Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
seonggok daging


__ADS_3

"Makhluk terkuat dari mereka masih mengintai rumah ini" Hideo berkata lirih sambil mengamati keadaan diluar rumah Vee dari jendela kamar.


"Siapa?" tanya Vee yang ikut mengintip, disusul Ho Ro dan Ci.


"Setidaknya, ada tiga dari mereka yang belum pergi" kata Hideo.


Vee ikut melihat keluar, tapi yang bisa dia lihat hanya ada satu makhluk serupa manusia dengan jubah hitam tapi berkepala serigala, atau anjing?


Kilatan matanya seperti laser mainan kucing yang dinyalakan. Berwarna merah terang.


"Aku hanya bisa melihat satu, dimana yang dua?" tanya Vee.


"Agak jauh dari sini, tapi sangat terasa jika dia masih mengintai" kata Hideo.


"Bagaimana cara mengusirnya?" tanya Vee.


Malamnya jadi tak tenang dengan kedatangan makhluk-makhluk aneh itu, dan itu semua terjadi sejak kehadiran Hideo didekatnya.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" Hideo tidak terima karena sejak tadi Vee melihatnya dengan sinis.


Dan itu terjadi karena Vee terlalu menghayati pikirannya yang sedang merutuki Hideo.


Mendengar ucapan Hideo, lekas saja Vee mengalihkan pandangannya. Tambah sebal saja rasanya saat tak bisa menang melawan makhluk serupa asap yang tidak pernah sekolah tapi otaknya cukup cerdas.


"Jadi bagaimana caranya mengusir mereka?" Vee bertanya dengan ketus.


"Kita harus cari kelemahan mereka, dan kita lawan" kata Hideo.


"Enak saja kamu bicara seperti itu, om. Kamu dong yang cari kelemahannya, jadi aku disangkutpautkan" gerutu Vee.


"Biar kami saja yang keluar untuk mencari kelemahan mereka" akhirnya Ho Ro dan Ci yang bersedia keluar.


Vee memandangi ketiga bocil setan yang kadang juga menjengkelkan itu, tak tega juga kalau sampai mengorbankan mereka.


"Baiklah, baiklah... Aku juga ikut keluar" kata Vee yang terus beranjak mengambil jaket dan senter.


Tak lupa buku diary Sri juga dibawanya, siapa tahu dibutuhkan.


"Jangan Vee. Itu terlalu berbahaya. Biar kami saja yang keluar" kata Ho.


"Sudah, tidak apa-apa. Lagian cuma di halaman depan saja, kan? Masih ada pagar pelindung yang tidak mungkin bisa diterjang oleh mereka. Jadi, insyaallah masih aman" kata Vee yang sudah membulatkan tekadnya.


Akhirnya, Vee ikut keluar. Melihat dari dekat seperti apa sosok terkuat dari para makhluk yang tadi sempat berusaha memasuki rumahnya.


Sampai diluar, Vee jadi heran sendiri. Karena tidak ada kerusakan apapun yang terjadi. Hanya seperti saat baru saja hujan reda dan semuanya tampak basah.


"Dimana mereka?" tanya Vee.


"Satu ditempat yang sama seperti saat kau lihat dari kamarmu. Satu lagi serupa seonggok daging besar yang ada di depan gerbang, dan satu lagi cukup jauh. Dan saya rasa nanti saat yang dua sudah tidak mampu melawan, maka yang ketiga ini akan datang" kata Hideo memberi informasi.


Vee lebih tertarik ke makhluk yang kedua, serupa onggokan daging bekas operasi yang sangat besar. Tingginya hampir dua meter, tapi hanya berupa daging berlemak. Dan itu sangat menjijikkan.


"Sepertinya aku tahu bagaimana cara memusnahkan daging menjijikkan itu" kata Vee.


Hideo dan ketiga bocil melihat pada Vee yang sedang berlari menuju garasi. Entah apa yang sedang diambilnya.

__ADS_1


Vee keluar, membawa sebotol gas LPG darurat yang biasanya dipakai untuk kompor portable. Dan sebuah korek api berbentuk tembak.


"Bagaimana cara membuat makhluk itu mendekat dan menangkapnya?" tanya Vee.


"Dia suka pada tubuh yang sehat karena biasanya dia akan digunakan sebagai penyakit yang menggerogoti tubuh target dari dalam" kata Hideo.


"Dan untuk menangkapnya, bisa menggunakan apa saja asalkan sudah dimantrai" penjelasan Hideo cukup mengerikan.


"Jadi, bisa saja penyakit yang diderita seseorang benar-benar sebuah sihir dengan media makhluk ini?" tanya Vee sambil memperhatikan seonggok daging yang berdenyut-denyut di depan gerbangnya.


Hideo hanya mengangguk, sungguh tak bisa dipungkiri jika ilmu sihir memang diluar akal sehat. Dan makhluk-makhluknya pun sangat beraneka ragam.


"Ah, garam kasar" Vee teringat kakek Hasan, garam kasar mungkin bisa digunakan kali ini.


Kembali Vee berlari ke dapur, seingatnya dia pernah menyimpan garam kasar dalam jumlah banyak saat dulu di rumah bundanya tiba-tiba muncul banyak sekali anak siput yang merusak tanaman.


Setelah menemukannya, segera Vee meminta bantuan Hideo untuk membaca surat-surat yang diajarkan kakek Hasan tadi sore. Dan meniupkan ke garam itu.


Selesai dengan semuanya, segera Vee berlari ke halaman. Melihat daging itu yang masih tak mau beranjak.


Ho Ro dan Ci tentu tak akan bisa memegang garam itu karena akan menimbulkan efek terbakar jika tersentuh oleh mereka.


"Tolong lindungi aku dari dia ya, HoRoCi. Jangan lupa semprotkan gas dari tabung kecil itu Ho, setelah aku selesai menabur garamnya, lalu nyalakan pemantik apinya Ro" kata Vee yang tengah bersiap keluar gerbang, sebentar saja hanya untuk melenyapkan seonggok daging berdenyut yang masih kokoh di depan gerbang.


"Bismillahirrahmanirrahim" Vee berdoa singkat sebelum keluar gerbang.


"Tolong bukakan gerbangnya, om" kata Vee.


"Baik" kata Hideo menggerakkan jarinya, membuka gerbang tanpa menyentuh.


Hembusan angin terasa dingin tapi kering, semilirnya menerpa anak rambut di wajah Vee.


Sejenak Hideo merasa pernah melihat Vee dengan gaya seperti itu, tapi dimana?


Hideo lupa, sekarang dia hanya bisa menatap wajah Vee yang ternyata cantik. Tapi tak ada perasaan apapun yang singgah dihatinya.


Vee bersiap, segera dia berlari mengitari daging raksasa itu sambil menaburkan garam kasar.


Makhluk itu menggeliat, karena tidak punya mulut, yang bisa makhluk itu lakukan hanyalah menggelepar seperti anak siput yang disiram garam.


Setelah dirasa cukup dan garam di tangannya sudah habis, Vee segera menyuruh Ho dan Ro agar memantik api dengan sasaran daging berbumbu garam di depannya ini.


Dan wuss!!


Dalam sekejap, daging itu terpanggang sempurna. Serasa pesta barbeque dengan daging raksasa.


"Asapnya banyak banget" keluh Vee yang kesulitan melihat jalan untuk kembali.


Sementara makhluk yang tengah memantau dari atas pohon sudah mulai turun. Bersiap melawan Vee.


HoRoCi segera menarik tangan Vee untuk berlari memasuki gerbang sebelum makhluk serupa binatang itu berhasil menangkap Vee.


"Ah, sakit" kening Vee terantuk gerbang saat ketiga bocil menariknya.


Tapi untung saja, hanya selisih beberapa centimeter saja dari makhluk itu sudah berada di belakang Vee.

__ADS_1


"Alhamdulillah, selamat" gumam Vee sambil mengusap keningnya yang kemerahan, rasanya masih berdenyut-denyut.


Kepulan asap dari makhluk itu bahkan bisa memasuki halaman rumah. Baunya sangat busuk.


"Hoek, hoek" Vee memuntahkan semua makan malamnya di tempat sampah.


Bau dari makhluk menjijikkan itu sangat menusuk hidung.


"Kamu nggak kebauan ya om?" keluh Vee, nampaknya hidung Hideo dan HoRoCi ini sedang rusak hingga tak bisa merasakan bau busuk dari kepulan asap itu.


"Saya tak merasakan bau apapun" kata Hideo.


Sebenarnya dia juga bisa merasakan baunya, tapi dia kan tidak bisa muntah. Jadi meskipun bau, ya dia hanya diam saja.


Makhluk kedua masih berusaha masuk, mencakar-cakar gerbang gaib untuk berusaha merusaknya.


"Aurghh!!"


makhluk itu bersuara, melolong seperti serigala, tapi juga terdengar seperti suara kucing.


Entahlah, kedengarannya sangat seram. Sampai bulu kuduk langsung meremang saat makhluk itu bersuara.


"Aku langsung merasa sedih" tiba-tiba Vee mengeluarkan air matanya.


Padahal bulu kuduknya belum juga turun, tapi sekarang tiba-tiba dia menangis.


"Makhluk itu memang diutus untuk membuat mangsanya merasa terpuruk, putus asa, dan merasa tak ada lagi tempat untuk mereka mengadu. Hingga saat keputus asaan merasuki hati dan fikiran targetnya, maka kebanyakan dari mereka akan melakukan bunuh diri" Hideo menjelaskan dengan baik, tatapannya tak lepas dari makhluk itu.


"Ada yang seperti itu?" lagi, Vee tak habis pikir dengan dunia baru yang tengah dia alami.


Sambil mengusap air matanya, hatinya masih saja merasa sangat sedih. Dan rasanya seperti berkabung. Terlalu sedih.


"Astaghfirullahal adzim" Vee melantunkan dzikir semampunya, berharap Allah tak membiarkan kesedihan menggerogoti hatinya.


Ho segera mengalungkan air mata mereka yang kini berupa kaling kristal yang sangat indah ke leher Vee.


Berharap bisa segera mengurangi efek yang diberikan oleh makhluk di depan mereka.


"Alhamdulillah" gumam Vee sambil mengusap air matanya.


"Rupanya pertolongan Allah melalui indahnya kilauan kristal dari kalung ini" Vee mengagumi barisan batu kristal berwarna-warni yang melingkar indah di lehernya.


"Aku sudah nggak ngerasain sedih lagi" kata Vee yang sudah kembali ceria.


"Efeknya sangat luar biasa ya, om. Kalau orang yang ditargetkan bukanlah orang yang kuat hatinya, pasti benar-benar akan bunuh diri memang" komentar Vee setelah merasakan kedahsyatan suara lolongan makhluk ini.


"Terus, bagaimana caranya kita melenyapkannya, om?" tanya Vee.


"Saya juga tidak memahaminya, Vee. Coba kamu cari di buku itu" saran Hideo.


Vee sudah jengah, lagi dan lagi dia harus membaca barisan huruf-huruf Jawa kuno yang kadang dia harus ekstra berpikir untuk bisa memahaminya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2