Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Ricuh


__ADS_3

"Ah, sial" pria berkupluk hitam jatuh terjerembab setelah Seno menghantamkan salah satu sepatunya, dan beruntung mengenai kepala si pria berkupluk hitam itu hingga terjatuh.


"Dasar bodoh" umpat si raja ular.


Bersamaan dengan itu, rupanya sang putri juga nampak keluar dari dalam kamar dengan luka yang cukup banyak di beberapa bagian tubuhnya.


Meski baju putih yang dia kenakan sudah banyak ternodai dengan darahnya, tapi dia masih bisa bertahan dan kloningan dari raja ular sepertinya sudah berhasil dia kalahkan.


"Kurang ajar" teriak raja ular dengan sangat mengerikan melihat kekalahan yang dia derita.


Dan diapun menghantamkan kekuatan yang berasal dari tongkatnya ke arah putri hingga membuat putri memuntahkan banyak darah dari mulutnya.


Hantaman keras dari tongkat raja ular tepat mengenai ulu hatinya hingga membuatnya jatuh terkapar.


"Putri" teriak HoRoCi yang entah dari kapan sudah berada di tempat itu.


Tapi niatan untuk menolongnya sudah tak bisa, sang putri telah berubah menjadi cahaya putih dan perlahan cahaya itu terbang dan kembali memasuki gelang yang Vee kenakan di tangannya.


Kejadian itu tentu tak bisa dilihat oleh semua orang, Yudha contohnya.


Pria itu hanya bisa melihat adanya cahaya putih yang perlahan terbang dan masuk ke dalam liontin di gelang yang Vee pakai.


Sementara darah segar masih saja merembes dari luka yang Vee alami karena sayatan silet oleh Daren.


Dan dengan hati-hati pula pria tua itu mengelapnya sembari menunggu apa yang harus dia lakukan karena ada Seno disana. Dia harus meminta persetujuan dari Seno sebelum mengambil tindakan untuk menolong Vee.


"Kau harus mempertanggung jawabkan semua ini, pria ular. Dan jangan berfikir untuk bisa kembali ke alammu dalam keadaan selamat" kata Seno yang semakin geram karena raja ular yang tega menghabisi sang putri yang telah berjasa memberi petunjuk tentang tempat penyekapan Vee pada rombongan Seno.


"Kau hanya bocah ingusan yang tak selevel denganku, anak muda. Jadi, bersiaplah untuk menyusul wanita itu, hahaha" ejek raja ular dengan kekehannya yang menyebalkan.


Yudha sudah tidak tahan lagi, dia sangat mengkhawatirkan putrinya yang masih saja tak sadarkan diri.


"Seno, biarkan papa membawa Vee ke rumah sakit terlebih dahulu. Sepertinya dia sangat butuh pertolongan" kata Yudha memecah konsentrasi Seno.


Menoleh ke arah istrinya, Seno jadi tak tega melihat keadaan Vee yang terbaring lemah dengan beberapa luka ringan di lengannya.


"Iya, pa. Nanti Seno susul papa di rumah sakit" jawab Seno.


Segera Yudha berdiri dan kembali menggendong Vee, dibantu beberapa orang anak buahnya kali ini.

__ADS_1


Tapi tanpa di duga, sebuah hantaman vas bunga tepat mengenai kepala Yudha saat pria itu sedang berusaha keluar dari rumah itu.


Rupanya Helen yang melakukannya, suara tawanya terdengar renyah saat bidikannya tepat mengenai sasaran.


Yudha terjatuh, kepalanya yang terkena lemparan vas bunga terlihat mengeluarkan darah, begitupun Vee yang juga terjatuh karena Yudha yang pingsan.


"Tidak ada seorangpun yang bisa keluar dengan selamat dari tempat ini. Jika akupun harus mati disini, maka semua harus ikut ke neraka bersamaku" teriak Helen seperti kesetanan.


Rasa putus asa mulai membebaninya, melihat beberapa korban yang sudah berjatuhan karena rencananya yang tak berjalan dengan semestinya.


Helen takut, tak bisa jika dia harus mendekam di balik jeruji besi jika semua perbuatannya diketahui publik.


Dia masih merasa menjadi seorang artis yang kehidupannya akan disorot media dan menjadi bahan olokan oleh penikmat penderitaan.


Sementara kericuhan terjadi, rupanya pria berkupluk hitam pun sudah bisa kembali ke ruang sesajennya.


Dengan rapalan mantra yang dibaca dengan terburu-buru, dia masih bisa mentransfer banyak energi untuk raja ular agar bisa memulihkan kekuatannya setelah mengalami kekalahan dari sang putri.


Kini, giliran Seno yang harus menghadapi raja ular. Kedua pria itu terlihat saling adu kekuatan. Tentunya Seno masih terbantu dengan adanya HoRoCi dan juga Hendra.


Sementara Aish memilih untuk menolong Yudha yang mengalami luka di bagian kepala belakangnya.


Helen tahu jika Aish pobhia darah, dengan tawa mengerikan wanita itu berusaha menghampiri Aish dan ingin mencelakainya juga dengan membawa botol pajangan untuk memukul Aish dari belakang.


Beruntung niatnya diketahui oleh anak buah Yudha yang segera mengamankan Helen dan membawanya ke ruangan dimana ada Daren didalamnya.


"Lepasin gue, bodoh. Brengsek, kurang ajar" umpat Helen saat dua orang pria sedang membawanya secara paksa.


Dan saat tiba di dalam ruangan, Daren masih pingsan dan masih tersisa tali untuk mengikat Helen agar tak berbuat jahat lagi, meski tak ada apapun untuk digunakan sebagai penyumpal agar Helen tak bisa bersuara.


Helen ditinggalkan didalam kamar itu dengan teriakan dan umpatan yang terus saja dia ucapkan. Anak buah Yudha segera menutup pintu kamar itu dan segera menolong tuannya.


"Ini kainnya, non" kata pria yang tadi diberi arahan oleh Aish.


Tidak ada yang tahu jika selama ini Aish sudah berusaha mengobati pobhianya dengan mendatangi beberapa psikiater.


Dan usahanya ternyata sangat berguna kali ini. Aish bisa memberi pertolongan bagi banyak orang ditempat itu.


Dengan telaten Aish merawat luka Yudha sesuai ilmu yang dia dapatkan dari ekskul PMR semasa dia SMA.

__ADS_1


Tak ada yang tahu jika Helen yang licik ternyata sudah merencanakan agar anak buahnya datang di saat yang sudah ditentukan.


Dan sesuai kesepakatan itu, tiba-tiba datang beberapa orang yang langsung berusaha mengamankan tuannya dengan cara menghadapi anak buah Yudha.


Rumah itu terlihat ramai kali ini. Banyak perkelahian terjadi baik di dalam maupun diluar rumah.


Kepanikan mulai Aish alami, beruntung meski dia adalah seorang wanita, tapi untuk berkelahi dia sudah berpengalaman sebelumnya.


Diapun mulai menolong anak buah Yudha yang jumlahnya tak seimbang dengan orang yang Helen panggil.


Semua orang nampak sibuk, perkelahian antar manusia maupun dengan makhluk tak kasat mata tengah terjadi di rumah itu.


Raja ular yang merasa terpojok pun sudah mulai memanggil pengawalnya untuk bisa membantunya melawan Seno dan teman-temannya.


Ricuh, itulah yang tengah dialami semua orang di rumah tempat Vee ditawan. Kekuatan imbang belum menampakkan kubu mana yang bisa keluar sebagai pemenangnya.


"Sepertinya sumber kekuatan manusia ular ini berasal dari mantra yang dirapal oleh pria di dalam kamar itu" gumam Hendra yang sejak tadi mencari celah kelemahan sang raja.


Diam-diam Hendra beranjak dari ruang tengah dan mencari keberadaan pria berkupluk.


Beruntung dengan satu kali membuka pintu dari salah satu kamar, terlihat si pria sedang sibuk di balik meja sesajennya.


Bau dupa yabg disulut merebak saat Hendra membuka pintu kamar itu. Dengan ayam cemani hitam yang darahnya sedang dikucurkan ke dalam sebuah wadah oleh pria itu.


Hendra segera masuk, dengan langkah terburu-buru dia merusak semua peralatan yang ada diatas meja di hadapan si pria.


"Kurang ajar" teriak si pria dengan mata nyalangnya.


Diapun berdiri dan mengeluarkan senjata berupa keris dari pinggangnya. Kini, dia sedang berusaha untuk menghabisi Hendra.


Perkelahian pun tak bisa dielakkan, Hendra tahu jika keris itu bukanlah keris sembarangan karena biasanya benda semacam itu mengandung racun yang bisa dengan mudah menjatuhkan lawannya.


Merasa salah satu sumber kekuatannya menghilang, raja ular jadi sedikit oleng. Satu pukulan keras diterimanya dari Seno hingga membuatnya jatuh tersungkur.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2