
Tuk... Tuk... Tuk...
Tidur Vee terganggu oleh suara ketukan di jendela kamarnya.
Malam ini Vee masih bertahan di rumah bundanya karena masih takut saat berhadapan dengan Hideo.
"Apaan sih?" gumam Vee dalam tidurnya.
Suara ketukan di jendela kamarnya semakin ramai dengan suara seperti cakaran kuku di kusennya.
"Haduh... Berisik" kata Vee yang terduduk, merasa sangat terganggu dengan suara bising di jendela kamarnya.
Vee membuka matanya, menilik pada jendela kamar yang berada di samping ranjang.
Perasaannya mulai tak karuan. Apalagi saat melihat jam dinding, masih menunjukkan pukul satu malam.
Kembali bulu kuduknya meremang, rasa takutnya mulai menjalar ke alam sadarnya.
"Hideo ya?" teriak Vee.
Tapi cukup lama menunggu masih belum ada juga sahutan darinya.
Suara ketukan masih terdengar, malah terdengar semakin meriah.
"Vee, ayo keluar. Vee ayo keluar" malah bertambah dengan suara ajakan dari sesuatu yang Vee juga tak tahu apa itu.
Memberanikan diri, Vee mulai penasaran dengan apa yang ada dibalik jendela.
Dengan gerakan lambat, Vee menarik selambu dan mengintip keluar jendela.
"Baaa" sesosok makhluk kecil mengagetkannya dari luar jendela.
Beruntung Vee jatuh ke bantalnya sendiri.
"Astaghfirullah, kagetnya" kata Vee sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.
Terdengar suara tawa dari luar jendela.
Sepertinya itu adalah ulah dari ketiga bocil yang sempat ditemuinya di halaman rumah tadi sore.
"Vee, bangun. Vee keluar. Vee ayo main" suara mereka terdengar silih berganti bersahutan mengajak Vee untuk keluar kamarnya.
Vee memberanikan diri untuk kembali menilik keadaan diluar kamarnya. Dan benar saja, ketiga bocil itu tertawa mengerikan setelah melihat wajah Vee menyembul dari balik tirai.
"Ayo keluar, Vee" gerakan bibir dari Ho, terlihat aneh karena bentuk bibirnya yang vertikal, tapi bisa mengeluarkan suara dengan jelas.
Meski suara yang dihasilkan terdengar ada gema diakhir kalimatnya.
"Kalian ngapain?" tanya Vee.
"Kita mau main, ayo keluar Vee" ajak Ro.
Bagaikan terhipnotis, Vee merasa tertarik untuk bergabung dengan mereka bertiga.
Dengan langkah riang, Vee menuruni ranjang dan ingin menjumpai ketiga bocil yang sedang menunggunya di luar rumah.
Saat melewati ruang tamu, Vee tak bisa melihat keberadaan Hideo yang terbang melemah.
Hatinya terlalu riang karena merasa mendapat teman baru.
Hideo merasakan keanehan yang Vee lakukan, dengan energi yang mulai melemah, Hideo membuntuti Vee yang keluar rumah malam ini.
"Yee, Vee datang. Kita main petak umpet ya, Vee" ajak Ho.
Vee mengangguk senang, sudah tak nampak lagi wajah ketakutan seperti saat pertama kali mereka berjumpa.
Mereka berempat mulai melakukan hom pim pa, dan Ci yang kalah. Dia yang berhitung dan menjaga.
"Aku hitung sampai sepuluh, kalian sembunyi" kata Ci dengan penuh semangat.
"1, 2, 3...." Ci mulai menghitung, sementara Ho, Ro dan Vee mencari tempat sembunyi.
Masih belum merasakan kejanggalan, Hideo hanya mengintip dari balik jendela di ruang tamu. Dan keberadaannya tak terlihat oleh ketiga bocil hantu yang sedang mengajak Vee bermain.
__ADS_1
Vee terlihat kegirangan bermain dengan mereka. Meski suara gaduh tercipta dari tawa Ho, Ro, Ci dan Vee, namun tak nampak seorang pun dari penghuni rumah dan tetangga sekitar yang terganggu.
Terbukti tak ada seorangpun yang keluar rumah untuk memperingatkan mereka.
Dan kini sudah hampir jam dua pagi, itu artinya Vee telah bermain dengan mereka hampir satu jam lamanya.
"Aku lapar" kata Ho sambil memegangi perutnya.
"Aku juga" Ro juga mengikuti Ho.
"Kita makan dirumah?" ajak Ci dengan semangat.
"Vee ikut kita pulang ya? Nanti ketemu sama ibu" kata Ho membujuk Vee.
Vee sedikit ragu, kali ini dia diam saja sebelum mau menjawab. Vee menoleh ke arah rumahnya, tapi dicegah oleh ketiga bocil.
"Kamu harus ikut kita, Vee. Kamu harus terus bermain dengan kami. Kita sudah ditakdirkan untuk selalu bermain bersama" kata Ho lagi, sepertinya dia adalah juru bicara dari bocil setan ini.
Vee masih berdiri terpaku ditempatnya, sepertinya dia sedikit tersadar saat Ho tiba-tiba menarik tangannya untuk mengikutinya pergi.
"Jangan sentuh aku" teriak Vee yang terkejut saat tangan dingin Ho menggenggam tangannya.
Ho, Ro, dan Ci berdiri terdiam di tempatnya. Bola matanya yang hanya ada satu terlihat semakin membesar saat mereka melotot.
Bahkan lama-kelamaan, warna bola mata mereka berubah menjadi kemerahan. Yang awalnya berwarna normal seperti manusia pada umumnya, meski hanya ada satu.
Vee mulai merasakan takut kali ini. Dia sudah gemetaran saat melihat ketiga teman bocilnya itu berubah seram.
Karena bukan hanya matanya yang memerah, tapi sudah nampak taring dari giginya yang tersusun melintang.
"Kamu harus ikut kami, Vee" kata Ho yang sudah menarik lengan Vee.
Dan begitu juga Ro dan Ci, mereka mulai menarik paksa kedua tangan Vee.
"Aahhh.... Toloongg.... Bunda, kak Varo, tolongin Vee" teriak Vee yang mempertahankan diri untuk tidak tertarik oleh ketiga bocil hantu itu.
Keadaan mulai genting, Hideo keluar dari persembunyiannya. Wajah putih pucatnya juga memerah, kedua bola mata Hideo juga terlihat berubah yang awalnya berwarna coklat terang, kini menjadi warna hitam pekat. Tak ada putihnya sama sekali.
Hideo terbang melayang mendekati ketiga bocil yang sedang menarik Vee.
"Nggak mau, week, nggak mau" ejek mereka bertiga.
Diperlakukan tidak sopan oleh setan kecil seperti mereka, tentu membuat Hideo naik pitam.
Asap itu mengangkat tangannya sebatas dada. Kemudian menjentikkan jarinya, dan ajaib.
Ketiga bocil setan itu terpental jauh, kira-kira sampai tiga meter ke belakang.
"Aaahhh .." Ho nampak geram, dia kembali berdiri dan siap menyerang Hideo.
Mereka bertiga berlari ke arah Hideo, dan ingin menjatuhkannya.
Dan lagi, Hideo menjentikkan jarinya. Ho, Ro dan Ci berjalan mundur. Ketiganya mendekat, seolah mereka adalah magnet yang tarik menarik satu sama lainnya.
Mereka berdiri saling memunggungi, dan Hideo menggerakkan jarinya seolah sedang membuat simpul dari tali.
Dan yang terjadi adalah, tubuh ketiga bocil hantu itu seperti terikat. Mereka tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Aahh, pangeran sialan. Pangeran nakal" teriak ketiganya mengatai Hideo.
"Diam" teriak Hideo yang membungkam mulut mereka.
Hideo marah, dan kemarahannya sangat mengerikan. Pria berupa asap itu berubah merah, bahkan rambutnya juga.
Vee pun bertambah takut saja, dia masih berdiri terpaku di tempatnya. Kini bertambah dengan lututnya yang gemetaran.
Vee menangis, dia terlalu takut sampai tak berani membuka matanya.
Hideo membungkam mulut ketiga bocil itu dengan mantra yang diketahuinya. Lantas menghampiri Vee yang masih mematung.
Gerakan jari telunjuknya seperti menjitak pelan kening Vee. Dan membuat Vee terkejut sambil membelalak.
"Hah? Kamu ngapain om?" tanya Vee seperti orang baru bangun tidur.
__ADS_1
"Saya tidak melakukan apapun" jawab Hideo yang sudah merubah dirinya menjadi normal kembali.
Hanya bisa tolah-toleh, Vee memandangi sekitarnya dengan bingung. Dan pandangan matanya tertuju pada ketiga bocil yang berdiri seolah sedang diikat.
"Kalian ngapain?" tanya Vee tanpa rasa takut.
"Mereka sedang dihukum" jawab Hideo.
"Kenapa dihukum?" tanya Vee.
"Besok saja saya ceritakan sama kamu, sekarang sebaiknya kamu segera masuk karena sudah mau pagi" kata Hideo.
Vee mengangguk, menuruti perkataan Hideo untuk memasuki rumahnya, dan memasuki kamarnya.
"Aku nggak ngantuk, om" kata Vee lirih dan melihat jam dindingnya masih menunjukkan jam tiga pagi.
"Ambil wudhu saja deh, mau solat tahajjud. Lagian aku ini kenapa sih? Kenapa kotor begini?" tanya Vee heran pada dirinya sendiri.
Tapi tetap saja dia mengarahkan kakinya ke kamar mandi yang ada di belakang, di dekat dapur.
Hideo masih menunggu Vee di dalam kamarnya, masih melayang di dekat ranjang Vee.
Tak lama, Vee sudah kembali dengan buliran air wudhu yang masih membasahi ujung-ujung rambutnya.
Pakaiannya pun sudah berganti, bukan lagi pakaian kotor yang tadi dipakainya untuk bermain petak umpet dengan bocil setan yang masih terikat di halaman.
Di mata Hideo, buliran air bening itu terlihat berkilauan seperti kristal. Dan Vee terlihat sangat cantik.
Vee menggelar sajadah di dekat ranjang, dan memakai mukena berwarna kuning kesukaannya.
Saat melihat ke arah Hideo, ada sesuatu yang aneh dalam pandangannya. Tapi Vee tak tahu apa itu. Diapun segera menunaikan dua rakaat.
Sudah dua salam Vee lakukan, kini dia akan melantunkan doanya.
Kembali Vee menoleh pada Hideo yang melayang di dekat tembok.
"Om, kamu terlihat aneh" kata Vee.
"Aneh kenapa?" tanya Hideo lirih, sepertinya dia lemah.
"Bayanganmu semakin menipis, om. Asap di sekitarmu juga semakin sedikit. Ada apa om?" tanya Vee mulai panik.
Sebenarnya, Hideo harus menyerap energi dari makhluk yang ada disekitarnya. Dan sejak terakhir dia menyerap energi dari kuntilanak yang ditemuinya di hutan terlarang, sampai saat ini dia masih belum menyerap energi dari sesuatu apapun di sekitarnya.
"Saya butuh energi" kata Hideo melemah, tampilannya sudah seperti hologram yang kehabisan daya.
"Om, kamu semakin tak terlihat" Vee benar-benar panik sekarang.
Memang benar rasa takutnya pada Hideo belum sepenuhnya hilang. Tapi melihatnya seperti ini, tentu Vee tidak tega. Apalagi Vee belum tahu kegunaan dari benda-benda yang ada didalam kotak kayu kuno yang didapatnya dari Sri.
"Om, bagaimana ini. Apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa normal lagi?" tanya Vee.
"Saya butuh energi, Vee" kata Hideo.
Vee sekarang mulai takut, "Apa energi yang dia maksud itu dengan cara menyerap seperti yang dia lakukan pada kuntilanak itu?" tanya Vee dalam hatinya.
"Berapa banyak yang kamu butuhkan, om?" tanya Vee ragu.
"Cukup banyak agar aku bisa kembali normal. Karena aku telah banyak menghabiskan energiku untuk menyerang makhluk kecil di depan rumahmu itu" kata Hideo.
Kini tampilan Hideo bahkan sudah tersendat-sendat, pasti sebentar lagi dia akan benar-benar hilang.
"Ambillah energi dariku, om. Tapi jangan banyak-banyak, ya. Karena aku masih harus terlihat oleh bunda dan kakakku besok pagi" kata Vee.
Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa membantu Hideo agar bisa pulih lagi. Dan jika satu-satunya jalan adalah dengan memberinya energi dari dalam tubuhnya, Vee akan melakukan itu asalkan tidak sampai menghilangkan nyawanya.
"Benarkah kamu mau berkorban sejauh itu untukku, Veronica?" tanya Hideo, sekali lagi dia sedang mencari keyakinan dari dalam diri Vee.
.
.
.
__ADS_1
.