Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
mulai sekolah lagi


__ADS_3

"Aahh" Vee langsung terduduk setelah mendapatkan mimpi terburuknya.


Rambutnya sangat acak-acakan dan basah karena keringat, nafasnya memburu.


Duduk diatas ranjangnya, Vee mengamati sekelilingnya untuk mencari keberadaan Hideo.


"Puff" Hideo meniup leher belakang Vee. Membuatnya terkejut karena fokusnya adalah arah depan.


"Kau ini menjengkelkan sekali, paman. Darimana?" tanya Vee.


Sedikit mengetes Hideo karena baru saja dalam mimpinya, Vee melihat Hideo sedang bercengkerama dengan Sri dalam rupa yang mengerikan.


"Saya tentu dari belakangmu, Vee" jawab Hideo santai.


"Kamu bisa masuk ke alam mimpi, ya?" tanya Vee dengan pandangan penuh selidik.


"Aku belum cukup sakti untuk melakukan itu. Kamu kenapa sudah bangun? Ini masih jam empat pagi" Hideo mengalihkan pembicaraan, malas saja kalau sampai Vee tahu kemampuannya yang lain.


"Ini hari apa, om?" tanya Vee, tapi dia sendiri sibuk mencari tahu melalui gawainya.


"Saya tidak tahu" jawab Hideo.


"Ah, hari Senin. Aku nanti sudah masuk sekolah, om" kata Vee, sambil meminum air putih yang selalu tersedia di atas nakasnya.


"Kamu sekolah?" tanya Hideo, dan Vee hanya mengangguk.


"Boleh saya ikut denganmu? Saya ingin melihat situasi belajar mengajar di zaman ini" kata Hideo.


"Tentu, asalkan kamu tidak mengganggu ya saat di sekolah" kata Vee sambil mengikat rambut curly nya.


"Ya, saya hanya ingin belajar juga. Sama seperti kamu" kata Hideo.


Vee hanya mengangguk, segera dia mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dia akan mandi pagi dan bersiap untuk solat subuh terlebih dahulu.


★★★★★


"Kalian dirumah, ya. Nanti pulang sekolah aku belikan makanan untuk kalian bertiga. Tolong jaga rumah dengan baik, dan jangan biarkan makhluk apapun yang berniat jahat memasuki rumah" kata Vee saat berpamitan pada ketiga bocilnya.


"Tentu, Vee. Selamat belajar" kata Ho sambil melambaikan tangannya.


Sengaja Vee berjalan kaki saat pergi sekolah. Selain jaraknya yang tidak begitu jauh, Vee juga menyempatkan diri untuk selalu mengabadikan moment-moment indah yang terekam kameranya.


Untuk sampai ke sekolahnya, Vee tinggal menuruni bukit di tempat tinggalnya saja.


"Padahal semalam makhluk-makhluk itu sepertinya banyak membuat kekacauan ya ,om. Tapi tak ada bekasnya sama sekali. Hanya dedaunan yang berjatuhan seperti setelah hujan" kata Vee yang memperhatikan sekelilingnya.


"Ya, tapi pandangan ini akan terlihat berbeda saat dilihat dari kacamata orang yang punya keahlian khusus, Vee" jawab Hideo yang tetap melayang untuk mengikuti Vee.


"Seperti orang-orang Indigo gitu ya, om?" tanya Vee.

__ADS_1


"Apa itu Indigo?" tanya Hideo yang baru saja mendengar kosakata baru.


"Itu loh, orang-orang yang punya kemampuan untuk melihat dunia lain, makhluk gaib, bangsa lelembut. Ehm maksudnya, orang yang punya indra ke enam" kata Vee yang masih sibuk memotret apa saja dengan kameranya.


"Oh, iya. Semacam itu. Jadi, itu namanya Indigo ya" kata Hideo bergumam.


Vee sudah berpakaian rapi tentunya, seragam dengan atribut sekolah yang lengkap karena biasanya hari Senin selalu upacara bendera. Tak lupa memakai jas almamater berwarna merah maron kebanggaan sekolahnya.


Tak terasa perjalanannya sudah sampai di gerbang sekolah, banyak sekali murid-murid yang juga nampak baru datang.


"Hai, Vee" sapa teman-temannya.


"Eh, hai" jawab Vee dengan kikuk.


Tak biasanya teman-temannya menyapa seperti ini. Vee hanya murid biasa yang tak punya kelebihan khusus.


Misalnya Dewi si paling cantik dan most wanted di sekolahnya. Atau Miska yang terkenal dengan otak brilian yang selalu menjadi juara umum.


Jadi saat banyak teman yang menyapanya, Vee jadi sedikit salah tingkah.


"Hai, kamu Veronica dari kelas Bahasa ya?" tanya Vino, teman satu angkatannya yang menjadi cowok terpopuler.


"Eh, hai. Iya, aku Vee. Tumben kamu nyapa aku?" tanya Vee gugup, sumpah ini hari teraneh disepanjang hidupnya.


"Jadi, aku nggak boleh nyapa kamu gitu?" tanya Vino seolah kecewa.


"Boleh saja sih, tapi aneh saja" kata Vee yang sudah kembali bersikap santai.


"Dia kelihatan beda nggak sih?" tanya Vino pada kedua temannya.


"Gue juga ngerasa, kita selama ini kemana ya? Kenapa baru ngelihat dua sekarang" kata teman Vino.


Sampai di kelasnya, Vee jadi merasa risih karena banyak temannya yang mencuri pandang padanya.


"Sebenarnya ini kenapa sih? Kok mereka jadi aneh, ya?" gumam Vee.


Sebenarnya tidak ada yang aneh, hanya saja aura positif dari Vee terbuka saat dia memakai kalung kristal pelangi pemberian HoRoCi.


Kriing...


Bel tanda masuk sekolah telah berdering, seperti biasanya, Vee mengamankan kamera mahal pemberian papa Yudha nya di laci meja sekolah sebelum keluar menuju lapangan untuk ikut upacara bersama.


Berbaris di grup kelasnya, Vee kebagian tempat agak ke belakang karena tingginya yang lumayan. Bersama Hideo yang masih saja melayang rendah di sisi Vee.


"Pengibaran bendera merah putih, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya" kata pembawa acara melalui mikropon.


"Uwah, ternyata sudah merdeka ya, Vee. Saya baru menyadarinya. Pantas saja sudah tidak terlihat mobil penjajah berseliweran sejak saya datang kesini" kata Hideo yang takjub melihat adegan paskibra saat menaikkan sang saka ke tiang bendera.


Vee hanya melirik pada asap yang menampilkan wajah penasarannya.

__ADS_1


"Ternyata dia lucu juga kalau berwajah seperti anak kecil begitu. Nggak kayak biasanya yang mukanya seperti kanebo kering" kata Vee dalam hatinya, bahkan dia sempat terkikik saat tangannya bersikap hormat pada bendera.


Membuat teman-temannya menoleh bingung padanya. Seketika Vee mengangguk untuk menyiratkan permintaan maafnya.


Hideo bahkan ikut bernyanyi saat pasukan paduan suara melantunkan lagu Indonesia Raya.


"Lagunya sangat merasuk ke dalam hati. Siapa pencipta lagu ini, Vee? Saya sangat mengidolakannya sejak hari ini" kata Hideo yang ikut bersikap hormat, padahal sudah disuruh tegak.


Vee hanya mendengus sebal, Hideo terlalu banyak tanya. Kan tidak mungkin Vee menjawabnya.


Bisa dianggap gila karena berbicara sendiri. Karena memang hanya Vee yang visa melihat Hideo.


Selesai upacara, pelajaran pertama di kelas Vee adalah Matematika. Dan Hideo terlihat sangat antusias mengikuti jalannya pelajaran.


"Gurumu ini memang terlihat menjengkelkan dan terlalu tegas, Vee. Tapi dalam hatinya, pengorbanan orang ini sangat tulus untuk memberikan ilmu bagi muridnya" gumam Hideo di telinga Vee sambil memperhatikan pak Guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.


"Temanmu yang itu sedang terngiang-ngiang perbuatannya semalam yang sedang bermesraan dengan pacarnya, Vee" random sekali pembicaraan Hideo.


Sekarang dia sedang menunjuk salah satu teman Vee yang memang terlihat sedang melamun.


"Oh tidak, semalam mereka melakukan perbuatan zina, Vee. Dan gadis ini masih terbawa mabuk asmara dengan pacarnya" lanjut Hideo menggibah salah satu teman Vee.


"Dan lihat temanmu yang bernama Roy itu. Sempat-sempatnya dia berfikir ingin mencuri makanan di kantin sekolah saat jam istirahat nanti" beralih ke Roy, teman sekelas Vee yang sedang dibaca pikirannya oleh Hideo.


"Diamlah Hideo, aku tidak bisa konsentrasi" keluh Vee yang taj menyadari jika kini tengah di pandangi oleh teman-teman dan gurunya.


"Kamu menyuruh saya diam, Veronica?" tanya Pak guru.


Tuh kan, kena marah. Dasar Hideo jahat.


"Bukan pak, ehm. Maaf, saya tadi melamun pak" kata Vee dengan wajah memerah, malu sekali dilihat aneh oleh teman sekelasnya.


"Baiklah kalau kamu ingin saya diam. Maka kerjakan soal yabg bapak tulis di papan tulis ini" kata pak guru.


"Ah sial, aku kan nggak ngerti. Bagaimana ini" gumam Vee dalam hatinya sambil melotot pada Hideo yang malah menertawakannya.


"Kamu memang bodoh, Vee. Majulah, biar saya bantu kamu. Soal ini sangat mudah bagiku" kata Hideo meremehkan Vee.


Vee hanya mencebik, kesal sekali pagi ini gara-gara mulut pedas Hideo yang menggibahi temannya.


"Ayo cepat maju, Vee" perintah pak guru.


Tentu gerak-gerik Vee dipantau jelas oleh temannya.


"Temanmu banyak yang mengolok Vee. Mari kita buktikan kalau kamu tidak sebodoh yang mereka kira" kata Hideo.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2