Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
berpamitan?


__ADS_3

Ponsel Vee berdering nyaring, nomor masuk tidak dikenal.


"Siapa?" gumamnya.


"Angkat deh, siapa tahu penting" kata Vee yang sudah menempelkan ponsel ke telinganya.


"Iya, hallo" sapa Vee.


"Hai, Vee. Apa kabar? Kamu masuk ke sekolah kan hari ini?" tanya seseorang di seberang sana.


"Aku Alhamdulillah baik, ini siapa ya?" tanya Vee.


"Oh, sampai lupa bilang. Aku James, maaf ya aku langsung hubungi kamu" oh, rupanya James yang sedang menghubungi Vee.


"James? Kamu bisa tahu nomorku dari siapa?" sepertinya Vee belum memberinya nomor telepon.


"Aku tadi minta sama Bintang. Maaf ya nggak izin sama kamu dulu. Soalnya aku nungguin kamu daritadi nggak datang juga ke sekolah, makanya aku telepon kamu" kata James mencari alasan.


"Memangnya kenapa?" tanya Vee.


"Nanti malam kan konsernya Senopati di balai kota, Vee. Kamu mau kan datang kesana sama aku?" James masih saja berusaha mengajak Vee.


Vee hanya mengambil nafas panjang, sebenarnya dia sangat tidak suka dengan kegiatan semacam ini.


Dia tidak suka keramaian.


Tapi bagaimana cara untuk menolaknya ya?


"Ehm, kayaknya aku nggak bisa deh James. Soalnya ada acara keluarga. Nggak mungkin aku bela-belain lihat konser sementara keluarga aku lagi ngumpul, kan?" entah kebohongan darimana, yang penting Vee bisa bebas.


"Dasar pembohong" ejek Hideo setiap mendengar Vee berujar kebohongan.


Vee hanya mencebik.


Terdengar James disana juga tengah menghela nafas panjang. Rupanya diapun merasa kecewa.


"Sorry ya, James" kata Vee lagi, tidak enak rasanya kalau menolak ajakan pertama dari seorang teman.


"Oke deh, nggak apa-apa. Keluarga kamu kan lebih penting. Aku ngerti kok. Lain kali aja kita jalan ya" James masih saja memberikan penawaran.


Sekarang Vee yang menghela nafas berat. James masih saja berusaha mendekatinya.


"Kita lihat lain kali ya, James" akhirnya Vee pasrah.


"Oke. Ehm, yasudah kamu lanjutin urusan kamu ya. Aku tutup dulu teleponnya. Dah, Vee" James berpamitan.


"Dah James" dan ya, Vee telah menutup panggilan teleponnya.


Dan hal pertama yang Vee dapatkan adalah tatapan tajam dari Hideo.


"Kenapa?" tanya Vee yang tidak suka melihatnya.

__ADS_1


"Kamu terlalu sering berbohong" sebenarnya bukan itu alasan Hideo merasa tidak suka.


"Bohong demi kebaikan itu tidak dilarang, kak" dengan entengnya Vee membalas ucapan Hideo.


"Kebaikan siapa?" tanya Hideo yang sudah kembali melayang mengikuti pergerakan Vee.


"Kebaikan saya sendiri, hahahahaha" Vee malah tertawa dengan kerasnya.


Membuat Hideo semakin memicingkan matanya.


"Tertawamu terlalu lebar, Vee" kata Hideo.


Vee segera mengatupkan mulutnya, sekarang dia merasa bingung dengan keadaan di sekitar rumahnya.


Dia sampai celingukan melihat banyaknya orang yang berlalu lalang. Tidak seperti biasanya.


"Tumben ramai" gumamnya sambil melangkah keluar gerbang.


Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya orang-orang yang berlarian ini adalah para ART di sekitar sini.


Terlihat beberapa dari mereka yang masih memegang peralatannya. Ada yang memegang spatula, ada yang pegang cetok.


"Woi, pak" sapa Vee pada security depan kompleknya.


"Iya mbak Vee. Ada apa?" tanya security itu dengan napas tersengal.


"Tumben ramai? Ada apaan?" tanya Vee.


"Hah? Mayatnya siapa pak?" tanya Vee lagi.


"Belum tahu mbak. Masih diselidiki sama polisi. Paling besok beritanya baru keluar" kata security itu.


"Oh, oke deh. Makasih ya pak" kata Vee membiarkan security itu melakukan tugasnya.


"Pasti yang semalam" Vee mendengar gumaman dari ketiga bocil setan yang rupanya sedang berdiri di belakangnya.


Seketika Vee menoleh, melihat ke arah HoRoCi yang belum menyadari arah pandang Vee.


"Semalam ada apa?" tanya Vee curiga.


Dia hanya takut kalau HoRoCi terlibat sesuatu yang tidak benar.


"Oh, tidak ada apa-apa, Vee" kata Ho dengan lancarnya.


Tapi malah membuat Vee semakin tidak percaya.


"Yang benar" kata Vee.


"Iya, tidak ada apa-apa. Benar" kata Ho membela diri.


Vee hanya memicingkan mata, dan kembali berjalan mengikuti langkah kakinya. Tapi malah ketiga bocil itu mengikutinya.

__ADS_1


Cukup lama Vee berjalan. Dengan tangan dan mata yang sibuk mengabadikan banyak hal dengan kameranya.


Dan dia sudah menapakkan dirinya di sebuah tanah lapang yang cukup rindang karena dinaungi oleh banyak pohon besar.


Berada jauh diatas bukit, Vee menemukan tempat yang nyaman meski tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah jalan aspal yang menghubungkan bukit ini dengan desa terpencil dibaliknya.


Tapi jalan ini sangat jarang dilewati karena orang-orang lebih memilih untuk lewat jalan lain yang juga menghubungkan dengan desa sebelah tapi jalan lain itu melewati sebuah pasar. Jadi, jalan itu lebih ramai daripada disini.


"Uwah, ternyata disana ada jurang, kak" kata Vee yang sudah mendekat ke bibir jurang.


"Tapi jurang ini nggak begitu dalam ya kak, nggak terjal juga. Kalau main seluncuran ke bawah sana juga pasti nggak bahaya" gumam Vee menilai isi jurang itu.


"Jangan main-main sama malaikat maut kamu, Vee. Kadang tersandung saja sudah membuat nyawa melayang, apalagi kalau kamu sengaja bermain dengan jurang" perkataan Hideo memang ada benarnya.


Vee sampai mundur beberapa langkah untuk mencari tempat aman.


"Ucapanmu mengerikan, kak" gerutu Vee yang telah melanjutkan langkahnya mendekati jalan aspal.


Dan duduk di sebuah bangku cor yang sebenarnya adalah pembatas jalan dengan sungai kecil yang mengalir di sisi jalan, sambil melihat hasil jepretannya sejak tadi.


Seolah teringat akan sesuatu, Vee segera menoleh ke arah Hideo yang sedang melihat ke arah kamera Vee.


"Kak, bukankah beberapa hari lagi adalah purnama terakhir? Dan aku masih belum mendapatkan tubuh pengganti untukmu, kak" kata Vee lirih, pandangan matanya menyiratkan rasa bersalah pada Hideo.


Hideo membalas pandangan mata Vee, seutas senyumnya mengembang. Memberi rasa aman pada hadis itu.


"Jangan terlalu kamu pikirkan, Vee. Karena saya sudah ikhlas dengan garis takdir apapun yang akan menimpaku" kata Hideo.


"Tapi apa yang akan terjadi kalau sampai waktu itu tiba, tapi kamu masih belum mendapatkan tubuh pengganti, kak?" tanya Vee mulai serius.


"Maka aku akan selamanya pergi dari dunia ini. Aku tidak akan lagi merasakan sakitnya kehabisan energi, tapi satu hal yang pasti akan sangat terasa berat, Vee" kata Hideo yang sudah memandang ke arah lain.


"Apa?" tanya Vee, obrolan mereka cukup serius kali ini.


"Untuk meninggalkanmu sendiri pasti akan terasa sangat sulit, Vee. Saya hanya berharap kamu akan melanjutkan hidup dengan baik. Dan fokuslah pada masa depanmu. Jangan terlalu banyak bermain" kata Hideo.


Mata Vee memanas, tak biasanya Hideo berkata terlalu dalam begini. Membuat Vee merasa sedih.


Beberapa bulan selalu bersama, tak dipungkiri jika ada rasa tak rela saat tiba-tiba Hideo akan pergi darinya.


"Sudahlah Vee. Jangan terlalu bersedih. Saat seseorang meninggalkanmu, pasti akan ada lagi seseorang yang akan datang untuk menggantikan posisi orang itu nanti di hati kita" kata Hideo.


Vee masih saja diam, setetes air matanya turun saat Hideo seolah sedang berpamitan padanya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2