
Tiba-tiba wanita berwajah hitam itu muncul di cermin saat Vee usai membasuh wajahnya. Wajah tanpa senyuman dengan raut yang membingungkan untuk dijelaskan.
Wanita itu memakai setelan layaknya gadis seusia Vee, hanya saja pakaiannya sudah lusuh dan kotor.
"Aahh ..." Vee sedikit berteriak, rasa kantuknya sudah benar-benar hilang sekarang.
"Mengagetkan saja. Mau kamu apa sih?" rupanya Vee sudah bisa mengendalikan rasa takutnya.
Sambil menggerutu, Vee ingin pergi saja dari toilet setelah mengelap wajahnya dengan tisu.
Selama dosen mengajar, matanya tak bisa diajak kompromi. Vee merasa sangat mengantuk hingga tak sadar jika dosennya tengah membangunkannya yang sedang tertidur diiringi gelak tawa dari teman sekelasnya.
"Kalau diajak ngobrol itu jawab! Jangan cuma bengong doang" bentak Vee pada cermin yang masih menampilkan wajah wanita bermuka hitam itu.
Beruntung ponselnya bergetar, perhatian Vee tertuju pada benda pipih itu sekarang.
"Hallo, ada apa pa?" rupanya Yudha yang tengah menelponnya.
"Malam Minggu ini rencananya papa ingin mengundang kamu dan Senopati untuk makan malam. Apa kamu bersedia Vee?" tanya Yudha.
"Aku tanya kak Seno dulu bisa atau tidaknya ya, pa. Secepatnya aku kabari papa lagi" jawab Vee.
"Oke. Papa cuma mau menyampaikan itu saja. Kamu jaga kesehatan ya nak, jangan sungkan untuk menghubungi papa jika ada masalah" kata Yudha.
"Siap pa. Dah pa, aku lanjut kuliah ya" ucap Vee sembari menutup panggilan teleponnya.
Dan saat dia menoleh ke arah cermin, rupanya wanita itu sudah pergi.
"Hai Vee, gue traktir ke kantin yuk" apalagi ini, baru lepas dari gangguan wanita berwajah hitam sekarang ada James yang mengganggu.
"Masih ada jam kuliah, James. Mana bisa ke kantin" kata Vee yang memilih untuk pergi ke kelasnya lagi, tapi James malah mengekor.
"Dosennya nggak hadir, Vee. Cuma dikasih tugas doang" bujuk James.
"Masih ada tugas, James. Kamu mau ngajak aku jadi anak nakal ya" kata Vee tanpa menghentikan langkahnya.
"Cg, cemen lo Vee. Yasudah deh, ke kelas dulu. Nanti ke kantin bareng gue ya" James masih saja berusaha.
Tapi dari hal-hal kecil seperti ini, malah membuat Vee dan James menjadi teman baik untuk ke depannya.
Dengan Vee yang tak pernah menggubris semua gombalan James, dan James yang sadar jika Vee cuek padanya, tapi dia tetap ingin berteman dengannya.
Hingga masuk jam istirahat, Vee benar-benar di traktir makan dan minum oleh James. Bersama dua orang pria lainnya yang juga teman sekelas Vee.
"Hai Vee, kamu lagi makan siang?" tanya Daren yang datang dengan seorang temannya.
"Memangnya lo lihat dia lagi ngapain senior?" sindir James, malas sekali dia melihat Daren yang sok ganteng, padahal memang ganteng.
__ADS_1
"James, apaan sih. Yang sopan dong" kata Vee memperingatkannya.
"Iya kak, lagi makan siang. Kakak belum pesan makanan ya?" tanya Vee sedikit berbasa-basi.
"Belum nih, tolong pesankan gue kayak biasanya ya Ki" kata Daren pada temannya, sedangkan dia sendiri okut bergabung dengan Vee end the geng.
"Lo ngapain duduk disini, senior?" tanya James yang sedikit keberatan.
"Masih ada bangku kosong, lagian lo kenapa sih? Kayak nggak suka banget sama gue?" tanya Daren.
"Lah itu lo tahu" jawab James.
"Sudah, jangan ribut" kata Vee melerai keduanya.
Dan merekapun menyelesaikan makan siangnya diiringi canda tawa khas anak muda. Vee senang karena James yang kini sudah menjadi lebih baik.
"Tuh hantu ngapain sih ngelihatin aku terus" gumam Vee dalam hatinya saat melihat sosok wanita berwajah hitam itu terus saja berdiri cukup jauh sambil terus memperhatikannya.
"Lo kenapa sih, Vee?" tanya James sambil melihat ke arah pandang Vee yang tak ada apapun.
"Nggak apa-apa James" jawab Vee.
Hingga mata kuliahnya usai, sosok itu sering sekali menampakkan dirinya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Seno menjemputnya tepat waktu, rupanya dia takut jika ada pria lain yang ingin mencuri perhatian Vee.
"Ada, nanti sore hari saya usahakan untuk segera pulang" jawab Seno.
"Memangnya ada kerjaan ya kak?" tanya Vee yang tak ingin mengganggu pekerjaan Seno.
"Ada sedikit pemotretan dari pagi sampai siang. Mungkin bulan depan jadwal saya sudah kosong dan saya sudah bisa fokus untuk kuliah saja" ucapnya yang masih fokus pada jalanan.
"Oh, ok deh. Kalau kakak nggak keberatan, boleh kok kalau nanti aku berangkat dan pulangnya sendiri saja kak. Ehm, belikan aku motor gitu, hehe" sebenarnya Vee ingin sedikit kebebasan, kalau setiap hari antar jemput begini kan nggak bisa belok-belok untuk hunting foto seperti kebiasaannya.
"Saya bisa melihat rencana burukmu, Vee. Tapi sepertinya memang untuk ke depannya, sulit untuk menjemputmu. Tapi lebih baik kamu dijemput supir saja daripada pulang sendiri. Saya tidak mengizinkan itu" kata Seno.
Vee sedikit kecewa, tapi lebih baik lah daripada dijemput Seno setiap harinya. Kalau dijemput supir kan dia masih bisa bebas.
"Iya deh. Memangnya kenapa kakak nggak bisa jemput?" tanya Vee.
"Papa meminta saya untuk langsung ke kantornya setelah pulang kuliah. Beliau ingin saya segera belajar bisnisnya" jawab Seno.
Vee hanya mengangguk, dia cukup senang karena itu tandanya dia bisa lebih bebas di bulan yang akan datang. Gadis itu sudah tak sabar.
★★★★★
Malam Minggu sudah menjelang, seperti janjinya, Vee dan Seno datang ke acara yang Yudha buat untuk makan malam di sebuah restoran.
__ADS_1
"Maaf ya pa, kami agak terlambat. Tadi kak Seno masih menyelesaikan pekerjaannya" ucap Vee sedikit tak enak, karena Yudha dan seorang gadis cantik sudah menunggu kedatangan mereka.
"Tidak masalah, Vee. Kami juga baru sampai" ucap Yudha.
"Hai, kamu pasti Lisa ya? Kakak sudah lama sekali ingin bertemu sama kamu, dek" ucap Vee sambil memeluk singkat Alisa.
"Kakak kok tahu namaku?" tanya Lisa yang sejak tadi terus saja memandangi Seno yang hanya diam setelah bersalaman dengan Yudha.
"Loh, memangnya papa nggak cerita?" tanya Vee heran, sepertinya Alisa menganggap Vee adalah orang asing.
"Ehm, itu. Ehm.... Oh iya, kamu kan mau kenalan sama Senopati kan, Alisa?" kata Yudha mengalihkan pembicaraan, membuat Vee mengernyit bingung.
"Ah iya, kak Senopati. Aku salah satu fans beratnya kakak, loh. Waktu kakak dikabarkan menghilang, aku salah satu fans kakak yang nangisnya nggak berhenti. Aku sangat takut kalau kakak kenapa-napa" kata Alisa dengan manjanya.
Di mata orang lain, Seno terlihat diam tak perhatian. Tapi sebenarnya, dia sedang menyelami pikiran dua orang di depannya itu.
"Ada apa dengan mereka?" pertanyaan itu muncul saat dengan jelas pikiran Yudha dan Alisa yang terbaca olehnya sangat aneh menurutnya.
"Cewek ini sok caper banget, sok kenal, sok dekat. Memangnya siapa dia, kenapa gue harus tahu tentang dia. Dan apa yang dia bilang tadi, papa? Memangnya dia anaknya papaku. Enak saja dia panggil-panggil papa" gumaman Alisa dalam hati yang terbaca oleh Seno, tapi hebatnya, dia bisa berekspresi sangat ramah.
"Jangan sampai Vee tahu jika sebenarnya Alisa dan Alina adalah anakku. Entah apa yang akan terjadi jika sampai dia tahu tentang hal ini. Bisa jadi dia akan memusuhiku, dan tak menganggapku sebagai orang tuanya lagi" kini kata hati Yudha yang terbaca oleh Seno.
"Sungguh aku tidak siap jika sampai Vee memusuhiku, karena aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi Alisa" kini Seno sedikit tersenyum tak suka, ada pria seperti Yudha yang dinilainya sangat egois.
"Ehm, lebih baik kita pesan makanan dulu ya" kata Yudha sambil mengangkat tangannya untuk memanggil waitress.
Dan makan malam kali ini membuat banyak pertanyaan bermunculan di benak Seno.
"Ada apa dengan keluarga Veronica yang terlihat sangat harmonis dan bahagia? Apa hubungan antara Yudha dengan mereka hingga Yudha bisa membawa salah satu adik kembar Vee?" Seno terus berfikir sejak tahu isi pikiran Yudha dan Alisa.
Sedangkan dia masih juga belum bisa membaca pikiran dan hati Vee.
"Nanti akan saya cari tahu saja kebenarannya" gumam Seno.
Sampai makan malam itu usai, Yudha masih belum berniat mengatakan kejujuran bahwa Alisa adalah adik kandung Vee, yang juga punya kembaran di kota lain.
Dia sangat pandai mengalihkan pembicaraan hingga Vee lupa akan keingintahuannya tentang masa lalu keluarganya.
"Orang yang menarik" gumam Seno saat menilai seorang Aryudha.
.
.
.
.
__ADS_1