
"Mereka sedang apa, kak?" tanya Vee lirih, tak ingin orang-orang itu tahu keberadaannya di balik pohon.
"Sepertinya membuang sesuatu" jawab Hideo.
Sebuah kantong plastik besar dikeluarkan oleh dua orang berbadan kekar di kegelapan malam.
Mereka memasuki kawasan hutan semakin dalam. Dengan seorang pria dan seorang wanita yang berjalan dibelakangnya.
"Buang saja disana, biar dia terjatuh ke jurang itu" ucap si wanita.
Vee masih saja merekam kejadian itu, tentu dalam posisi aman dari pandangan mereka.
"Pastikan semuanya aman, dan tidak ada seorangpun yang melihat semua ini. Dan satu lagi, pastikan sidik jari kalian tidak tertinggal di kantong itu" kata si pria dengan suara baritonnya.
"Apa sebenarnya yang ada di dalam kantong itu? Kenapa mereka terlihat sangat hati-hati?" tanya Vee lirih.
Hideo hanya menggeleng, sambil tetap fokus mengawasi pergerakan orang-orang mencurigakan itu.
"Kantongnya dibuka atau ditutup saja, bos?" tanya seseorang yang membawa kantong besar itu.
"Buka saja agar hewan-hewan kecil bisa masuk dengan mudah dan bisa memakannya dengan cepat" perintah si pria.
"Siap, bos" ucap mereka sambil membuka kantong plastik besar itu.
Terlihat samar dibawah sinar purnama jika didalam kantong itu adalah seorang pria.
Vee menutup mulutnya saat terkejut melihat kejadian di hadapannya ini.
"Pembunuhan, kak" bisik Vee.
Merasa sudah cukup saat merekam kejadian itu, Vee beralih ke arah mobil yang mereka pakai.
Gadis itu ingin mengambil gambar mobil itu agar bisa digunakan sebagai barang bukti nantinya jika diperlukan.
Dengan langkah hati-hati agar keberadaannya tak disadari oleh mereka, Vee beralih menuju mobil Van yang terparkir.
Kembali Vee membulatkan matanya saat melihat mobil yang sama dengan mobil yang dia lihat kemarin di bukit ini, dan juga di parkiran balai kota saat konser berlangsung.
Vee hanya ingin memfoto bagian belakang mobil Van yang terpampang jelas plat nomornya.
Tapi sialnya, Vee lupa mematikan lampu flash di kameranya. Hingga saat dia mengambil foto mobil itu, ada kilatan cahaya yang keluar dari kameranya.
Dan yang lebih sialnya lagi, Vee menekan dua kali tombol kameranya. Hingga membuat lampu flash kamera itu tentu menyala dua kali.
"Sial, aku lupa matiin lampu flashnya, kak" kata Vee.
"Ada orang lain disini" kata si pria yang menyadari adanya kilatan lampu flash dari sebuah kamera.
"Cepat cari dan dapatkan orang itu, hidup atau mati" perintah si pria.
Dua orang yang tadi membawa kantong besar segera meletakkan kantong itu sembarangan. Hingga membuatnya tergerak semakin melesat ke bawah jurang.
Sedangkan mereka langsung berlari ke arah mobil Van yang terparkir tidak begitu jauh dari tempat mereka.
Vee yang menyadari kecerobohannya juga langsung berlari memasuki hutan. Dia berfikir hutan akan lebih aman dibandingkan jalan raya yang tak ada penghalangnya.
Berlari semakin memasuki hutan, Vee masih didampingi oleh Hideo dan juga HoRoCi.
Dan kedua pria itu terdengar mengejar Vee setelah mendengar langkah kaki Vee yang beradu dengan dedaunan kering yang berjatuhan.
"Mereka mengejarku, kak" kata Vee panik.
Langkah dua pria itu terdengar nyaring di kesunyian hutan.
__ADS_1
Vee semakin ketakutan.
"Bagaimana ini, kak?" tanya Vee.
"Sembunyi di bawah batu itu, Vee" kata Ho, menunjuk batu besar yang ada celah dibawahnya.
Vee menurut, menyembunyikan dirinya dibawah batu, masuk ke celah di bawahnya.
Dan kedua pria itu berlari meneruskan langkahnya, meninggalkan Vee yang ada di bawah batu.
"Aman" kata Vee sambil mengelus dada.
Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang terasa bergerak di belakangnya, dengan gerakan lambat Vee menoleh.
Melihat apa yang ada dibalik tubuhnya.
"Aargh" teriak Vee saat melihat ada anjing liar sedang menggonggong.
Diapun kembali berlari, setelah menghindari kejaran dua pria, kini Vee harus menghindar dari kejaran anjing liar yang kelaparan.
Kekuatan Hideo semakin melemah di detik-detik terakhir kehidupannya. Dia hanya bisa mengikuti Vee dari belakang tanpa bisa menolongnya.
Sedangkan HoRoCi sudah sigap kali ini, si kecil Ci yang biasanya penakut, kini berusaha naik keatas tubuh anjing liar itu dan berusaha menutup matanya, agar anjing itu hilang kendali.
Ro berinisiatif menghadang langkah si anjing dengan melempar batu ke arahnya.
Dan Ho membantu Vee agar bisa memanjat pohon dan membuatkan tempat yang aman diatas sana.
"Naik ke pohon ini, Vee. Cepat, karena sepertinya dua pria itu sudah menyadari keberadaanmu" kata Ho panik.
Vee mengangguk, beruntung dia memakai sepatu yang bisa memudahkan gerakan kakinya.
Dengan sekuat tenaga, Vee memanjat sebuah pohon tinggi. Dan anjing itu tetap saja menggonggong dibawahnya.
Menggunakan pisau lipat yang mereka punya, kedua pria itu terlihat melukai si anjing dan memaksanya pergi.
Tentu mereka berhasil melakukannya, anjing itu pergi meski dengan terpaksa.
"Gue yakin cewek itu ada disini" ucap salah satu dari mereka yang bertubuh tinggi.
"Kenapa lo bisa yakin kalau dia cewek?" tanya yang lain, yang bertubuh sedikit tambun.
"Cuma cewek yang suka teriak, bro" kata si tinggi.
"Benar juga, lo. Tapi dimana dia sembunyi, ya?" tanya si kurus.
"Apa mungkin dia naik ke pohon?" tanya Si tinggi.
"Betul juga ,lo. Anjing kan nggak bisa manjat, biasanya orang bakalan manjat pohon kalau lagi dikejar anjing" komentar si tambun.
"Hahaha, pasti di pohon ini. Karena tadi anjing itu ngotot diem disini" kata si tinggi.
Mereka berdua menengadahkan kepalanya, berusaha melihat keadaan diatas pohon meski terlihat samar karena lebatnya daun yang menutupi sinar rembulan.
"Lo bawa senter?" tanya si tambun.
"Kagak, pakai senternya hape saja gimana?" kata si tinggi.
"Boleh" si tambun menyetujui.
Mereka berdua berusaha menghidupkan senter di ponselnya.
Tapi saat mereka mengarahkan sinar hapenya ke atas pohon, mereka malah melihat penampakan tiga makhluk aneh yang ada di atas pohon.
__ADS_1
Makhluk menyeramkan dengan tubuh seperti anak-anak yang hanya memiliki satu mata di wajah merahnya.
Dengan bibir terbentuk vertikal yang tersenyum menyeringai.
Mereka bertiga terlihat merangkak dengan mudah menuruni pohon dengan perlahan.
Rupanya HoRoCi yang melakukan itu semua. Mereka tentu ingin menyelamatkan Vee dari kejaran penjahat yang bisa saja membahayakan nyawa gadis itu.
"Hantu, bro. Hantu" kata si tinggi ketakutan.
"Bukan, pasti itu cuma orang biasa" ucap si tambun sok berani.
Mereka berdua menunggu HoRoCi turun, ingin tahu apakah kaki mereka bisa menapak ke atas tanah atau tidak.
Tentu saja bisa.
Kaki HoRoCi menapaki tanah setelah berhasil turun dari atas pohon dan memastikan kalau Vee berada di tempat yang aman.
"Tuh kan, napak bro. Jadi mereka cuma orang, bukan setan" kata si tinggi.
Mereka berduapun mengeluarkan lagi pisau lipat dari saku celananya.
Dan bergerak maju untuk menusuk HoRoCi yang berjalan gontai menuju ke arah kedua pria itu.
"Serang, bro" perintah si tambun.
Mereka berdua berlari ke arah HoRoCi untuk memberi penyerangan.
Tentu sabetan bertubi-tubi dari pisau itu taj mengena sedikitpun ke tubuh bocil setan yang sedang melindungi Vee.
"Hah, mereka beneran setan, bro. Aahhhh, lariii" teriak si tinggi yang kemudian berlari dengan secepat yang dia bisa meninggalkan si tambun yang masih berusaha menyakiti HoRoCi dengan pisaunya.
"Sial, jangan tinggalin gue brengsek" teriak si tambun yang mundur beberapa langkah sebelum ikutan berlari.
"Aahhhh.... hantu...." teriak keduanya menuju tempat bos mereka menunggu.
Dan HoRoCi terlihat masih ikut membuntuti mereka.
"Kenapa kalian teriak-teriak sih. Nanti orang-orang bakalan kesini, bego" kata bos pria mereka.
Sementara si wanita menatap dengan pandangan nanar, menahan amarah karena kebodohan anak buahnya.
"Hantu, bos. Ada hantu disana. Hantunya ngeri banget" adu si tambun.
"Bodoh. Zaman sekarang kalian masih percaya hantu. Mana? Mana hantunya? Suruh kesini, biar gue hadapi" kata bos pria itu dengan sombongnya.
HoRoCi ingin sedikit bermain-main dengan pria itu. Jadi, mereka menuruti kemauan pria itu dengan cara menampakkan diri dihadapannya.
Melihat adanya tiga bocil setan di hadapannya, si bos pria malah menjerit ketakutan dan mendahului rekan-rekannya untuk berlari menuju ke arah mobil Van mereka.
"Tunggu, jangan tinggalin gue dong" teriak si bos wanita ketakutan.
Mereka pun berlari tunggang langgang, takut pada HoRoCi yang sebenarnya tidak berbuat apa-apa. Hanya menampakkan diri di hadapan mereka sambil menyeringai.
Tak butuh waktu lama, mobil Van itu pergi meninggalkan sebuah kantong besar yang berisi mayat seorang pria.
.
.
.
.
__ADS_1