Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
apa yang akan terjadi?


__ADS_3

Pukul sebelas malam Hideo baru selesai ditangani oleh dokter.


Pria itu mendapatkan sebelas jahitan di pergelangan tangannya karena sempat tersangkut di bibir selokan saat salto ke dalamnya dengan sepeda motor.


Dan juga ada beberapa luka memar di beberapa bagian tubuhnya.


"Lebih baik biarkan pasien dirawat sampai setidaknya besok pagi disini, agar kami para dokter bisa lebih mudah untuk mengobservasi lebih lanjut" ujar dokter wanita yang tadi menangani proses penjahitan luka Hideo.


"Bagaimana kak, apa kamu mau menginap disini?" Vee masih meminta persetujuan Hideo.


"Sebenarnya saya sudah tidak apa-apa, Vee. Bagaimana kalau kita pulang saja?" tolak Hideo secara halus, dia hanya tidak mau terlalu membebani Vee.


"Tapi motornya juga kan masih di bengkel, kak. Terus bapak-bapak yang nolongin kita tadi sudah pulang setelah kakak masuk ke dalam UGD" jawab Vee.


"Yasudah kalau begitu, terserah kamu saja Vee bagaimana baiknya" kini Hideo hanya bisa pasrah, sedangkan bu dokternya masih setia menunggu keputusan apa yang akan mereka ambil.


"Baiklah dok, biarkan kak Hideo dirawat disini. Sampai kapan kira-kira, dok?" Vee memastikan lagi.


"Paling lama besok sore sudah boleh pulang, kami hanya ingin memantau keadaannya saja" jawab dokter itu ramah.


"Iya dok" kata Vee singkat.


"Suster, tolong antarkan pasien ke ruangan rawatnya ya" perintah bu dokter.


"Baik, dok" ucap suster itu menurut.


Sedangkan Vee masih berbelok untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Saya ingin menunggunya, sus" kata Hideo yang didorong dengan kursi roda oleh suster.


"Baik pak" ucap suster itu menurut.


Sambil menunggu Vee menyelesaikan proses pembayaran, suster itu terlihat sibuk dengan ponselnya.


Entah apa yang dia lakukan, tapi sesekali ekor matanya terlihat mencuri pandang ke arah Hideo yang tak pernah meliriknya sama sekali, bahkan terlihat suster itu seperti sedang mengambil gambar Hideo secara sembunyi-sembunyi.


Hideo tak menyadari semua itu, karena pandangannya hanya fokus pada Vee yang berada beberapa meter darinya.


"Nungguin ya kak?" tanya Vee setelah selesai dengan urusannya.


Dia masih bisa tersenyum saat mendatangi Hideo.


"Iya, saya nungguin kamu" ujar Hideo datar.


"Ayo sus" ajak Vee.


Suster itu mengangguk dan tersenyum, lalu segera membawa Hideo ke ruangan kelas dua yang biasanya akan dihuni oleh dua pasien dalam satu ruangan.


Tapi beruntung ruangan ini hanya dihuni oleh Hideo sendiri.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya mbak. Kalau perlu bantuan kami, bisa langsung memencet bel itu atau telepon saja kalau kami tidak langsung datang" kata suster itu dengan sopan.


"Iya sus, terimakasih ya" kata Vee.


"Untung cuma kamu saja yang ada di kamar ini kak. Jadi, bed yang satunya bisa aku pakai buat tidur malam ini" kata Vee setelah suster itu keluar.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Ehm, untuk kejadian yang tadi saya minta maaf ya, Vee. Motor kamu jadi rusak gara-gara saya" kata Hideo penuh penyesalan.


"Sudahlah kak. Nggak usah dipikirkan. Namanya musibah siapa yang tahu. Yang penting kan kamu nggak kenapa-kenapa" kata Vee yang sudah membaringkan diri diatas bed pasien yang kosong.


Hideo menoleh pada Vee, mengamati wajah gadis yang tengah memejamkan matanya tapi masih belum tidur.


"Saya sangat beruntung bisa dipertemukan dengan gadis sebaik kamu, Vee. Entah bagaimana nasib saya seandainya saya bertemu dengan orang lain saat Sri memberikan botol itu" kata Hideo.


Mendengar ucapan Hideo, membuat Vee menoleh padanya. Sedikit terkejut dia saat mendapati Hideo tengah memperhatikannya dengan seksama.


"Semuanya sudah takdir, kak. Semoga ke depannya semua bisa lebih baik ya. Sekarang lebih baik kita tidur saja, agar besok kakak bisa cepat sehat dan bisa segera pulang" kata Vee, sebenarnya gadis itu tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Iya, kamu benar. Tapi sekali lagi terimakasih Vee. Semua kebaikanmu tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Bahkan jika bisa, saya akan menghabiskan sisa umur ini untuk menemani kamu saja" ucapan Hideo semakin membuat Vee merasa bingung.


Bingung sekaligus senang, entah bagaimana Vee menjabarkan perasaannya. Yang jelas, ucapan Hideo membuat pipi Vee memanas.


"Tidurlah Vee. Semoga meski di alam mimpi, kita akan selalu bersama" lagi-lagi ucapan Hideo semakin membuat Vee merasa malu dan bingung.


Gadis itu memunggungi Hideo, tak kuat rasanya melihat mata Hideo yang masih betah memperhatikannya.


Saat perasaannya tak menentu seperti ini, membuat Vee sulit untuk mengawali tidurnya.


"Haduh, aku nggak bisa tidur" keluh Vee dalam hatinya.


Daritadi dia hanya membolak-balik badannya untuk mencari posisi ternyaman.


Sedangkan Hideo sudah tertidur dengan nyamannya. Mungkin karena efek obat bius yang membuatnya merasa mengantuk.


Kini giliran Vee yang mengamati wajah Hideo yang tertidur dengan damai. Terdengar suara tarikan nafas yang lembut saat pria itu bernafas dalam tidurnya.


"Kalau begini kamu kelihatan semakin tampan ya kak. Aku mungkin hanya bisa mengagumimu saja. Tapi tidak apa-apa, aku sudah bahagia bisa membantumu sejauh ini. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, semoga saja semua akan berjalan dengan baik" gumam Vee lirih, sambil tetap memandangi wajah damai Hideo.


Tapi tak lama.


Vee baru saja merasa bisa memejamkan matanya saat mendengar ada suara salam dari pintu.


"Selamat pagi. Bagaimana kondisinya hari ini, pak?" tanya dokter dan suster yang datang untuk mengecek kondisi Hideo.


"Saya sudah merasa sangat baik, dokter" jawab Hideo.


Rupanya pria itu sudah terbangun sejak subuh, tapi membiarkan Vee terlelap karena tidak tega untuk membangunkannya.


"Boleh saya periksa dulu?" tanya Dokter itu sambil menyodorkan stetoskopnya.


"Silahkan dok" jawab Hideo.


Vee yang mendengar percakapan itu lantas berusaha membuka matanya.


Hal pertama yang dia lakukan setelah berhasil duduk adalah mengucek mata dan mengikat asal rambut bergelombangnya.


Semua yang Vee lakukan tak lepas dari pantauan Hideo.


Dokter hanya bisa tersenyum melihat Hideo yang sepertinya sangat posesif pada Vee.


"Semuanya baik. Untuk lukanya masih butuh waktu untuk penyembuhan. Disarankan untuk dibersihkan setiap hari dan diganti dengan kassa yang baru setelah diberi obat agar cepat mengering" saran dokter.

__ADS_1


"Untuk makanan, apa ada yang harus dihindari dok?" tanya Vee.


"Tidak ada. Hanya saja jika ada riwayat alergi harus dihindari. Perbanyak makan daging agar bisa cepat pulih" kata dokter.


"Iya dok. Hari ini sudah boleh pulang kan, dokter?" tanya Vee lagi.


"Boleh. Silahkan kalau mau pulang" ucap dokter itu dengan sangat ramah.


"Terimakasih dokter" kata Vee saat dokter itu bersiap untuk pergi.


"Sama-sama, sudah kewajiban saya. Permisi pak Hideo, semoga lekas sembuh" pamit dokter itu pada Hideo.


Sedangkan Hideo hanya membalasnya dengan sedikit senyum dan anggukan kepala.


"Aku ke toilet dulu ya kak. Kamu jangan kemana-mana" kata Vee, letak toiletnya memang ada diluar kamar. Tepatnya di bagian belakang ruangan ini.


"Iya" jawab Hideo singkat.


Vee berjalan santai menuju kamar mandi. Saat ingin berbelok, tidak sengaja telinga Vee mendengar percakapan seorang wanita melelaui telepon dari balik tembok.


"Iya benar, aku yakin banget kalau itu Senopati. Tapi cewek yang datang sama dia semalam mendaftarkan dia dengan nama Hideo. Aku juga nggak tahu alasannya apa" kata suster itu dengan sedikit berbisik.


Vee menajamkan telinganya, ada yang sedang tidak baik-baik saja disini. Terlihat seorang suster yang tengah berbicara dengan gawainya saat Vee sedikit mengintip.


"Infonya sih mereka semalam datang karena Senopati yang terkena kecelakaan kecil, tangannya dijahit. Hari ini mereka sudah boleh pulang" kata suster itu lagi.


"Aku nggak tahu mereka akan pulang jam berapa, soalnya dokter sudah membebaskan jam pulangnya" Vee masih mendengar percakapan suster itu.


"Nggak janji ya, sebisanya aku bakalan berusaha biar mereka nggak segera kembali" kata si suster.


Merasa jika suster itu akan segera menyelesaikan teleponnya, Vee langsung balik kanan dan tidak jadi ke kamar mandi.


Lebih baik segera ke kamar Hideo karena takut terjadi sesuatu padanya.


"Kok cepat sekali, Vee?" tanya Hideo yang melihat Vee sudah kembali, tapi dengan nafas yang memburu.


"Kita harus segera pergi dari sini kak. Aku dengar tadi susternya ngobrol sama orang di telepon biar bisa nahan kakak disini" ucap Vee terburu-buru.


"Tenang, Vee. Cerita pelan-pelan saja, ya" kata Hideo.


"Tadi aku dengar suster lagi ngobrol lewat telepon. Sepertinya akan ada orang yang datang untuk memastikan apa kamu itu benar Senopati atau bukan. Dan suster itu juga bilang kalau akan berusaha menahan kakak disini sampai orang yang dimaksudkan datang" kata Vee cemas.


"Baiklah, sekarang juga kita pergi. Untuk urusan selanjutkan bisa kita pikirkan di perjalanan" kata Hideo memberi ide.


"Iya kak. Ayo pergi saja sebelum suster itu datang" ajak Vee.


Merekapun pergi dengan terburu-buru. Pikiran buruk masih bertahan di dalam benak Vee.


Karena saat terakhir bertemu dengan Senopati adalah saat dimana dia dibuang menggunakan kantong plastik oleh beberapa orang yang tidak dikenal.


Dan kejadian itu tentu membuat Vee semakin merasa takut kalau suster itu berada di pihak mereka.


Keselamatan Hideo jadi ikut terancam juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2