
"Duh, susah sekali soal yang ini" gumam Vee, dia sedang mengikuti ujian try out sebelum ujian Nasional.
"Dasar bodoh, itu sangat mudah Vee, jawabannya yang C" kata Hideo yang masih saja melayang di sekitaran Vee.
Vee mendengus sebal, setidaknya tidak usah mengolok lah kalau ingin membantu menjawab soalnya.
"Kamu tahu Vee, temanmu yang itu lebih parah daripada kamu. Jawabannya salah semua, hahaha" ejek Hideo pada salah satu teman Vee yang terlihat sedang menghitung kancing kemejanya.
"Cg" Vee hanya mendecak sebal. Asap yang satu ini sangat menjengkelkan, tapi kenapa otaknya bisa sepintar itu ya?
Sampai ujiannya selesai, telinga Vee masih saja dikotori oleh ledekan Hideo yang tidak hanya padanya, tapi pada teman-temannya yang dirasa sangat bodoh oleh Hideo.
"Telingaku sakit mendengar kamu mengolok semua temanku, kak" kata Vee dengan kesalnya, langkahnya terlihat santai menuju ke kantin saat jam istirahat hari ini.
"Memang kenyataannya begitu, Vee. Entah kalian ini generasi apa, pelajaran semudah itu tapi kalian tidak mengerti sama sekali" kata Hideo dengan santainya.
"Memangnya di zaman kamu, sudah ada pelajaran semacam ini? Nggak ada kan? Berarti lebih pintar anak-anak generasiku dong" Vee membela anak milenial yang tengah diledek makhluk kolot semacam Hideo.
"Di zamanku, bahkan ada pelajaran ilmu hitam. Sekarang mana ada. Pelajaran silat juga ada. Makanya anak zaman sekarang sangat, lentur" kata Hideo yang sedang mengamati teman pria Vee yang sedang bersolek.
"Tidak semua kok seperti itu, banyak juga yang keren. Coba lihat di lapangan itu, kapten tim basket di sekolahku keren kan? Selain tampan, dia itu juga berprestasi di bidang olahraga" kata Vee.
"Lihat deh, banyak banget cewek yang nyari perhatian ke dia" kata Vee sambil memperhatikan kapten tim basket itu, sangat macho di mata Vee.
Dasar Hideo usil, malah melemparkan bola yang sedang dimainkan oleh tim basket ke kepala Vee yang sedang tidak fokus menggunakan kekuatan jarinya.
Kebetulan di jam istirahat kali ini, Vee tengah memperhatikan tim basket sekolah yang sedang berlatih, dia dan Hideo tadi mampir ke pinggir lapangan sebelum menyambangi kantin.
"Auwh, sakit" kata Vee saat bola basketnya mengenai kepalanya.
"Ouwh, sorry. Pasti sakit ya?" sebuah suara terdengar asing di telinga Vee.
"Eh, nggak apa-apa kok. Nyantai aja" kata Vee yang lebih takut kameranya rusak, daripada kepalanya yang terluka.
"Kamu Veeronica ya? Yang postingan video alam kamu banyak digemari di yutub?" tanya orang itu lagi.
Saat Vee melihat wajah dari pemilik suara itu, malah lututnya merasa lemas. Ketua tim basket yang sedang mengajaknya ngobrol rupanya.
"Eh, iya. Aku Vee, pemilik akun video alam yang kamu bilang tadi" kata Vee setelah berhasil mengendalikan dirinya yang tengah limbung.
Pipinya memanas, seperti ini rasanya diajak bicara oleh orang populer ya. Jadi lemas.
__ADS_1
Tentu pemandangan itu membuat banyak gadis disekitarnya merasa iri, karena sang ketua tim basket tengah mengajak seorang siswi sebiasa Vee berbicara.
"Aku salah satu penggemar kamu loh, semua video kamu selalu aku like" katanya.
Vee tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Kamera kamu bagus banget, pasti mahal ya. Terus, kenapa kamu belum upload video baru lagi?" tanya James, kapten tim basket yang sejak hari pertama sekolah tidak pernah berbicara dengan Vee.
"Kamera ini cuma hadiah dari papaku, jadi aku nggak tahu apa ini mahal atau enggak" jawab Vee dengan jujur.
"Dan untuk masalah video, aku masih sibuk belajar buat ujian kan. Jadi, belum upload video baru deh" kata Vee dengan lancarnya, sudah terbiasa dengan obrolannya.
Hideo yang terasingkan malah merasa tidak suka. Dia yang memulai, dia juga yang merasa terabaikan.
Melihat Hideo yang akan mengisengi James, Vee spontan berteriak, "Jangan kak" kata Vee saat melihat jari Hideo terangkat untuk membenturkan bola ke kepala James.
"Kenapa? Ada apa?" tanya James yang terkejut karena teriakan Vee.
"Eh, maaf. Nggak apa-apa, aku tadi lagi ngelamun kayaknya. Hehe, yaudah aku duluan ya. Mau ke kantin dulu, keburu bel nanti" kata Vee yang salah tingkah, takut dianggap aneh oleh James.
Melihat Vee yang meninggalkan James, cowok itu hanya bisa tersenyum sambil menggumam "cewek yang menarik".
Kesempatan langka yang pasti tidak akan pernah lagi didapatkan olehnya.
"Maafin saya dong, Vee. Lagian kamu sih, kalau sudah ngobrol pasti lupa sama saya" keluh Hideo yang masih saja berusaha membujuk Vee yang sejak tadi kembali dari kantin masih saja merajuk.
Hingga saat pulang sekolah, Vee masih saja mendiamkannya.
"Kamu ini sangat menyebalkan, kak. Aku bisa ngobrol sama James itu mungkin sudah tidak akan ada kesempatan lagi. Dan satu-satunya kesempatan yang ada, malah kamu rusak begitu" gerutu Vee, sambil berusaha mengeluarkan motornya dari parkiran.
Setelah berhasil mengeluarkan motornya, segera saja Vee mengendarainya untuk pergi dari lingkungan sekolahnya.
"Hei, Veronica. Kamu mau kemana? Ini bukan jalan pulang" tanya Hideo.
"Mau beli bubur" kata Vee, memang dia sedang ingin makan bubur.
Dan kebetulan ada resto yang menyediakan menu bubur ayam sepanjang hari, bukan hanya saat pagi hari saja.
Vee membungkus buburnya, makan dirumah lebih enak daripada di resto kalau sedang sendirian.
Selesai dengan pesanannya, hari sudah menjelang malam saat Vee keluar dari resto itu. Dengan Hideo yang kini merajuk karena sejak tadi dicueki oleh Vee.
__ADS_1
Dekat perempatan, ada sebuah papan iklan seperti televisi yang sedang menayangkan kegiatan orang zaman dulu yang tengah memanen daun-daun tembakau.
Papan iklan itu sedang disewa oleh produsen rokok rupanya.
"Uwah, mereka orang-orang dari zaman saya" teriak Hideo dengan lantangnya.
Melayang penuh semangat untuk mendekati papan iklan berukuran besar yang ada di pinggir perempatan.
Kondisi jalanan sedang ramai, untung saja hanya Vee yang bisa mendengar teriakan Hideo. Kalau tidak, bisa malu tujuh turunan Vee saat orang-orang melihat ke arahnya.
Vee membelokkan motornya, mendekat ke arah papan iklan yang sedang dihinggapi oleh Hideo.
"Kak, turun kak. Itu cuma iklan, bukan orang asli" teriak Vee yang melihat Hideo tengah menempel pada papan itu dan berusaha menarik orang-orang dari dalamnya.
"Ayo turun" teriak Vee sambil memandang ke atas papan.
Tentu perbuatan Vee membuat beberapa orang memandangnya dengan tatapan aneh.
"Dasar gadis gila" umpat beberapa orang yang melihatnya.
Dan pemandangan itu tak luput dari mata seseorang yang sedang duduk manis di dalam mobil mewahnya.
Di temani managernya, orang tersebut merasa terhibur dengan perbuatan Vee yang menurut orang lain aneh.
Seorang pria tampan yang sedang mengunjungi kota ini untuk keperluan bisnisnya dua bulan lagi.
Ya, orang itu adalah Senopati OW. Artis terkenal yang rencananya akan melakukan konser di kota ini setelah ujian Nasional bagi para murid SMA nanti usai.
Seno terhibur dengan kelakuan Vee yang seolah sedang menarik sesuatu dari papan iklan itu.
"Tunggu pak, tepikan dulu mobilnya. Gue mau lihat cewek aneh itu mau ngapain" kata Seno pada supirnya.
"Baik, tuan" kata supirnya dengan sopan, menuruti keinginan sang majikan.
.
.
.
.
__ADS_1