
Siapa sebenarnya Viona? Dan kenapa dia bisa sejahat itu?
"Viona? Lalu, apa yang menjadi alasan utama hingga kakak tega berencana untuk membunuh kak Seno?" tanya Vee sambil terus saja melirik ke arah ular siluman yang sepertinya sedikit merasa gelisah.
"Lo mau tahu, Vee? Atau lo hanya pura-pura tidak tahu? Bukankah Seno itu pacar lo? Apa dia tidak menceritakan alasan kenapa dia adalah orang yang berbahaya buat gue?" tanya Helen dengan santainya.
Seolah membunuh dan menghilangkan nyawa satu orang bukanlah hal yang buruk baginya.
"Tidak, Kak Seno tak mengingat apapun. Dia saja bingung kenapa harus dikejar-kejar oleh orang-orang mu" jawab Vee dengan tampang polosnya.
"Pasti dia sedang berbohong. Tapi karena tampang lo kayak orang bego yang memang tidak tahu, baiklah akan gue beritahu" kata Helen mengalah, sepertinya dia memang sedang ingin banyak bicara kali ini, dan Vee masih bersedia untuk menjadi pendengar setianya.
"Seno adalah satu-satunya orang yang tahu jika gue adalah Viona. Entah bagaimana caranya, dia bisa sampai tahu tentang rahasia ini. Dan oleh karena itu, dia adalah orang yang berbahaya buat gue".
"Gue akui memang keluarga Widjojo itu selalu tahu tentang rahasia orang lain. Tapi bukankah itu adalah hal yang tidak sopan. Benar kan, Vee?" tanya Helen dengan tatapan bersungguh-sungguh pada Vee.
"Tunggu, aku merasa ada sesuatu yang diam-diam sedang berada ditengah-tengah kita" ucap si raja ular hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Jangan mengada-ada. Tidak ada lagi orang lain selain kita di ruangan ini" ucap Helen.
"Tidak! Ada sesuatu yang lain yang sedang bersembunyi ditengah-tengah kita. Dan dia itu bukan dari kalangan manusia" ucap raja ular sambil mengendus ke sembarang arah.
Membaui aroma udara yang tentu hanya dia yang memahami tentang hal aneh yang dia maksud.
"Apa kau meminta bantuan dari makhluk lain, gadis manis?" tanya raja ular sambil mengendusi ke arah Vee.
Sedikit menahan rasa mual karena bau amis dari tubuh si siluman ular, Vee berusaha menahan nafas saat si raja ular mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi aku sangat yakin kalau ada sesuatu yang ganjil disini. Ada yang sedang bersembunyi diantara kita. Meski aromanya sangat samar, tapi aku yakin jika ada sesuatu yang lain yang ada disini" ucap raja ular sambil terus memeriksa seluruh isi tuangan itu.
Semua orang jadi ikut kebingungan, tapi memang tak ada hal lain diantara mereka. Apalagi tak ada satupun barang yang ada di dalam ruangan itu.
Sungguh disana hanyalah sebuah ruang kosong yang hanya diterangi sebuah lampu yang menyala putih. Bahkan sejak Vee tersadar, dia duduk diatas lantai berkeramik putih. Tak ada kardus bekas apalagi karpet untuk sekedar penghangat pantat.
"Cg, lo tuh drama banget sih, om? Lo pikir gue percaya sama bualan lo?" ejek Daren.
Sejak awal pertemuannya memang Daren sudah tak begitu suka pada si raja ular yang tengah menyamar menjadi pria tampan di pandangan orang lain selain Vee.
"Sshhh! Kamu berani padaku, anak kecil?" tanya si raja ular dengan pandangan penuh amarah tepat di hadapan Daren.
__ADS_1
Sebenarnya, sebagai manusia modern Daren tak pernah mempercayai apapun yang namanya ilmu gaib maupun makhluk halus.
Tapi semenjak mengenal Vee, beberapa kejadian yang tak masuk akal terjadi tepat di hadapannya. Untuk mengelak pun tak mungkin karena semua kejadian tak masuk akal itu terlihat oleh mata kepalanya sendiri.
"Apa yang harus gue takutin dari lo, makhluk aneh?" tantang Daren.
Raja ular tentu tak terima diperlakukan seperti itu, segera saja dia mengubah bentuk matanya seperti mata ular pada umumnya sambil tetap menatap Daren tajam.
Seolah terhipnotis, Daren langsung terdiam dengan pandangan hampa.
"Sekarang, diam dan jangan banyak bicara" perintah raja ular pada Daren.
"Iya, tuanku" jawab Daren menurut.
"Hei, apa yang lo lakuin sama dia?" tanya Helen sedikit tidak terima, mungkin dia merasa jika Daren sudah seperti adiknya sendiri.
"Sedikit pelajaran untuk anak tidak tahu diri, sayangku" ujar raja ular sambil meneruskan aksinya, mengendusi aroma ruangan itu.
"Ada sesuatu yang sangat lembut dan dia sedang berusaha bersembunyi dariku" ujar raja ular sambil berdiri tegak dan menutup matanya.
Tak ada yang mengerti apa yang raja itu maksudkan, bahkan semua orang di dalam ruangan itu jadi saling tatap untuk mencari jawaban dari satu sama lainnya.
Menyiratkan jawaban jika mereka bertiga sama-sama tidak mengerti dengan apa yang pria aneh itu maksudkan.
"Sudahlah, sepertinya gue lapar. Sebaiknya kita semua pergi dari sini dan biarin nih cewek bego sendirian. Nggak usah kita kasih makan. Biar tahu dia rasanya kelaparan" kata Helen sinis.
Vee hanya bisa melongo, sebenarnya rasa laparpun sudah dia rasakan sejak bangun tidur tadi. Tapi karena banyak mengobrol dengan Daren dia jadi lupa dengan kondisi perutnya.
Helen dan ketiga pria itu mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Vee yang masih duduk dengan tangan dan kaki terikat.
Dan sialnya, setelah diingatkan tentang makanan. Perutnya malah merasa lapar kali ini.
"Ah, sial sekali. Kenapa aku jadi lapar sih" keluh Vee setelah terdengar suara pintu yang terkunci dari luar.
Sekarang tinggal dia sendiri yang berada di dalam ruangan itu. Meratapi nasib terburuk yang menimpanya.
"Andai saja aku nurut apa kata kak Seno, pasti aku masih bisa makan enak, tidur nyaman dan disayangi sama cowok setampan kak Seno, kan" keluh Vee sambil meringkuk, menaruh dagunya diatas lutut yang ditekuk tinggi.
__ADS_1
"Tapi kalau aku jadi anak penurut, kan aku nggak tahu siapa yang selama ini mengincar keluarga kami" gerutunya membenarkan tindakan salahnya.
"Huft, memang rasa penyesalan selalu datangnya belakangan. Tapi nggak apa-apa lah, semoga masih ada kesempatan untukku setidaknya untuk memberitahukan pada keluarganya kak Seno tentang orang jahat yang sedang menjadikan keluarga mereka sasaran. Meski nanti mereka menemukanku sudah dalam keadaan tak bernyawa, setidaknya berilah kesempatan padaku untuk memberitahu semua kebenaran ini ya Tuhan" guman Vee yang merasa sudah sangat tipis keberuntungan yang akan dia dapatkan kali ini.
Berada di dalam ruangan tertutup tanpa tahu dimana lokasinya. Dan dikelilingi oleh orang-orang jahat yang kapan saja bisa menghabisi nyawanya jika dirasa sudah tak berguna lagi.
"Huft, bunda... Maafin Vee kalau selama ini masih belum bisa membahagiakan bunda ya" keluh Vee yang mulai meneteskan air mata.
"Kak Varo, cariin aku dong. Dulu kan kak Varo selalu bisa nemuin aku kalau kita lagi bermain perak umpet meskipun aku sembunyi di tempat paling aman sekalipun. Sekarang tolong temuin aku dong kak Varo" gumam Vee lagi.
Suasana sendu begini memang membuat siapapun jadi teringat akan semua kesalahan di masa lalunya.
Begitupun Vee yang kini tersadar jika apa yang selama ini dia lakukan memang sudah kelewatan.
Sebagai seorang anak, dia tak pernah patuh pada orang tuanya.
Sebagai seorang adik, dia selalu manja pada kakaknya.
Sebagai seorang kakak, dia tak bisa menjadi contoh yang baik bagi adiknya.
Dan sebagai seorang istri, Vee tak pernah memperdulikan suaminya.
"Tuhan, kalau aku mati, pasti kau akan menempatkan aku di neraka ya?" tutur Vee lirih.
"Tolong maafkan aku Tuhan.... Jika masih ada kesempatan, semoga aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri ini" gumam Vee.
Lama dalam lamunannya dan hanya sendirian, semakin lama pergelangan tangannya kenapa terasa ada yang sedikit bergetar?
Pertama kali tangannya bergetar, Vee merasa terkejut. Tapi untuk melihat ke arah pergelangan tangannya, gadis itu merasa sedikit kesulitan.
Dan semakin lama, getaran yang dia rasakan semakin terasa jelas hingga membuat tangannya ikut tergetar.
Selang sekitar sepuluh menit, sesosok makhluk tipis serupa asap muncul di hadapan Vee. Hingga membuatnya cukup kaget.
"Astaga, apa lagi ini ya Tuhan?" gumam Vee sambil tetap fokus melihat ke arah sosok yang masih berusaha menampilkan wujudnya di hadapan Vee.
Apakah akan ada pertolongan untuknya? Atau malah semakin bertambah makhluk yang menginginkan nyawanya terpisah dengan raga?
.
.
__ADS_1
.
.