Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Semakin kacau


__ADS_3

"Assalamualaikum, bunda" Vee sedikit berteriak setelah mengetuk dan membuka pintu rumah bundanya.


"Waalaikumsalam, akhirnya kamu mau mengunjungi bundamu juga Vee" tuh kan, baru datang dan belum sempat melihat wajah Vee saja bundanya sudah mulai mengomel.


"Loh kok banyak orang, kenapa kamu nggak bilang kalau ada tamu sih Vee" kesal bundanya saat melihat Vee datang bersama rombongan.


"Bunda keburu ngomel sih" balas Vee sambil mencium punggung tangan bundanya.


"Loh, ini bukannya kak Senopati ya?" tanya Alin, adik bungsu Vee.


"Uwah, kakak bawa artis pulang bun" katanya lagi dengan bangga.


"Ayo, mari silahkan masuk. Maaf rumahnya berantakan" kata Bunda Vani mempersilahkan para tamunya untuk masuk.


Mommy Seno duduk setelah menyalami bunda Vani, diikuti papi Seno yang duduk di sebelah istrinya.


Vee duduk di dekat bunda dan adiknya, sedangkan Hideo duduk sendiri di kursi tunggal.


"Maaf, ayahnya Vee belum pulang. Tapi sebentar lagi pasti datang. Bapak dan ibu ini siapa ya?" tanya bunda Vani.


"Oh, tidak apa-apa bu. Saya orang tuanya Senopati. Ada yang perlu kami sampaikan pada orang tua Veronica" kata papi Seno sedikit serius.


"Lin, tolong buatkan minuman ya" kata bunda Vani.


"Iya bunda" jawab Alin, gadis cantik yang berkerung panjang, tak seperti Vee.


"Tidak usah repot bu" kata mommy Seno berbasa-basi.


"Nggak repot bu, cuma minuman" jawab bunda Vani.


Belum juga sampai membahas topik yang dimaksud, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Rupanya ayah Jovan sudah datang.


"Assalamualaikum, ada tamu ya?" sapa ayah Jovan saat melihat banyak mobil di depan rumahnya.


"Waalaikumsalam, iya yah" jawab Vee sambil mencium punggung tangan ayahnya, begitupun bundanya.


"Ayo bergabung disini pak, ada yang perlu kita bicarakan" kata papi Seno sambil mengulurkan tangannya untuk membalas sapaan ayah Jovan.


Vee bergeser, mengambil beberapa kursi dari dalam untuk duduk.


Terlihat Alin sudah datang dengan senampan cemilan dan minuman untuk para tamunya.


"Silahkan" kata Alin sopan.


"Terimakasih" jawab mommy Seno tersenyum, kagum pada Alin yang cantik dan sopan.


"Jadi, ada perlu apa pak?" tanya ayah Jovan setelah berbasa-basi sebentar.


"Begini pak, mungkin bapak dan ibu sudah tahu berita tentang hilangnya Senopati, anak kami ini setelah mengadakan konser di kota ini?" tanya papi Seno mengawali maksudnya.


"Iya, kami tahu. Apalagi anak bungsu kami yang sangat mengidolakannya. Dan kenapa sekarang artisnya ada disini pak?" kata ayah Jovan, membuat Alin menunduk malu.


"Setelah mendengar kejadian itu, kami selaku orang tuanya langsung terbang ke sini untuk mencari tahu sendiri keberadaan anak kami pak" lanjut papi Seno.


"Dan menurut kabar yang ada, anak kami disembunyikan oleh seorang gadis. Kami mencari alamatnya dan ternyata memang benar kami menemukan Seno sedang berada di rumah anak bapak dan ibu" kata papi Seno.

__ADS_1


"Senopati ada dirumah Vee? Bagaimana bisa Vee?" tanya ayah Jovan sedikit terkejut.


"Berapa lama dia dirumah anak saya?" tanya bunda Vani.


"Sepertinya dua hari, bu" jawab mommy Seno.


"Hah? Jadi kamu selama dua hari ini tinggal serumah dengan seorang pria, Vee?" tanya bunda Vani kesal, sampai-sampai tangannya terulur untuk menjewer telinga Vee dengan kerasnya.


"Aduuh, sakit bunda. Kenapa dijewer sih? Bunda dengerin dulu dong ceritanya, jangan main tangan begini. Sakit bunda" keluh Vee yang masih saja dijewer oleh bundanya.


"Tolong jangan sakiti Vee, bu. Dengarkan dulu ceritanya" pinta Seno sambil berusaha melepas jepitan tangan bunda di telinga Vee.


"Sabar Bun, tolong dengar dulu penjelasan mereka" pinta ayah Jovan.


Meski dengan menggerutu, bunda mau melepaskan jewerannya di telinga Vee. Sedangkan kedua orang tua Seno sedikit terkejut dengan reaksi yang Bunda Vani berikan.


"Aduh, sakit" keluh Vee sambil mengusap telinganya.


"Bunda dengerin dulu dong penjelasannya, sakit tahu dijewer. Bisa putus nanti telingaku" keluh Vee.


"Sabar bu, biar kami bicara dulu" kata papi Seno.


"Iya, maaf. Silahkan dilanjutkan" kata bunda Vani.


"Jadi, Veronica ini menyelamatkan anak saya dari para penjahat bu. Anak saya waktu itu akan dibuang ke dalam hutan oleh para penjahat, untungnya masih ada Vee yang menolong dan membawa Senopati ke rumahnya hingga dia bisa selamat" kata papi Seno.


"Oh ya? Jadi bunda salah ya Vee. Maafin bunda ya Vee. Tapi jamu juga tetap saja salah karena kamu tidak menceritakan semuanya sama bunda dan ayah" kata bunda Vani yang masih tidak mau dipersalahkan.


"Rencananya kami ingin membawa Seno pulang ke Jakarta secepatnya. Tapi anak ini ngotot ingin mengajak Vee untuk pulang, Bu. Bagaimana menurut pendapat bapak dan ibu?" tanya papi Seno yang selama ini selalu mewujudkan keinginan anak semata wayangnya.


Mendengar itu, ayah Jovan dan bunda Vani menghela nafas panjang. Sedikit membingungkan memang kalau berurusan dengan para remaja.


"Kalian kan baru saja kenal, nak. Bagaimana bisa kamu ingin sekali membawa anak gadis kami untuk kamu bawa?" tanya ayah Jovan.


Semuanya terdiam dan memandang ke arah Senopati, mereka ingin mendengar jawabannya.


"Saya hanya merasa ingin selalu menjaganya pak, bu. Saya sudah merasa kalau sudah kewajiban saya untuk selalu berada di dekatnya dan menjaganya" jawab Hideo yang ada di dalam tubuh Senopati.


Tapi itu adalah kejujuran yang dia sampaikan, terlepas dari arwahnya sebagai Hideo, tubuh Senopati pun terasa memiliki alasan yang sama untuk selalu bersama Vee.


Mungkin Seno memang memiliki perasaan khusus sejak pertama dia melihat Vee yang berbicara sendiri di dekat papan reklame besar saat itu. Saat dimana Seno baru tiba di kota ini.


Dan saat matanya terpejam untuk merasakan deguban jantungnya, memang bayangan pertemuannya dengan Vee di beberapa waktu kemarinlah yang terlihat di benaknya.


Terutama saat Vee bertemu dengan Senopati, bukan kebersamaan Hideo yang terpampang saat pria itu memejamkan matanya.


"Kami tidak bisa melepaskan anak kami untuk ikut bersamamu tanpa adanya ikatan pasti. Sebagai orang tua, kami tentu ingin menjaga anak kami dengan sebaik mungkin kan, pak" kata ayah Jovan yang sebenarnya ingin menolak keinginan Seno untuk membawa Vee.


"Maksudnya pak?" tanya mommy Seno.


"Kami bersedia membiarkan putri kami ikut kamu, Senopati, kalau kamu mau menikahinya. Kalau dia sudah menjadi istri kamu, memang sudah menjadi kewajibannya untuk taat padamu. Tapi kalau hanya sebatas teman, lebih baik kami sendiri yang akan menjaganya di rumah kami sendiri" kata bunda Vani yang menawarkan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi Vee.


Mendengat ucapan bundanya, Vee tentu terkejut. Bagaimana bisa bunda dengan mudahnya membiarkan Seno untuk menjadi menantunya.


"Bunda apa-apaan sih? Bunda mau Vee nikah muda gitu?" keluh Vee sedikit tidak suka, dia masih ingin kuliah meski nilainya pas-pasan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Vee. Dia itu Senopati loh, artis terkenal. Bunda aja ngefans sama dia" bisik bunda di telinga Vee, membuat gadis itu tak habis pikir dengan kelakuan absurd bundanya.


"Bunda nggak sayang ya sama aku?" keluh Vee.


"Justru bunda sayang, makanya bunda pilihkan pria yang tepat kayak Senopati ini. Dia itu sempurna, Vee. Pasti diluaran sana banyak gadis yang bermimpi untuk bisa jadi istrinya. Dan yang beruntung itu kamu" bisik bunda dengan penuh semangat saat yang lain sibuk membicarakan masalah ini.


"Saya mau kok menikahi Vee, hari ini pun saya bersedia" tantang Seno.


Vee mendengus sebal, bisa-bisanya pria itu malah menyetujui permintaan bundanya.


"Kalau seandainya saya mengizinkan anak saya dilamar olehmu, nanti apakah sudah siap kamu menafkahi anak saya? Bukan hanya nafkah lahir saja, nafkah batin tentang kebahagiaannya juga harus kamu perhatikan, nak" kata ayah Jovan, tentu sebagai seorang ayah akan sangat sulit baginya untuk melepaskan anak gadis kesayangannya untuk dipersunting seorang pria.


"Untuk nafkah lahir, saya sudah berpenghasilan, orang tua saya juga bukan orang sembarangan, pak. Sedangkan untuk nafkah batin, saya akan belajar untuk selalu membahagiakan Vee dengan sepenuh hati saya" ucap Seno mantap.


Mommy Seno sampai terpana melihat keseriusan anaknya. Baru kali ini Seno menampilkan sisi seriusnya. Karena selama ini Seno dikenal sebagai anak yang manja dan jahil.


"Ya, bapak tidak usah khawatir. Setelah kejadian ini, saya akan melarang Seno untuk meneruskan karir keartisannya. Dan saya akan menyuruh Seno untuk fokus menyelesaikan kuliahnya dan segera memimpin perusahaan kami, pak. Asal bapak tahu saja, saya adalah pemilik pabrik rokok X yang sangat terkenal itu. Dan Seno adalah satu-satunya penerus perusahaan" ucap papi Seno memamerkan usahanya.


Ayah Jovan terdiam mendengar semua itu. Bukan hanya sebatas materi yang dia takutkan, tapi kebahagiaan hati putrinya yang paling dia ingin berikan.


Karena selama ini Vee adalah gadis yang sangat sulit diatur meski bukan anak yang bandel.


Kebebasan dan keinginan tahuannya sangat tinggi, makanya dia sangat ingin hidup mandiri.


"Sudah, nggak apa-apa yah. Izinkan saja Vee menikah dengan Senopati. Ayah mikirin apa sih?" tanya Bunda Vani.


"Bukan masalah materi yang saya cari, bun. Tapi untuk melepaskan anak gadis kita dimiliki orang lain itu terasa sangat berat bagi ayah" kata ayah Jovan, sangat terlihat jika beliau sangat keberatan.


Bagaimanapun juga, Vee akan selalu menjadi gadis kecil dimata ayahnya.


"Kan bapak masih punya Alina, diapun anak gadis bapak kan?" kata mommy Seno.


"Iya yah, kan ayah masih punya Alin" kata bunda.


Ayah Jovan hanya melirik pada Alin, ada rahasia besar yang selama ini hanya bisa beliau simpan tentang kebenaran Alina. Mungkin sampai matipun rahasia itu akan tetap dijaganya. Sampai ikut terbawa ke alam kubur.


Sedangkan kediaman Vee adalah keinginannya agar ayah Jovan melarang keinginan semua orang yang ingin menikahkannya.


"Baiklah, semua keputusan ada ditangan anak saya. Semua saya serahkan pada Vee, karena dialah nantinya yang akan mengarungi bahtera rumah tangganya. Bagaimana Vee, apa kamu bersedia dilamar oleh nak Seno?" tanya ayah Jovan.


Kini pandangan semua orang tertuju pada Vee yang tengah menunduk malu.


"Assalamualaikum, uwah ada apa nih kok tumben ramai sekali? Loh, bukannya ini artis yang hilang itu ya?" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh Varo yang baru sampai ke rumahnya.


Meski begitu, tetap dia selalu mencium punggung tangan orang tuanya saat baru tiba.


Dan tak lupa Varo yang selalu datang bersama sahabat karibnya, Kenzo.


"Ada apa sih, yah?" tanya Varo.


Vee merasa sedikit senang, karena kedatangan kakaknya yang diharapkan bisa menggagalkan keinginan Hideo untuk menikahinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2