
Samar-samar, pendaran cahaya lampu mengenai kelopak mata Vee yang sejak semalam terpejam karena sebuah paksaan. Rasa lelah mulai menyerangnya, terasa seluruh badannya pegal-pegal dan sangat sakit.
Menilik ke arah jam dinding yang terdengar masih berdetak, rupanya sudah menjelang pukul delapan pagi.
"Ehm, dimana ini? Aduh, badanku pegal-pegal sekali rasanya" gumam Vee.
Apalagi terasa ada sesuatu yang berada diatas kedua kakinya. Dan itu terasa cukup berat hingga membuat kedua kakinya terasa kesemutan.
"Aduh.... sakitnya...." keluh Vee samar, sambil berusaha membuka paksa kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat.
"Ehm... Siapa itu?" gumam Vee, ternyata dia tidak sendirian di ruangan itu.
Ada seorang lagi yang juga nampak terpejam dengan tangan dan kaki yang, diikat?
Vee sedikit panik, menilik pada kedua kaki dan tangannya sendiri yang ternyata juga terikat.
"Pantas saja kesemutan semua seluruh badan ini. Ternyata selain tangan dan kaki yang diikat, masih ada yang menumpuk diatas kakiku" gumamnya.
"Aduh.... Beratnya..." kata Vee lirih, diam sebentar untuk menunggu agar rasa kesemutan di kakinya mereda.
"Hei! Hei! Kamu siapa? Bangun dong, ayo bangun. Kakiku kram nih, pinggirin kaki kamu dong" ucap Vee sambil menggoyangkan kedua kakinya yang terikat, berusaha membangunkan seseorang yang tengah tertidur di sebelahnya.
Karena tak ada sahutan sama sekali, dengan susah payah Vee berusaha mendekati orang itu untuk sedikit memberi kejutan padanya.
Sip! Bibir Vee sudah cukup dekat di telinga orang yang tengah tidur tertelungkup itu. Posisinya yang memunggungi Vee membuat gadis itu tak tahu wajah dari orang yang sama-sama terikat sepertinya.
Butuh sedikit lagi usaha agar bisa lebih dekat dengan orang itu.
Dan....
"Wooii!!! Bangun!!!! Kaki kamu bikin kakiku kesemutan tahu!!!" teriak Vee dengan kencangnya, terarah dan sangat pas di telinga orang itu.
"Aahhhh!" teriak orang itu tak kalah kaget.
Seketika dia terbangun dan duduk sambil menarik nafas sebanyak mungkin untuk menormalkan kembali detak jantungnya.
"Sialan. Siapa yang beraninya ngagetin gue?" tanya orang itu sambil celingukan.
__ADS_1
Sedangkan Vee hanya bisa memberikan wajah cengo nya. Dengan bibir sedikit terbuka dan pandangan hampa, rupanya Vee juga ikut terkejut melihat siapa yang telah dia kagetkan.
"Vee? Lo apa-apaan sih?" tanya pria itu.
"Eh, maaf kak. Aku kira tadi siapa. Kan nggak kelihatan mukanya. Kok kakak ada disini juga sih?" tanya Vee penasaran.
"Gue juga nggak tahu, Vee" gumam Daren dengan pandangan menerawang.
"Semalam gue lihat lo lagi bengong lihatin teman lo yang lagi bersikap aneh. Terus, gue lihat ada seseorang yang berusaha bawa lo diam-diam sambil mengendap gitu. Ternyata, mereka nggak cuma satu. Buktinya, sekarang gue ada sama lo. Padahal niat gue mau bebasin elo semalam" kata Daren yang berusaha mengingat kejadian malam itu.
"Haduh, gawat nih kak. Jangan-jangan kita diculik?" tanya Vee mulai khawatir.
"Gimana kalau ternyata nantinya kita dijual, kak?" pertanyaan itu tiba-tiba timbul karena maraknya berita penculikan akhir-akhir ini.
"Lo sih enak, Vee. Kalau dijual kemungkinan terburuknya masih dijadikan pekerja gituan, lah gue?" komentar Daren yang juga nampak gelisah.
"Gimana kalau mereka ngejual organ-organ tubuh gue? Semua yang melekat di tubuh gue bisa dijual, Vee. Secara gue sehat, kuat, dan ganteng. Pasti nggak akan ada yang tersisa kalau mereka ngejual organ-organ tubuh gue" kata Daren sedikit bergidik ngeri, kedua bahunya sampai naik turun.
"Situasi begini masih sempat-sempatnya kepedean" cibir Vee.
"Bantuin duduk dong, kak" ucap Vee yang sejak tadi hanya bisa memandangi Daren sambil tiduran.
"Gimana caranya, Vee. Tangan gue kan diikat, kaki gue juga" ucap Daren menyesali keadaan karena tak bisa membantu adik tingkatnya itu.
"Ish, lemah" cibir Vee sambil berusaha bangkit, bergerak pelan layaknya ulat bulu.
"Ahh .. Berhasil" gumam Vee yang sudah bisa duduk sambil bersandar di dinding.
"Tempat apaan sih ini?" tanya Vee sambil memandang sekitarnya.
Ruangan dengan cat putih itu dilengkapi penerangan yang cukup meski tak ada satu barangpun di dalamnya. Hanya ruang kosong saja.
"Kira-kira kenapa mereka nyulik kita ya, kak?" tanya Vee.
"Gue juga nggak tahu, Vee" ucap Daren yang duduk bersisian dengan Vee sambil menengadahkan kepala dan bersender di dinding ruangan.
Hening tercipta, kini terasa dalam hatinya jika semua yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Dan Vee menyesali itu semua.
__ADS_1
"Kak Hideo, maafin aku yang nggak nurut sama kamu ya, kak. Kalau seandainya takdir tak menghendaki kita untuk kembali bertemu, semoga kelak kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak kau dapatkan di masa lalu" kata hati Vee menyesali perbuatannya.
Suasana hening begini membuat semua kesalahan jadi terpampang nyata di depan mata.
"Lo masih hidup kan, Vee?" tanya Daren lirih, menoleh sejenak pada gadis yang duduk di sebelahnya.
"Masih kak. Cuma lagi meratapi kesalahanku saja" gumam Vee tertunduk, mereka sangat tidak berdaya.
"Lo ingat sama keluarga, ya?" tanya Daren.
"Iya, demi ikut camping karena ajakan kak Daren loh alu sampai rela kabur meski keluarga nggak ngasih ijin. Sekarang malah kena batunya deh. Menyesalpun tak berguna kalau sudah begini. Huft, semoga saja ada yang bisa menemukan kita ya kak" kata Vee dengan penyesalannya yang terlambat.
"Jadi intinya, lo ikut camping demi gue ya Vee?" goda Daren untuk mencairkan suasana.
"Ih, apaan sih. Nggak lah" kata Vee sedikit tersipu, bisa malu juga rupanya dia.
Daren tersenyum melihat guratan merah di pipi Vee. Semua itu nampak sangat indah di mata Daren.
"Ugh, kenapa wajah lo indah banget sih Vee" kata Daren dalam hatinya, untuk berkata jujur pria itu tak berani. Lagipula Daren yakin jika ada hubungan spesial antara Vee dan Senopati meskipun Vee dengan kekeuh selalu menutupi hal itu darinya.
"Kenapa kak? Malah bengong" kata Vee sedikit membuat lawan bicaranya terkejut, karena ketahuan sedang memperhatikan gadis itu.
"Eh, nggak apa-apa. Ehm, jadi benar kan kalau lo itu sebenarnya ikut camping demi bisa selalu bersama gue. Jujur saja deh Vee. Siapa tahu ini kesempatan terakhit kita untuk bertemu. Jadi masih ada waktu untuk kita visa saling jujur" desak Daren tak mau menyerah.
Vee terdiam, bingung juga dia dengan hatinya. Daren memang tipe idealnya, tapi Senopati adalah pelindungnya.
Dia sadar jika selama ini Seno selalu ada di setiap dia membutuhkannya. Seno selalu hadir setiap dia berada dalam bahaya, dan Seno selalu perhatian dengan setiap hal kecil di setiap kegiatan sehari-harinya.
Hatinya bimbang, terbujuk wajah tampan Daren yang baru saja dikenalnya selama beberapa bulan ini.
Akankah hatinya akan goyah dengan semua ketulusan dan kebaikan yang telah Hideo berikan padanya selama beberapa tahun terkahir ini?
.
.
.
__ADS_1