Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Mungkin ini saat yang tepat


__ADS_3

"Aku harus berkata jujur tentang apa, kak?" tanya Vee sedikit meragu saat saling berpandangan dengan Seno dan nampak jika pria itu hanya terdiam.


"Hal penting apa yang mau lo sampaikan ke gue?" kini Richard yang memang bukan orang dengan banyak kesabaran harus memonopoli keadaan.


Karena jiwa ingin tahunya sudah memuncak, maka tidak boleh ada yang menghalanginya untuk mengetahui apa yang ingin Vee sampaikan padanya.


Apalagi di situasi tegang seperti ini, semua orang masih saja menyempatkan diri untuk saling diam.


"Cepat katakan, bocah!" kata Richard yang nada suaranya sedikit lebih keras.


"Ih, aku kan kaget kak" tutur Vee sambil mengusap dadanya.


"Aku tahu siapa sebenarnya kak Helen dan kenapa dia sampai memiliki wajah yang sama persis dengan kak Aish" penuturan Vee sebagai pembuka obrolannya membuat semua orang menatapnya dengan serius untuk menunggu kelanjutannya.


"Siapa dia?" tanya Richard.


"Apa kalian berdua mengenal seseorang yang bernama Viona sebelumnya? Apa kalian pernah terlibat suatu masalah dengannya?" tanya Vee untuk memancing daya ingat semua orang.


"Viona?" gumam Richard dan juga Aish yang sepertinya sudah melupakan nama itu.


"Viona adik kelas kita sewaktu SMA yang pernah naksir berat sama lo dan berusaha menfitnah lo princess, benarkah dugaan gue, Vee?" tanya Hendra yang masih mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.


"Mungkin iya, pokoknya Viona itu cewek yang sangat mencintai kak Richard. Lebih tepatnya, dia itu terobsesi untuk bisa memiliki kak Richard dengan cara apapun" kata Vee bersemangat, rasa lapar yang membuatnya pingsan bahkan sudah menghilang. Tinggal perih dari luka sayat di beberapa bagian lengannya yang membuat Vee sering mengernyit kesakitan.


"Memangnya dia kenapa, Vee?" tanya Aish.


"Helen itu sebenarnya adalah Viona" kata Vee yang membuat banyak orang merasa sangat terkejut.


"Bagaimana bisa? Lo jangan mengada-ada ya, bocah" kata Richard yang masih tidak mempercayai ucapan Vee.


"Aku nggak bohong, kak. Ceritanya memang sedikit rumit. Jadi, Helen yang asli adalah kakak kandung dari Daren yang dikabarkan mati bunuh diri karena cinta yang bertepuk sebelah tangan sama kak Seno" perkataan Vee itu membuat semua orang menatap pada Seno yang bermuka datar layaknya kanebo kering.


"Dan kematian Helen asli ini tidak dilaporkan ke catatan sipil karena semua dokumen tentangnya dipalsukan dan dipakai oleh orang yang bernama Viona itu" kata Vee yang masih disimak dengan seksama oleh semuanya.

__ADS_1


"Viona merubah total wajahnya dengan cara Operasi plastik agar bisa sama persis dengan wajah kak Aish dan setelah selesai, dia memakai identitas Helen yang aslinya adalah kakak dari Daren, ya meskipun mereka adalah kakak se ibu" cerita Vee membuat semua orang sedikit berfikir untuk bisa mencerna dengan baik.


"Tapi rupanya, kematian Helen pun adalah ulah dari Viona yang sudah merencanakan semua ini dengan sangat rapi. Dia tidak perduli dengan Daren yang sangat menyayangi kakaknya".


"Viona dengan bantuan orang-orang pilihannya menghabisi nyawa Helen dan meyakinkan Daren jika semua yang Helen lakukan adalah aksi bunuh diri karena cinta yang ditolak oleh Kak Seno".


"Dalam kekalutan, tentu Daren percaya saja pada semua cerita yang Viona rekayasa dan membuat Daren mendendam pada kak Seno sampai mereka berkesempatan untuk menghabisi nyawa kak Seno saat kalian berdua mengadakan konser di Malang waktu itu" kata Vee meneruskan ceritanya.


"Dan sepertinya, kak Seno sudah mengetahui semua tentang Viona sebelum ada satupun orang yang mengetahui, dan hal itu membuat Viona semakin gencar untuk mencari cara agar bisa menghabisi nyawa kak Seno. Dan ya, mereka berhasil menculik kak Seno malam itu" kata Vee sedikit bingung untuk melanjutkan ceritanya karena cerita selanjutnya akan membahas tentang siapa sebenarnya Seno dan jiwanya.


"Pokoknya, Helen itu maunya menjadi sama persis seperti orang yang kak Richard cintai. Jadi, dia merubah total penampilannya agar bisa sama seperti kak Aish meski harus operasi plastik" kata Vee.


"Sekarang permasalahannya, kenapa target Helen bukannya gue tapi Seno?" tanya Richard yang masih sedikit sangsi dengan cerita Vee.


"Karena kak Seno yang mereka pikir sudah berhasil dihabisi, ternyata masih hidup. Jadi, mereka beranggapan kalau kek Seno adalah ancaman terbesar untuk mereka" jawab Vee jujur.


"Dan sekarang pertanyaannya, bagaimana Seno bisa kabur dan kenapa lo biarin Helen dan komplotannya kembali berusaha menghabisi lo, Sen?" tanya Hendra.


Dia hanya ingin tahu apakah Seno dan Vee mau jujur tentang siapa dia yang sebenarnya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


Jika memang dia harus jujur tentang siapa dia sebenarnya, dia akan melakukannya. Meski nantinya dia harus rela kehilangan orang tua yang sudah dia sayangi seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Maksdunya bagaimana sih, Sen?" tanya Aish semakin bingung.


"Kalian berdua bisa berterus terang sekarang, atau kalian tutupi saja semuanya selamanya demi kepentingan pribadi kalian sendiri" perkataan Hendra tepat sasaran mengenai ulu hati Vee yang sudah menutupi sebuah kebenaran besar tentang sebuah jiwa.


Vee terdiam mendengar perkataan Hendra. Sedangkan Seno yang memang tak pernah takut akan suatu masalah bersikap tenang-tenang saja.


"Oke, gue ngerti kok kalau memang kalian berdua masih belum siap untuk mengatakan sebuah kejujuran yang sangat besar. Terutama untuk Mommy dan Papi" kata Hendra yang masih mendapati kediaman dari dua orang dihadapannya itu.


Dengan tatapan yang sulit dimengerti, Hendra menyunggingkan sedikit senyumnya yang menjengkelkan. Berharap Seno mau buka mulut dan berkata jujut pada semua orang.


"Baiklah. Saya akan mengatakannya. Sebuah rahasia besar yang sebenarnya sudah kamu ketahui, Mahendra" kata Seno dengan pandangan menusuk terhadap Hendra yang hanya membalas dengan mengendikkan bahu.

__ADS_1


"Kejujuran ini mungkin akan sangat menyakiti perasaan ayah dan ibu. Jadi, sebelum saya mengatakannya, saya mohon agar ayah dan ibu untuk selalu memaafkan saya" kata Seno sambil meraih tangan kedua orang tuanya.


"Kejujuran apa sih, nak? Jangan membuat Mommy jadi merasa takut begini dong" kata Mommy Seno dengan senyuman berat, bingung harus bersikap bagaimana karena pembahasan yang awalnya tentang Viona, sekarang malah menyerang anaknya sendiri.


"Sesungguhnya, saya memang benar adalah Ongkoseno Widjojo jika kalian lihat dari segi fisik. Tapi, sekali lagi saya minta maaf pada kalian berdua, ayah dan ibu---" kini Vee dengan mata yang sudah berkaca-kaca malah ingin menghentikan Seno yang ingin berkata jujur tentang dirinya.


Dengan cekatan Vee meraih tangan Seno dan menggelengkan kepalanya agar Seno berhenti bicara.


Tapi dalam hatinya, Seno sudah tak ingin lagi hidup dalam kebohongan. Sebenarnya dia merasa jika saat ini adalah saat yang tepat untuk berkata jujur.


Jika orang tuanya masih berkenan, Seno akan tetap menganggap mereka sebagai orang tua kandungnya. Tapi jika mereka berdua merasa keberatan dengan semua ini, dengan senang hati pula Hideo akan pergi dari raga itu jika mereka melarangnya untuk dijadikan wadah.


Atau dia akan pergi menggunakan raga Seno dengan memakai identitas baru dan pergi jauh dari kota itu agar tak lagi bisa bertemu dengan orang-orang terdekatnya.


"Cepat katakan, Seno! Atau memang kau ingin memperalat kami semua?" desak Hendra.


"Baik, akan saya katakan" jawab Seno sambil menepis tangan Vee.


"Sebenarnya jiwa yang berada di dalam raga milik Ongkoseno Widjojo ini adalah sebuah jiwa yang bernama Hideo Akihiro, jiwa saya bukanlah jiwa asli dari pemilik raga ini. Jiwa saya menemukan raga ini disaat-saat terakhir dari pemilik raga ini yang akan segera pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya akibat dari perbuatan orang-orang yang tak menginginkannya untuk tetap hidup" penjelasan Seno tentu akan membutuhkan waktu cukup lama bagi mereka yang tak mempercayai hal-hal mistis.


"Maksud kamu apa sih, Sen? Mommy nggak ngerti. Dan mommy nggak suka dengan bercanda yang seperti ini" tanya Mommy Seno yang sudah menitikkan air matanya.


Bagaimanapun juga, Seno adalah anak semata wayangnya. Bagaimanapun sikap dan kepribadiannya yang memang dirasa banyak berubah tak membuat kasih sayangnya sebagai seorang ibu akan hilang terhadap anaknya.


"Gue juga nggak ngerti, Sen. Bisa tolong Lo jelaskan ke kita dengan bahasa yang mudah kami mengerti?" tanya Aish yang kuga sudah berair mata.


Baginya, Seno adalah sahabatnya yang paling manis. Sikap kekanak-kanakan yang selalu Sebo tampilkan adalah hal yang membuatnya selalu merasa rindu pada sahabatnya itu.


"Jawab Sen, jangan diam saja" desak Aish yang mulai bersikap tegas saat sahabatnya melakukan kesalahan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2