Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
tiga bocil di halaman


__ADS_3

Masih irit suara, Hideo berada di tengah-tengah antara Vee dan Andik di dalam truk.


"Pak dhe kok ngerasa agak dingin ya, Vee? Apa mungkin cuacanya sih?" tanya Andik yang daritadi mengelus lengan kirinya, bersebelahan dengan Hideo yang duduk bersila diatas tas ransel milik Vee.


"Iya kali pak dhe, atau mungkin ada hantu yang ngikutin" kata Vee sambil menatap pada Hideo yang tak merasa bersalah.


"Nggak ada hantu itu ,Vee. Semuanya cuma jin yang malih rupa" kata Andik dengan pedenya.


"Kalau semuanya adalah jin, lalu saya apa?" kata Hideo yang juga melihat ke arah Andik kali ini.


"Nggak tahu" jawab Vee sambil mengendikkan bahu.


"Apa Vee? Nggak tahu apa?" tanya Andik.


"Eh, nggak apa-apa kok pak dhe. Ini lagi ngobrol sama kamera. Kok agak rewel gitu loh kameranya" ujar Vee yang tak mau Andik curiga.


Andik hanya menggelengkan kepalanya, membiarkan Vee berbuat apapun semaunya.


Di tengah perjalanan, Vee yang semalam tidurnya memang tak bisa nyenyak, sekarang malah ketiduran di sebelah Andik yang masih menyetir.


Dia sudah terlelap setelah naik lagi dari rest area terakhir. Setelah makan dan solah ashar, Vee terus tidur sampai tiba kembali di kota Malang.


"Hei, Vee. Sudah sampai ini, bangun" kata Andik yang mengguncang lengan Vee yang masih terlelap.


Hideo masih saja bungkam sejak tadi, dia masih ingin memberikan waktu untuk Vee agar terbiasa dengan kehadirannya.


"Eh, iya pak dhe. Dimana ini?" tanya Vee, masih menampakkan muka bantalnya.


"Di gang, truknya pak dhe kan nggak muat kalau harus nganterin kamu sampai depan rumah" kata Andik sambil menyulut sebatang rokok.


"Hem... Iya, makasih ya pak dhe. Vee turun dulu. Salam sama budhe dan kakak-kakak" pamit Vee sambil mencium punggung tangan Andik, dan memakai tas ranselnya.


"Iya" jawab Andik singkat, sudah bersiap lagi dengan setir besarnya.


"Assalamualaikum, pak dhe" salam Aish sambil menuruni truk.


"Waalaikumsalam" jawab Andik yang melajukan truknya dengan lambat setelah Vee menutup pintu.


Suasana sudah hampir maghrib saat Vee menapakkan kakinya di mulut gang. Masih dengan Hideo yang melayang di dekatnya.


"Bisa nggak sih om pulang saja?" kata Vee yang sedikit merasa takut.


"Nggak bisa, saya harus selalu bersama kamu karena kamu adalah orang yang bisa membebaskan saya dari dalam botol itu" kata Hideo dengan santai, matanya mengamati sekeliling gang yang terlihat sepi.


"Cg, kamu bawa saja deh kotak beserta isinya ini om. Asalkan kamu nggak dekat-dekat sama aku" usir Vee sambil menjulurkan kotak kayu kuno yang didapatnya pada Hideo.


"Kamu sudah terpilih, jadi tidak bisa menghindari saya lagi" kata Hideo dengan santainya, menolak kotak itu.


Vee bingung sendiri, tapi dia tetap melanjutkan langkahnya menuju ke rumah bundanya yang sudah terlihat.


"Loh, kenapa lampu jalan di depan rumah bunda kedip-kedip gitu ya?" gumam Vee, masih mendekati rumah bundanya.


Hideo sedikit menegangkan tubuhnya yang sebenarnya hanya berupa asap. Sesaat saja, matanya berkilat merah. Tapi kembali berwarna coklat saat Vee menoleh padanya.


"Hei bocah, ngapain mainin lampu? Nanti kesetrum loh" teriak Vee saat melihat ada beberapa bocah memainkan kabel lampu jalan di depan rumahnya.


Hideo masih saja memperhatikan tingkah Vee dan beberapa bocah itu.


Ada seorang bocah yang sepertinya masih usia TK, dia tengah duduk diatas tiang lampu dan memainkan bohlam lampu dengan kedua tangannya.


Seorang lagi tengah bermain di tiangnya, mengguncangkan tiang itu sambil tertawa-tawa.


Dan satu bocah lagi bertepuk tangan di bawah kedua bocah yang naik di tiang lampu.


"Heh bocah, kalian nakal banget sih. Lihat tuh lampunya jadi berkedip-kedip" Vee memarahi ketiga bocah yang sepertinya tak menggubris kemarahan Vee.


Vee semakin mendekat, niat hatinya ingin menjewer telinga mereka bertiga.


"Aaahhhh" Vee malah berteriak saat ketiga bocah itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


Vee menutup kedua matanya dan berdiri kaku seolah tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Vee, hahaha... Vee datang, yeye... Vee datang" ketiga bocah itu sudah berada di bawah dan menari-nari mengitari Vee yang ketakutan.


Vee membuka matanya, masih merasa takut karena dikelilingi oleh tiga makhluk astral bertubuh bocil.

__ADS_1


Berusaha memberanikan diri, Vee melihat ke wajah mereka satu per satu.


Wajah ketiga bocil itu hampir sama, mereka hanya mempunyai satu mata yang berada tepat diatas hidungnya.


Dan bibirnya terbelah secara vertikal, tidak seperti manusia pada umumnya yang bibirnya terbentuk horizontal.


Gigi runcingnya semakin membuat penampakan mereka semakin seram, apalagi di waktu surup seperti ini. Waktu yang banyak diyakini jika banyak hantu dan setan berkeliaran.


Vee bergidik ngeri, mengelus tengkuknya yang terasa merinding. Padahal dia sudah memakai jaket tebal .


Dan dari pendengarannya, ketiga bocil itu menyebutkan namanya. Darimana mereka tahu nama Vee?


"Vee datang, yeye... Vee datang" ketiganya masih menari, dan Vee sudah berani melihat mereka.


Bocil ini memakai pakaian lengkap, celana pendek dengan kaos oblong dengan warna cerah.


Hanya saja, rambut mereka gundul.


"Kalian siapa?" tanya Vee memberanikan diri.


"Saya Ho" kata si bocil yang paling besar.


"Saya Ro" kata yang kedua.


"Saya Ci" kata yang paling kecil.


"Kenapa kalian disini? Ngapain?" tanya Vee, kameranya sudah dalam posisi on dan merekam mereka bertiga, tentu tanpa sepengetahuan dari mereka.


"Main, hahaha .. Kita main, waktunya main. Ayo Vee ikut kita main" kembali mereka bertiga menari sambil mengitari Vee.


"Stop!" teriak Vee yang pusing melihat kelakuan mereka.


Ketiganya terdiam, menunduk dan sepertinya takut mendengar bentakan Vee.


Tapi tak lama kemudian, mereka mendongakkan kepalanya. Mata mereka memerah, karena hanya ada satu mata di wajahnya, tentu ukurannya agak sedikit lebih besar dari ukuran mata pada umumnya.


Vee jadi ketakutan lagi melihat perubahan ekspresi dari mereka bertiga.


Bibir mereka terdengar menggeram dan sudah bersiap mengeroyok Vee jika saja Hideo tak segera berdiri di depan Vee yang mematung.


Karena terkejut, ketiga bocil itu saling memeluk sesama mereka sendiri untuk berusaha menyelamatkan dirinya.


Vee sendiri juga ketakutan mendengar ucapan Hideo barusan. Wajah Hideo yang memerah menyiratkan jika asap pria itu sedang marah.


"Kenapa harus marah?" tanya Vee dalam hati sambil tetap mengamati keadaan disekitarnya.


"Ampun pangeran, ampun. Maafkan kami, maaf" ucap ketiga bocil itu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada mereka.


"Kenapa mereka nyebut Hideo ini pangeran?" gumam Vee.


"Jangan beraninya kalian berniat buruk padanya. Atau kalian akan saya jadikan abu, mau?" geretak Hideo.


Ketiga bocil itu sudah sangat ketakutan, mereka gemetaran sampai duduk diaspal jalan.


"Sudah, kalian nggak bikin aku takut kok. Sudah ya. Tapi jangan mainin lampu lagi, nanti rusak lampunya. Kan halaman rumah bunda jadi gelap" kata Vee yang tak tega melihat ketiga hantu bocil itu duduk sambil menunduk takut.


Hideo menoleh pada Vee, aura mengerikan masih terasa jika bersebalahan dengannya. Dan Vee masih berusaha menahan dirinya agar tak ketakutan.


"Iya Vee, dadah Vee" ketiga bocil itu lenyap seketika.


Vee tolah-toleh dibuatnya, "Kemana perginya mereka?" gumam Vee, melihat dengan lekat pada Hideo agar mau menjawab pertanyaannya.


"Pulang" jawab Hideo singkat dan masih melayang mengikuti arah langkah Vee yang memasuki halaman rumah bundanya.


Aura senja ini sudah berbeda dengan tadi saat Vee bertemu dengan ketiga bocil itu.


Gurat awan yang berwarna jingga masih sama seperti tadi, tapi sekarang sudah terdengar keramaian dari speaker mushola yang memperdengarkan lantunan solawat sebelum adzan Maghrib.


Kalau tadi, suasana sangat hening. Bahkan tak ada suara kicauan burung yang kembali ke sangkarnya.


"Assalamualaikum, bunda" Vee menguluk salam sambil melepas sepatunya. Duduk di kursi teras.


"Waalaikumsalam, darimana kamu Vee?" rupanya Varo yang keluar untuk membukakan Vee pintu.


"Dari Banyuwangi kak, ikut pak dhe Andik" jawab Vee sambil menurunkan tas ranselnya.

__ADS_1


Varo ikut duduk di kursi yang dibatasi meja kecil dari tempat Vee duduk, sementara Hideo masih saja melayang seperti tak kenal lelah.


"Kamu ngerasa aneh nggak sih? Tangan kiriku kerasa dingin, tapi yang kanan kok enggak ya?" tanya Varo yang membandingkan kedua tangannya.


Dan benar saja jika bulu-bulu di tangan kirinya berdiri tegak, sementara di tangan kanannya aman-aman saja.


"Nggak ada yang aneh kok, kak. Itu karena tangan kakak aja yang bulunya lagi pengen berdiri" ucap Vee yang masih betah menyenderkan punggungnya di kursi teras.


"Mana oleh-olehnya?" tanya Varo dengan tampang datarnya.


Vee melotot, tumben sekali abangnya ini minta oleh-oleh.


"Nggak usah kaget gitu, jelek banget muka kamu kalau matanya melotot" kata Varo sambil mengusap wajah Vee dengan telapak tangannya.


"Kakak ih, tumben banget sih nyantai?" tanya Vee.


"Kakak lagi nunggu adzan Maghrib, Vee. Masak nggak bisa lihat penampilan ganteng gini" kata Varo.


Vee mencebik, tapi juga mengamati penampilan kakaknya yang memang tampan dengan baju koko dan sarung, serta peci presiden hitam yang terlihat kontras dengan warna kulit putihnya.


"Assalamualaikum, kak Varo. Shanum mau bareng kakak ya ke masjid" terdengar seorang gadis yang sudah memakai mukena datang menghampiri Varo yang menambah tingkat kemasaman di wajahnya.


Tapi senyum gadis itu tak pernah luntur dari wajah cantiknya.


"Waalaikumsalam, Shanum. PR kamu sudah dikerjakan?" tanya Vee setelah menjawab salam dari gadis kecil ini.


Bagaimana tidak, Shanum masih kelas sembilan SMP tahun ini. Dan sejak Vee bisa mengingat sesuatu dengan baik menggunakan otaknya, Shanum ini sudah menampakkan rasa tertarikanya pada Varo.


Jadi dulu waktu Vee masih TK, Vee selalu dijemput oleh Varo yang saat itu sudah kelas dua SD setiap pulang sekolah.


Vee selalu menunggu kedatangan Varo yang setiap hari datang bersama Kenzo di sekolahnya, ditemani pak satpam yang setia bersama Vee dengan menemani anak itu di dalam pos.


Dan setiap hari juga Shanum selalu menanti Varo yang melewati depan rumahnya untuk bisa sampai ke rumahnya sendiri.


Tiap hari ada saja cara yang Shanum gunakan untuk menarik perhatian Varo yang selalu dingin pada semua orang.


Kadang Shanum pura-pura terluka, kadang Shanum sengaja memberikan makanan atau kue, dan apa saja yang penting bisa menarik perhatian Varo.


Dan kejadian seperti itu terus berlanjut sampai sekarang.


Setiap ada kesempatan, Shanum selalu mencari perhatian Varo.


"Sudah kak Vee, Shanum sudah mengerjakan semua tugas rumah. Tuk Kak Varo, kita sama-sama ke mushola" ajak Shanum yang hanya menganggap Vee seperti angin lalu.


"Kamu bau bedak bayi, sana minta temani sama abah kamu saja. Daripada sama saya, nanti kamu diculik hantu" kata Varo yang selaku berusaha menghindari Shanum.


"Kenapa saya dibawa-bawa?" gumam Hideo, membuat Vee sedikit menyunggingkan senyumnya. Membuat Varo menatap malas padanya.


"Kenapa kamu senyum-senyum nggak jelas begitu, Vee?" tegur Varo.


"Nggak apa-apa kak, sudah sana. Sudah adzan, kakak kan biasanya jadi muazin. Nanti ditungguin orang-orang" kata Vee mengusir kakaknya.


"Kamu cepat mandi, wudhu dan lekas ke mushola. Awas kalau kamu nggak ikut solat jamaah" ancam Varo sebelum pergi ke mushola.


"Iya, kakakku yang sangat tampan dan soleh" ejek Vee yang membuat tangan Varo terangkat seolah akan memukulnya, dan sudah membuat Hideo bersiap menyerangnya. Tapi tentu itu hanya candaan saja.


Vee memasuki rumahnya setelah Varo pergi, dia berpapasan dengan bundanya yang sudah siap mengenakan mukena.


"Vee, baru pulang? Cepat siap-siap ke mushola ya. Makannya nanti saja setelah solat" kata Vani, setelah menarik tangannya yang dicium oleh sang anak.


"Iya, bun" jawab Vee singkat sambil meneruskan langkahnya ke kamarnya sendiri.


Tapi segera dia menghentikan langkahnya saat Hideo tetap mengekor padanya.


"Kamu mau kemana om?" tanya Vee dengan tegas saat Hideo juga akan memasuki kamarnya.


Hideo bingung, dikiranya Vee mau berbagi kamar dengan asap sepertinya?


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2