Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
ternyata ulah Hideo


__ADS_3

"Bicaralah kak, aku menunggu penjelasan darimu" rengek Vee pada Hideo yang terkesan cuek menanggapinya.


"Saya tadi sudah bertanya padamu, apa yang mau kamu dengar dari saya?" kembali Vee mendapatkan pertanyaan dari Hideo.


"Kamu pasti tahu penyebab dari matinya hewan-hewan itu kan?" tanya Vee yang sudah tidak sabaran.


Hideo mendesah, seolah bisa bernafas dengan hidungnya saja.


Sedangkan HoRoCi masih saja curi-curi pandang pada Hideo, seperti takut akan sesuatu.


"Baiklah, saya akan buka mulut padamu kali ini" akhirnya Hideo mau membuka suara.


Vee sudah menampilkan mimik wajah yang serius untuk mendengar semua penuturan Hideo.


"Saya yang menyerap energi dari para hewan melata itu untuk mengisi energi saya sendiri" kata Hideo dengan santainya.


Vee terbelalak, dia jadi teringat akan kuntilanak yang dihisap hingga menjadi abu oleh Hideo di malam pertama mereka bertemu waktu itu.


"Tidak usah terkejut dan menampilkan wajah jelek begitu, Vee" Hideo berseloroh, mengejek tampilan wajah kaget Vee.


Vee tersadar, segera dia menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan semua kesadarannya.


"Kenapa kamu melakukan itu, kak? Kan kasihan mereka" kata Vee.


"Tapi, kenapa mereka tidak berubah menjadi abu seperti kuntilanak itu kak?" tanya Vee yang kembali merasa takut pada Hideo.


"Para hewan itu masih punya jasad Vee, sedangkan kuntilanak itu tidak punya jasad lagi" Hideo mengawali penjelasannya.


"Saat saya menyerap semua energi dari hewan itu, maka akan menyisakan jasad kering yang telah habis energinya hingga membuatnya mati".


"Sedangkan saat saya menghisap semua energi dari kuntilanak itu, hanya meninggalkan abu saat energinya habis karena dia sudah tidak punya lagi jasad untuk ditinggalkan" kata Hideo.


Vee masih mencerna ucapan Hideo dengan seksama, dan dia jadi bergidik ngeri.


"Pasti rasanya akan sangat sakit kan, kak" kata Vee, membayangkan jika dia berada dalam posisi seperti para hewan itu.


"Daripada hewan-hewan itu masuk ke dalam rumah kamu dan membahayakan nyawa kamu, kan lebih baik saya ambil energi mereka. Jadi mereka masih bermanfaat meski harus kehilangan nyawa kan, Vee?" kata Hideo yang berusaha membuat Vee menghilangkan rasa takut di hatinya.


"Tapi kan kasihan kak. Lagipula kan aku sudah mengirimkan doa untukmu seperti saat kamu kehabisan energi waktu itu, kak" kata Vee.

__ADS_1


"Bahkan aku selalu mendoakanmu setiap aku selesai solat. Apa masih kurang?" tanya Vee yang masih merasa kasihan pada hewan-hewan itu.


"Jika apa yang aku lakukan lebih banyak manfaatnya untuk kamu, kenapa harus dipermasalahkan sih, Vee?" tanya Hideo.


Vee sedikit berfikir, memang benar sih kalau apa yang Hideo lakukan memang bermanfaat untuknya.


Agar hewan-hewan itu tidak sampai masuk ke dalam rumah dan menggigitnya.


"Cg, yasudahlah. Terserah kamu saja, kak. Yang jelas, jangan sampai kamu melakukan itu padaku. Atau aku tidak akan mengusahakan untuk mencari tubuh yang cocok untukmu" ancam Vee, karena diapun takut pada Hideo kali ini.


"Memangnya apa yang sudah kamu perbuat untuk saya selain mendoakan setiap selesai solat, Vee?" tanya Hideo.


"Bahkan kamu tidak melakukan apapun untuk mencari tahu bagaimana cara dan seperti apa tubuh yang cocok untuk saya. Kamu selama ini hanya melakukan aktivitas yang sangat membosankan setiap harinya" kata Hideo yang tak merasa takut sedikitpun dengan ancaman Vee.


"Kalau dalam waktu dekat ini kan memang aku sedang sibuk belajar, kak. Kamu tahu sendiri kalau aku sebentar lagi mau ujian Nasional. Jadi, aku fokus dulu lah pada ujianku" balas Vee tak mau kalah.


"Iya, setelah kamu selesai ujian nanti, waktuku untuk mencari tubuh yang cocok juga sudah habis, Vee. Maka semuanya akan sia-sia saja. Aku akan tetap menghilang seperti asap yang apinya sudah padam" kata Hideo tanpa ekspresi berlebih.


Vee jadi kepikiran dengan ucapan Hideo. Memang benar kalau waktunya sudah sangat dekat.


Dari empat purnama yang Sri katakan padanya, hanya kurang dua purnama saja waktunya. Bahkan di sudah terlewati dua purnama lebih.


"Sudahlah Vee, tidak perlu terlalu kamu pikirkan. Karena sayapun sudah pasrah. Saya sadar kalau memang waktu saya tidak banyak lagi" kata Hideo.


"Dan saya sudah mengikhlaskan apapun jalan takdir yang telah Tuhan berikan untuk saya. Dan di waktu-waktu terakhir saya ini, saya hanya ingin memberikan kesan yang baik untukmu".


"Agar nanti saat sudah tiba waktunya kita berpisah, maka kamu hanya akan mengenang segala kebaikan saya, Vee".


Perkataan Hideo sangat mengena di hati Vee. Hideo yang biasanya suka mengejek tapi memang sangat memperdulikannya, jadi terasa sangat berbeda saat dia harus berkata seserius ini.


Seketika suasana mendadak haru, Vee bahkan sudah meneteskan air matanya.


"Hei, kenapa kamu menangis Vee?" tanya Hideo heran, dia merasa tidak terima saat ada cairan bening terjatuh di wajah cantik seorang Veeronica. Apalagi saat Vee menangis karenanya.


"Aku nggak bisa membayangkan kalau kamu tiba-tiba pergi, kak. Karena aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu di sekitarku" kata Vee, malah semakin deras meneteskan air matanya.


"Sudahlah Vee, jangan kau tangisi saya. Saya sendiri sudah ikhlas jika memang waktu saya untuk menikmati dunia masa depan ini hanyalah sebatas empat purnama saja" kata Hideo yang bingung bagaimana cara menghentikan tangisan Vee.


"Vee, masak nggak ada makanan sih?" keluh Varo yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.

__ADS_1


"Loh, ngapain kamu nangis sendirian disini, Vee?" tanya Varo yang terkejut melihat Vee menangis.


Karena Vee adalah gadis yang sangat jarang sekali menangis.


Jika ada masalah dan harus bersedih, biasanya Vee lebih meluapkan perasaannya dengan cara memotret atau memukul sesuatu. Tapi tidak dengan menangis.


Varo berjalan menghampiri Vee dan duduk di sebelahnya.


"Kamu lagi patah hati, ya?" tanya Varo serius.


Vee hanya menggeleng, masih belum bisa mengehentikan air matanya yang diapun juga heran kenapa bisa sesedih ini mendengar Hideo yang akan pergi.


"Terus, kenapa nangis?" tanya Varo.


"Nggak apa-apa kak, cuma lagi keingetan teman Vee yang sudah meninggal" kata Vee, tapi malah membuat Hideo mendengus sebal.


Dia kan belum mati, kenapa Vee malah sudah menginginkan hal itu terjadi?


"Oh, kakak kira kenapa. Kematian kan memang tidak ada yang tahu, Vee. Kalau kamu merasa bersalah padanya, lebih baik kamu kirimkan saja surat Al Fatihah untuknya agar arwah teman kamu bisa tenang di alam sana" kata Varo menasehati adiknya.


Vee mengangguk dan menyeka air matanya, "Makasih ya kak" kata Vee sambil memeluk kakaknya.


Dan Hideo tidak suka saat melihat Vee memeluk pria lain, meski itu adalah Varo.


"Sekarang lebih baik kamu fokus ke ujian kamu saja ya. Belajar yang rajin, pastikan kamu lulus biar ayah dan bunda bangga sama kamu" kata Varo sambil mengelus sayang pada rambut adiknya yang masih mendekapnya erat.


"Sudah ya Vee, sekarang mendingan kamu masak ya. Sepertinya kakak sudah sangat lapar" keluh Varo sambil mengelus perutnya.


"Iya kak. Sampai lupa aku sama kakak aku yang lagi bantuin bersihin kebun. Pasti capek ya" kata Vee yang sudah beranjak, menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuknya sendiri dan juga untuk kakaknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2