
"Kamu terlihat cantik, mau kemana?" melihat Vee yang tidak memakai baju rumahan membuat Hideo penasaran rupanya.
"Memangnya biasanya aku nggak kelihatan cantik?" bukannya menjawab, Vee malah mencetuskan peperangan.
"Biasanya biasa saja. Sekarang kamu mau kemana?" Hideo mengulangi pertanyaannya.
"Mau ketemu pak dhe Andik di terminal, soalnya dulu aku pernah janji mau memberikan kamera lamaku ke anaknya. Mumpung ada kesempatan bertemu hari ini sekalian mau belanja buat kebutuhan dapur" jawab Vee sedikit kesal, pria ini sangat tidak peka.
"Boleh saya ikut bersamamu, Vee?" tanya Hideo, karena biasanya memang dia ikut kemanapun Vee pergi.
Mendengar permintaan Hideo, membuat Vee sedikit berfikir.
"Kenapa diam? Saya akan sangat bosan jika terus berada di rumah ini tanpa teman. Dan pasti kamu akan sangat lama" keluh Hideo seperti anak kecil.
"Kondisi tubuh kamu sudah benar-benar pulih, kak? Aku takut kamu masih tidak kuat untuk pergi keluar. Kan selama ini kamu cuma arwah gentayangan, dan sekarang sudah punya tubuh. Pasti rasanya nanti akan berbeda" kata Vee.
"Aku sudah sangat sehat. Mantra penyembuhan yang Sri berikan sangat manjur" Hideo masih berharap juka Vee mau mengajaknya.
"Ish, kakak ini sudah sangat mengidolakan wanita jahat itu rupanya" ejek Vee sambil memakai sepatunya.
"Sudah seharusnya dia berbuat begitu, Vee. Karena semua yang saya alami adalah ulahnya. Dan saya sangat bersyukur saat dia sudah musnah. Karena semua perbuatannya pada saya selalu dilakukan tanpa persetujuan saya" kata Hideo.
"Dia berbuat begitu karena terlalu mencintaimu kak. Kadang cinta membuat seseorang berubah menjadi jahat" kata Vee sok bijak.
"Anak kecil seperti kamu tahu apa masalah cinta?" ejek Hideo.
Vee tergelak saat sadar dengan ucapannya. Karena memang selama ini, jangankan untuk bercinta, merasa tertarik pada cowok lainpun Vee tidak pernah.
Karena ada Varo dan juga Kenzo yang akan mematahkan keinginannya untuk merasakan apa itu pacaran.
"Kenapa tertawa?" tanya Hideo.
"Kamu benar kak, memang selama ini aku nggak pernah mengurusi hal yang begituan. Semua ini gara-gara kak Varo dan sahabatnya si Kenzo yang selalu saja membuat cowok yang mau dekat sama aku jadi takut" kata Vee yang sudah siap.
"Jadi, apa kamu benar-benar tidak mau mengajak saya Vee?" tanya Hideo untuk memastikan.
"Nanti malam saja aku ajak kakak pergi ke taman, ya? Soalnya kalau sampai pak dhe Andik lihat aku lagi jalan sama cowok, pasti orang tua itu akan lapor sama bunda, terus bunda bilang ke kak Varo, dan akhirnya mereka semua ikut campur urusanku. Endingnya, pasti kakak yang akan terkena imbasnya" alasan Vee cukup masuk akal, Hideo merasa jika semua itu benar.
"Benar juga. Yasudah, sekarang kamu pergi sendiri saja. Nanti kamu akan pulang sebelum makan malam, kan?" tanya Hideo, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Iya, aku usahakan segera pulang. Kakak istirahat saja dirumah, biar kondisi ku bisa lebih baik. Aku pergi dulu ya kak" pamit Vee.
"Iya, kamu hati-hati ya" kata Hideo melepas kepergian Vee.
Melihat Vee yang sudah keluar dari halaman menggunakan motor maticnya, ada rasa aneh dalam hati Hideo.
"Perasaan apa ini?" gumam Hideo sambil memegangi dadanya.
Ada perasaan khawatir saat melepas kepergian gadis itu. Ada perasaan tidak ingin jauh darinya, dan perasaan yang sangat ingin melihat lagi wajah Vee meski baru saja gadis itu pergi.
"Kembali menjadi manusia sepertinya bukanlah pilihan yang baik. Saya sangat tidak mengerti dengan rasa di dalam dada ini. Bahkan dulu, sebelum saya terkurung di dalam botol sialan itupun tidak pernah saya merasakan perasaan yang seperti ini" keluh Hideo yang masih saja terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Apa mungkin ini adalah perasaan milik pria ini? Apa mungkin tubuhnya masih merespon perasaan pria ini meski jiwanya sudah berganti dengan jiwa saya?" gumam Hideo sambil menutup pintu rumah dan kembali menuju ke ruang tengah untuk mencari buku bacaan lain.
Hideo mulai suka dengan segala pengetahuan tentang dunia barunya. Sejak menjadi arwah, dia sudah seringkali membaca buku milik Vee. Bahkan selalu ikut saat Vee sekolah.
"Pola pikir, hengmh sepertinya buku ini bagus. Kenapa masih tersegel, mungkin Vee belum pernah membacanya" tangan Hideo meraih sebuah buku di rak, dan sudah bersiap membacanya.
★★★★★
Suara adzan Maghrib sudah berkumandang, bersamaan dengan suara terbukanya pintu gerbang di rumah Vee.
Hideo yang baru saja menyelesaikan bukunya kini beranjak, ingin menyambut kedatangan Vee yang sangat membuatnya senang.
"Assalamualaikum kak, aku pulang" seru Vee dengan hebohnya.
Sudah ada beberapa kantong kresek di motornya.
"Waalaikumsalam, kamu bawa apa?" tanya Hideo sambil membantu Vee memasukkan barang-barangnya.
"Tadi sekalian belanja kebutuhan dapur, kak. Takut kalau sampai kehabisan" kata Vee tanpa beban.
Hideo terdiam, dia jadi merasa tak berguna.
"Kenapa kak?" tanya Vee yang melihat pria itu mematung.
"Sepertinya memang saya harus mencari tempat tinggal, Vee. Saya tidak mau menjadi beban untukmu" kata Hideo.
"Apaan sih kak? Sudah nggak usah terlalu dipikirkan, nanti kita cari solusinya sama-sama ya. Sekarang yang penting kamu sehat dulu, biar bisa menghadapi kejamnya dunia, hehe" jawab Vee santai, gadis itu memang tak pernah menganggap berat semua masalahnya.
"Ehm, bagaimana kalau habis solat maghrib kita jalan-jalan?" tanya Vee yang masih melihat suramnya wajah Hideo.
Vee tersenyum dan mengangguk, "kasihan juga ada di posisinya. Pasti dia merasa menjadi beban" kata Vee dalam hati.
Merekapun pergi ke kamar masing-masing setelah selesai merapikan belanjaan Vee di dapur.
Setelah selesai dengan kewajibannya, Hideo lebih memilih menunggu Vee turun dari kamarnya dengan membaca buku di ruang tengah. Entahlah, membaca sudah menjadi candu untuknya.
Dunia moderen yang sangat berbeda dengan zamannya membuat pria itu haus akan pengetahuan.
"Sudah siap daritadi kak?" tanya Vee sambil menuruni tangga.
Hideo mendongak dan mengangguk, sedikit tersenyum sebelum berkata-kata.
"Kita akan jalan kaki?" tanya Hideo.
"Naik motor dong, capek kalau jalan kaki. Nih kak pakai jaketnya kak Varo saja dulu. Angin malam nggak bagus buat kesehatan" kata Vee sambil menyodorkan sebuah jaket jeans pada Hideo
Tanpa banyak kata, pria itu segera memakainya dan Vee segera mengajaknya pergi.
"Sepertinya saya harus belajar naik motor, Vee. Tidak nyaman rasanya kalau terus dibonceng begini" kata Hideo saat keduanya sudah berada diatas motor.
"Iya, boleh. Nanti di taman kakak belajar ya. Tapi kakak bisa kan naik sepeda biasa? Apa di zaman dulu sudah ada sepeda?" tanya Vee.
__ADS_1
"Saya bisa kok. Dulu ayah saya punya sepeda ontel, dan itu adalah kendaraan terbaik waktu itu. Sayapun selalu menggunakan sepeda itu untuk pergi" jawab Hideo.
"Kalau begitu kita ke lapangan saja buat belajar naik motor ya, kak" ucap Vee sambil membelokkan motornya ke arah lapangan.
Tempat luas yang aman jika Hideo ingin belajar sepeda motor.
"Sudah sampai. Sekarang kakak boleh mulai belajar naik motor" kata Vee sambil menuruni motornya dan menyerahkan kunci sepeda motornya pada Hideo.
"Terimakasih, Vee" ucap Hideo tulus, Vee memang sangat baik, semua orang mengakui itu.
Setelah menerima kunci motornya, dengan sangat hati-hati Hideo mencoba membawa motor itu sambil berusaha menyeimbangkan diri.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk menaiki motor itu, karena sebelumnya Senopati pun sudah bisa membawa motor dengan tubuhnya.
Jadi, pengalaman di alam bawah sadar di dalam tubuh Senopati membuat Hideo semakin mudah.
"Saya sudah bisa, Vee" teriak Hideo saat melewati Vee, diapun melambaikan tangannya karena terlalu senang.
Tapi karena fokusnya terpecah, Hideo tidak melihat adanya batu di atas tanah dan membuatnya tidak seimbang.
"Aahh" pria itu sedikit berteriak sebelum terjatuh ke dalam selokan tanpa air yang menjadi batas antara lapangan dengan jalan raya.
"Kakak" teriak Vee, diapun berlari ke arah Hideo yang sudah masuk ke dalam selokan dengan motornya juga.
"Ah, sakit sekali" gumam Hideo.
"Kenapa bisa jatuh sih" kata Vee sambil menolong pria itu.
Sudah ada beberapa orang yang datang untuk menolong Hideo.
Dua pria terlihat mencoba menaikkan motor Vee dari dalam selokan, sedangkan seorang lainnya membantu Vee untuk menaikkan Hideo.
"Apanya yang sakit?" tanya Vee setelah berhasil mendudukkan Hideo diatas tanah.
Saat melihat pergelangan tangannya, ada darah yang mengalir.
"Bawa ke rumah sakit saja, neng. Dekat kok. Bagaimana kalau bapak anterin?" kata pria yang menolong mereka.
"Tapi motor saya pak?" tanya Vee.
"Kayaknya perlu dibawa ke bengkel ini neng. Biar bapak bantuin ya. Di dekat sini ada kok bengkel motor" kata pria yang lain.
"Neng nggak usah khawatir, saya jualan jagung rebus di pinggir lapangan ini setiap hari. Pasti motor neng nggak akan bapak bawa lari, kok" kata pria itu yabg melihat keraguan di wajah Vee.
"Sudah nggak usah banyak pikir, segera bawa saja masnya ke rumah sakit neng. Darahnya semakin banyak yang keluar itu" kata pria yang pertama.
"Iya deh pak. Makasih ya pak sudah bantuin kita" ucap Vee sebelum membawa Hideo ke rumah sakit.
Dan ya, akhirnya malam ini Hideo harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kesialan saat belajar naik motor.
.
__ADS_1
.
.