
Vee tidak menyangka jika akan mengalami nasib sesial ini. Berawal dari rasa kagumnya terhadap fisik Daren yang sangat sesuai dengan kriteria pria idamannya, malah membuatnya berakhir dengan nasib seperti ini.
Sudah ada beberapa goresan luka di lengan, kaki dan lehernya akibat ulah dari Daren yang sengaja menyilet tubuh Vee sambil bercerita seperti orang gila.
"Auh, sakit kak" keluh Vee saat lagi-lagi Daren menggoreskan ujung siletnya di lengan kanan Vee.
Rembesan darah masih saja keluar dari bagian-bagian tubuh Vee yang sudah tergores. Tapi rupanya Daren masih belum puas juga.
"Oh maafkan aku, Vee. Sungguh aku tidak akan menyakitimu jika seandainya kau tidak terlibat dalam urusan keluargaku" rengek Daren, entah air mata yang keluar dari kedua matanya itu palsu atau tidak.
"Kau memang sakit jiwa" kecam Vee dengan pandangan tajamnya, kini sudah tak ada lagi sisa rasa kagum di hati Vee. Berganti dengan rasa benci.
Tentu sangat sakit karena diperlakukan semacam itu. Perih kulitnya, perih juga hatinya karena rasa penyesalan akibat tak mendengarkan perkataan Seno.
Sedangkan untuk melawan, Vee merasa sangat tak bertenaga. Seharian dia belum makan dan minum.
"Sepertinya aku dehidrasi" gumam Vee yang sudah lemas dengan mata yang sangat ingin terpejam.
Berbaring diatas lantai keramik sebenarnya terasa dingin. Tapi tak ada pilihan lain. Tubuh lemas Vee tak bisa lagi melawan perbuatan Daren yang semakin tak terpikirkan oleh akal sehat.
Rasa lapar dan haus membuat tubuh lelah Vee hanya bisa pasrah saat Daren memperlakukannya dengan sangat aneh.
Meski sejak tadi Daren selalu berkata jika dia sangat menyayangi Vee, tapi tangannya tak bisa berhenti juga untuk memberikan goresan di permukaan kulit tubuh Vee.
Gadis itu hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari lukanya.
"Maafin gue, Vee. Gue nggak tahu lagi harus bagaimana" kata Daren sambil ikut berbaring di sebelah Vee.
Berbaring miring dengan wajah memandangi Vee yang sedang terpejam kelelahan.
"Si Helen gadungan itu ingin gue untuk habisin nyawa lo dengan tangan gue sendiri karena lo adalah gadis pilihan Senopati yang telah menyakiti hati kakak gue" kata Daren lirih.
"Tapi hati kecil gue nggak tega untuk melakukannya" keluh Daren bermonolog seperti orang gila.
"Coba beri gua satu alasan supaya gue bisa dengan mudahnya merelakan lo untuk gue kirim ke tempat kakak gue berada" tutur Daren.
Lamat-lamat pandangan mata Vee melihat satu sosok lagi yang sedang berdiri di belakang Daren.
Dalam pandangan buram, Vee masih bisa melihat jika sosok itu adalah wanita berwajah hitam yang biasanya mengikuti Vee saat ada di kampus.
"Kamu ngapain disini?" tanya Vee lirih dengan tenaganya yang tersisa.
"Lo nanya ke gue?" tanya Daren heran, karena Vee berbicara seolah pada sesuatu di belakangnya.
"Sama wanita itu" tunjuk Vee ke arah belakang tubuh Daren.
__ADS_1
"Lo lagi ngayal ya Vee? Atau lo sengaja mau nakutin gue?" tanya Daren geram. Sebenarnya dia tak tahan lagi dengan hal-hal yang berbau mistis.
Wanita berwajah hitam itu mendekat, kini dia terlihat sedang menangis. Dan berusaha menunjuk Daren dengan tangannya.
Kini tangan wanita itu tergerak untuk memegang bahu Daren dan tangan lainnya memegang lengan Vee.
Seperti tersengat aliran listrik, tubuh Vee bergetar saat tangannya tersentuh oleh si wanita.
Sementara Daren malah merasa merinding tak karuan. Bulu kuduknya meremang dan pori-pori kulitnya menyembul.
"Sial! Apalagi ini?" keluh Daren celingukan.
Sementara Vee yang sudah sangat lemas tentu tak berdaya saat wanita itu memaksanya untuk menjadi perantara antara dirinya dan Daren untuk bisa berkomunikasi.
"Aahh, sial. Siapa lo?" tanya Daren setengah berteriak saat melihat wajah wanita berwajah hitam yang mencengkeram bahunya.
Lama kelamaan, wajah wanita berangsur normal. Berubah menjadi gadis manis berambut panjang yang diikat sedikit dengan polesan make up tipis.
Wanita itu tersenyum ke arah Daren yang melongo. Terkejut dengan penampakan di depannya. Dan membuat kedua netranya berkaca seperti ingin menangis.
"Kak Helen?" tanya Daren lirih, bahkan air matanya sudah merembes.
"Daren, adikku sayang. Sudah lama sebenarnya kakak ingin memberitahukan padamu tentang sesuatu, tapi aku tak tahu bagaimana caranya" tutur wanita itu lirih, dengan senyum sejuknya.
"Tapi, kakak kan? Bagaimana bisa kakak sampai disini?" tanya Daren lirih sambil berusaha menggapai kakaknya yang tak tersentuh.
"Maksud kakak apa?" tanya Daren semakin penasaran.
"Ya, kakak akan langsung memberitahukan padamu, karena sepertinya Vee sudah terlalu lemah untuk menjadi perantara diantara kita" kata Helen lagi.
"Sebetulnya kakak tidak bunuh diri, Daren. Latar belakang kakak yang menjadi salah satu fans garis keras dari Senopati membuat orang jahat mengambil kesempatan atas semua itu" kata Helen memulai ceritanya.
"Viona tahu kalau aku sangat menggilai Senopati. Dan tanpa aku sadari, dia dan orang kepercayaannya telah merencanakan hal yang sangat buruk terhadap kakak".
"Mereka sengaja menghabisi nyawa kakak hingga membuat wajah kakak tidak dikenali lagi. Setelah memberikan racun untukku, mereka sengaja membakarku di belakang kampus dan mereka hanya memberimu surat yang seolah-olah adalah tulisanku sendiri, padahal semua itu sudah mereka rencanakan dengan sangat matang" tutur Helen dengan deraian air mata darahnya, sangat mengerikan.
Jangan lupakan kondisi Vee sekarang, gadis itu sudah sangat lemah. Rembesan darah masih keluar dari bekas sayatan silet yang Daren berikan padanya. Hingga membuat bajunya berwarna kemerahan.
Jika diumpamakan sebuah ponsel, maka kapasitas batrai Vee kali ini sudah sepuluh persen saja. Entah berapa lama lagi gadis itu bisa bertahan. Tapi dengan keyakinannya, Vee masih berusaha tetap sadar agar bisa mendengarkan semua cerita Helen sampai tuntas. Agar tak ada lagi kesalahpahaman Daren untuknya.
"Daren, maafkan kakak karena sudah banyak menyusahkanmu. Meski kita tak terlahir dari ayah yang sama, tapi kakak tahu kalau kau sangat menyayangiku. Karena akupun sangat menyayangimu, adikku" ucap Helen semakin lirih, air mata darahnya senakin banyak menggenang di wajah pucatnya.
"Tolong temukan mayat kakak di belakang kampus, dan kebumikan dengan layak agar kakak bisa pergi dengan tenang. Dan untukmu Vee, terimakasih karena selama ini sudah mau membantuku. Dan sampaikan salamku pada Senopati. Aku masih sangat mencintainya, tapi aku sudah merelakan semua kehidupan duniawi ini agar bisa kembali pada Tuhan dengan hati yang bersih" kata Helen yang semakin terlihat menipis.
Vee tahu jika waktu yang gadis itu miliki sudah tak banyak lagi. Seperti yang biasanya Hideo alami, saat kekuatannya melemah pasti bayangannyapun ikut menipis, dan untuk membantu Helen agar mendapatkan sedikit kekuatan, Vee sudah tak mampu. Kekuatannya sendiri sudah sangat menipis.
__ADS_1
Bahkan mungkin sebentar lagi dia akan pingsan karena sudah tak lagi ada tenaganya yang tersisa.
Dan benar saja, tak sampai hitungan ke sepuluh, Vee sudah terkapar tak berdaya. Diikuti bayangan Helen yang menghilang dan Daren yang meraung dalam tangisannya.
"Kakak" teriak Daren sambil menangis, meratapi kebodohannya yang tak bisa membedakan siapa teman dan siapa lawannya.
Dan saat melihat Vee yang juga pingsan dan sangat pucat, Daren menghampiri gadis itu dan meletakkan kepalanya di pangkuannya sambil tetap saja menangis.
"Maafin gue, Vee. Lo jadi seperti ini karena kebodohan gue. Gue sayang banget sama lo, Vee. Bangun Vee" ucap Daren sambil menggoyang-goyangkan lengan Vee.
Tapi gadis itu hanya terdiam dan masih saja terpejam.
Sedangkan kondisi di liar ruangan masih nampak sepi. Raja ular yang membagi dirinya menjadi dua bagian tengah menghadapi dua wanita di kamar yang berbeda.
Di satu kamar dia sedang menangani Viona yang sedang merajuk karena Raja Ular yang dengan gamblangnya memuji wanita lain di hadapannya.
Sedangkan di kamar yang lain, dia tengah berhadapan dengan sang putri yang tak sudi untuk menerima raja ular sebagai pendampingnya.
Tentu saja sang putri akan menolaknya. Karena diapun menjadi manusia setengah siluman seperti itu karena perselingkuhan yang suaminya lakukan dengan wanita lain.
Kali ini, saat ada pria bejat yang menginginkannya, tentu amarahlah yang akan dia dapatkan. Dan beradu kekuatan adalah solusinya. Sang putri sedang berkelahi dengan raja ular.
Sementara si pria berkupluk hitam tentu sedang menjalankan ritualnya untuk selalu menambahkan kekuatan agar raja ular bisa tetap bertahan dengan segala ritual yang harus dia lakukan di tempatnya.
Kesibukan yang mereka jalani membuat tameng tak kasat mata yang sebelumnya menutupi seluruh bagian luar rumah dengan sempurna, kini tabir itu mulai terbuka.
Segerombol pria dengan satu komando mulai mendekat ke rumah itu dengan sangat hati-hati.
Berbekal senjata tajam dan juga senjata mistis berikut orang-orang pilihan, gerombolan itu memasuki kawasan rumah yang terasa sangat kental aura mistisnya.
"Ada orang menangis di dalam kamar ini, tuan. Sepertinya kita bisa memeriksa ke dalamnya terlebih dahulu karena saya merasa aura yang paling lemah berasal dari dalam sini" ucap salah satu orang pada tuannya dengan setengah berbisik agar tak menimbulkan kecurigaan.
"Baiklah, kita periksa tempat ini terlebih dahulu" kata sang tuan menyetujui.
Dan betapa terkejutnya dia saat pintu sudah terbuka lebar. Melihat Vee yang berada di dalam pelukan seorang pria yang tak dikenalnya dengan banyak luka dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Amarah sang tuan memuncak, dia berjalan mendekat dengan tetap mengutamakan keamanan kelompoknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.