Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
masih lelah


__ADS_3

Iring-iringan rombongan Senopati sudah memasuki kawasan rumah besar milik keluarga Widjojo setelah melewati perjalanan dari bandara.


Tiga mobil mewah nampak memasuki pelataran rumah itu. Satu mobil ditumpangi oleh Seno dan Vee, satu lagi ditumpangi orang tua mereka dan satunya lagi adalah kumpulan bodyguardnya.


"Uwah... Ini rumah kakak ya? Mewah banget ya. Rumahku mah nggak ada apa-apanya" gumam Vee yang duduk di samping Seno, rumah mewah itu terlihat semakin megah saat lampu-lampunya menyala terang seperti malam ini.


"Rumah Senopati. Saya merasa sangat jahat karena telah merebut raga ini, Vee" kata Seno lirih.


Tiba-tiba dia merasa tidak berhak dengan semua kemewahan yang tersaji di depannya.


"Kenapa bisa begitu, kak?" tanya Vee.


"Seharusnya semua kemewahan ini bukanlah milik saya. Meski di dunia yang sebelumnya, sayapun bukanlah orang miskin. Bahkan mungkin memang keluarga saya juga orang kaya dan terpandang di zaman itu. Namun saya merasa jika semua ini bukanlah hak saya" kata Seno dalam batas aman dari pendengaran supir mereka.


Beruntung orang tua Seno memilih untuk duduk di mobil lainnya, jadi mereka berdua lebih leluasa untuk berbincang.


"Kalau jiwa kakak tidak memasuki raga ini, nama Senopati sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Dan orang tuanya akan merasa sangat terpukul karena Seno adalah anak mereka satu-satunya. Jadi, anggap saja kalau kakak sedang membantu mereka agar tidak membuat mereka bersedih" ucap Vee santai.


"Asalkan kakak tidak menyalahgunakan raga ini. Jadilah pribadi yang lebih baik, jangan mengecewakan orang tua kakak yang baru ini" imbuhnya.


"Ya, kamu benar Vee. Saya tidak akan mengecewakan mereka. Karena di zaman saya dulu, sayapun adalah anak tunggal. Pasti orang tua saya waktu itu sangat bersedih saat saya dinyatakan meninggal" kata Seno lirih, sedikit sendu saat mengingat masa lalunya.


Mobil mereka berhenti dan sudah ada yang membukakan pintu mobil untuk mempermudah mereka berdua turun.


Kini Seno harus berusaha untuk membuat wajahnya tak bersedih lagi karena harus berhadapan dengan orang tuanya.


"Welcome home sayang... Akhirnya kita bisa sampai rumah dengan selamat" mommy terdengar heboh saat baru memasuki rumah.


"Kalian istirahat saja dulu, atau kalian masih lapar?" tanya papi Seno yang melihat jam fi pergelangan tangannya sudah hampir tengah malam.


"Aku nggak lapar, pi" kata Vee sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya juga masih kenyang" Seno juga menjawab kompak.


"Yasudah kalau begitu. Mommy dan papi juga mau istirahat kan, my?" tanya papi Seno pada istrinya.


"Iya. Kalian langsung ke kamar kamu saja ya ,Sen. Koper kamu biar dibawa sama bibik saja, Vee" ucap mommy.


Dengan cekatan, art yang sudah berdiri daritadi untuk menyambut kedatangan tuannya itu mengambil alih koper milik Vee.


"Iya, my" kata Vee.


"Mari non sama Den Seno" ucap bibik yang sudah berjalan mendahului mereka.


Seno dan Vee kini mengekor pada art paruh baya itu menuju ke kamar Seno yang ada di lantai dua.


"Silahkan masuk den sama non. Bibik bahagia sekali saat melihat den Seno sudah pulang dengan selamat sampai di rumah ini lagi, den. Kami semua di rumah ini sangat bersedih saat mendengar kabar bahwa den Seno yang katanya menghilang" kata bibik setelah membukakan pintu kamar Seno.


"Kami semua disini selalu berdoa buat keselamatan den Seno. Dan kami sangat bersyukur saat melihat kedatangan den Seno lagi. Apalagi den Seno nggak datang sendiri, tapi sama istri barunya ya den" kata bibik yanb yang membuat Vee nampak malu.


Bibik sedikit tertegun mendengar ucapan Seno. Kebiasaan Seno yang periang, manja dan sedikit jahil membuatnya merasa bingung saat Seno berubah menjadi serius dan tegas seperti ini.


"Cuma beberapa hari ditinggal sama den Seno tapi kenapa bibik merasa kalau den Seno terlihat semakin dewasa ya, den" kata bibik.


"Tapi bibik suka kok kalau den Seno memang sudah menjadi lebih dewasa, karena kan aden juga sudah punya istri. Jadi sudah sewajarnya kalau aden jadi lebih dewasa" kata bibik sedikit terbata karena takut salah bicara.


"Iya, sekali lagi saya berterimakasih pada bibik. Sekarang bibik boleh beristirahat" kata Seno sekali lagi menegaskan.


"Iya, baik den. Kalau begitu bibik permisi dulu den" ucap bibik seraya berpamitan dengan perasaan sedikit tidak enak.


Bibik jadi merasa terlalu ikut campur urusan majikannya.


"Kenapa kak?" tanya Vee yang melihat raut wajah Seno yang sedikit aneh.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Hanya saja keluarga ini sangat beruntung karena para pekerjanya memiliki jiwa yang loyal pada majikannya" jawab Seno sambil memasuki kamarnya.


Setelah sedikit kebingungan untuk menyalakan lampu, akhirnya Seno tahu seluk beluk kamar ini dengan menggunakan ingatan dari tubuhnya.


"Uwah, kamarnya luas banget ya kak. Ranjangnya juga besar. Begini ya kamarnya orang kaya" gumam Vee sambil menaiki ranjang king size yang ada di tengah ruangan.


Lemari berukuran besar dengan banyak pintu terjejer rapi di sebelah kiri ruangan ini. Terlihat ada satu pintu yang berada di antara barisan lemari besar itu.


"Itu pintu ke kamar mandinya ya kak?" tanya Vee.


"Iya, saya sudah sangat mengantuk Vee" kata Seno yang juga merebahkan tubuhnya di samping Vee.


"Ih... Kakak, jangan ikutan tidur disini dong. Tuh ada sofa gede banget, kakak tidur disana saja ya" Vee mengusir Seno yang sudah nyaman diatas ranjangnya.


"Tidak mau. Kamu saja sana kalau mau tidur disitu. Saya sudah sangat nyaman dengan posisi ini" jawab Seno yang sudah mulai memejamkan matanya.


Vee hanya bisa mendengus sebal mendengar ucapan Seno.


"Yasudah, kalau begitu. Kita buat batas saja pakai guling ini ya kak. Sebelah sini adalah wilayahku, dan sebelah sana itu wilayah kakak. Jangan sampai melanggar batasannya" kata Vee sambil menyusun dua buah guling diantara mereka berdua.


"Hemm" Seno hanya berdehem untuk menjawab perkataan Vee.


Sekarang Vee hanya bisa menghela nafasnya, berurusan dengan manusia ini memang harus sedikit lebih dikerasi. Kalau selalu lunak jadinya ngelunjak.


"Awas ya, pokoknya besok aku harus sudah membuat surat perjanjian pernikahan. Kalau tidak dia bisa seenaknya sendiri dan melupakan perjanjian yang sudah disepakati" Vee sudah sepenuh hati dengan keputusannya.


Diapun mengeluarkan ponselnya, melalui benda pipih ini, dia akan membuat rancangan perjanjian yang akan di print out.


Belum lama Vee sibuk dengan ponselnya, sudah terdengar dengkuran kecil dari mulut Seno. Rupanya pria itu memang sangat mengantuk.


Sedangkan Vee masih saja sibuk dengan surat perjanjiannya hingga hampir pagi. Hingga dia tak tahu jam berapa dia tertidur dengan ponsel yang masih aktif menampilkan rancangan surat buatannya.

__ADS_1


__ADS_2