Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
rahasia Papa Yudha


__ADS_3

"Dadah kak" Vee melepas kepergian Seno setelah jam kuliah pria itu akan dimulai.


"Telpon saya jika kamu mau pulang, saya pasti menjemputmu" kata Seno yang sudah bersiap dibalik kemudinya.


"Oke" jawab Vee singkat sambil terus melambaikan tangannya.


Setelah mobil Seno hilang dari pandangan, ponsel Vee berdering dan menampakkan Akbar tengah menghubunginya.


"Hallo, kenapa om?" tanya Vee setelah mengangkat sambungan teleponnya.


"Kamu tadi menelpon saya, Vee?" tanya Akbar.


"Iya, tadi ada yang mau aku kenalkan sama Papa Yudha. Tapi nomornya om Akbar lagi sibuk" jawab Vee yang masih berdiri di parkiran kampus.


"Tadi masih ada meeting, baru saja selesai. Kamu bisa menemui Pak Yudha di cafe Destinasi yang tak jauh dari kampusmu. Atau om jemput saja ya kalau kamu masih bingung" Akbar menawarkan bantuan.


"Boleh sih om kalau nggak merepotkan" kata Vee sedikit tak enak hati.


"Tentu tidak, tunggulah sebentar. Om jemput kamu sekarang" kata Akbar.


"Iya" jawab Vee singkat. Dan menutup sambungan teleponnya.


Memang tak lama, Akbar sudah nampak datang sendirian saja dengan mobilnya. Vee menunggunya di depan kampus sejak selesai bertelepon.


"Ayo masuk" ajak Akbar.


Vee hanya mengangguk dan duduk di samping Akbar yang tengah mengemudi. Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di lokasi yang tadi Akbar sebutkan.


"Hai Pa" sapa Vee setelah bertemu dengan Yudha.


"Duduklah, Vee. Kamu sudah makan siang?" tanya Yudha, sedangkan Akbar sudah pamit untuk kembali ke kantornya.


"Belum pa" jawab Vee sambil menggelengkan kepalanya, lalu memindai seluruh isi ruangan cafe yang nampak nyaman.


"Pantas saja papa betah disini, suasananya nyaman ya pa" kata Vee.


Mereka berdua tengah duduk di private room di lantai dua cafe itu. Meski ada sekat yang memisahkan antar meja, tapi sekat itu tak sampai menutup seluruh isinya.


"Iya, kamu mau pesan apa? Atau kamu masih suka ayam goreng krispi?" tanya Yudha.


"Masih sih pa, cuma sedang bosan dengan makanan itu. Pesan yang lainnya saja" jawab Vee enteng.


Yudha melambaikan tangan, memanggil seorang waitress yang kebetulan lewat.


"Mau pesan apa tuan?" tanya waitress itu sambil menyerahkan buku menu.


"Kamu mau apa nak?" tanya Yudha. Lama sekali rasanya Vee tak mendengar panggilan itu, dan hati Vee rasanya sangat bahagia kali ini.


"Ehm, spaghetti bolognese dikasih ayam krispi ya mbak minumnya milky mango yang jelly nya dibanyakin" pesan Vee.

__ADS_1


Yudha tersenyum, "Katanya bosan sama ayak krispi?" sindirnya.


"Hehehe, nggak bisa nolak ayam krispi, pa" jawab Vee tanpa malu.


"Saya menu special disini saja mbak, minumnya lemon tea saja" pesan Yudha.


Dan waitress itu pergi setelah memastikan pesanan mereka.


"Kamu suka hadiah kamera yang papa beri kemarin, Vee?" tanya Yudha.


"Suka banget, pa. Makasih ya. Padahal kamera pemberian papa yang lama juga masih bagus loh" kata Vee.


"Papa suka melihat hasil editan video kamu yang terupload di internet. Papa penggemar kamu lho. Papa pikir, kamera yang baru bisa membuat hobi kamu semakin berkembang" puji Yudha yang memang menyukai semua video Vee.


"Uwah, Vee jadi semakin bersemangat ini. Tapi Vee jadi kasihan sama Alin, pa. Soalnya kan kamera lamaku sudah aku kasih ke anaknya pak dhe Andik, malah dia minta. Jadinya masih aku janjiin deh buat membelikan dia" ujar Vee yang membuat Yudha ingat dengan anak kembarnya.


"Alin? Adik kamu?" tanya Yudha memastikan.


"Iya, siapa lagi. Alin adik aku yang cantik itu, entah dia itu mirip siapa. Wajahnya sangat cantik meski tertutup hijab" jawab Vee enteng.


"Tentu menurun dariku, Vee. Kan papanya setampan ini" kata Yudha yang kelepasan bicara.


"Maksud papa?" tanya Vee heran.


"Ehm, bukan apa-apa. Lupakan saja perkataan papa barusan. Eh, itu pesanannya sudah sampai, lebih baik kita makan saja dulu" Yudha gugup kali ini, dia terlalu bahagia saat mendengar jika anaknya tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Vee yang merasa aneh masih tak ingin memperpanjang urusan ini. Biarlah nanti di waktu yang tepat dia akan menegaskan kembali pada Yudha.


"Sekarang lebih baik kita makan dulu ya, Vee" kata Yudha.


Selanjutnya, mereka makan dalam diam. Keduanya sedang menunggu momen yang tepat untuk berbincang lenih lanjut.


"Ehm, seingatku dulu, Alin itu anak kembar kan, pa. Dan salah satunya dibawa sama papa untuk diobati ya? Bagaimana kabar adikku yang satunya itu sekarang, pa?" tanya Vee setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Dia baik, Alhamdulillah semua pengobatannya berjalan lancar. Dan sekarang dia sudah remaja" jawab Yudha dengan hati-hati, dia tak boleh asal bicara mengenai anak kembarnya itu.


"Bagaimana dengan Alin?" pancing Yudha, meski sebenarnya dia sudah tahu semua tentang pasangan anak kembarnya yang harus berpisah itu dari mata-mata yang dibayarnya.


"Alin itu anak yang sangat baik, dia sangat patuh sama bunda dan ayah. Bahkan dia mengikuti jejak bunda untuk berhijab, tapi meskipun dia berhijab, hobinya itu adalah seni bela diri, pa" jawab Vee.


Yudha membayangkan wajah Alin yang selalu dia dapat dari anak buahnya melalui foto dan rekaman video. Alin memang cantik dan berbakat, dia juga pemberani. Sangat berbeda dengan Lisa yang manja dan hobi bersenang-senang. Bahkan idolanya adalah Senopati.


"Papa dengar, kamu ada hubungan khusus dengan artis yang bernama Senopati ya, Vee?" tanya Yudha.


"Ceritanya terlalu singkat dan membuat banyak orang tak akan percaya, pa. Nanti kalau ada waktu, aku kenalkan dia sama papa, ya" jawaban Vee terlalu mengambang bagi Yudha.


"Ajak saja dia ke rumah papa, karena Lisa, kembaran Alin itu sangat mengidolakan Senopati. Sekalian kamu bisa lebih dekat dengan adik kamu itu. Karena selama ini, papa masih belum pernah menceritakan jika dia punya saudara kembar" kata Yudha.


Vee tentu tercengang mendengar penuturan Yudha, "Kenapa papa merahasiakan tentang kembarannya? Bukankah itu sama saja kalau papa sudah memutus tali silaturahmi diantara mereka? Padahal sejak kecil, bunda selalu bercerita pada Alin bahwa dia punya saudara kembar yang sedang berjauhan" Vee bertutur dengan sedikit kesal kali ini.

__ADS_1


"Papa masih belum bisa menceritakan itu, Vee. Karena Lisa adalah anak yang manja dan tak suka disaingi. Papa khawatir jika dia tahu kalau dia punya saudara kembar bisa membuatnya stress dan tidak menerima kenyataan. Papa takut jantungnya kembali kambuh" alasan Yudha sangat tidak masuk akal bagi Vee.


"Tapi bagaimanapun dia harus tahu, pa. Karena Vee yakin jika suatu saat nanti pasti takdir akan mempertemukan mereka berdua, bagaimanapun caranya" kata Vee yang sedikit kecewa.


"Iya, kamu memang benar Vee. Nanti suatu saat, pasti papa akan bercerita padanya. Tapi tidak dalam waktu dekat ini" kata Yudha.


"Tapi papa serius untuk mengundangmu dan Senopati untuk datang ke rumah papa, karena papa selalu ingin membahagiakan Lisa. Dan salah satu kebahagiaannya adalah bertemu dengan Senopati, idolanya" kata Yudha dengan wajah serius.


Vee tahu jika Yudha adalah orang tua yang baik, terlepas dari alasan apa yang membuat Yudha tak mengatakan tentang Alin kepada Lisa, tapi sejak Vee mengenal orang ini, memang dia selalu tulus untuk membahagiakan orang yang dia sayangi.


Seperti Vee contohnya.


"Baiklah, nanti akan Vee usahakan untuk datang ke rumah papa" kata Vee.


Dan pertemuan mereka berakhir saat Yudha mendapatkan telpon dari kantornya. Pria itu masih sempat mengantarkan Vee pulang ke rumah Seno sebelum bergegas ke kantornya.


Dalam perjalanan pulang, Seno berpapasan dengan mobil Yudha yang juga baru keluar dari pelataran rumahnya.


"Siapa tadi itu, Vee?" tanya Seno saat bertemu dengan Vee di dalam kamarnya.


Vee tengah melepas lelah sambil berbaring di ranjang sebelum membersihkan dirinya di kamar mandi saat Seno datang.


"Sudah pulang, kak? Aku kira kuliahnya sampai sore" kata Vee.


"Hanya ada satu mata kuliah. Siapa yang tadi mengantarmu pulang?" tanya Seno lagi.


"Oh, itu Papa Yudha. Papa bilang mengundang kita untuk datang ke rumahnya kalau ada waktu senggang, kak" Vee menyampaikan pesan Yudha.


"Kamu menyetujuinya?" tanya Seno.


"Kenapa tidak? Lagian aku penasaran ingin bertemu dengan adik kembarku yang dibawanya, Lisa namanya, kembarannya Alin" kata Vee.


Seno sedikit mengerutkan keningnya, "Alin itu kembar?" tanyanya.


"Iya, dulu waktu kecil kembarannya terpaksa dibawa oleh Papa Yudha karena masalah kesehatan. Sampai sekarang malah papa merahasiakan semua ini dari Lisa. Aku jadi penasaran apa alasan papa melakukan itu semua" kata Vee.


"Kita penuhi saja undangannya, nanti kita tanyakan alasannya" kata Seno yang tentu disetujui oleh Vee.


"Makasih ya kak" kata Vee dengan senyuman.


"Semua untukmu, istriku" jawab Seno serius, tapi Vee malah mengiranya hanya candaan semata.


Vee tergelak dan pergi ke kamar mandi. Malas saja rasanya berduaan dengan Seno dalam mode begini. Bisa-bisa dia lupa dengan tujuannya untuk tetap hidup bebas kalau jatuh dalam pesona Hideo yang baru.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2