Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Maaf


__ADS_3

"Maafkan saya jika ibu tidak berkenan. Maafkan saya jika gara-gara saya, jiwa Seno yang tidak kuat untuk bertahan" ucap Hideo yang ternyata jiwanya lebih kuat untuk bertahan.


Mommy dan Papi Seno masih terdiam. Entah bagaimana perasaan mereka, tak ada yang tahu.


Karena rasa sakit yang tidak berdarah pasti sangat terasa menyiksa saat mengetahui jika satu-satunya anak yang dipunyai harus pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Bahkan dia pergi dari hadapan mereka berdua tanpa bisa mereka mencegahnya meski sebenarnya ada kesempatan.


Mommy mulai menangis, dalam dekapan suaminya beliau mulai sesenggukan.


"Maafkan saya" ucap Hideo lagi, bahkan kini diapun ikut menangis, dia tahu betapa sakitnya perasaan kehilangan tanpa tahu wujudnya.


Semua orang di ruangan itu hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Tak ada satupun orang yang mampu bersuara untuk sekedar memberikan hiburan terhadap kedua orang tua Seno.


"Seno sudah pergi" ucap Aish lirih dan mendekap suaminya dengan erat.


Sementara Hendra hanya terdiam, memandangi Hideo yang sejak tadi juga menundukkan kepalanya dan terus saja meminta maaf.


Vee beranjak dari ranjangnya. Karena memang dia hanya kelaparan hingga pingsan, dan sekarang kondisinya sudah mulai membaik.


"Aargh!" pelan saja Vee bersuara saat dengan sengaja dia menarik paksa jarum infus dari punggung tangannya.


Setelah menekan luka agar tak menimbulkan kucuran darah, Vee membalut lukanya dengan tisu dan mendekat ke arah Hideo setelah menyelesaikan ritualnya sendiri.


Vee berdiri di hadapan Hideo yang terduduk lesu dan menundukkan kepalanya. Lalu duduk mensejajarkan diri dengannya dan mengelus pelan lengan pria yang terlihat sangat hancur itu.


"Sepertinya memang waktu kita disini sudah habis, kak. Lebih baik kita pergi saja, ya?" tanya Vee pada Hideo.


Hideo menoleh ke arah istrinya, dan diapun mengangguk lesu dan segera berdiri untuk berpamitan pada semuanya.


"Bu, tolong maafkan saya yang tak bisa mencegah Seno untuk pergi. Jujur saya sangat rela jika saya yang harus pergi karena saya sudah jenuh dan tak bisa untuk hidup dalam kebohongan" kata Hideo yang tak direspon oleh Mommy Seno.


Wanita itu hanya terdiam dengan tetesan air mata yang masih saja meleleh. Sementara suaminyapun hanya bisa mendengarkan suara Hideo.


"Seno meninggal dengan racun dalam tubuhnya, dan jika dia kembali maka racun itu akan tetap mengikutinya karena sudah seperti itu suratannya" kata Hideo menjelaskan.


"Bahkan saat ini, racun-racun itu sudah kembali mencemari tubuh ini meski dalam jumlah yang masih bisa saya bersihkan sendiri" kata Hideo.


"Saya tidak ingin mencari perhatian dari kalian dengan mengatakan ini semua, hanya saja, saya hanya ingin memberitahu jika seandainya Seno memaksakan untuk tetap tinggal, maka dia juga akan mengalami rasa sakit dari tercabutnya nyawa dari raganya untuk yang kedua kalinya".


"Saya hanya ingin meminta maaf kepada ibu dan ayah. Terimakasih telah memberi saya kesalahan untuk bisa merasakan kasih sayang orang tua yang sudah sangat lama tidak pernah lagi saya rasakan" ucap Hideo sembari mengambil tangan ibunya dan mengecupnya dengan hikmat, dia hanya ingin merasakan kekuatan doa dari tangan seorang ibu yang mungkin akan dia rasakan untuk yang terakhir kalinya.


Setelah puas dengan tangan ibunya, Hideo mengambil tangan sang ayah dan melakukan hak yang sama.

__ADS_1


Dan setelahnya, dia menoleh ke arah Vee yang sejak tadi hanya berdiri sambil terus melihat kejadian itu dengan haru.


"Ayo Vee, kita pergi" ucap Hideo lirih dan menggandeng tangan istrinya.


Vee mengangguk lesu, tapi berusaha menguatkan dirinya dengan memberi senyuman kepada sang suami.


"Kita ke tempat papa Yudha ya kak. Aku harap sih papa sudah baikan. Nanti aku akan hubungi anaknya agar dia juga datang untuk menemani papa" kata Vee lirih sambil tetap melangkah pelan meninggalkan kedua orang tua Seno, Aish dan Richard, serta Hendra yang hanya bisa terdiam di tempatnya.


Mendengar ucapan Vee, Hideo hanya bisa mengangguk dan mengelus sayang pada puncak kepala istrinya.


Baru kali ini mereka terlihat rukun dan saling mengutarakan kasih sayangnya. Berjalan pelan meninggalkan masa lalu untuk merajut masa depan yang lebih baik.


Biarlah jika Hideo harus berusaha keras agar bisa menjadi suami yang baik untuk Vee di kota metropolitan itu. Kota yang penuh dengan persaingan.


Untuk masalah identitas, biarlah nanti mereka akan bermusyawarah dengan Yudha. Karena Vee yakin jika pria tua itu pasti punya cara tersendiri untuk membuat anak dan menantunya itu bisa hidup dengan baik di kotanya.


Vee dan Hideo sudah melangkah cukup jauh. Sudah sekitar satu kamar kelas VIP mereka lewati. Dan lorong itu masih terasa sunyi dengan isakan kecil dari Vee yang masih belum mereda.


"Hei kalian berdua!" teriak sebuah suara wanita dari belakang tubuh keduanya.


Hideo dan Vee menghentikan langkahnya dan menoleh pelan ke belakang saat mendengar panggilan itu.


Ternyata itu adalah suara dari Mommy Seno yang sudah berkacak pinggang di belakang mereka.


Hideo dan Vee masih terdiam di tempatnya, bahkan mereka berdua hanya bisa saling melempar pandangan dengan wajah bodoh.


"Mommy sudah mendengar ucapan terakhir Seno yang mengikhlaskan raganya untukmu. Mommy tahu mendengar jika Seno pun juga menyayangimu, Vee" kata Mommy Seno.


"Dan Mommy juga sudah mendengar dengan telinga mommy sendiri supaya kami bisa menyayangimu seperti kami yang menyayangi Seno" kata Mommy yang semakin terisak.


"Tapi kenapa kau malah mau pergi meski tak mendapat izin dariku?" tanya Mommy.


"Kenapa kau mau meninggalkan Mommy meski kamu tahu jika kau bertanggungjawab atas kami sesuai dengan permintaan Seno?" tanya Mommy lagi.


"Kau mau jadi orang yang lupa diri? Kau mau jadi orang yang tidak bertanggung jawab?" tanya Mommy lagi sambil berjalan mendekati Hideo yang terus saja menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Maksud Ibu apa?" tanya Hideo layaknya orang bodoh.


"Bodoh!" kata Mommy sambil menjitak kepala Seno.


"Kau tahu nak. Seno adalah anakku satu-satunya. Tentu aku sangat menyayanginya melebihi apapun" ucap Mommy.


"Saat dia pergi di hadapan mataku sendiri tanpa bisa aku mencegahnya dan memaksanya untuk tetap tinggal, tentu aku merasa sangat sedih" kata Mommy lagi.

__ADS_1


" Apalagi saat ada jiwa lain yang mendiami raga anakku, tentu aku bertambah sedih" ungkapnya.


"Tapi, setelah Mommy renungkan semuanya. Seno adalah anak terbaik mommy, bahkan dia tak pernah meminta suatu hal yang berlebihan meski dia tahu kalau kami bisa mewujudkan apapun yang dia inginkan jika itu berkaitan dengan uang" kata Mommy lagi.


"Tapi dia tak pernah sekalipun terdengar merengek".


"Dan saat dia memberitahu kepada kami tentang permintaan terakhirnya untuk menerimamu selayaknya anak kami sendiri, apa kau pikir kami akan menolaknya?" tanya Mommy sambil memukuli dada Hideo.


"Apa kami akan membiarkan pesan terakhir dari anak kami untuk tidak menerimanya?" tanya Mommy dengan masih berlinang air mata.


"Siapapun kau nak, Hideo ataupun Senopati, kalian berdua adalah anakku. Karena raga ini keluar dari rahimku. Dan kalian berdua adalah anak yang baik dan selalu mengutamakan kami sebagai orang tua" kata Mommy Seno.


"Kau telah berjuang demi bisa mengembalikan Mommy yang tersesat di dunia lain meski kau tahu jika itu bisa mengorbankan nyawamu".


"Kau juga mau mengalah jika saja Seno tak mau menerima takdirnya dan egois untuk tetap tinggal di dunia".


"Kau juga tetap bersikap baik pada kami meski kami tak menghiraukanmu".


"Kau ataupun Seno adalah sama bagi kami, nak. Kau akan tetap menjadi anak kami untuk selamanya. Selama nyawa ini masih bertahan di dalam raga, maka selama itu pula kau akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami" ucap Mommy sambil memeluk putranya.


"Kau jangan pergi, nak. Mommy sangat menyayangimu. Mommy tidak akan bisa hidup tanpamu. Mommy sayang padamu, nak" kata Mommy yang sudah menumpahkan air matanya di dada Seno.


Keduanya menangis bersama. Saling mendekap dan saling merasakan kasih sayang antara ibu dan anak yang tak akan pernah bisa mati.


Tak bisa menahan lagi, Vee yang juga berair mata malah mengusap ingusnya menggunakan kemeja yang Hideo pakai karena tak ada tisu disekitarnya.


Merasakan sesuatu yang lengket dan menjijikan itu membuat Hideo menoleh ke arah Vee yang memandangnya tanpa dosa.


"Kau sangat menjijikkan, Vee" keluh Hideo sambil melepas pelukan ibunya.


Melihat itu, Mommy jadi terkekeh pelan meski masih tak bisa membendung air matanya.


"Nggak ada tisu, kak. Ya seadanya saja aku pakai" kata Vee tanpa dosa.


"Kau ini" geram Hideo yang mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan membersihkan ingus Vee dari kemejanya.


Melihat itu membuat papi, Aish dan Richard juga Hendra ikut mendekat ke arah Seno dan momminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2