Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
saya mengkhawatirkanmu


__ADS_3

Masih jam sebelas pagi, terlalu dini untuk kembali ke kediaman Seno. Jiwa petualang Vee serasa tertantang kali ini.


"Tapi aku nggak bawa kamera, bagaimana bisa jalan-jalan sambil ngambil foto" gumam Vee yang sedang duduk di salah satu kursi di kantin kampus.


Vee mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Dan sekelebat bayangan tertangkap netranya.


Sebuah bayangan hitam yang melayang rendah menuju ke lorong gedung.


"Apa itu?" gumamnya.


Tanpa banyak pikir, gadis itu mengikuti sosok yang dilihatnya. Sepertinya ada yang menarik disini.


Tak dipungkiri, sejak di halaman kampus tadi Vee memang sudah melihat beberapa bayangan bahkan tak jarang mereka nampak dengan wujud yang cukup jelas.


Tapi Vee masih bisa mengendalikan dirinya untuk tak menggubrisnya. Tapi bayangan kali ini berbeda, seperti ada yang patut untuk dicari tahu olehnya.


Huuu.... Huuu... Huuu...


Vee mendengar suara tangisan dari balik tembok sebuah ruangan.


"Mungkinkah dia yang nangis?" gumam Vee sambil terus melangkahkan kakinya.


Sampai di sumber suara, Vee lebih dahulu berhenti dan mendengarkan dengan lebih hati-hati.


"Suaranya memang dari sini" Vee meyakini jika sosok itu sedang menunggunya di balik tembok.


Perlahan Vee mengintip, meski bulu kuduknya berdiri dan seluruh pori-pori kulitnya terasa membesar, dia masih cukup berani untuk menemuinya.


"Uwah, benar dari sini" kata Vee dalam hatinya saat melihat sesosok serupa wanita sedang berjongkok sambil menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Suara tangisannya terdengar pilu, Vee memberanikan diri untuk mendekatinya. Siapa tahu dia bisa tahu penyebab dia sampai menangis disini.


Kini Vee telah berada di depan sosok itu, dia berdiri santai sementara sosok itu masih saja berjongkok sambil menangis.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Vee setelah memastikan jika keadaan di sekitarnya sudah sepi.


Sepertinya sosok itu mendengarnya, buktinya dia sudah menghentikan tangis meski masih tak mau memperlihatkan wajahnya.


Tak mau menjawab, sosok itu malah menghilang dari hadapan Vee.


"Lah, kok malah ngilang sih" gumam Vee yang kini sudah membalikkan badan dan ingin kembali ke kantin saja.


Tapi, ternyata dia sudah ditunggu oleh James yang tengah tersenyum menyeringai padanya.


"Urusan kita belum selesai, Vee" ucap James sambil melangkah maju, mendekat pada Vee yang kini mundur.


"Kamu mau ngapain sih, James? Aku kira nggak ada urusan deh diantara kita" kata Vee yang sudah mentok pada dinding.


"Gue nyesel banget Vee, kenapa nggak dari dulu gue lihat lo waktu di sekolah. Ternyata lo cantik ya, Vee. Dan gue rasa, gue tertarik sama lo" kata James yang sudah mengungkung Vee dengan mengulurkan kedua tangannya ke tembok sementara Vee ada diantara kedua lengannya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam ya kamu, James. Kamu tuh belum jadi mahasiswa disini kenapa sudah ingin cari masalah sih? James yang aku kenal dulu kayaknya nggak kayak gini deh" kata Vee santai, dia yakin James hanya menggeretaknya.


"Gue sudah tertarik sama lo, Vee. Dan gue harus bisa mendapatkan apa gue mau" kata James.


"Sayangnya aku nggak tertarik sama kamu, James. Kalau sampai kamu macam-macam, aku bisa laporin kamu ke pihak kampus dan kamu nggak akan pernah bisa kuliah disini" ancam Vee.


"Hehehe, itu nggak akan mungkin terjadi Vee. Karena papa gue itu salah satu dosen disini, jadi ancaman lo nggak mampan ke gue. Bagaimana, lo mau kan jadi cewek gue?" desak James.


"Maaf ya James. Kamu itu kan banyak digemari wanita, aku yakin banyak banget cewek yang mau sama kamu. Tapi aku enggak, jadi aku nggak mau jadi pacar kamu. Lagian kamu itu nembak cewek kok nggak ada romantis-romantisnya. Mana ada cewek yang mau kalau cara kamu kayak gini" kata Vee.


"Gue cuma nggak mau buang-buang waktu, karena gosip yang beredar kalau lo itu ceweknya Senopati. Tapi gue yakin kalau itu cuma gosip. Mana mau Senopati sama cewek kayak lo" kata James.


Vee mengernyit mendengar ucapan James, "Kamu itu aneh, katanya suka tapi malah ngejek. Sekarang minggir deh, aku mau pergi" kata Vee sambil mendorong bahu James.


Tapi tentu James tak bergeming karena dia sering olahraga. Pertahanan tubuhnya sangat bagus.


Tiba-tiba saja James ingin berbuat nakal pada Vee. Pria itu semakin merapatkan wajahnya pada wajah Vee, seolah ingin menciumnya.


"Kamu jangan nekat ya, James" Vee merasa terancam kali ini saat wajah James semakin mendekat padanya.


Tapi tiba-tiba James terkejut saat ada sesosok wanita berwajah hitam mengerikan sedang tersenyum mengerikan yang tiba-tiba muncul diantaranya dan Vee.


"Aaahhh..... Setan" teriak James ketakutan dan malah berlari tunggang langgang.


"Badan doang gede, nyali kamu cuma segede upil semut James" olok Vee sambil tertawa.


"Ehm, kamu bantuin aku ya. Makasih ya" kata Vee pada sosok wanita tadi.


"Hei, kok malah menghilang lagi sih" keluh Vee. Diapun membiarkan saja sosok yang menghilang itu.


Segera dia pergi dari balik tembok dan rencananya dia akan menghubungi Papa Yudha saja untuk menghabiskan hari ini.


Baru saja mengambil ponsel dari dalam tasnya, langkah Vee terhenti karena membentur seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Aduh, maaf ya. Aku nggak sengaja" kata Vee sambil berjongkok untuk mengambil ponselnya yang terjatuh.


Merasa tak mendapat sahutan, Vee segera mendongak untuk melihat orang yang telah ditabraknya.


"Loh, kak Seno? Ngapain disini? Bukannya kakak juga lagi kuliah?" heran Vee saat tahu jika Seno yang ada di hadapannya.


Pria tinggi itu memakai topi dan masker untuk bersembunyi dari lara fansnya.


"Saya merasakan kalau kamu sedang dalam bahaya" kata Seno datar, tapi darimana dia bisa tahu?


"Oh, hehe. Kakak ini terlalu pemikir sepertinya. Aku tuh nggak kenapa-kenapa, cuma memang tadi aku kebetulan ketemu sama sosok wanita gitu di lorong situ. Tapi dia sudah hilang" kata Vee yang tak ingin Seno tahu tentang James.


Bisa gagal rencananya untuk kuliah di tempat yang berbeda dengan Seno kalau sampai pria itu tahu ada James yang entah kenapa sekarang jadi aneh begitu.


"Saya mencium aroma kebohongan disini. Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" tekan Seno.

__ADS_1


"Oh itu, ehm... Iya, sedikit. Tadi aku ketemu sama Papa Yudha. Terus rencananya sekarang aku mau hubungi Papa, soalnya aku kangen sama dia" Vee mengalihkan perhatian Seno pada Yudha saja.


"Siapa Papa Yudha?" tanya Seno heran, sepertinya memang Vee pernah menyinggung nama itu.


"Ehm, Papa Yudha itu sepertinya orang spesialnya bunda di masa lalu deh, kak. Tapi aku juga nggak begitu faham dengan alur kehidupan pribadi bunda, ayah, dan Papa Yudha. Yang jelas, papa Yudha itu baik banget sama aku" Vee bercerita sambil melangkah menuju kantin, lebih enak ngobrol sambil mengunyah.


"Bentar deh, kenapa kakak bisa ada disini sih? Bukannya lagi kuliah?" tanya Vee yang teringat belum mendapat jawaban dari Seno.


"Mata kuliah saya nanti jam dua. Dan saat saya sedang fokus dengan bacaan di perpustakaan, tiba-tiba saya merasa jika ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi padamu" kata Seno yang kini tengah melirik tajam pada Vee yang berjalan di sebelahnya.


"Ah, kakak terlalu berlebihan. Aku kan tidak apa-apa, kak. Mungkin tadi saat aku bertemu dengan sosok wanita itu yang membuat perasaan kakak jadi nggak enak" kata Vee yang masih belum ingin bercerita tentang James.


"Tidak, Vee. Saya tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi tidak masalah, asalkan kamu baik-baik saja " kata Seno yang ikut duduk di salah satu kursi di dalam kantin.


Sampai saat ini, Seno belum juga merasakan rasa ketertarikan dari Vee untuknya. Sedangkan dia sendiri sudah memutuskan untuk selalu mempertahankan Vee sebagai istrinya, bagaimanapun caranya.


Karena Seno yakin jika rasa dalam hatinya adalah sebuah cinta, bukan hanya sekedar rasa yang kebetulan singgah.


"Bagaimana kalau aku kenalkan kakak dengan Papa Yudha?" Vee ingin Seno berhenti berbicara tentang perasaannya.


"Coba saja kamu tanyakan padanya, apakah dia ada waktu untuk bertemu dengan saya" jawab Seno.


Bee senang dengan jawaban Seno, diapun segera menelpon Akbar untuk menanyakan keberadaan Yudha.


"Nggak diangkat juga, kak. Sepertinya mereka sedang sibuk deh. Tadi om Akbar bilang kalau mereka memang ada meeting di dekat kampus ini" sesal Vee.


"Yasudah, lain kali saja. Kamu mau pesan makanan?" tanya Seno yang sedari tadi juga seperti sedang memindai isi kantin ini.


"Enggak. Kakak kenapa celingukan gitu sih?" tanya Vee.


"Sosok wanita yang kamu bicarakan tadi selalu berusaha mendekatimu. Sepertinya dalam beberapa waktu ke depan, kalian akan akrab. Tapi dia tidak berbahaya" kata Seno.


"Aku malas sekali berurusan dengan begituan. Kapok aku sama temannya Sri itu" keluh Vee.


"Saya akan selalu membantumu, Vee. Karena kamu adalah prioritas utama dalam hidup saya" perkataan Seno pasti membuat setiap wanita yang mendengarnya alan merasa melayang.


Tapi tidak dengan Vee. Seno berharap suatu saat gadis ini bisa membuka hati untuknya, dan membalas perasaannya.


Vee hanya mencebik mendengar penuturan jujur dari pria ini. Mungkin terlalu lama hidup tanpa bisa berdekatan dengan lawan jenisnya karena Varo yang over protective, membuat Vee sedikit sulit menerima pria lain dalam hidupnya.



Senopati yang lebih dewasa dengan jiwa Hideo sedang mendengarkan semua penjelasan Vee


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2