Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
memasak untukmu


__ADS_3

"Ehm... Harum banget, lapaaarr" rintih Vee yang baru saja terbangun saat mencium bau wangi masakan dari dapur.


Memang letak dapur dan ruang tengah di rumah Vee tidak begitu jauh, jadi saat ada yang sedang memasak pasti wanginya akan menyebar ke ruang tengah.


Hal pertama yang Vee lakukan adalah menurunkan kaosnya. Lalu mengumpulkan tenaga untuk duduk dan tak lupa menguap lebar sambil menggaruk rambutnya.


"Hoam... Siapa sih yang lagi masak? Apa kak Varo ya?" tanya Vee lirih setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.


"Hah? Gawat nih kalau sampai kak Varo datang terus lihat ada cowok di kamar tamu" dengan segera Vee bangkit untuk melihat kondisi kamar tamu. Dia sampai berlari agar visa segera sampai ke kamar itu.


"Loh, kok kosong?" gumamnya setelah memasuki kamar yang Hideo tempati.


"Kemana sih?" kata Vee yang sudah menutup kembali pintu kamar itu dari luar.


"Mungkin nggak kalau yang lagi masak itu dia?" tanya Vee penasaran, langkahnya tertuju ke dapur kali ini.


"Kenapa juga nggak daritadi langsung ke dapur saja. Dasar kau bodoh, Vee" keluh gadis itu yang kini sedang menuju dapur.


Berhenti di ambang pintu dapur, Vee sedikit terpesona melihat tampilan baru Hideo yang terbungkus tampan di tubuh Senopati.


Pria yang terlihat sibuk dengan spatula dan wajan itu terlihat memakai celemek juga. Dan lihatlah!


Peluh yang menetes dari dahinya hingga ke dagu terlihat dalam slow motion di mata Vee. Dan itu terlihat seksi.


Sebenarnya Hideo di masa lalu tak kalah tampannya dari Senopati, hanya saja pembawaan Hideo yang dulu terlalu serius dan kaku. Berbeda dengan Senopati yang ceria.


Ekor mata Hideo tak sadar menangkap siluet tubuh Vee yang terpaku di pintu perbatasan dapur dan ruang tengah.


"Apa yang kamu lakukan disana, Vee?" tanya Hideo tanpa menghentikan aktivitas memasaknya.


Merasa tak ada sahutan, Hideo melempar sepotong brokoli ke arah Vee dan tepat mengenai keningnya.


"Eh, apaan nih?" teriak Vee kaget.


Hideo sedikit menyunggingkan senyum, "Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Hideo lagi.


"Uwah, kakak bisa masak ya?" tanya Vee penuh kekaguman, karena dirinya sendiri tak seterampil Hideo.


"Sedikit, saya hanya membuat pasta" jawab Hideo memamerkan hasil masakannya yang hampir jadi.


"Darimana kakak tahu resep membuat pasta? Memangnya di zaman dulu sudah ada masakan beginian ya?" tanya Vee sambil mencomot sepotong bakwan yang sudah tersaji diatas meja dapur.


"Saya melihat cara membuat ini saat masih menjadi arwah gentayangan. Waktu itu kamu yang terlihat sangat serius melihat pembuatan pasta ini. Tapi saya tidak pernah melihat kamu mempraktekkannya, jadi saya berniat untuk membuatkannya untukmu" kata Hideo santai.


Tapi malah membuat wajah Vee memanas, bagaimana bisa hanya mendengar yang begitu saja sudah membuatnya gr?


"Dasar wanita lemah" geram Vee dalam hatinya.


"Kenapa diam? Apa kamu sedang demam?" tanya Hideo yang tak mendengar sahutan apapun dari Vee.


Dan saat menoleh, Hideo malah melihat wajah Vee yang kemerahan.

__ADS_1


Merasa khawatir, Hideo segera meletakkan telapak tangannya di kening Vee.


"Eh, ngapain sih kak?" sergah Vee.


"Wajahmu memerah, saya takut kamu demam? Apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Hideo yang sudah kembali sibuk dengan spatulanya.


"Aku nggak apa-apa kok" jawab Vee sedikit malu, diapun mengambil air dan meminumnya setelah duduk di kursi dapur sambil terus memperhatikan Hideo yang sedang sibuk.


"Sudah selesai tuan putri, lebih baik sekarang tuan putri ke kamar mandi dulu untuk cuci muka karena ada bekas iler kering yang terlihat di pipimu" kata Hideo mengerjai Vee.


"Masak sih?" tanya Vee sambil menutupi wajahnya dengan tangan dan berlari ke kamar mandi dekat dapur.


Hideo hanya terkekeh pelan melihat kelakuan lucu Vee yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.


Sementara Vee di dalam kamar mandi sudah sangat malu. Tapi saat melihat wajahnya di cermin, seketika Vee berteriak kencang.


"Dasar kak Hideo, awas ya kamu" teriaknya dari kamar mandi yang membuat Hideo kembali terkekeh saat menyajikan makanan diatas meja makan, karena memang tak ada apapun di pipinya.


"Jangan cemberut begitu dong Vee, ada makanan itu patutnya disyukuri bukannya di cemberuti begitu" kata Hideo yang sudah menunggu Vee dimeja makan.


"Bodo amat, sebel aku sama kamu kak" kata Vee yang masih menekuk wajahnya.


Melihat tampilan Vee yang segar dan tidak berantakan lagi, membuat Hideopun tak memungkiri jika sebenarnya gadis ini memang cantik dengan rambut bergelombangnya.


"Yasudah, saya minta maaf sama kamu ya. Sekarang coba dulu dong masakan saya. Apa rasanya enak menurutmu?" kata Hideo yang menyodorkan sepiring spaghetti pada Vee.


Meski masih cemberut, nyatanya Vee tetap menerima sepiring spaghetti itu dan mulai menyantapnya.


"Tapi ini apa? Bakwan? Mana cocok spaghetti sama bakwan?" kata Vee sedikit mengejek.


"Entahlah, saya hanya melihat ada sayuran yang sepertinya sudah lama di dalam kulkas kamu. Jadi, saya pikir bukan sesuatu yang buruk jika saya membuat bakwan. Meski sebenarnya saya lebih suka tempe" kata Hideo sambil terus mengunyah makanannya.


"Tapi ini enak juga. Kamu pintar memasak kak daripada aku" kata Vee dengan mulut penuhnya.


"Tentu saja. Sejak zaman dahulu memang saya suka memasak. Orang tua sayapun mengakui kelezatan masakan buatan saya" kata Hideo menyombongkan diri.


"Iya, percaya. Apalagi Sri, pasti dia adalah wanita pertama yang sangat mengagumi masakanmu, iya kan?" celetuk Vee.


"Ehm, mungkin kamu benar. Tapi, sepertinya saya sudah tidak merasakan lagi aura Sri dalam tubuh kamu, Vee. Apa dia sudah pergi?" tanya Hideo.


"Ceritanya panjang, kak. Sebentar aku makan dulu ya. Kalau sudah selesai nanti aku ceritakan semuanya sama kakak" kata Vee santai, tapi membuat Hideo semakin penasaran.


Pria itupun tak menanggapi perkataan Vee dan melanjutkan makannya tanpa suara. Sesekali dia melihat Vee yang sedang asyik dengan spaghettinya dan kejadian sederhana itu sudah bisa menerbitkan sedikit senyuman di wajah Hideo.


★★★★★


"Apa saya sudah bisa mendengar ceritamu sekarang, Vee?" tanya Hideo.


Keduanya kini sedang bersantai di ruang tengah, dengan Vee yang sibuk dengan ponselnya dan Hideo yang sejak tadi membaca buku milik Vee.


"Oh iya, sebentar" kata Vee, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

__ADS_1


"Jadi semalam, setelah Sri membawamu kembali ke rumah ini, dia malah menyembunyikan aku di alam yang akupun tak mengerti alam itu buatannya atau memang alam gaib. Karena aku hanya bisa melihat kabut diatas tanah basah dengan penerangan yang minim dan tak ada apapun sejauh mata memandang" kata Vee mengawali ceritanya.


Hideo mendengarkan dengan seksama semua cerita Vee tanpa terkecuali. Pria itu mendengar semuanya tanpa pernah menyela sedikitpun.


Mulai dari pertolongan dari wanita misterius, musnahnya Sri hingga HoRoCi yang harus beristirahat di dalam kalung kristal di leher Vee.


"Kamu nggak merasa kehilangan gitu, kak?" tanya Vee.


"Kehilangan apa?" tanya Hideo sambil menaikkan alisnya heran.


"Kehilangan sosok Sri yang selalu mengagumimu setiap saat" kata Vee mendramatisir.


"Sama sekali tidak" jawab Hideo singkat.


"Jadi, sekarang para bocah nakal itu sedang berhibernasi di kalungmu?" tanya Hideo mengalihkan pembicaraan.


"Katanya sih begitu. Tapi aku tak bisa merasakan apapun" kata Vee sambil meraba kalungnya.


"Kangen juga sama mereka, padahal baru semalam mereka tertidur disini" kata Vee.


"Biarkan saja, suatu saat nanti mereka juga pasti akan keluar lagi. Sekarang, apa yang harus saya lakukan ke depannya? Karena tidak mungkin kalau saya terus berada disini hanya berdua denganmu kan, Vee?" tanya Hideo.


"Benar juga, kak. Bisa dikira pasangan homo, terus dipaksa kawin, kan bahaya" kata Vee bergidik.


"Kalau disuruh menikahimu saja saya tidak keberatan, tapi saya kan masih belum tahu apa-apa tentang zaman ini. Untuk mencari pekerjaan jiga butuh ketrampilan, dan saya belum mengerti pekerjaan di zaman ini. Mana bisa saya memberimu nafkah jika nanti dipaksa untuk menikahimu" kata Hideo dengan tampang serius.


"Ngaco, siapa juga yang mau nikah sama pria tua sepertimu, kak" kata Vee sambil membuang muka.


"Kenapa? Kamu keberatan jika nanti menikah dengan saya?" goda Hideo.


"Mendingan ngobrolin lainnya saja deh, kak" kata Vee sedikit ngegas.


"Kondisi kamu gimana? Apa masih ada yang sakit? Bukannya sebelumnya kamu keracunan?" tanya Vee.


"Saya sudah merasa lebih baik setelah makan. Ternyata memiliki tubuh manusia itu sedikit menyusahkan. Kita harus makan saat merasa lapar, dan saat pagi pasti harus ke toilet. Dan lagi, saya harus sering membersihkan diri agar tubuh saya terasa lebih nyaman" keluh Hideo yang masih harus membiasakan diri.


"Daripada jadi arwah penasaran, beruntung kamu dapat tubuh yang tampan kak. Seharusnya kami bersyukur" kata Vee.


"Saya rasa wajah asli saya lebih tampan daripada wajah pria ini" kata Hideo.


Vee hanya mencebik dan beranjak dari tempat duduknya, mendengar ucapan Hideo malah membuatnya ingin ke toilet.


"Hei, mau kemana?" tanya Hideo.


"Mandi" jawab Vee singkat tanpa memperdulikan Hideo lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2