Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
perang jiwa


__ADS_3

"Aahhh.... sakiitt" bibir Hideo tak bisa berteriak keras meski telah berusaha semaksimal mungkin.


Hanya rintihan kecil yang keluar dari mulut lemahnya.


Jiwanya telah menemukan raga pengganti. Raga dari seorang Ongkoseno Widjojo, yang lebih dikenal sebagai seorang Senopati OW oleh kebanyakan orang.


Raga yang telah sangat rusak akibat efek buruk dari racun yang telah sengaja diminumkan kepadanya.


"Aahhh... Ini sangat sakit sekali. Saya tidak tahan lagi, Vee. Lebih baik saya mati daripada harus merasakan sakit sedalam ini" ucap Hideo lirih, bahkan dia sampai meneteskan air matanya.


Raga itu berada dalam kondisi yang sangat buruk. Hati dan alat pencernaannya tentu sudah rusak.


Sungguh sangat jahat orang yang telah membuat Seno seperti ini.


"Jangan bicara seperti itu, Jepun. Saya sudah sangat sulit untuk menukarkan jiwa kalian. Bagaimana bisa kamu ingin menyerah?" tanya Vee dengan mata berkaca-kaca.


Hideo menatap dalam pada netra Veronica. Dan kedua irish matanya telah berubah menjadi hitam pekat, tidak seperti biasanya yang berwarna coklat terang.


"Sri? Ternyata kau masih bersembunyi di dalam raga Vee selama ini?" tanya Hideo yang masih berada dalam pangkuan Vee.


"Saya hanya ingin membantumu untuk menemukan raga yang baru, Jepun. Jika saya tidak bergerak cepat, mungkin kita akan benar-benar dibawa oleh malaikat maut" kata Sri membela diri.


"Kembalikan Vee. Saya tidak akan membiarkan Vee menjadi arwah melayang tak beraturan seperti saya dulu, Sri. Saya mohon padamu" kata Hideo penuh harap.


Hati Sri menjerit mendengar ucapan Hideo. Ternyata pengorbanannya selama ini tak membekas sesuatu di hati pria itu.


Bahkan Vee yang baru empat purnama bersamanya, telah berhasil merenggut rasa di dalam hati Hideo.


"Jangan pikirkan lainnya dulu, Jepun. Akan saya bantu untuk menyembuhkan ragamu. Masalah lainnya, bisa kita bicarakan nanti setelah kamu kembali sehat" kata Sri tak menghiraukan rasa cemas Hideo pada Vee.


Bibir Sri kembali berkomat-kamit, dia sedang merapalkan mantra penyembuhan pada Hideo.


Sedangkan Hideo yang masih sangat lemas hanya bisa berbaring di tanah dengan pangkuan Vee sebagai bantalnya.


"Huwek... Huwek..."


Hideo muntah darah, banyak sekali muntahannya.


Gumpalan darah serupa hati ayam keluar sangat banyak dari mulut Hideo.


"Kepala saya sakit sekali" rintih Hideo saat muntahnya sudah reda.


"Lebih baik sekarang kamu beristirahat. Biar saya bawa kamu kembali ke rumah Veronica" kata Sri yang masih menguasai tubuh Vee.


"Kemarilah HoRoCi" panggil Sri.


"Bantu saya membawa Hideo pulang" kata Sri.


HoRoCi menatap aneh, logat bicara Vee sangat berbeda. Dan mereka tahu siapa yang ada di dalam tubuh Vee kali ini.


"Kau jahat, kenapa kau ingin sekali menguasai tubuh Vee? Jangan lakukan itu! Dia anak yang baik. Dan kami tidak sudi untuk mematuhi perintahmu" Ho menolak permintaan Sri, meski menyangkut Hideo.


"Hideo lebih penting saat ini. Cepat bantu saya membawanya pulang. Kalau tidak, kalian akan kubuat lenyap seperti abu" ancam Sri.


Nyali Ci seketika menciut, si bontot bersembunyi dibalik punggung kakaknya.

__ADS_1


Memang kekuatan HoRoCi masih jauh dibawah Sri dan Hideo. Itu membuat mereka mau tak mau harus menuruti perintah Sri.


Sedangkan Hideo sudah pingsan sejak tadi mengeluh sakit kepala.


"Gunakan kekuatan kalian. Kita harus cepat membawa Jepun dari sini" perintah Sri.


Menggunakan kekuatan masing-masing, akhirnya mereka berhasil membawa Hideo kembali ke rumah Vee. Dan mengistirahatkannya di salah satu kamar dirumah Vee.


"Biarkan dia sejenak istirahat. Racun dalam tubuhnya sudah keluar. Tinggal penyembuhannya saja" Sri berujar lebih pada diri sendiri.


Sambil membelai rambut Hideo dan menyeka keringat yang keluar di dahinya. Bibirnya selalu saja tersenyum saat melihat wajah Hideo.


Sedangkan di alam yang berbeda, Vee tengah berusaha lari dan mencari jalan keluar dari tempat berkabut.


"Sebenarnya ini tempat apa, sih? Kenapa aku bisa sampai disini? Padahal jelas-jelas tadi aku sedang ingin membawa Senopati ke rumah sakit, kan?" gumam Vee yang sudah sangat kelelahan.


Sejenak dia duduk diatas permukaan tanah berkabut.


"Ini juga, darimana sebenarnya asal kabut ini. Kenapa banyak sekali?" katanya sambil mengamati keadaan sekitarnya.


Sejauh mata memandang, hanya nampak hitam dan berkabut. Cahaya remang seolah malam yang hanya disinari cahaya rembulan.


Hosh.. Hosh ... Hosh...


Vee masih mengatur nafasnya.


Dan saat dia berusaha menutup matanya untuk menenangkan diri. Dia malah melihat sesosok wanita cantik bergaun sutra putih.


Senyum menawannya seolah menghipnotis Vee. Dengan untaian rambut yang menutupi sebagian wajah ayunya.


"Kakak siapa?" tanya Vee, padahal tadi ada di tempat berkabut. Sekarang sudah ada di sebuah taman dengan banyak pohon rindang dan suara burung berkicau.


Wanita itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Vee, lalu melambaikan tangannya agar Vee mendekat padanya.


"Cah ayu, ini bukan tempatmu yang seharusnya. Kenapa kamu bisa sampai datang kesini?" tanya wanita itu.


"Aku juga tidak tahu, kak. Tiba-tiba saja aku disini dan tidak tahu jalan pulang" jawab Vee jujur.


Wanita itu tersenyum lagi, sungguh senyumnya sangat menyejukkan hati.


"Ragamu sedang dipermainkan, apa kamu tidak merasakannya?" tanyanya lagi.


Vee menggeleng, lantas mengusap lengannya. Dan rasanya masih sama, jadi bagaimana mungkin dia sedang tidak berada dalam raganya?


Melihat ekspresi wajah Vee, wanita itu semakin tertawa. Tapi tawanya sangat berwibawa.


"Cah ayu, segeralah mencari jalan keluar dari sini. Bulatkan tekadmu agar kamu bisa menemukannya" ucap wanita itu.


"Siapa sebenarnya kakak cantik ini? Dan tolong beritahu saya bagaimana caranya agar aku bisa mencari jalan keluar dari sini, kak" kata Vee.


"Saya adalah perempuan dalam gelangmu. Gelang yang cocok dengan tanganmu. Cepat cari jalan keluarnya, nanti saya bantu kamu untuk memasukkan arwah jahat yang sedang berusaha menguasai ragamu itu" kata si wanita cantik.


Seketika Vee mengangkat lengannya, masih ada gelang cantik berliontin di sana.


Dan saat Vee akan bertanya lagi, wanita itu sudah tidak ada di depannya.

__ADS_1


Vee kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencarinya.


Tapi sia-sia saja. Wanita itu sudah pergi entah kemana.


Vee jatuh terduduk. Bersimpuh dengan lututnya. Lantas dia menengadahkan tangannya untuk berdoa.


"Ya Allah, jika memang ini sudah waktuku untuk menghadapmu. Berilah keikhlasan di hati orang tua dan keluargaku saat aku pergi" kata Vee memulai doanya.


"Tapi jangan biarkan ragaku dikuasai oleh kekuatan jahat yang mungkin bisa merubahku menjadi pribadi yang lebih buruk, Ya Allah" lanjutnya mulai berair mata.


"Tapi jika kau masih memberikan kesempatan untukku memperbaiki diri di dunia ini, maka berilah kekuatan untukku melawan segala kejahatan yang tak sesuai dengan fitrahmu Ya Allah" ucap Vee mengakhiri doanya.


Setelah itu, Vee menutup matanya. Melafalkan beberapa ayat suci yang dia hafal.


Dan saat dia mulai membuka matanya, HoRoCi adalah makhluk pertama yang dia ingat.


"Sebut nama kami dengan sepenuh hatimu, Vee. Maka kami akan bisa mengetahui dimanapun kamu berada. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga kami untuk datang membantumu".


Perkataan HoRoCi waktu itu terngiang di kepala Vee. Membuat tangannya tergerak untuk memegang kalung pemberian HoRoCi yang ternyata juga ikut terbawa ke tempat ini.


Vee sedikit tersenyum, dalam hati dia bersyukur karena mungkin mereka memang diciptakan Allah untuk menjadi perantara baginya


Segera Vee menutup matanya sambil terus memegangi kalung pemberian HoRoCi.


"Ho, Ro, Ci... Bisakah kalian mendengar panggilanku? Aku sedang tersesat disini. Bantulah aku untuk mencari jalan keluarnya" Vee menggumam dan terus mengulang untuk memanggil mereka.


Hening masih terasa, lambat laun kicauan burung disana mulai tak terdengar lagi. Dan terasa ada angin sepoi-sepoi yang membelai wajah Vee.


Lama kelamaan suhu disana seolah menurun, dalam keadaan masih menutup matanya, Vee menggigil.


"Kenapa dingin sekali?" ucapnya sambil membuka mata.


Lagi-lagi Vee dipermainkan, kini dia berpindah ke tempat yang sangat dingin dan berada di puncak gunung.


Tapi saat dia menoleh, bersama dengan itu juga dia mendapati wajah mengerikan di dekatnya yang juga sedang menoleh padanya.


"Aaaaaaa" mereka berdua sama-sama berteriak.


Tapi sesuatu terasa memeluk Vee dari depan.


"Vee, kami menemukanmu" ternyata Ci yang memeluknya.


Vee menghentikan teriakannya, begitupun Ro yang berteriak bersama dengannya tadi.


"Ya Allah, aku kaget banget lihat muka kamu Ro" kata Vee sambil mengusap dadanya yang masih berdegub kencang.


Ketiganya lantas tertawa senang, tak sia-sia perjuangannya untuk berusaha masuk ke alam ini. Mereka bisa bertemu dengan Vee.


"Ternyata kalian aslinya memang sangat mengerikan ya" kata Vee sambil tertawa.


"Sudah cukup. Sekarang kita harus berusaha mencari cara untuk bisa keluar dari sini" kata Ho menghentikan tawa mereka.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2