
Hal yang paling Vee takuti adalah waktu akan tidur. Dimana dia harua seranjang dengan Seno yang memang adalah suaminya.
Vee masih belum siap jika tiba-tiba Seno meminta hal yang tidak-tidak. Selain belum berpengalaman, dia kan masih belum berkeinginan untuk melakukan hal sejauh itu.
"Bisa nggak sih kak, kamu mengalah untuk tidur di sofa gitu?" Vee berusaha agar Seno punya sedikit rasa iba padanya.
"Untuk apa? Ranjang ini sangat nyaman, lagipula kaki saya akan menggantung kalau tidur di sofa" jawab Seno sambil memainkan ponsel.
"Eh, tunggu deh. Hape kakak baru ya? Bagus banget" kata Vee, biasanya kan Seno sibuk dengan buku, tapi kali ini berbeda.
"Iya dong. Kamu saja setiap waktu selalu sibuk dengan ponselmu. Saya jadi ingin punya juga" jawabnya santai.
"Oh iya, ini kak" kata Vee sambil menyerahkan secarik kertas yang telah bertuliskan perjanjian pernikahan mereka.
"Apa ini?" tanya Seno.
"Surat perjanjian pernikahan kita. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya" kata Vee.
Seno membacanya dengan sangat teliti, tidak boleh ada sedikitpun kesalahan disini. Kalau tidak, bisa lebih sulit untuk menaklukkan hari Vee ke depannya.
"Poin satu, tidak ada kontak fisik selama masih kuliah. Poin dua, boleh bergaul dengan siapapun tanpa batasan. Poin tiga, tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Poin empat, jika tidak ada rasa cinta sampai masa kuliah usai maka boleh memutuskan untuk tidak meneruskan pernikahan" Seno membaca dengan serius, dan sudah terlihat tampang malas di wajahnya.
"Bagaimana jika saya mencintai kamu, tapi kamu tidak mencintai saya setelah masa kuliahmu habis?" tanya Seno dengan serius.
"Itu urusan kakak. Makanya jangan mudah jatuh cinta sama orang" cibir Vee sambil menjulurkan lidahnya.
"Kamu bersikap lucu begitu sudah membuat saya tertarik, Vee" keluh Seno.
"Lagian apa sih hal menarik dariku, kak? Aku rasa aku ini bodoh, ceroboh, nggak cantik-cantik amat, kenapa kakak merasa jika nantinya bisa jatuh hati padaku?" tanya Vee.
"Rasa cinta itu datang dengan sendirinya, Vee. Kita tidak tahu dan tidak bisa untuk memilih pada siapa nantinya hati ini akan berlabuh. Seperti saya contohnya, selama dua puluh satu tahun hidup di zaman dahulu, tidak ada satupun wanita yang bisa sanggup memasuki hati ini meski Sri dengan susah payah mencobanya" kata Seno.
"Padahal wanita di zaman dahulu setiap hari jarang sekali memakai pakaian dengan lengkap. Tapi tidak pernah ada nafsu yang singgah di hati ini untuk mencoba salah satu dari mereka" lanjutnya mengenang masa lalu.
"Jadi, keseksian itu sudah terjadi sejak zaman dahulu ya kak?" tuh kan, fokus Vee malah ke hal lainnya.
"Cg, kamu ini. Makna yang ingin saya sampaikan bukanlah itu" kata Seno sedikit kesal.
"Berarti orang berjalan di jalanan dengan hanya memakai secarik kain jarit itu adalah hal yang wajar dong kak?" tanya Vee lagi tanpa mengindahkan keluhan Seno.
__ADS_1
"Iya, dan itu terjadi karena memang mereka tak ada uang lebih untuk membuat pakaian lengkap. Mereka hanya punya kain jarit untuk dikenakan. Tidak seperti di zaman sekarang, semua orang bisa membeli pakaian lengkap, tapi mereka lebih suka memamerkan tubuh mereka. Termasuk kamu yang tidak berhijab seperti bunda dan Lina" Seno malah mengkritik penampilan istrinya.
"Cg, kakak. Kan di surat itu sudah ada poin untuk tidak mencampuri urusan pribadi kita. Belum apa-apa sudah lupa" Vee sedikit tidak suka jika harus dibandingkan dengan adiknya.
"Oke. Maafkan saya. Tapi boleh saya menambahkan satu poin saja?" tanya Seno.
"Poin apa lagi?" tanya Vee uang masih kesal.
"Boleh melanggar salah satu poin diatas jika terjadi sesuatu yang terpaksa, atas persetujuan kedua belah pihak, atau jika ada hal yang insidental" tulis Seno di lembaran kosong sebelum membubuhkan tandatangannya.
"Hengmh... Boleh juga. Baiklah aku setuju. Sekarang kita tandatangan ya, kak" kata Vee yang sudah terlebih dahulu mencoret kertas itu untuk melakukan tandatangan.
Dan Seno menurutinya, bertandatangan di surat perjanjian konyol yang pasti akan Seno usahakan untuk selalu melanggar isinya.
"Persiapkan saja diri kamu, Vee. Nanti kamu juga pasti akan menerima saya sebagai suami kamu" batin Seno, dia hanya bisa tersenyum kecil kali ini melihat raut bahagia Vee yang terlihat sangat lega.
"Sekarang, apa kakak masih tidak mau tidur di sofa? Aku ngantuk banget kak" Vee masih saja mempermasalahkan hal itu.
"Tidak. Jika kamu mau, kamu saja yang tidur di sana" jawab Seno ringan, dia terlalu betah diatas ranjangnya.
"Huft, dasar manusia tak berhati" keluh Vee yang sudah beranjak dari tidurnya.
Seno hanya menahan senyumnya tanpa berniat untuk melarang Vee.
Tak butuh waktu lama, Vee sudah tertidur dengan lelapnya diatas sofa empuk itu. Sedangkan Seno masih sibuk dengan gadgetnya.
Ada beberapa pekerjaan keartisan yang sudah dia cancel selama itu masih bisa, sedangkan beberapa harus dia selesaikan terlebih dahulu karena memang sudah sangat mendesak. Seperti pemotretan dan pembuatan video singkat untuk iklan produk tertentu.
"Apakah dia sudah tidur? Kenapa sudah tidak ada suara bising?" gumam Seno setelah selesai dengan pekerjaannya. Pria itu melihat ke arah Vee yang meringkuk.
"Kasihan sekali kamu, Vee. Coba saja kamu bisa menerima pernikahan kita dan hidup senang dengan saya. Pasti kamu akan bahagia" gumam Seno yang masih betah menatap wajah sendu istrinya.
Tanpa banyak kata, Seno menjentikkan jarinya untuk mentransfer kekuatannya dan mengarahkan pada Vee yang terbaring nyaman.
Dengan gerakan lambat, Seno mengangkat Vee tanpa menyentuhnya agar gadis itu berbaring di sisinya saja.
Sampai dengan selamat, Vee beserta selimutnya sudah ada di samping Seno kali ini.
"Ini insidental, Vee. Saya sangat ingin tidur memelukmu" seringai jahat Seno terbit di wajah tampannya.
__ADS_1
Setelah mencari posisi nyaman, Seno sudah berhasil tidur sambil memeluk Vee.
"Hoam, selamat tidur istriku" ucap Seno sambil mengecup kening Vee.
Debaran jantungnya terasa sangat nyata, dan bisa tidur dengan bahagia seperti ini sangat membuat Seno gembira.
Pria itu tidur dengan senyum terkembang sepanjang malam. Bahkan dalam mimpipun, dia berjanji untuk tidak akan pernah melepaskan Vee bagaimanapun caranya.
Hingga pagi menjelang, keduanya masih betah tidur saling mendekap meski seperti biasanya, Vee akan membuka baju atasnya hingga memperlihatkan perut ratanya saat tidur dan menendang selimut yang dia pakai. Tapi nyatanya mereka tetap tidur dalam pelukan.
Vee sering terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, dan pagi inipun sama. Dia lebih dahulu terbangun sebelum Seno membuka mata.
"Ehm, selamat lagi dunia" gumam Vee yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Aahhhh...." gadis itu berteriak saat melihat wajah tampan nan teduh tengah terpejam dengan tangan melingkar di tubuhnya.
"Uuugh! Ada apa sih Vee?" gerutu Seno saat telinganya sudah mendengar keramaian sepagi ini.
"Kenapa kakak bisa memelukku sih?" kesal Vee sambil merapikan bajunya yang tersingkap, tangan nakal Seno berada diatas perutnya sejak semalam.
"Mana saya tahu, kenapa kamu bisa tidur disini? Bukannya semalam kamu tidur di sofa? Kenapa malah bertanya pada saya?" tanya Seno tanpa rasa bersalah, padahal semua ini adalah ulahnya.
Vee yang sudah duduk diatas ranjang pun menjadi heran.
"Benar juga sih, kak. Apa aku tidur sambil berjalan ya?" gumamnya.
Sedangkan Seno hanya terkekeh kecil melihat Vee yang kebingungan. Tapi dia tidak perdulikan dan kembali meneruskan tidurnya.
"Huft, lain kali aku harus berhati-hati. Sekarang aku mau mandi saja deh, setelah itu kamu ya kak. Kita sama-sama solat subuh" kata Vee yabg malah mendapati Seno yang kembali terpejam.
"Ah, biarkan saja. Nanti setelah mandi aku bangunkan dia" katanya sambil meneruskan langkah ke kamar mandi, tak lupa membawa handuk dan baju ganti.
.
.
.
.
__ADS_1