Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
lari


__ADS_3

"Kakak lihat suster yang sedang berjalan ke arah nurse station itu?" tanya Vee lirih dari balik jendela.


Mereka berdua sedang mengintip ke arah luar untuk mencari kondisi aman agar bisa segera keluar dari rumah sakit itu dengan segera.


"Yang daritadi berjalan sambil menoleh ke arah kamar ini?" tanya Hideo setengah berbisik, padahal jarak mereka dan suster itu cukup jauh.


"Iya, dia yang tadi aku dengar sedang ngobrolin tentang kamu sama rekannya lewat telepon" kata Vee.


"Kita tunggu sampai suster itu masuk ke kantornya. Begitu dia masuk, kita segera keluar" kata Hideo memberi aba-aba.


Vee hanya mengangguk sambil terus mengamati suster itu.


Dan setelah sang suster benar-benar masuk, keduanya segera keluar dan berjalan berlawanan arah dengan tempat si suster berada.


"Ayo cepat Vee. Kita harus segera keluar dari sini" kata Hideo yang berjalan mendahului Vee.


Dan tanpa sengaja, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Vee yang berjalan di belakangnya.


Sepanjang berjalan, keduanya tidak sadar jika tangan mereka saling menggenggam. Mungkin karena efek cemas membuat mereka berdua tidak sengaja untuk saling memberi support lewat genggaman tangan.


Apalagi suasana rumah sakit pagi ini cukup ramai.


"Mirip Senopati, ya" ucap beberapa hadis yang berjalan berpapasan dengan Hideo dan Vee.


"Katanya Senopati hilang sejak dua hari yang lalu. Mungkin nggak kalau dia lagi sakit dan dirawat disini?" telinga Hideo dan Vee masih mendengar percakapan beberapa gadis yang mereka lewati tadi.


Hideo semakin menunduk agar tidak lebih banyak orang yang menyadari keberadaannya.


"Ayo kita tanyakan langsung saja" ajak seseorang dari mereka.


"Tapi kan Senopati nggak punya pacar, dan sekarang orang itu sedang berjalan dengan wanita. Aku rasa memang dia bukan Senopati, deh" komentar yang lainnya.


Melihat belokan, Hideo dan Vee segera saja kesana agar terhindar dari pantauan para gadis yang sepertinya adalah fans berat dari Senopati.


Dan saat telinga keduanya mendengar derap langkah kaki yang sepertinya sedang mengejar mereka, segera saja keduanya memasuki kamar yang pintunya tidak terkunci, kamar apapun itu yang penting bisa terhindar dari kejaran fans dari Senopati.


"Masuk kesini saja, dan jangan bersuara" perintah Hideo sambil mengintip dari balik jendela sambil sedikit menunduk.


Sedangkan Vee yang ada dibelakangnya merasa agak takut sekarang. Baru pertama kali baginya takut dikejar oleh orang yang tidak mereka kenal dengan tujuan yang tak bisa dipikirkan.


"Mereka berdua lari kemana ya?" tanya seorang gadis yang berada dalam gerombolan pengejar Senopati.


"Iya, cepat banget sih larinya" kata yang lain.


"Mungkin nggak sih kalau mereka masuk ke ruangan ini?" tanya gadis yang lain.


Merekapun kompak menelisik ruangan itu tanpa suara. Membuat Vee dan Hideo yang berada di balik dinding jadi merasa khawatir kalau mereka nekat masuk juga.


Vee yang ada di belakang Hideo tanpa sadar memeluk pria itu dari belakang dengan cukup erat.

__ADS_1


Merasa adanya pergerakan di belakang tubuhnya, Hideo sedikit menegang karena ini adalah pengalaman pertamanya berada dalam posisi seperti ini.


Matanya sedikit terbelalak dengan perlakuan spontan dari Vee. Tapi dia berusaha diam saja karena tahu jika Vee melakukan itu tanpa sengaja dan dalam keadaan darurat.


"Ah, sial. Kenapa saya merasa sesuatu yang lain disaat yang tidak tepat seperti ini" kesal Hideo saat tubuhnya merespon dengan cara lain saat mendapat dekapan erat dari seorang gadis.


"Apa mereka belum pergi juga, kak?" tanya Vee lirih dari balik punggungnya.


"Belum, mereka masih berdiri di depan ruangan ini" jawab Hideo pelan.


Dan jawaban itu malah semakin membuat Vee mengeratkan dekapannya.


Entah karena sebab apa sampai membuat Vee merasa sekhawatir itu. Padahal mereka hanya dikejar oleh segerombolan gadis yang sepertinya tidak berbahaya.


"Ayo kita pergi saja, kita cari di tempat lain. Aku rasa Senopati nggak lari kesini deh" akhirnya ada yang mengajak mereka pergi.


"Iya, kamu benar. Ayo kita cari ke tempat lain saja ya" kata gadis lain menyetujui.


Dan akhirnya, gadis-gadis penggila Senopati itu pergi juga. Membiarkan Hideo yang berada di balik tembok dalam dekapan Vee.


"Sudah, lepaskan saya Vee. Mereka sudah pergi" kata Hideo yang belum merasa Vee melonggarkan pelukannya.


"Kenapa nggak dilepasin juga sih?" keluh Hideo saat Vee tak mendengar permintaannya.


"Kita masuk ke tempat yang salah, kak. Aku takut" ujar Vee lirih.


Dan saat Hideo menoleh untuk menyisir isi ruangan itu, rupanya mereka berdua masuk ke dalam kamar mayat.


"Oh, kamu benar. Lebih baik kita segera keluar dari sini" kata Hideo yang berjalan pelan menuju pintu, berharap bisa segera keluar dari ruangan itu.


"Alhamdulillah, akhirnya keluar juga dari tempat itu" kata Vee.


Gadis itu melepaskan dekapannya setelah berhasil keluar dari kamar mayat.


"Kakak tadi lihat kan pandangan dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu?" tanya Vee setelah kembali berjalan di belakang Hideo.


"Ya, saya melihatnya" kata Hideo singkat.


"Kenapa wajah mereka aneh-aneh begitu ya kak?" tanya Vee lagi, rupanya dia belum menyadari jika yang dia lihat di dalam ruangan tadi bukanlah manusia.


"Aneh bagaimana?" tanya Hideo tanpa menghentikan langkahnya, dia hanya ingin segera keluar dari rumah sakit ini.


"Ya wajah dan tubuh mereka aneh kak. Kenapa mereka banyak yang nggak utuh begitu? Dan ekspresinya juga seperti orang terkejut begitu" Vee masih saja membahas tentang ruangan yang tadi.


"Kamu tahu tadi itu ruangan apa?" tanya Hideo, kini dia berhenti sebentar untuk menjelaskan pada gadis ini.


Vee hanya menggeleng sambil menatap wajah serius Hideo.


"Itu kamar mayat, Vee. Tidak ada makhluk hidup tadi di dalam ruangan itu" kata Hideo lembut.

__ADS_1


Vee sedikit terkejut, "Jadi, tadi yang aku lihat itu apa kak? Kenapa mereka semua seperti bangun? Pantesan mereka nggak mau beranjak dari tempatnya" gumam Vee lirih.


Hideo kembali menarik tangan Vee untuk segera beranjak dari rumah sakit itu meski Vee masih terlihat sedikit syok.


"Kenapa aku bisa melihat mereka, kak?" tanya Vee masih tidak percaya.


"Saya sudah pernah berkata padamu jika Sri telah membuka mata batin kamu sehingga kamu bisa melihat makhluk lain di sekitar kita. Apa kamu lupa?" tanya Hideo dengan langkah yang lebih terburu-buru kali ini.


"Kenapa rasanya jadi sedikit berlari gini sih, kak?" keluh Vee.


"Lihat saja orang-orang sudah banyak yang menyadari keberadaan saya disini. Saya tidak mau terjebak diantara mereka" kata Hideo.


Vee mengedarkan pandangannya sambil terus melangkah. Dan benar saja, banyak orang yang memandang ke arah mereka berdua.


Tak jarang beberapa dari mereka ada yang sudah bersiap untuk menyusul. Membuat langkah Hideo semakin terasa cepat untuk Vee yang jarang olahraga.


"Tunggu, kamu Senopati ya?" tanya seorang ibu-ibu yang sangat jeli saat melihat idolanya.


"Bukan, saya bukan Senopati" jawab Hideo tanpa menghentikan langkahnya, bersama Vee yang kali ini hanya diam dengan ekspresi khawatir.


Gerbang keluar dari rumah sakit ini sudah terlihat, dan Hideo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa pergi secepatnya.


"Tapi kamu mirip banget sama Senopati, pasti benar deh kalau kamu itu Senopati" kata ibu itu sedikit berteriak, masih mengikuti langkah Hideo dan Vee.


Membuat orang lain disekitar mereka ikut melihat ke arah Hideo, dan beberapa dari mereka ikut membuntutinya.


"Wah, iya benar. Itu Senopati" nah kan, sudah terdengar gumaman dari orang disekitarnya.


Bahkan kini beberapa dari mereka sudah mengeluarkan ponselnya dan memotret perjalanan Hideo yang setengah berlari dengan tangan Vee yang berada dalam genggamannya.


Melihat adanya taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan gerbang rumah sakit, Hideo segera mengajak Vee untuk melesat memasuki taksi itu.


"Akhirnya, selamat dari kejaran orang-orang" kata Hideo yang sudah duduk didalam taksi bersama Vee disampingnya.


"Ke perumahan bukit atas, pak" kata Vee memberi alamat pada supirnya.


"Baik non" kata si supir tanpa banyak kata.


Beruntung baginya menemukan penumpang tanpa harus menunggu lama.


Akhirnya mereka berdua bisa duduk santai dan bernafas lega setelah berhasil keluar dari kejaran para penghuni rumah sakit.


Mereka berdua belum tahu saja kehebatan media sosial.


Pasti kabar keduanya akan segera viral jika ada satu orang saja yang iseng untuk mengunggah foto Senopati yang tengah berjalan sambil menggenggam tangan seorang gadis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2