
"Alhamdulillah, mereka sudah pergi" ucap Vee yang masih bertengger diatas pohon.
Bersama dengan Hideo yang sudah terlihat sangat lemah dan tak bertenaga.
"Kak, kamu kenapa?" tanya Vee, penampakan Hideo sangat menyedihkan malam ini.
Dibawah temaramnya sinar bulan purnama yang terhalang dedaunan, Hideo terlihat seperti manusia sekarat yang hidupnya sudah bisa dipastikan hanya akan bertahan beberapa saat saja.
"Waktu saya sudah tidak banyak, Vee. Sebelum saya---"
"Vee, cepat. Ada orang yang hampir mati di bawah sana. Ayo cepat lihat dia, Vee" teriak Hoo memecah suasana sendu yang tengah dialami oleh Vee dan Hideo.
"Apa? Ada apa?" Vee ikut panik saat Hoo berkata terlalu cepat dan tak jelas.
"Ada orang sekarat di bawah sana" kata Hoo dari bawah pohon.
"Kamu nggak lihat kalau kak Hideo juga sedang kesakitan?" tanya Vee kesal.
"Percayalah kalau pangeran akan baik-baik saja, tapi orang itu yang sudah sangat tidak baik, Vee" ucap Hoo masih ngotot.
"Bagaimana ini, kak?" sebenarnya Vee sangat khawatir pada kondisi Hideo.
"Kita lihat dia saja dulu. Saya tidak apa-apa" kata Hideo berusaha kuat. Ada yang masih dia ingin sampaikan pada Vee sebelum dia benar-benar harus pergi.
"Oke. Kita lihat dulu orang itu, Hoo. Tapi bantu aku turun" kata Vee mengalah.
Berada di ketinggian lebih dari lima meter memang cukup mengerikan dalam kegelapan malam seperti ini.
"Pejamkan matamu sambil memegang kalung itu, Vee. Sebut keinginanmu dengan hati yang tulus, lalu ciumlah kalungnya. Maka kamu akan bisa melakukan sesuai dengan apa yang kamu inginkan" kata Hoo sambil menunjuk pada kalung pemberiannya.
Vee menunduk, mengamati kalung cantik itu beberapa saat.
"Masak sih?" gumam Vee tak percaya.
"Cepat Vee... Waktu kita tidak banyak lagi" kata Hoo cemas, sementara kedua saudaranya masih mengamati pria yang katanya sedang sekarat itu.
Vee sedikit terkesiap mendengar penuturan Hoo, tapi memang tak ada salahnya kan kalau dicoba.
Diapun menuruti perintah bocil setan itu.
Memegang dan menyebut keinginannya untuk bisa segera sampai ke tempat si pria misterius.
Setelah mencium kalung cantik itu, lambat laun Vee merasakan jika tubuhnya terasa sangat ringan.
"Uwau, apa yang terjadi padaku, Hoo?" tanya Vee kagum.
"Ayo cepat, Vee. Kita ke tempat orang itu" ajak Hoo.
"Ayo kak" ajak Vee pada Hideo yang terlihat semakin pucat.
Vee berdiri diatas sebuah ranting yang sejak tadi didudukinya. Mencoba berjalan dengan hati-hati melintasi ranting pohon.
Dan saat akan turun, bahkan dia bisa berjalan di pohon itu tanpa kesulitan yang berarti.
"Aku sudah seperti cicak ya, kak" kata Vee sambil menoleh pada Hideo yang melayang disampingnya.
Hideo hanya bisa tersenyum samar, sungguh tenaganya terasa sangat terkuras.
__ADS_1
Setelah sampai di permukaan tanah, tanpa basa-basi Hoo langsung menarik lengan Vee agar segera menemui si pria.
"Nggak usah lari, Hoo. Nanti jatuh" kata Vee sambil mensejajarkan langkahnya dengan si bocil.
"Lari kamu cepat juga ya, Hoo" kata Vee sedikit terengah di tengah langkahnya.
"Sudah tidak ada waktu lagi" kata Hoo serius.
Sampai di tempat tujuannya, Vee melihat Ro dan Ci yang duduk berjongkok di depan sebuah kantong plastik besar.
Melihat kedatangan Vee, keduanya lantas berlari ke arahnya. Seperti seorang anak yang kegirangan saat melihat ibunya datang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vee.
"Masih bernafas, sepertinya dia mengalami luka dalam yang sangat parah, Vee" kata Ro, sementara Ci hanya mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.
Vee mendekati kantong itu, sedikit ragu dia melirik ke dalamnya.
Tangannya lantas membuka sebagian kantong agar bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di dalamnya.
"Astaga, Tuhan" ucap Vee yang sangat terkejut melihat orang itu.
Mata Vee melotot dan kedua tangannya menutupi bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget.
"Kamu Senopati, kan? Kita kemarin pernah bertemu" ucap Vee yang entah mengapa sudah meneteskan air matanya melihat kondisi Seno yang memprihatinkan.
"Siapa yang sudah tega membuatmu jadi begini?" tanya Vee, tangannyapun tak tinggal diam, Vee berusaha membuka kantong plastik yang membungkus semua bagian tubuh Seno.
"Bantu aku menarik kantong ini, Hoo. Dan kamu Ro, pegangi tubuh bagian atasnya agar aku bisa dengan mudah menarik kantong ini" perintah Vee.
Setelah berhasil membuka kantong plastik itu, Vee segera menghampiri Seno dan mengambil kepalanya untuk ditidurkan di pangkuannya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Vee.
Seno masih sempat menyunggingkan senyumnya sebelum menjawab. Padahal dia sudah diambang maut.
"Kita bertemu lagi, cewek aneh" ucap Seno dengan terbata, nafasnya sudah pendek-pendek.
"Tidak usah bercanda, aku sangat khawatir pada kondisimu. Biar aku membawamu ke rumah sakit saja, ya?" kata Vee menawarkan bantuan.
Seno menggeleng lemah, kembali bibirnya tersenyum melihat ketulusan di wajah Vee.
"Ternyata, masih ada orang yang tulus selain my princess Aishyah di dunia ini" masih dengan terbata, Seno menatap Vee kagum.
"Siapa princess Aishyah?" batin Vee bertanya, tapi tidak ada waktu untuk mengutarakannya.
"Gue yakin, waktu gue sudah tidak banyak" ucap Seno lirih, Vee sampai harus mendekatkan telinganya ke bibir Seno agar bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.
"Gue minta tolong sama lo, sampaikan pesan terakhir gue ke orang-orang yang gue sayang" ucap Seno lirih.
Vee hanya mengangguk dengan air mata yang masih saja menetes.
"Bilang papi dan mommy gue kalau gue sayang sama mereka. Sampaikan maaf gue karena gue yang masih terlalu manja" ucap Seno lirih.
"Satu lagi, bilang sama princess Aishyah kalau dia dalam bahaya. Dan pastikan kalau dia harus selalu percaya sama Richard, apapun yang akan terjadi nanti" ucap Seno.
"Bilang juga pada punggawa kalau gue sayang mereka dan a. a. a" meski dengan sangat terbata, Seno masih berusaha menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Allahu Akbar" bisik Vee di telinga Seno, karena Vee yakin jika waktu Seno sudah tidak banyak lagi.
Seno belum bisa menyelesaikan bagian terpenting dari pesan terakhirnya.
"Allah hu ak bar" ucap Seno lirih dan berhasil mengucap takbir sebelum malaikat Izrail mencabut nyawanya.
Sedangkan keanehan juga terjadi pada Vee.
Setelah berhasil menuntun bibir Seno agar mengucap takbir, kepala Vee tertunduk dalam sampai untaian beberapa rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
Tepat beberapa saat sebelum nyawa Seno benar-benar melayang, bibir Vee telah berhasil merapalkan sebuah mantra yang entah bagaimana caranya hingga dia bisa menghafalkan mantra itu.
Dikabarke soko lemah, soko angin, soko banyu
Dikabarke totokolo ono ing pasimo ingsun
Anane Semar nangis sak marine ingsun
Angandel rekso ning iro
soko welas, soko tangis, soko asih asiho sak marine isun
Damel kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser sedulur papatku
sing kalimo pancer
Reksanen jiwa ragane Ongkoseno Widjojo biso saget kapindahi kale jiwa ne Hideo Akihiro
Sak derenge bulan kapapat ing bengi iki lingsir
dadio
dadio
dadio
Entah bagaiman bisa Vee merapalkan mantra sepanjang itu yang bahkan belum pernah sekalipun dia pernah membaca sebelumnya.
Mantra yang berhasil dia baca tepat sesaat sebelum nyawa Senopati melayang, dan dengan cepat jiwa Hideo tersedot masuk ke dalam raga Seno yang sudah rusak.
"Aaaahhh.... Aaahhh.... Aaahhh"
Hideo berteriak dengan kerasnya saat jiwanya dipaksa masuk ke dalam raga yang pernah beberapa kali ditemuinya.
Bahkan Hideo bisa melihat saat-saat terakhir Seno pergi dari raganya dengan pandangan yang sulit dia mengerti.
Tapi cuplikan kejadian itu terjadi sangat cepat dan Hideo pun baru pertama kali ini merasakan sakit yang amat sangat sejak dia berhasil keluar dari dalam botol.
Terasa seperti dikuliti hidup-hidup dengan satu tarikan saja.
Dan pertanyaannya adalah, bagaimana bisa Vee merapalkan mantra itu dengan sangat baik dan sangat tepat waktu?
.
.
.
__ADS_1