
"Wahai sang penguasa lembah kegelapan.
Pemimpin para lelembut serupa raksasa ular.
Abdi pengikutmu membutuhkan bantuan.
Sudilah kiranya sang raja untuk datang.
Mohon kiranya raja berkenan"
Awal pembacaan mantra dilakukan dengan penuh kekhusyukan oleh si pria berkupluk sambil sesekali mencipratkan air ke dalam wadah kuali kecil kuningan yang telah terisi air dan kelopak bunga beraneka warna.
Sementara si wanita cantik terlihat asyik memandangi kegiatan pria itu, sambil sesekali menikmati wanginya parfum bercampur kelopak bunga kantil yang menyengat.
Entahlah, dia suka saja dengan aroma menyengat yang keluar dari bejana itu. Dan juga kepulan asap tipis yang keluar dari sepasang dupa yang baru terbakar setengahnya.
"Abdi datang bukan dengan tangan hampa.
Seorang wanita cantik sedang menunggu kedatangan sang raja.
Dengan wajah dan hati utuh serupa nirwana.
Kesucian dalam inti tanpa corengan luka.
Wajah sempurna serupa sang ratu dalam tahta"
Dalam keadaan normal, lantunan mantra itu pasti terdengar janggal di telinga siapapun yang mendengarnya.
Tapi entah mengapa si wanita cantik seolah tak merasakan keanehan apapun dari lantunan barisan kata yang terucap dari bibir hitam si pria berkupluk itu.
Dalam diam wanita itu mendengar dengan serius. Duduk bersila dengan tatapan fokus pada bejana air yang lama kelamaan terlihat mendidih padahal tak dipanaskan oleh apapun.
Tapi anehnya, air di dalam bejana itu seolah bergejolak dan mengepulkan asap panas yang membuat seisi ruangan semakin terasa wangi karena kelopak bunga di dalam bejana itu mengeluarkan aroma harum bercampur mistis.
Si pria semakin serius dalam duduknya yang bersila. Bahkan kedua tangannya yang menggenggam dupa seakan bergetar dan tak kuat menahan beban dupa yang terlihat sangat ringan di mata normal manusia biasa.
Tapi disitulah kuncinya. Dupa terbakar yang diapit dua jari si pria berkupluk itu adalah akses untuk memanggil bala bantuan terakhirnya.
Raja dari segala raja lelembut yang si pria berkupluk itu yakini jika sesuatu yang dipanggilnya ini adalah yang terkuat dari semua lelembut.
Perlahan tapi pasti, si wanita merasakan getaran di tempatnya sedang duduk. Seperti saat duduk di kendaraan dan sedang berjalan di jalanan makadam.
Semakin lama getaran itu terasa semakin keras, semacam gempa bumi yang terus-menerus terjadi tapi sepertinya hanya dirasakan oleh kedua orang yang sedang melakukan ritual di dalam rumah itu saja.
Dan anehnya, si wanita itu nampak biasa saja. Dia tak sedikitpun merasa takut apalagi berinisiatif untuk pergi. Tidak sama sekali.
Wanita cantik berambut panjang itu tetap anteng duduk diatas bantal duduknya dengan sangat tenang dan nyaman meski getaran di dalam ruangan itu sudah membuat pundaknya bergerak naik turun.
__ADS_1
"Datanglah!!!!...
Datanglah!!!....
Datanglah wahai raja siluman!!!..."
Mantra pamungkas telah terbaca sempurna dan membuat air di dalam bejana kuningan yang terisi penuh kelopak bunga itu bergerak tak beraturan dan nampak ingin tumpah saja dari wadahnya.
Seiring si pria mulai membuka mata dengan perlahan, nampak juga keluar dari bejana itu sesosok pria gagah yang juga berambut panjang dengan mahkota bertaburan batu merah delima di kepalanya.
Aneh memang, wadah sekecil itu bisa mengeluarkan sosok besar nan gagah seperti pria bermahkota yang masih nampak sedikit kesulitan untuk mengeluarkan semua anggota tubuhnya dari dalam bejana.
Tapi itulah sihir. Dengan sihir, meski media yang digunakan hanya sebesar lubang jarum, tapi bisa menjadi tempat keluarnya berbagai makhluk yang besarnya bisa melebihi sapi Brahmana.
"Sembah hamba untuk sang raja" tutur si pria berkupluk sambil menangkupkan kedua tangannya dan menunduk hormat melebihi hormatnya seorang anak pada orang tuanya.
Sedangkan si wanita hanya diam mengamati keadaan dengan pandangan kosong. Sepertinya si pria berkupluk telah melakukan semacam hipnotis pada wanita yang biasanya sangat cerewet ini hingga dia tak sedikitpun memberikan komentar melalui tutur pedasnya pada pemandangan yang tengah terjadi dihadapannya.
Pria bermahkota yang keluar dari dalam bejana masih belum bisa menunjukkan bentuk tubuh sempurnanya.
Dari kepala bermahkota indah hingga batas perut yang baru keluar, terlihat si pria raja ini memakai baju zirah bertahtakan emas yang begitu indah dengan tangan menggenggam sebuah tongkat serupa tombak yang ujungnya runcing.
Tombak itu tak begitu panjang, mungkin panjangnya hanya 50 cm dengan lilitan motif seperti ular dari pangkal hingga ujungnya. Jangan lupakan taburan batu permata berwarna-warni yang terlihat sangat cantik. Tapi memberi kesan yang semakin membuat pria itu terlihat gagah.
Semakin lama, terlihat tubuh sang pria mulai terlihat sempurna. Tapi tunggu, dari bagian perut hingga ke bawah sepertimu pria itu tak memiliki kaki, namun bentuk tubuhnya menyerupai ular dengan sisik-sisik tajam dan berkilauan.
"Berani sekali kau memanggilku dari nyamannya tahtaku?" tanya si raja saat audah keluar dengan sempurna dan tengah berdiri dengan tubuh ularnya di hadapan pria berkupluk.
"Maafkan hamba, wahai raja Anantaboga. Maaf atas kelancangan hamba" ujar si pria berkupluk pada sosok yang diyakininya adalah raja Anantaboga.
Raja dari para siluman ular yang berparas tampan yang sebenarnya adalah seekor ular yang bisa mengubah dirinya menjadi setengah manusia ular seperti saat ini, ataupun bisa juga menjadi manusia sempurna sesuaikan keinginannya.
Tapi entah benar atau tidak, yang pasti si pria berkupluk sangat yakin jika pria ini adalah raja Anantaboga yang diyakini sebagai raja ular.
"Sebutkan apa tujuanmu?" tanya sang raja dengan pandangan mengintimidasi pada si pria yang nampak sedikit gemetaran.
"Hormat hamba raja. Hamba sedang sedikit kewalahan menghadapi seseorang" tutur Si pria berkupluk dengan pandangan tertunduk.
"Lalu?" tanya sang raja.
"Sudilah kiranya raja membantu hamba untuk mengalahkan pria itu dengan kekuatan dan kekuasaan raja yang sempurna" ujar si pria dengan perkataan yang menjilat khas orang-orang culas.
"Tunjukkan seperti apa orangnya" kata sang raja.
"Sendiko dawuh kanjeng" kata si pria.
Tanpa banyak kata, pria itu langsung melakukan apa yang raja ular inginkan. Menunjukkan rupa Hideo dalam tubuh Seno pada sang raja dengan tetap menggunakan media bejana kuningan yang airnya hanya tinggal separuh.
__ADS_1
"Ini orangnya, kanjeng" tutur si pria berkupluk dengan hormat.
Raja ular nampak mengamati dengan seksama dan menautkan kedua alis tebalnya saat berhasil mengamati wajah Seno dengan pandangan mengejek.
"Kau bisa dikalahkan oleh anak bau kencur seperti dia?" tanya sang raja dengan nada sedikit tinggi mendengar kekalahan anak buahnya ini.
"Maaf yang mulia, dia bukan pria sembarangan. Karena tubuh yang kita lihat itu hanyalah wadah dari jiwa lain yang sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa sakti. Dan sepertinya jiwa itu berasal dari masa lampau, raja" ujar si pria berkupluk.
"Hem... Menarik" tutur sang raja sambil mengelusi dagunya seperti orang yang banyak pertimbangan.
"Jadi, raja mau membantu hamba?" tanya si pria dengan senyum merekah, menampilkan sederetan gigi yang sedikit menghitam karena terlalu banyak menghisap asap nikotin.
"Apa yang telah kau siapkan padaku agar aku mau membantumu?" tanya raja dengan seringai liciknya.
Si pria sudah bisa memikirkan hal ini sebelumnya, karena memang tak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan untuk bernegosiasi dengan makhluk berbeda alampun harus ada sesuatu sebagai bayaran yang dinilai seimbang.
Seringai tak kalah licik terukir di wajah si pria berkupluk.
"Ada seorang gadis suci yang bisa raja gauli untuk menambah kekuatan raja. Gadis ini sangat cantik kan, raja?" tanya si pria berkupluk sambil menunjuk wanita yang sejak tadi duduk diam di bawah pengaruh mantra gendam yang telah di berikan oleh si pria berkupluk agar wanita itu menurut.
Raja menoleh pada si wanita cantik. Memang sejak tadi sang raja tak menyadari jika ada seorang wanita cantik di sekitarnya.
Senyum tampannya terlihat sangat tertarik pada wajah cantik si wanita. Hingga membuatnya mendekat dan mulai menilai penampilan si wanita dengan pandangan mesumnya.
"Gadis yang sangat cantik. Bisa kau pastikan kalau dia masih perawan?" tanya sang raja.
"Tentu bisa, kanjeng. Hamba bisa pastikan dia masih gadis suci" tutur si pria berkupluk penuh keyakinan.
Raja masih menyunggingkan senyumnya sambil mengitari wanitanya dengan perasaan membuncah. Rasanya dia sudah tidak sabar, tapi harus terlihat berwibawa di mata anak buahnya.
"Bagus. Segera siapkan tempat untuk kami bercinta" tutur sang raja dengan penuh hawa nafsu.
Mungkin jika tak ada si pria berkupluk, raja sudah meneteskan air liurnya saat melihat kemolekan tubuh si wanita cantik.
"Sendiko dawuh, kanjeng raja Anantaboga" tutur si pria berkupluk dengan seriangai puas.
Perlahan tapi pasti pria itu undur diri untuk memberi tempat sesuai keinginan sang raja dan membiarkan dua insan berbeda jenis dan berbeda alam itu untuk saling mengenal satu sama lain.
Saat si pria meninggalkan mereka, nampak sang raja masih mengitari wanita cantik dengan kaki ularnya.
.
.
.
__ADS_1
.