
"Kalau ini, jawabannya apa kak?" tanya Vee.
Dia sedang belajar soal-soal ujian Nasional yang sudah disediakan oleh sekolahnya, dirumahnya malam ini, Vee terlihat sibuk dengan banyak kertas berserakan diatas meja belajarnya.
"Itu sangat mudah, Vee. Jawabnya tentu yang A " jawab Hideo yang tak pernah berjauhan dengan Vee selama dua bulan ini.
"Haduh, aku capek banget kalau disuruh belajar terus seperti ini" sambil berdiri, Vee sudah melangkahkan kakinya untuk keluar rumah.
Kepalanya terlalu padat dengan setumpuk kertas soal untuk belajar menghadapi ujian nasional.
"Kamu mau kemana Vee? Soalnya belum selesai kamu jawab" teriak Hideo yang melihat Vee sudah melangkah menjauhinya.
"Aku capek, kak. Malas sekali setiap hari belajar dan belajar. Haduh, aku jadi kangen pak dhe Andik" kata Vee sambil menuruni tangga, langkahnya menuju ke luar rupanya.
"Jangan tahunya main terus kamu ini, kalau nggak lulus kan kamu sendiri yang repot" kata Hideo berceramah.
"kamu sudah seperti kakek-kakek ratusan tahun saja kalau kerjaannya ngomel terus, kak" kata Vee yang tak mengindahkan ucapan Hideo.
Tetap saja Vee melangkah, dan segera menyapa ketiga bocilnya yang nampak sedang nongkrong dengan dua gendruwo besar yang menunggu pohon sawo di depan rumah tetangganya.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Vee yang ikut duduk di dekat gerbang bersama HoRoCi, tentunya Hideo akan selalu bersama dengan Vee kemanapun dia pergi, selain ke dalam toilet tentunya.
"Lagi ngobrol sama pak Gendruwo" kata Ho.
"Bapak sudah lama di komplek ini?" tanya Vee.
"Sudah sejak lama sekali, bahkan sebelum perumahan disini dibangun. Disini hanyalah hutan belantara yang berada di lereng bukit" kata gendruwo itu dengan suara serak yang menggelegar.
"Setelah perumahan ini dibangun, banyak dari golongan kami yang pindah ke tempat yang lebih tinggi disana" tunjuk Gendruwo itu ke atas bukit yang masih menjadi hutan lindung.
"Oh gitu, terus tinggal bapak berdua saja disini?" tanya Vee.
"Tidak juga, di belakang sana ada keluarga kami. Istri dan anak-anak kami" kata gendruwo itu, menunjuk ujung jalan sepi dan gelap yang tak pernah Vee kunjungi selama ini.
"Banyak yang menetap disana pak?" tanya Vee.
"Tidak, hanya keluarga kami berdua saja. Sisanya sudah diatas sana. Tugas kami adalah menjaga pintu gerbang pertama menuju kampung kami diatas sana" kata Gendruwo itu.
"Terus, bapak tinggalnya memang di pohon sawo itu ya? Biasanya bapak ngapain saja?" tanya Vee yang jiwanya terlalu kepo.
Mentang-mentang sudah tidak takut pada kedua Gendruwo itu, malah diintrogasi olehnya.
__ADS_1
"Kau tahu, Vee. Wanita di rumah itu sangat kesepian setiap ditinggalkan oleh suaminya keluar kota" kata Gendruwo itu menunjuk salah satu rumah mewah yang menjadi tetangga Vee.
Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah Vee. Rumah tiga lantai dengan dominan warna krem. Lampu-lampunya terlihat terang saat malam seperti ini.
"Yang tinggal disana cuma satu orang ya, pak?" tanya Vee.
"Tidak juga, karena ada beberapa pembantunya disana. Tapi wanita itu selalu sendirian saat suaminya berkunjung ke rumah istri pertamanya" kata gendruwo itu.
"Darimana bapak tahu?" tanya Vee penuh selidik.
"Hehehe, wanita itu pacarku Vee" kata gendruwo itu dengan senyum genitnya.
Vee bergidik mendengarnya, bagaimana caranya gendruwo itu berpacaran dengan manusia?
"Kok bisa?" tanya Vee penasaran, sedangkan HoRoCi dan Hideo hanya bertampang masam.
Gendruwo itu merubah wujudnya, menjadi seorang pria tampan dengan baju formal yang membuatnya semakin terlihat menawan.
Pria berusia sekitaran Empat puluh tahunan dengan wajah kebarat-baratan yang bermata biru cantik. Vee sampai menganga dibuatnya.
Hideo segera mengatupkan mulut Vee dengan kekuatan jarinya.
Pluk, mulut Vee tertutup sempurna. Tapi tentu dia merasa kaget.
"Mulutmu menjengkelkan saat melihat pria tampan" sindir Hideo.
"Hahaha, bagaimana kamu bisa jadi setampan ini pak?" tanya Vee dengan takjub.
Gendruwo itu hanya menaikturunkan alisnya dengan berpose seperti model majalah dewasa.
"Hei Robert, Ngapain kamu disana?" teriak seorang wanita yang merupakan tetangga Vee, yang Gendruwo itu maksud tadi.
Vee gelagapan dibuatnya, meski berada dibalik gerbang yang tertutup, tapi Vee bisa melihat jelas ke arah wanita itu yang mengiranya sedang bercengkrama dengan Robert si gendruwo.
Pandangan membunuh diberikan oleh si wanita yang segera menarik paksa pak gendruwo ke dalam rumah mewahnya.
Pak gendruwo masih sempat-sempatnya melambaikan tangan pada Vee dari balik tubuh si wanita cantik yang menyeretnya.
Vee hanya tersenyum garing, tak menyangka jika gendruwo bisa melakukan itu pada manusia.
"Mereka lagi ngapain sih?" tanya Vee setelah beberapa lama memandangi sebuah kamar yang terlihat remang.
__ADS_1
Kamar yang berada di lantai dua itu bisa terlihat jelas dari tempat Vee duduk di halaman rumahnya.
"Sudah, biarkan saja apa yang mereka lakukan. Itu bukan urusan anak kecil sepertimu" kata Hideo yang meniup mata Vee agar melepas pandangannya dari kamar itu.
"Kalau kamu pak, biasanya ngapain saja?" tanya Vee pada gendruwo yang satunya.
"Tidak ada, aku belum seberani Kliwon. Karena aku belum terlalu dewasa untuk melakukan hal seperti dia" kata gendruwo itu.
Vee mengamati wajahnya, dia bahkan tidak jauh berbeda dengan gendruwo yang tadi. Tubuh tinggi besar dengan banyak bulu di hampir semua anggota badannya.
Bulu berwarna hitam dengan kolor yang hanya sebatas pinggang hingga lutut.
Rambut panjang terurai tak beraturan, hampir gimbal karena tak pernah disisir.
"Bedanya dimana pak? Aku tak bisa membedakan kalian berdua" keluh Vee setelah mengamatinya.
"Hanya di usia saja" kata gendruwo itu.
Vee hanya bisa manggut-manggut, masih tak mengerti cara membedakan mereka.
"Ah, sudahlah. Aku masuk lagi deh. Lama-lama disini jadi terasa dingin" kata Vee.
Setelah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, Hideo tentu ikut lagi dengannya. Mereka berdua sudah seperti obyek dan bayangannya.
Mungkin jika dilihat dari mata orang indigo, Hideo ini akan dikira khodamnya Vee.
Ternyata Vee menuju ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang empuk dan menyelimuti sekujur tubuhnya hingga sebatas leher. Dia merasa kedinginan.
"Kak, kalau ujian nanti, kamu ajari aku ya seumpama ada soal yang tidak aku mengerti"kata Vee yang sudah diambang sadarnya, masih sempat mengajak Hideo yang sedang duduk diatas meja belajarnya.
"Kerjakan sendiri dong, Vee. Masak kamu nyontek" gerutu Hideo.
"Kamu kan pintar, kak. Dan aku nggak seberuntung kamu yang punya otak brilian. Please ya, kak. Kalau aku nggak lulus, aku nggak akan mau nyariin tubuh pengganti buat kamu" ancam Vee.
Sepertinya dia sedang menginginkan sebuah hubungan simbiosis mutualisme dengan asap bernyawa yang bernama Hideo.
.
.
.
__ADS_1
.