
"Cepat beritahu saya, Vee. Apa yang terjadi pada Sri?" Hideo setengah memaksa agar Vee mau bercerita.
"Iya, sabar dong Om. Tapi aku mau lihat sedikit kesaktianmu dong om" Vee kan ingin tahu apakah Hideo ini memang sakti atau hanya membual saja.
"Apa yang aku lakukan pada tiga anak kecil di depan rumah bundamu itu masih kurang untuk membuktikan padamu?" tanya Hideo.
"Coba bawa mereka kesini kalau kamu bisa" kata Vee memberi sedikit syarat pada Hideo.
"Baiklah, akan segera saya lakukan" kata Hideo yang mulai berkonsentrasi.
Menutup kedua matanya sambil sedikit berkomat-kamit.
Dan, puff!!
Ajaib, ketiga bocil setan itu sudah ada di hadapan Vee yang sedang duduk menikmati camilannya setelah Hideo berkonsentrasi beberapa saat.
"Uwah, mereka datang om" teriak Vee histeris, seperti anak kecil yang mendapat mainan.
Tapi mereka bertiga terlihat lemas tak berdaya, tak seperti tadi malam saat mengajak Vee bermain.
Hideo membuka matanya, dan kembali melayang di dekat Vee.
"Sudah saya katakan kalau saya ini sakti" kata Hideo menyombongkan diri.
"Tapi kenapa mereka terlihat lemas?" tanya Vee, kasihan juga melihat mereka yang diam saja sementara Vee malah berteriak kegirangan.
"Mereka lemas karena sudah waktunya pulang dan tidur, malah terikat di halaman rumahmu dan tak bisa masuk kembali ke dunianya" jawab Hideo.
"Lepaskan kami" kata Ho dengan lirih.
Sementara kedua saudaranya nampak terdiam tak berdaya.
"Kalian belum berubah, masih ingin menyakiti Vee. Jadi, kalian harus tetap di posisi seperti ini" kata Hideo mengancam mereka.
"Menyakiti aku? Maksudnya bagaimana om?" tanya Vee heran.
"Ya, mereka ingin membawamu ke dunia mereka dan mempersembahkan kamu dengan cara memberikan pada raja mereka agar mereka mendapatkan imbalan yang sangat besar" kata Hideo.
Vee tentu terkejut mendengarnya, dia tak menyangka jika ketiga makhluk kecil ini malah berfikiran buruk tentang Vee.
"Hah? Kalian jahat sekali. Memangnya apa yang dijanjikan oleh pimpinan kalian jika aku berhasil kalian bawa?" tanya Vee sinis, rasa kasihannya jadi sedikit memudar.
"Kami dijanjikan banyak makanan, agar kami tak lagi mencari di halaman rumahmu Vee" jawab Ho lirih, masih lemas.
"Memangnya apa makanan kalian?" tanya Vee, setahunya tidak ada sesuatu yang menarik di halaman bundanya yang bisa dimakan oleh ketiga makhluk kecil ini.
"Makanan kami adalah tulang yang kalian buang ke tempat sampah di depan rumahmu, Vee" kata Ho.
"Oh, memang makanan kesukaan kak Varo adalah ayam krispi. Jadi, tulangnya yang kalian makan?" tanya Vee.
Hoo hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kenapa tidak memakan dagingnya sekalian?" tanya Vee.
"Seperti kalian yang tidak suka tulang, kamipun tidak suka daging" jawab Ho lirih.
"Berapa kali kalian makan dalam sehari?" tanya Vee bingung, apa makhluk seperti mereka juga punya jam makan yang sama dengan manusia?
__ADS_1
"Hanya satu kali setiap malam, saat kalian tertidur" jawab Ho.
"Sedikit sekali makanan kalian, ya. Pantas saja nggak tinggi-tinggi" kata Vee sambil memperhatikan tubuh mereka yang seperti anak berusia sepuluh tahun.
"Hengmh, aku punya penawaran yang menarik buat kalian. Apa kamu mau mendengarnya, Ho?" tanya Vee yang membuat ketiga makhluk kecil ini menatapnya serius.
"Apa?" tanya Ho.
"Jadilah makhluk yang baik, dan aku akan menyediakan makanan untuk kalian setiap harinya" kata Vee.
Mereka bertiga mengernyitkan dahi, seperti sedang menimbang sesuatu.
"Apa yang kau mau dari kami, Vee? Karena tidak ada manusia yang memberikan sesuatu secara percuma. Pasti ada maksud tersembunyi setelah kalian memberikan sesuatu pada kami" kata Ho dengan wajah mengerikan, seperti menyimpan kenangan buruk di masa lalunya.
"Aku tidak meminta apapun dari kalian. Sungguh! Aku hanya kasihan melihat kalian" kata Vee menjelaskan, tapi wajah menyeramkan Ho belum juga sirna.
"Kita ini sama-sama makhluknya Allah, kan. Jadi, tidak ada salahnya berbuat kebaikan pada kalian. Bukan hanya berbuat baik pada sesama manusia saja" kata Vee.
Tapi tak juga membuat raut wajah Ho berubah, masih menyeringai ngeri dengan tatapan menghunus. Rupanya dia belum percaya pada ucapan Vee.
"Kenapa? Kalian tidak percaya padaku?" tanya Vee tak kalah jutek.
Berhadapan dengan makhluk seperti mereka harus dipaksa untuk berani kan?
Agar mereka tak semakin ngelunjak dan menganggap kita takut. Lagipula ada Hideo sakti, yang bisa melindungi Vee dari ketiga makhluk nakal ini.
"Tak ada manusia yang tak meminta imbalan atas apa yang telah mereka lakukan, Vee" kata Ho terdengar sok tua di telinga Vee.
"Hei makhluk kerdil, aku lebih tua daripada kalian. Mana bisa kalian menilai seseorang dari sudut pandang anak kecil" kata Vee mengejek.
Ho tertawa, juru bicara dari ketiga makhluk kerdil itu juga tertawa mengejek pada Vee.
"Masak? Kok aku nggak percaya ya" kata Vee yang bangkit dari duduk nyamannya, berjalan mengitari ketiga makhluk kerdil yang menyeringai padanya. Berusaha menakuti Vee.
"Usiaku sudah tujuh puluh tahun, Vee" kata Ho.
"Masak? Kok seperti anak usia sepuluh tahun sih?" tanya Vee tidak percaya.
"Makhluk tampan di sampingmu itu malah lebih tua daripada kami kan, Vee?" tanya Ho dengan pandangan takut-takut pada Hideo yang juga menatapnya tajam.
Vee menoleh pada Hideo yang masih bergeming di tempatnya.
Akalnya tak sampai untuk memikirkan hal gaib semacam mereka ini. Mendadak Vee mengalami sakit kepala sebelah.
"Aduh, kepalaku sakit memikirkan kalian ini. Sebenarnya kenapa aku sampai bisa berurusan dengan makhluk aneh kayak kalian sih" keluh Vee sambil memijat pelan kepalanya.
"Sudah ditakdirkan atas dirimu, Vee. Terima saja" kata Hideo yang menatapnya lekat.
"Tapi aku nggak mau, om. Kenapa semua jadi aneh setelah aku ketemu sama kamu?" Vee berkeluh kesah kali ini.
Tak lagi semangat setelah tahu bahwa kehidupan mereka terlalu aneh baginya.
"Sudahlah, lupakan tentang usia. Kalian memang sudah kakek-kakek yang terbelenggu dalam tubuh bocil" kata Vee.
"Bagiamana dengan penawaranku? Apa kalian setuju?" tanya Vee lagi.
"Kami masih tidak percaya kalau kamu mau memberi kami makan tanpa meminta imbalan dari kami, Vee" Ho masih bersikeras.
__ADS_1
"Ada, aku. Aku tidak meminta imbalan apapun dari kalian. Aku hanya minta jangan ganggu manusia lagi. Cukuplah bermain di duniamu, jangan sampai mencelakai orang lagi" kata Vee sedikit membentak.
Rupanya ketiga bocil itu takut juga kalau dibentak seperti itu.
Ho, Ro dan Ci menunduk dalam. Saling bertelepati untuk berdiskusi tanpa sepengetahuan Vee.
"Tidak usah berbicara dengan bahasa hati. Karena saya bisa mendengar pembicaraan kalian" kata Hideo yang membuat mereka bertiga terkejut.
Mereka lupa jika masih ada pangeran hantu itu di sekitar Vee.
"Baiklah, kami setuju" kata Ho setelah cukup lama berfikir.
Vee tersenyum, melihat mereka mau menjadi lebih baik saja sudah suatu kebahagiaan bagi Vee.
"Bagus, kalian memang anak yang baik. Mulai hari ini akan aku belikan tulang ayam untuk kalian. Tapi, jangan pernah ingkar janji ya" kata Vee.
"Tentu, Vee. Kami akan selalu menepati janji kami. Dengan ini, kami anggap kamu adalah majikan kami. Dan kami akan selalu menuruti perkataanmu" kata Ho, menjalin perjanjian dengan mereka sudah dianggap menjadi perjanjian antara ketiga makhluk kerdil itu dengan Vee, yang kini menjadi majikan baru bagi ketiganya tanpa sepengetahuan Vee.
Vee kecil, hanya menganggap jika mereka adalah sesama makhluk ciptaan tuhan yang bisa hidup saling berdampingan dan saling menghormati.
"Oke, nanti agak sore ya aku belikan tulang. Sekarang aku sedang malas keluar rumah, panas banget" kata Vee.
Ketiganya hanya mengangguk memahaminya. Lagipula ada Hideo yang akan melindungi Vee jika mereka macam-macam, dan Ho takut padanya.
"Sekarang tolong bukakan ikatan mereka ya, om. Biarkan mereka beristirahat dulu. Aku kasihan melihat mereka lemas begitu" kata Vee.
Hideo mengangguk, melepaskan ikatan transparan yang mengikat ketiga makhluk tak kasat mata itu.
Segera mereka jatuh terduduk setelah mantra pengikat yang Hideo sematkan terlepas dari tubuhnya.
Merasakan nikmatnya bebas, ketiganya kembali ceria meski masih merasa lemas karena kelaparan.
"Terimakasih, om Hideo" kata Vee tersenyum senang.
"Sekarang, ceritakan pada saya bagaimana akhir dari hidup Sri" kata Hideo.
Vee sempat melupakannya, niat awalnya hanya ingin melihat kesaktian Hideo malah berakhir dengan perjanjian hidup dan mati dengan ketiga bocil itu.
"Oh, iya. Aku lupa, om. Hehehe" Vee tertawa, padahal wajah Hideo sudah suram kali ini. Dan Vee selalu bergidik ngeri jika Hideo tampil garang.
"Ehm, jadi malam itu. Setelah aku mendengar cerita dari lara supir tentang gadis bmtanoa kepala. Ternyata malam harinya, Sri benar-benar menghampiriku, om. Dia membawaku ke hutan terlarang di belakang gudang pupuk" kata Vee mulai bercerita, dan seiring cerita yang keluar dari mulut Vee. Hideo tampan sangat memperhatikan dan meresapi setiap kata yang Vee tuturkan.
Hideo bahkan meneteskan air matanya saat mendengar warga yang mengamuk dan memenggal kepala Sri Prameswari.
"Orang-orang itu sangat kejam, Vee. Sri bahkan telah mengorbankan nyawanya untukku" kata Hideo yang menyesali perbuatan Sri padanya.
"Dia membuktikan omongannya dengan melindungiku hingga akhir hayatnya " Hideo tak kuasa menahan tangisnya.
Hati Vee mencelos, seperti apa hubungan Hideo dan Sri sebenarnya?
Kenapa Hideo terlihat sangat terpukul mendengar akhir cerita hidup dari Sri?
.
.
.
__ADS_1
.