Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
panggilan kakak


__ADS_3

"Bang, beli tulang ayamnya ya" kata Vee.


Pulang sekolah dia menyempatkan diri untuk pergi ke pasar. Membelikan para bocil setan makanan berupa tulang ayam.


"Nggak sekalian dagingnya, neng?" tanya si penjual.


"Yang kemarin masih banyak bang. Sekarang beli tulangnya doang deh" kata Vee.


"Eneng ini masih SMA ya?" tanya si penjual ayam.


"Iya bang. Kok abang tahu?" tanya Vee.


"Anak saya juga sekolah di tempatnya eneng. Masih kelas sepuluh sih neng" kata penjual ayam itu.


"Masak sih bang? Oh kalau begitu besok titipin anaknya Abang saja ya tulang ayamnya. Duitnya aku kasih sekarang deh, sekalian bayar yang ini" kata Vee dengan gembira, jadi kan dia tidak repot-repot lagi harus ke pasar dulu sepulang sekolah.


"Rencananya eneng setiap hari nih mau beli tulang ayam?" tanya si penjual.


"Iya bang, tiap hari beli tulangnya saja tapi ya" kata Vee.


"Memangnya buat apaan sih neng tulang ayam sebanyak itu tiap hari?" tanya penjual itu penasaran.


"Ehm, buat peliharaanku bang. Ular gede banget" kata Vee.


"Dasar pembual" ejek Hideo dengan dengusan napas menyebalkan.


Vee hanya melotot pada asap melayang yang tak mau jauh-jauh darinya itu.


"Oh, pantesan. Abang kira eneng punya piaraan makhluk halus. Soalnya kan ada tuh neng makhluk halus yang makanannya tulang belulang kayak gini" kata penjual ayam mulai melantur.


"Dulu, abang juga punya langganan orang kaya tajir melintir sampai tujuh turunan juga hartanya kagak bakalan habis, neng. Tuh orang juga selalu belinya tulang ayam, sama kayak si eneng ini" kata penjual itu.


"Lama kelamaan dia ketahuan punya peliharaan makhluk halus, neng. Ternyata tulang ayamnya memang untuk makanan makhluk pesugihannya".


"Dan setelah ketahuan begitu, tuh orang tiba-tiba bangkrut dan sekarang jadi gelandangan. Dan kabarnya, dia ditinggalin sama keluarganya dan jadi orang gila neng" penjual itu bercerita dengan heboh.

__ADS_1


"Uwah, ngeri ya bang. Tapi aku cuma beliin peliharaanku saja kok, bang. Kalau aku punya pesugihan, nggak bakalan naik motor nih kesininya" kata Vee sambil menerima sekresek penuh tulang ayam untuk para bocilnya.


"Iya, abang mah percaya sama eneng. Itu kan abang cerita tentang pelanggan Abang dulu" kaya si abang.


Selesai dengan acara jual belinya, Vee memutuskan untuk pulang ke rumah dengan perasaan sedikit bimbang setelah mendengar cerita di abang penjual ayam tadi.


"Kenapa melamun, Vee?" tanya Hideo.


"Aku kok kepikiran ceritanya si abang penjual ayam tadi ya, om. Gimana kalau nanti orang-orang tahu kalau aku ngasih HoRoCi makanan beginian setiap harinya? Masak sih aku harus ikutan jadi gila?" tanya Vee.


"Itu terjadi jika kamu menyalahgunakan keberadaan HoRoCi untuk kepentingan duniawi kamu saja Vee. Dan saya yakin kalau kamu tidak akan pernah melakukan itu pada mereka" kata Hideo yang mengamati dengan seksama perubahan mimik wajah dari Veronica.


"Iya, kamu benar om. Aku kan cuma mau bantuin mereka agar tidak dimanfaatkan oleh orang jahat" kata Vee yang merasa sedikit lebih lega setelah mendengar penuturan dari Hideo.


"Makasih ya om " kata Vee mulai tersenyum lagi.


"Bisa nggak kalau kamu nggak memanggil saya dengan sebutan om?" tanya Hideo.


Vee sedikit oleng saat menoleh pada Hideo yang bertanya seperti itu.


"Kamu sih om, tiba-tiba ngomongnya ngelantur" kata Vee.


"Saya merasa sedikit aneh dengan sebutan om yang kamu berikan pada saya, Vee" kata Hideo.


"Terus aku panggilnya apa dong? Sebenarnya, aku panggil om itu sudah bagus loh. Daripada aku panggil kakek. Kan kamu usianya sudah sangat tua, om" kata Vee sambil terkekeh geli.


Tak menyangka jika dia akan berurusan dengan beberapa Makhluk aneh selepas dari Banyuwangi.


Sampai dirumahnya, Hideo masih saja merengek agar tak dipanggil Om oleh Vee.


"Yeay, Vee pulang" sambut ketiga bocil setan saat melihat Vee memasuki halaman rumahnya dengan motor kesayangannya.


"Kalian sudah lapar, ya?" tanya Vee, dia tersenyum melihat lara bocilnya menyambut kedatangannya.


Rasanya, dia jadi merasa dihargai dan diperlukan.

__ADS_1


"Ayo makan di garasi saja" kata Vee yang menyuruh ketiga bocilnya masuk ke garasi.


Mereka makan dengan sangat lahap, menghabiskan tulang ayam yang dibawakannya.


"Hei Vee, pembicaraan kita belum selesai" kata Hideo.


"Apalagi, om?" tanya Vee berpura-pura lupa


"Bisakah kamu tidak memanggil saya Om?" tanya Hideo, dengan pertanyaan yang sama sejak tadi.


"Oke, mari kita bicarakan dengan baik" kata Vee, melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat makanannya sendiri.


"Baiklah. Jadi, jangan panggil saya Om" Hideo menegaskan sekali lagi.


"Terus aku harus panggil apa? Sudah terbiasa dengan panggilan itu rasanya lidahku akan merasa kesulitan dengan panggilan yang baru" kata Vee, masih dengan kegiatannya menggoreng ayam.


Setiap pagi, Vee selalu menyempatkan diri untuk menanak nasi terlebih dahulu agar sepulang sekolah dia bisa langsung makan.


"Bagaimana kalau panggil kakak saja? Rasanya tidak pantas kalau aku langsung memanggil namamu, tidak sopan" kata Vee memberi usul.


"Kakak?" gumam Hideo sambil seolah befikir dengan mengelus dagunya.


"Bolehlah, panggil saya kakak Hideo" senyumnya terukir indah setelah menyebutnya.


"Oke, kak Hideo. Bisakah kamu menceritakan padaku tentang makhluk ketiga yang semalam tidak jadi menyerang kita?" tanya Vee.


"Saya rasa dia belum puas. Dan pasti dia tengah menghimpun kekuatan baru untuk menyerang kita, Vee" kata Hideo.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Vee sambil memakan makanannya.


"Kamu pelajari saja buku Sri, cari petunjuk disana" kata Hideo.


"Oke kakak Hideo, demi kamu maka aku akan membaca dengan baik buku milik Sri ini. Meskipun sebenarnya, aku itu sangat malas sekali belajar" kata Vee.


Beruntung buku itu bertuliskan Aksara Jawa, jadi Vee sedikit merasa tertantang untuk membaca buku itu sampai habis.

__ADS_1


Coba saja kalau buku itu ditulis dengan tulisan biasa, pasti Vee akan sangat malas membacanya.


__ADS_2