Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
bertemu Kakek Hasan


__ADS_3

Sesuai janjinya, Vee sore ini pergi ke pasar induk. Dia akan mencarikan tulang ayam untuk diberikan pada ketiga bocilnya yang kini menjadi tanggung jawabnya.


"Tulang ayam berapaan bang?" tanya Vee setelah menemukan penjual ayam di dalam pasar.


"Tulangnya doang neng?" tanya penjual itu.


"Iya bang, tukangnya doang. Eengmh, sekalian sama dagingnya deh bang. Berapa sekilo?" tanya Vee, bersama Hideo yang terbang rendah di dekatnya.


"Daging ayam empat puluh neng sekilonya, kalau tulangnya doang gue kasih deh, buat apaan emangnya tulang ayam, neng?" tanya penjual itu.


"Dagingnya ya buat aku bang, kalau tulangnya buat kasih makan bocil" kata Vee yang terlalu jujur.


"Nah bocil lo kasih makan tulang? Bocil apaan neng?" tanya penjual itu heran.


"Beritahu saja sama dia Vee kalau kamu punya tiga bocah setan" kata Hideo yang tak habis pikir.


"Kasih makan tiga bocah setan, bang. Makannya tulang ayam" tuh kan, Vee beneran mengatakannya.


Penjual itu menilik penampilan Vee dari ujung kepala hingga ujung kakinya dengan heran, bahkan tangannya yang semula sibuk mengembang daging ayam sampai berhenti karena mendengat ucapan Vee.


"Maksud lo peliharaan gitu ya neng? Memang sering sih orang-orang bilang kalau peliharaan mereka itu anaknya sendiri. Bingung gue sama orang jaman sekarang, malah senang sekali kalau punya anak binatang" penjual itu meneruskan melayani pesanan Vee sambil terus bergumam.


Vee hanya diam, tak berselera untuk meneruskan obrolannya dengan penjual ayam itu.


"Nih neng pesenan elo, daging ayam doang sekilo ya kan? Terus tulangnya gue kasih gratis nih, banyak kan" kata penjual itu memberikan sekantong kresek berukuran cukup besar pada Vee.


"Aku bakalan sering beli tulang ayam kesini, bang. Besok-besok jangan dikasih gratis ya" kata Vee sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Kembaliannya buat abang aja ya, tapi besok aku kesini lagi buat beli tulang ayam. Jangan dikasih ke orang ya tulangnya" kata Vee memesan lagi pada si penjual.


"Siap neng, besok gue siapin tulang seger buat lo" kata penjual itu sambil melambaikan tangannya pada Vee yang bersiap pergi dengan motornya.


Hideo masih mengikuti kemanapun Vee pergi, saat Vee menaiki motornya maka Hideo akan terbang mensejajarkan diri dengan Vee.


Ditengah perjalanan, Vee bertemu dengan seorang kakek tua yang menghentikan laju motornya.


Kakek itu memakai baju lurik dengan blangkon dan tongkat bersimbol macan di pegangannya.


"Berhenti, cu" kata kakek itu lirih, tapi Vee bisa mendengarnya meski Vee cukup kencang saat melajukan motornya.


Melihat kakek itu di pinggir jalan, Vee mengentikan laju motornya dan menemui si kakek tua.


"Assalamualaikum, kek" kata Vee sambil menuruni motornya dan mendekat ke arah kakek itu berdiri.


"Waalaikumsalam, darimana cu?" tanya si kakek.


"Aku dari pasar kek. Maaf, kakek namanya siapa? Ada perlu apa sama aku?" tanya Vee dengan sopan.

__ADS_1


"Panggil saja kakek Hasan, kakek lihat kamu lagi sama dia itu ngapain?" tanya kakek Hasan menunjuk Hideo.


"Hah? Kakek bisa lihat om Hideo?" tanya Vee takjub.


Karena dari banyaknya orang yang dia temui, baru kakek Hasan inilah yang bisa melihat keberadaan Hideo di samping Vee.


"Kamu tahu saya, kek?" tanya Hideo yang juga nampak bingung.


"Tentu kakek tahu, kalau tidak tahu mana bisa bertanya tentang kamu" jawab kakek Hasan.


"Kita duduk di sana saja kek" ajak Vee pada kakek Hasan untuk duduk di sebatang pohon tumbang di dekat sungai kecil di pinggir jalan.


Kakek Hasan menurut, duduk berdampingan dengan Vee dan Hideo yang hanya berdiri di dekat Vee.


"Jadi apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya kakek Hasan masih menilik penampilan Hideo.


"Tidak usah memandangi saya seperti itu kalau kamu tahu siapa sebenarnya saya, kakek tua" kata Hideo yang menampilkan tawa di bibir keriput si Kakek.


"Ya, kita pernah bertemu dulu kan, nak" kata kakek Hasan pada Hideo.


"Jadi, usia kakek sudah benar-benar tua ya kek?" tanya Vee yang sebelumnya ternganga saat kakek itu berkata pernah bertemu dengan Hideo.


"Lebih tua darinya, tapi kakek masih beruntung karena punya tubuh kakek sendiri meskipun sudah sangat renta" kata si kakek.


Padahal kalau dilihat dan diamati dengan seksama, kakek ini tidak terlihat setua itu. Mungkin seperti kakek sekitaran usia enam puluh tahunan.


"Sepertinya kamu adalah gadis terpilih yang harus mencarikan tubuh pengganti untuk arwah gentayangan ini, cu" kata kakek Hasan.


"Oh iya, Vee hampir melupakannya kek. Memang pesan dari wanita itu adalah Vee harus mencarikan tubuh untuknya. Tapi, darimana kakek tahu semua ini. Dan bahkan, kakek bisa melihat Hideo" Vee mulai curiga pada kakek tua ini, apa mungkin kakek ini seperti Hideo yang tak bisa dilihat oleh orang lain.


"Kakek ini hanya manusia biasa, hanya saja Allah memberikan umur yang kelewat panjang untuk kakek hingga bisa melewati masa dimana semua keluarga kakek bahkan telah pergi mendahului kakek tanpa tersisa satupun" kata kakek Hasan yang membuat Vee terkejut.


Bagaimana bisa kakek itu tahu isi hati Vee?


"Mungkin Allah memang memberikan umur yang panjang untuk mendampingimu mengatasi masalah ini, cu" kata kakek Hasan yang lagi-lagi tahu isi hati Vee.


"Kakek bisa membaca isi hati Vee, ya?" tanya Vee yang merasa tak nyaman saat orang lain bisa menjelajah pikirannya.


"Bahkan sosok yang kamu anggap asap ini juga bisa membaca isi hati kamu, cu" kaya kakek Hasan.


Kini pandangan Vee melirik tajam pada Hideo, jadi selama beberapa hari bersamanya, Hideo telah bisa mengetahui segala maksudnya yang tak diungkapkan dengan perkataan.


Dan Vee tak menyukai itu semua.


"Kamu bisa merapalkan mantra yang ada di dalam buku itu, cu. Agar pria ini tidak tahu isi hatimu" kata kakek Hasan yang bahkan tahu buku milik Sri.


"Sebenarnya kakek ini siapa? Kenapa sampai tahu mengenai buku itu?" tanya Vee.

__ADS_1


"Kakek ini dulu sering ke rumahnya Abdullah, bapaknya Sri. Dia itu masih satu pesantren dengan kakek di pulau garam dulu. Tapi nasib kami berbeda, dia lebih dulu meninggalkan kakek untuk berpulang ke Rahmatullah" kata kakek Hasan.


Hideo terdiam, dia memang pernah beberapa kali bertemu dengan kakek itu dirumah bapaknya Sri. Dan sejak dulu, Hideo tidak suka dengan cara kakek Hasan memandangnya.


"Tapi yang Vee heran, setelah bertemu dengannya Vee jadi sering berurusan dengan makhluk gaib, kek" keluh Vee yang memang sudah beberapa kali bertemu makhluk gaib, padahal sebelum bertemu dengan Hideo, hidup Vee baik-baik saja.


"Arwah seperti dia ini memang sangat menarik bagi golongan mereka. Banyak yang ingin menjadikannya suami bagi para ratu mereka, ingin menjadikannya pimpinan juga" kata kakek Hasan.


"Beruntung dia memiliki ilmu yang cukup tinggi untuk menghadapi mereka. Tapi satu yang harus kamu ingat, cu. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencari tubuh bagi arwah sepertinya" kata Kakek Hasan.


"Kata Sri waktu itu, waktunya Patang purnomo, kek" kata Vee menirukan perkataan Sri di malam itu.


"Masih cukup lama. Tapi jangan sampai terlena, cu. Tahu-tahu waktunya sudah dekat, arwahnya bisa lenyap kalai masa yang dibutuhkan sudah habis" kata kakek Hasan memperingatkan Vee dan Hideo.


"Tubuh yang cocok itu yang bagaimana, kek? Vee nggak ngerti" tanya Vee yang memang nihil untuk masalah gaib seperti ini.


"Semua sudah tertulis dibuku itu, cu. Bacalah, resapilah. Dan silahkan tanyakan pada kakek kalau kamu belum memahaminya" kata Kakek Hasan.


"Dimana Vee bisa menjumpai kakek kalau butuh bantuan?" tanya Vee.


"Suruh saja satu dari tiga bocah nakal itu untuk mencariku" kata Kakek Hasan.


"Uwah, bahkan kakek tahu tentang HoRoCi" kata Vee heran.


"Sebenarnya namanya juga sebuah mantra, jika mereka menggabungkannya, maka kamu akan bisa membuka gerbang ke dunia lain, cu" kata kakek Hasan.


"Oh, pantesan mereka bisa dengan mudahnya keluar masuk dimensi ya kek. Berarti mereka sebenarnya juga sakti dong, kek?" tanya Vee yang mulai tertarik dengan pembahasan mereka.


"Mereka bertiga berilmu tinggi, hanya saja mereka terlalu pendiam dan terlalu rendah hati" kata kakek Hasan.


"Oh, begitu ya kek" kata Vee manggut-manggut saja.


"Sudah, kalian bertiga tidak usah sembunyi. Ayo kesini saja, kita nongkrong bareng-bareng bocah nakal" kata kakek Hasan yang melirik ke arah semak-semak di seberang sungai kecil.


Ternyata sudah ada HoRoCi disana, mendengar namanya disebutkan oleh kakek Hasan, mereka bertiga mendekat dengan menampilkan senyuman aneh.


"Bagaimana kalian bisa ada disini?" tanya Vee heran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2