baru


__ADS_3

"Duh, bikin kaget saja. Kamu sudah bangun?" tanya Vee kesal, sambil mengelus dadanya.


Hideo terkekeh pelan, "Iya, saya sudah bangun Vee" ujarnya pelan dengan posisi masih terbaring lemah.


Vee terdiam sejenak, sambil tetap mengawasi wajah pria didepannya ini.


"Ada yang salah dengan saya?" tanya Hideo lirih.


"Oh, jadi benar kalau jiwa kalian sudah bertukar ya, kak? Seperti dalam film horor saja" Hideo masih bisa mendengar gumaman Vee.


"Tapi mendengar ucapan kakak, aku yakin kalau dalam dirimu sudah bukan lagi jiwa milik Senopati. Karena Senopati bilangnya 'elo-gue' tapi kalau kakak kan 'saya-kamu' mirip kayak orang jadul" kata Vee yang masih saja bermonolog.


Cukup lama beradu pandang, akhirnya Vee menguap lebar. Tapi tentu telapak tangannya sigap untuk menutupi.


Hooaamm...


"Aku ngantuk kak. Kakak istirahat saja dulu disini ya. Aku mau ke kamarku sendiri. Nanti siang kita bertemu lagi. Dah kak" kata Vee seolah tanpa beban.


Padahal dalam hatinya, Hideo tengah berusaha menahan sesuatu yang rasanya seperti akan meluap. Entah bagaimana mengutarakannya.


Lama hidup sebagai jiwa tanpa raga, membuat Hideo harus kembali beradaptasi dengan fisik manusia biasa.


Tubuh Vee terasa sangat lelah, hingga untuk berjalan ke kamarnya sendiri saja rasanya dia sudah tak sanggup.


Dengan sekuat tenaga gadis itu berjalan keluar kamar Hideo, dan berhenti sebentar di depan pintu setelah menutupnya.


Melihat ke arah tangga, Vee merasa jika kakinya sudah tidak kuat untuk melangkah lebih jauh.


Segera saja Vee membaringkan diri diatas sofa didepan tv. Dan tak menunggu lama, gadis itu sudah tertidur dengan posisi tengkurap.


Rupanya Vee sangat kelelahan setelah berjam-jam lamanya tersesat di alam lain yang membuatnya harus kehilangan HoRoCi selama beberapa waktu ke depan.


Vee telah tertidur dengan damainya.


Sedangkan didalam kamarnya, Hideo merasa jika jiwanya sudah sangat sehat. Tapi tidak dengan tubuhnya.


Meski sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk bangun. Hideo tak bisa melakukannya.


"Argh! Menyusahkan sekali tubuh ini" geramnya.


"Bergeraklah tubuh! Apa yang harus saya lakukan untuk membuat tubuh ini merasa lebih baik?" kata Hideo sangat kesal.


Pria itu berfikir keras untuk mengingat apa saja mantra yang pernah Sri ajarkan padanya.


"Kenapa sulit sekali untuk mengingat semuanya? Apa yang harus saya perbuat?" gumam Hideo.


"Argh sial" kesal sekali Hideo saat tubuhnya masih belum mau merespon perintah dari otaknya.


Sebenarnya memang kondisi tubuh Hideo masih sangat memerlukan istirahat untuk mengembalikan staminanya.


Setelah sangat lama terjebak dalam wujud jiwa tanpa raga akibat ulah Sri, tentu butuh waktu untuk Hideo agar bisa kembali normal dengan tubuh barunya.

__ADS_1


Apalagi tubuh yang dia tempati sekarang pernah diracuni oleh orang tak bertanggung jawab. Beruntung Sri bisa mengeluarkan semua racun dalam tubuh Hideo.


Tinggal proses pemulihannya saja yang tentu membutuhkan kesabaran.


"Dasar Sri sialan. Seharusnya dia membiarkan saya mati saja daripada harus hidup dengan bentuk tak jelas. Dan sekarang setelah dia kembali memaksa saya untuk masuk ke dalam tubuh ini, malah tubuh ini sangat sulit untuk saya pahami" lirih Hideo dengan sangat kesal.


Lama berperang dengan logikanya, Hideopun kelelahan dan kembali tertidur dengan damainya.


Semoga esok hari saat mentari pagi kembali bersinar, kalian bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.


★★★★★


Cahaya matahari perlahan masuk ke dalam celah jendela di kamar Hideo yang tirainya tidak tertutup rapat.


Pendarannya pas mengenai wajah tampan Senopati yang kini milik Hideo.


"Ehm" gumam Hideo lirih sambil berusaha menghindar dari terpaan sinar matahari.


Meski wajahnya sudah tak terkena sinar matahari, tapi panasnya sudah terasa di rambutnya.


Membuat pria itu mau tak mau harus bangun atau mengubah posisi tidurnya jika masih ingin meneruskan mimpi.


"Hengmg ... Ternyata memiliki tubuh tidak seenak yang saya pikirkan sebelumnya. Sebagai arwah saya tidak merasa ngantuk, lelah dan sakit, tapi dengan tubuh ini kenapa rasanya sangat menyusahkan sekali" gumam Hideo sambil memicingkan matanya.


Pria itu masih saja kesal rupanya.


"Lebih baik saya bangun" kata Hideo lirih.


Meski berat, tapi Hideo sudah bisa melakukannya.


"Syukurlah, saya sudah bisa duduk dengan baik" kata Hideo tersenyum.


Tak puas sampai disitu, Hideo kini tengah berusaha berdiri dan belajar berjalan meski masih di dalam kamar saja.


"Argh, perut ini kenapa masih terasa sakit" kata Hideo sambil memegangi perutnya yang terasa mulas, seperti sesuatu akan keluar dari dalamnya.


"Sepertinya saya butuh kamar mandi" segera saja Hideo sedikit tergesa memasuki kamar mandi.


Beruntung di dalam kamar itu sudah tersedia kamar kecil, jadi dia tidak perlu keluar dulu untuk mencarinya.


"Ah, lega sekali. Rupanya tubuh ini perlu melakukan sekresi, haha. Sudah sangat lama saya tidak melakukannya, dan rasanya sangat melegakan" kata Hideo setelah menyelesaikan acaranya di dengan toilet.


Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, Hideo melihat tampilan wajah barunya di cermin yang terletak diatas wastafel.


"Wajah ini sangat kusam. Saya harus menyekanya dengan air" gumam Hideo sambil mencuci mukanya.


"Ah, segar sekali" katanya sambil bercermin dan mengamati tampilan wajah barunya.


"Sebenarnya masih lebih baik wajah lama saya, tapi wajah ini tidak buruk".


"Sekarang apa yang harus saya lakukan ke depannya? Tidak mungkin kalau saya masih harus mengikuti kemanapun Vee pergi. Karena saya sudah bukan lagi jiwa tanpa raga, sekarang orang-orang sudah bisa melihat saya" kini Hideo sedikit bingung dengan masa depannya.

__ADS_1


"Sri memang sialan. Seharusnya dia membiarkan saya dengan garis hidup saya sendiri. Daripada saya harus kembali hidup di zaman yang sama sekali tidak saya mengerti" lagi-lagi Hideo menyalahkan Sri.


"Ah, sial" akhirnya Hideo menyudahi aksi bercerminnya.


Sekarang dia ingin keluar dari kamar sambil melatih otot-otot tubuhnya agar bisa berfungsi dengan baik.


Keluar dari kamarnya, Hideo berhenti sebentar di depan pintu dan mengedarkan pandangan. Berfikir apa yang akan dia lakukan kali ini.


Matanya berhenti memindai saat melihat sepasang kaki tengah terjuntai dari balik sofa di depan TV.


"Mungkinkah Vee tertidur disana?" tanya Hideo lirih, langkahnya pelan menuju ke arah Vee yang sedang tidur.


Dan benar saja, saat Hideo sudah berada di depan sofa memang Vee masih tertidur diatasnya.


Sekarang dia sudah tidak tengkurap lagi, posisi kedua tangannya terangkat tinggi diatas kepala dengan kedua kakinya yang masih memakai sepatu terjuntai melewati pegangan sofa.


Seperti biasa saat tidur, kini dalam posisinya yang telentang Vee menaikkan kaosnya hingga memperlihatkan perut ratanya.


Mata Hideo terbelalak melihat tampilan yang sebenarnya bukan pertama kali baginya melihat perut Vee yang terlihat setiap kali gadis itu tidur.


Tapi dengan tubuh barunya, ada sesuatu yang aneh dalam diri Hideo saat melihat Vee yang seperti ini.


"Kenapa ada rasa aneh dalam diri saya melihat kamu begini, Vee?" gumam Hideo yang masih terpaku di tempatnya.


"Kenapa kamu terlihat sangat berbeda Vee?" tanya Hideo lirih.


Semakin lama Hideo memperhatikan Vee, ada perasaan menjalar yang terasa semakin meninggi di dalam tubuhnya.


"Argh, apa ini?" Hideo meraba sesuatu yang tiba-tiba berdiri di pusat tubuhnya, terasa sangat menyiksa.


"Kamu sangat berbahaya jika dibiarkan tidur di tempat terbuka seperti ini, Vee. Saya harus membangunkanmu" kata Hideo sambil berusaha menekan rasa aneh dalam dirinya.


Tapi saat tangannya menyentuh lengan Vee, rasa aneh itu semakin memanas dan sepertinya Hideo tak sanggup melanjutkan rencanannya untuk membangunkan Vee yang tertidur seperti orang pingsan.


"Saya butuh minum, biarkan saja anak ini tetap tidur sampai dia bangun sendiri. Saya tidak akan membangunkannya" Hideo kesal pada dirinya sendiri yang tak menyadari jika akan terjadi sesuatu saat melihat lawan jenisnya.


Perasaan yang timbul dalam diri orang dewasa saat tertarik pada lawan jenisnya.


Dalam kehidupan sebelumnya, Hideo memang masih terlalu awan untuk urusan dewasa. Karena hari-harinya hanya dipenuhi belajar, latihan dan keluarga saja. Belum pernah dia merasakan godaan dari lawan jenisnya meski banyak wanita yang menginginkannya.


Di zaman dulu, jika seorang pria atau wanita sudah berkeinginan untuk memiliki lawan jenisnya. Kebanyakan dari mereka akan menyampaikan pada orang tuanya agar melanjutkan kabar itu ke orang tua dari anak yang dimaksudkan.


Jarang sekali dari mereka yang pacaran, karena memang hal itu dianggap tabu.


Hingga saat Sri mempunyai keinginan lebih pada Hideo, pria itupun tak pernah mengetahuinya.


Dan kini, di zaman baru yang Hideo rasakan. Tiba-tiba terasa adanya reaksi dalam dirinya saat melihat lawan jenis dalam posisi tertentu.


"Lebih baik saya mencari minum" Hideo bergumam sambil beranjak dari hadapan Vee yang masih dalam posisinya.


Pria itu menuju ke dapur untuk mencari air minum.

__ADS_1


__ADS_2