Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
rencana kuliah


__ADS_3

"Apa benar itu kak Aish?" Vee masih ngotot menanyakan hal yang sama.


"Oh, mungkin yang kalian maksud adalah wanita ini ya?" Aish teringat akan sesuatu, dan diapun mengambil ponselnya untuk memperlihatkan sesuatu pada Seno dan Vee.


"Apa ini wanita yang kalian maksud?" tanya Aish lagi.


Vee dan Seno memperhatikan dengan baik sebuah foto yang ada di ponsel Aish.


"Ehm, sepertinya iya. Aku suka bingung kalau disuruh membandingkan wajah asli dan foto dari seseorang, hehe" kata Vee cengengesan.


"Saya yakin memang dia orangnya" sedangkan Seno meyakini jawabannya.


"Dia ini Helen, penyanyi yang jadi pasangan duetnya Richard. Masak sih lo lupa sama dia, Sen?" Aish heran karena Seno juga melupakan itu.


Hendra hanya terdiam, tapi mata awasnya selalu sigap melihat semua ekspresi di wajah Seno yang selalu nampak datar saja.


"Saya sedikit lupa" jawab Seno sambil menerawang ke langit-langit, berusaha mengingat kepingan memori dari pikirannya yang terdalam.


"Lo selain manja juga pikun ya" celetuk Hendra.


Seno hanya menampilkan senyum smirknya saat mendengar ucapan Hendra. Belum tahu saja Hendra siapa Seno yang sekarang.


Dengan satu jentikan jarinya saja sudah bisa membuatnya hilang dari peradaban. Tapi tentu Seno harus bisa mengendalikan dirinya.


"Memangnya dia ngapain saja sih di Malang waktu itu? Pertanyaan kalian seperti serius sekali" ucap Aish.


"Ehm, bagaimana menceritakannya ya kak. Yang aku lihat memang cewek itu suka nempel sama kak Richard. Memangnya kak Richard itu siapanya kak Aish?" Vee masih belum paham dengan hubungan mereka.


"Lo nggak cerita sama pacar lo siapa Richard itu, Sen?" heran Aish.


"Saya lupa" jawab Seno singkat.


Aish menghembuskan nafasnya dengan kesal, kenapa Seno jadi sangat aneh begitu.


"Lo sebenarnya kenapa sih Sen? Kenapa lo aneh banget? Gue ngerasa lo nggak kayak biasanya" Aish memberanikan diri untuk mengutarakan pendapatnya, semoga Seno tidak salah paham.


"Saya tidak apa-apa, mungkin hanya karena sedikit merasa lelah saja" jawab Seno.


"Oh iya kak, kakak kuliah dimana? Rencananya aku mau nerusin kuliah aku kak" kata Vee yang tak ingin Aish bertambah curiga.


"Gue kuliah di Bunga Bangsa, Vee. Memangnya lo semester berapa?" tanya Aish.


"Aku baru lulus SMA, kak" kata Vee.


"Masak sih? Badan lo bongsor ya Vee Gue kira lo sudah kuliah" Aish tak menyangka jika Vee menikah saat usianya sama seperti dirinya dulu.


"Iya kak, aku memang baru lulus SMA. Ijazah saja belum keluar" kata Vee.


"Eh, ceritain ke kita dong Vee, gimana kalian bosa ketemu terus memutuskan buat nikah? Gue penasaran banget deh. Soalnya si Seno ini kan manja banget, terus juga dulu bilangnya masih nggak mau punya pacar dulu, apalagi istri" Aish memaksa Vee untuk bercerita rupanya.


Vee jadi salah tingkah, apalagi Seno sepertinya tidak ada niat untuk membantunya bercerita.


"Saya hanya ingin mendengar cerita apa lagi yang akan keluar dari mulut kamu, Vee" kata Seno dalam hati sambil tersenyum jahil.


"Ehm, gimana ya kak. Aku juga nggak nyangka kalau sampai akhirnya mau diajak nikah sama kak Seno" kata Vee mengawali ceritanya.


"Pasti semua wanita akan langsung setuju saat seorang Seno memintanya menikah" kata Hendra santai.


"Vee adalah penolong saya. Tanpa dia, saya tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap saya. Jadi, saya fikir bukan hal yang berlebihan jika sayapun ingin membalas semua kebaikan yang telah dia lakukan terhadap saya dengan cara menikahinya agar saya bisa menjaganya di masa yang akan datang" kata Seno yang mengambil alih pembicaraan.


"Eh, tapi aku minta tolong sama kakak berdua jangan sampai bilang sama orang lain ya kalau aku sudah nikah sama kak Seno. Soalnya aku masih mau merasakan jadi mahasiswi tanpa ada beban sebagai istri, kak" rengek Vee.

__ADS_1


"Memangnya bisa seperti itu?" tanya Aish.


"Kayak lo sendiri nggak gitu, princess. Lo juga kan ngerahasiain pernikahan lo sama Richard dari publik" sindir Hendra.


"Iya juga sih. Yasudah, kita janji deh bakal rahasiakan. By the way, lo mau ambil jurusan apa kalau kuliah, Vee?" tanya Aish.


"Aku maunya ambil Public Relationship, kak. Sesuai lah sama jurusan aku di SMA" kata Vee.


"Saya juga ingin fokus untuk menyelesaikan kuliah" kata Seno.


"Bagus deh. Besok lo ikut gue saja ke kampus, Vee. Nanti sekalian ambil formulir kalau lo yakin mau kuliah di kampus gue. Tapi nggak bisa lama-lama ya, Vee. Soalnya gue masih magang" kata Aish sambil menyeruput tehnya.


"Boleh banget kak. Besok langsung ketemuan di kampus kakak saja ya? Jam delapan gimana?" tanya Vee.


"Oke" kata Aish.


"Biar besok saya antar kamu" kata Seno.


Vee hanya menanggapi dengan senyuman dan mengangguk senang.


★★★★★


Pagi menjelang, Vee dan Seno sudah rapi karena mereka berencana untuk ke kampus Bunga Bangsa.


"Kamu jadi kuliah sama Aish, Vee?" tanya Mommy.


"Rencananya iya, ma. Soalnya kalau di kampusnya kak Seno, aku sadar diri sama kemampuan otakku, ma. Hehe" kata Vee yang mulai bisa akrab dengan mertuanya.


"Bagus deh, setidaknya kalau ada Aish kan ada yang jagain kamu Vee" kata papi Seno.


"Kayak anak kecil saja dijagain pa" timpal Vee yang tengah sibuk dengan sarapannya.


"Iya bu, seperti yang sudah saya katakan kalau saya ingin fokus ke kuliah dulu" jawab Seno.


"Papi setuju sama kamu, Sen. Semakin cepat kamu lulus, maka semakin cepat kamu bisa segera mengambil alih perusahaan. Papi sudah ingin pensiun" kata papinya senang.


"Mommy kok masih kayak nggak rela kalau kamu ninggalin pekerjaan kamu, Sen" keluh sang mommy.


"Mommy iki piye toh, lah wong anak e ben iso tambah pinter malah digondeli" terdengar papi Seno menggerutu dalam bahasa Jawa, selalu begitu karena mommy yang tak paham bahasa Jawa bisa menyelamatkannya dari kecerewetan.


(Mommy ini bagaimana ya, anaknya kan ingin semakin pintar kok malah dihalangi)


"Lah enggeh pa, pinaringan kesempatan madosi ilmu kok" timpal Vee.


(Iya pa, diberi kesempatan mencari ilmu kan ya)


Papi Seno tergelak, beliau lupa kalau menantunya berasal dari tempat yang sama.


"Terus saja pakai bahasa planet, kalian lagi ngomongin mommy ya" sewot mommy yang membuat Vee dan papi Seno tersenyum.


Sementara Seno masih saja bertampang datar.


"Kamu sudah selesai, Vee? Ayo berangkat" ajak Seno yang melihat piring Vee telah bersih.


"Biar diantar supir saja" kata mommy Seno.


"Biar saya bawa mobil sendiri, bu" kata Seno.


"Terserah kamu deh, yang penting hati-hati ya sayang. Jangan sampai hilang lagi" kata mommy Seno.


Sedangkan Vee sedikit khawatir mendengar jika Seno akan menyetir mobil sendiri. Bagaimana bisa dia berbuat begitu? Belajar naik motor saja dia terjatuh, lah ini mau nyetir mobil.

__ADS_1


"Kami pamit pak, bu. Assalamualaikum" ucap Seno sembari mencium tangan kedua orang tuanya diikuti oleh Vee.


Papi dan mommy Seno tertegun, mereka berdua sangat senang melihat perubahan sikap Seno yang semakin sopan dan menghormati mereka.


"Kakak yakin mau bawa mobil sendiri? Apa aku pakai ojek saja deh, kak. Ngeri aku kalau sampai berujung ke rumah sakit. Tuh luka di tangan kakak saja masih belum kering betul, sekarang malah berencana menambah luka lagi" keluh Vee yang masih saja khawatir.


"Kamu tenang saja, Vee. Saya semakin bisa mengendalikan tubuh ini beserta semua keahlian yang dimilikinya dahulu" kata Seno dengan wajah datarnya.


Vee hanya menghela nafas, ingin menolak tapi dia masih belum tahu Jakarta. Tapi untuk tetap bersama Seno, rasa takut tentu ada.


"Ya Allah, lindungi hambamu ini. Selamatkanlah kami, jauhkanlah kami dari marabahaya, amin" Vee berucap doa setelah memakai seat belt dengan benar.


Seno menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Vee. Hatinya semakin dibuat berdebar saat hanya berduaan dengan gadis ini.


"Saya antar kamu dulu ke Bunga Bangsa" kata Seno yang telah menjalankan mobilnya, sementara Vee nampak begitu tegang.


"Tenanglah Vee, saya sudah bilang kalau saya sudah sangat menguasai tubuh ini dan segala keahlian yang dimilikinya" kata Seno yang masih fokus dengan kemudi.


"Oke, terserah kakak saja" kata Vee yang masih belum bisa tenang.


Ternyata tak butuh banyak waktu untuk bisa sampai di kampus Aish, mereka berdua telah sampai di pelataran bangunan megah itu.


"Alhamdulillah, sampai dengan selamat" Vee lega saat mobil itu sudah memasuki halaman kampus.


Seno mengulurkan tangannya tanpa bicara.


"Apa?" tanya Vee yang sudah bersiap turun.


"Cium tangan suamimu dulu" ucap Seno.


Vee memutar bola matanya jengah, tapi dia menurut saja pada permintaan Seno.


"Hati-hati sayang, jangan pernah berfikir untuk mencari pacar baru" kata Seno setelah Vee berjalan beberapa langkah dari mobil.


Vee hanya melambaikan tangannya untuk menjawab. Sementara Seno masih melihat kepergian Vee sampai memasuki kawasan kampus.


Banyak mahasiswi yang melihatnya yang masih terpaku dengan kaca mobil tang terbuka, tentu mereka mengenali sosok lelaki tampan yang beberapa waktu lalu dikabarkan hilang.


"Itu bukannya Senopati, ya?" tanya seorang gadis yang bergerombol dengan temannya.


"Uwah benar, dia sudah kembali ya. Barusan itu apa pacarnya ya?" tanya yang lain.


"Pacarnya Senopati anak kuliahan disini juga?" yang lain ikut menanggapi.


"Dia ganteng banget ya" seorang gadis menatapnya dengan memuja.


"Iya, samperin yuk" ajak salah satunya.


"Ayuk" kata yang lain menyetujui.


Merekapun berlarian menuju ke tempat Seno yang sedang memarkir mobilnya.


Menyadari kedatangan segerombolan wanita menuju ke arahnya, Seno segera menutup jendela mobilnya dan menghidupkan mesin. Segera dia pergi dari kampus Bunga Bangsa dan membuat segerombolan fansnya merasa sedih.


"Yah... dia pergi" keluh mereka.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2