Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
tentang Sri


__ADS_3

Orang asing yang menganggap kita saudara


akan berusaha melindungi kita dalam keadaan tersulit sekalipun


Sedangkan saudara yang berubah jadi orang asing


entah bagaimana caranya agar hubungan yang kandung itu akan kembali utuh


...******...


"Kamu pernah dianggap saudara oleh orang asing, Vee?" tanya Hideo dengan pandangan serius.


"Maksudnya seperti pak dhe Andik yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, begitu ya om?" tanya Vee.


"Ya, tak jauh berbeda dengan itu" kata Hideo.


"Sri itu orang yang baik, usianya lebih tua lima tahun daripada saya. Dan darinya saya tahu apa itu Islam" kata Hideo.


"Jadi, kamu itu muslim, om?" tanya Vee yang merasa lebih tertarik dengan pembicaraannya kali ini.


"Ya, dari Sri saya tahu tentang Islam" kata Hideo dengan pandangan menerawang.


"Jadi, kamu itu jin, setan, hantu, atau apa sebenarnya, om?" tanya Vee, sejak kemarin dia lupa untuk mempertanyakan pada Hideo.


"Saya juga tidak mengerti, apa saya ini sebenarnya" kata Hideo sambil mengamati dirinya sendiri.


"Bagaimana kamu bisa berubah menjadi kepulan asap seperti ini, om?" tanya Vee.


"Kamu yakin mau mendengarnya?" tanya Hideo dengan serius.


"Ya, kenapa tidak" kata Vee dengan pandangan penuh.


"Saya datang ke sebuah kampung di Banyuwangi bersama dengan orang tua saya saat usia saya masih sepuluh tahun. Dan Sri yang juga menjadi warga baru disana sudah berusia lima belas tahun" kata Hideo.


"Awalnya tak ada seorangpun anak yang mau berteman dengan saya. Karena warga kampung menganggap saya dan orang tua saya adalah penjajah. Padahal yang saya tahu, saya berasal dari keluarga pedagang"


"Orang tua saya berjualan kain sutra yang kami bawa langsung dari Jepang".


"Setiap hari orang tua saya berjualan di pasar, dan kami juga tinggal dirumah yang juga tempat kami berjualan".


"Sebentar om, di pause dulu ya ceritanya. Aku mau ke dapur sebentar saja. Nanti dilanjutkan lagi" kata Vee yang buru-buru kabur ke dapur.


"Kamu bawa apa?" tanya Hideo saat Vee datang dengan berbagai macam barang ditangannya.


"Aku ambil camilan, om. Biar nggak bosen dengerin kamu bercerita" kata Vee dengan cengir kudanya sambil memperlihatkan berbagai macam makanan.


Vee membawa sekotak brownies, setoples keripik singkong, keripik kentang, soda, es teh dalam kemasan dan juga kopi.


"Banyak sekali, Vee" kata Hideo yang memperhatikan Vee menata makanannya diatas meja


"Kamu boleh minta kalau mau" kata Vee yang memang menyiapkan makanan itu untuk mereka berdua.


"Saya tidak memakan itu semua" kata Hideo.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku lupa om" kata Vee sambil menepuk jidatnya.


"Nggak apa-apa deh, terusin ceritanya. Biar aku makan sendiri" kata Vee yang mulai duduk dengan tenang.


"Darimana tadi saya bercerita?" tanya Hideo.


"Kamu seorang muslim" kata Vee.


"Ya, saya tahu tentang agama ini dari Sri. Saya selalu penasaran dengan apa yang tengah Sri dan keluarganya lakukan setiap pagi, siang, sore dan malam hari" kata Hideo.


"Mereka melakukan gerakan aneh menurut saya. Dan saat saya bertanya, ternyata mereka sekeluarga sedang solat" kata Hideo.


"Terus?" tanya Vee dengan mulut penuh makanan, sambil sesekali minum menggunakan sedotan.


"Apa kalian tinggal di kampung muslim?" tanya Vee.


"Saya tidak mengerti, tapi saya tidak pernah melihat warga disana solat seperti keluarga Sri" kata Hideo.


"Orang tua Sri bisa mengobati, seperti seorang tabib. Tapi mereka sering mengeluarkan barang-barang aneh dari dalam tubuh warga yang datang berobat. Bapak Sri bilang, warga kena teluh. Dan saya awalnya belum paham apa itu teluh" kata Hideo.


"Tapi saya lebih merasa tertarik pada Sri yang suka mengajarkan kebaikan pada saya" kata Hideo.


"Kebaikan seperti apa itu, om?" tanya Vee lagi.


"Sri mengajarkan agar jangan sampai menyimpan dendam. Meskipun kami yang dikucilkan oleh warga kampung semasa saya masih kecil".


"Sri mengajarkan banyak hal pada saya, dari ilmu agama, ilmu perbintangan, ilmu bela diri, bahkan dia juga mengajarkan ilmu hitam juga pada saya" kata Hideo.


"Kalau Sri bisa ilmu hitam, bagaimana kamu bisa yakin kalau dia itu orang yang baik, om?" tanya Vee, karena dimanapun juga kan kalau orang Sudah bisa ilmu hitam itu adalah orang jahat.


Vee manggut-manggut saat mendengar cerita Hideo.


"Saya sering menghabiskan waktu untuk menimba ilmu darinya. Hingga saya tidak sadar jika usia saya semakin bertambah, dan ternyata saya tumbuh menjadi pria yang tampan" kata Hideo dengan bangganya.


"Kamu sangat berlebihan saat membanggakan diri sendiri, om" kata Vee yang tengah mengamati visual dari asap yang melayang di dekatnya ini.


Memang tak bisa dipungkiri, jika Hideo memang tampan meski sifatnya seperti hologram yang berwarna. Dan dia juga semakin kuat daripada saat baru keluar dari dalam botol.


"Sudah tampak kalau saya memang tampan?" tanya Hideo yang dipandangi terus oleh Vee sejak tadi.


"PD sekali anda" kesal juga lama-lama berbicara dengannya.


"Asal kamu tahu Vee, rusaknya sebuah hubungan itu dikarenakan cinta dan harta. Dan hubungan saya dengan Sri rusak itu karena cinta buta" kata Hideo.


"Kalian terlibat cinta segitiga ya, om?" tanya Vee.


"Asal kamu tahu Vee, keluarga saya adalah keluarga terpandang. Orang tua saya kaya raya, dan saya adalah anak satu-satunya".


"Saat tumbuh dewasa, saya menjadi pria yang tampan dan berasal dari keluarga terpandang. Maka banyak sekali keluarga yang menginginkan saya menjadi menantu mereka".


"Dan dari banyaknya lamaran yang datang pada saya, tidak satupun yang saya terima karena saya masih betah untuk mencari banyak ilmu dan pengalaman".


"Dan hari itu, adalah hari paling mengerikan dalam hidup saya" kata Hideo dengan nada sedihnya, asapnya berubah kehitaman saat suasana hatinya sedang sedih.

__ADS_1


"Kenapa memangnya, om?" tanya Vee heran.


"Saat itu usia saya masih dua puluh tahun, tubuh saya tegap karena sering berlatih bela diri bersama Sri".


"Malam harinya, ada seorang pria datang ke rumah saya dan meminta pada orang tua saya agar mau menerima lamaran mereka untuk anak gadisnya".


"Dan lagi-lagi, saya menolak. Karena saya merasa masih terlalu muda untuk menikah".


"Tapi orang itu tidak terima dengan penolakan saya. Sehingga, keesokan harinya mereka sekeluarga menghasut warga kampung yang sebagian besar memang merasa iri karena keberhasilan keluarga saya menjadi pedagang disana, dan juga mereka mengirim teluh untuk menghabisi orang tua saya" Hideo sampai berkaca-kaca saat menceritakan bab ini.


"Saya yang sedikit banyak sudah tahu mengenai ilmu hitam seperti ini, tentu saya berusaha sekuat tenaga untuk melawannya".


"Dibantu bapaknya Sri, saya berusaha menolong ayah dan ibu saya. Hingga akhirnya, mereka selamat. Dan ilmu hitam itu pulang ke pemiliknya dan membuatnya seketika mati malam itu juga".


"Pagi harinya, banyak warga datang berkumpul ke rumah saya. Mereka bilang kami telah meneluh salah satu warganya hingga meninggal".


"Dan saat itulah, mereka mencari saya untuk dihabisi".


"Terutama para wanita yang merasa sakit hati akibat penolakan saya, mereka bersatu untuk menghabisi saya dan Sri" kata Hideo.


"Kenapa Sri diikutkan dalam hasutan mereka, om?" tanya Vee, kan tidak masuk akal kalau Sri tiba-tiba dijadikan pelampiasan rasa sakit hati mereka.


"Mereka menganggap saya punya hubungan dengan Sri karena sering melihat kami berdua. Padahal kami tidak berdua, selalu ada bapaknya Sri yang menjadi guru kami" lata Hideo menyesalkan kejadian itu, saat dimana dia tidak bisa menyelamatkan Sri dan keluarganya.


"Malam itu, warga yang mendapat hasutan merasa marah dan menghakimi orang tua Sri secara brutal, kepala mereka di sembelih macam hewan" Hideo sudah berair mata kali ini.


"Situasi semakin mencekam karena mereka tak hanya menghabisi orang tua Sri, tapi juga membakar rumahnya beserta jasad kedua orang tuanya".


"Saat itu juga, Sri mengajak saya ke gudang tempat penampungan padi. Dan Sri, tanpa sepengetahuan saya telah membacakan semacam mantra tingkat tinggi yang belum pernah saya ketahui sebelumnya".


"Sri meniupkan semacam mantra ke ubun-ubun saya, dan seketika saya tak sadarkan diri" kata Hideo.


"Terus om?" tanya Vee masih penasaran.


"Saya tertidur lama sekali, sampai kamu membuka botol itu. Membuat saya terbangun" kata Hideo.


"Uwah, keren banget. Terus apa yang terjadi sama Sri selanjutnya, om?" tanya Vee.


"Saya tidak tahu, Vee. Yang saya ingat, saya tertidur setelah Sri membacakan mantra itu. Dan saat saya membuka mata, kamu adalah orang pertama yang saya lihat" kata Hideo.


"Aku tahu apa yang terjadi pada Sri setelag itu, om" kata Vee yang membuat Hideo menatapnya penuh selidik.


"Darimana kamu tahu?" tanya Hideo.


"Sri sendiri yang memperlihatkan semuanya padaku, malam itu sebelum dia memberikan kotak kayu itu padaku" kata Vee.


"Maukan kau memberitahu pada saya, Vee?" tanya Hideo.


Kadang Vee merasa jenuh berteman dengan asap ini karena bicaranya yang memakai bahasa yang sangat baku, membuatnya merasa seperti sedang berbicara dengan orang tua saja kalau tak melihat visual Hideo secara langsung.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2