
"Ada dimana saya sekarang!" gumam Seno yang telah berpindah tempat.
Dari mahkota dan baju yang dia kenakan, bisa dipastikan jika di tengah menjalankan perannya sebagai seorang raja di zaman dahulu.
Saat kepingan emas dan tembaga dijadikan sebagai bahan untuk tameng tubuhnya.
Para pengawal yang berdiri berjejer di samping kanan dan kirinya semakin membuatnya yakin jika itu bukan hanya sekedar ilusi.
Dan kini didepannya tengah terkumpul banyak wanita dan harta benda yang menurut informasi yang di dapatkan adalah hasil rampasan perang.
Pasukan dari kerajaan yang dipimpin oleh raja Senopati telah berhasil memenangkan peperangan dan tengah berbagi harta rampasan perang.
"Silahkan raja untuk memilih salah satu atau beberapa dari wanita ini untuk dijadikan budak" ucap salah satu pengawal dengan suara lantang.
Seno tak lantas memilih satu dari mereka, tapi netranya masih menelisik banyaknya gadis yang sedang berlutut di hadapannya.
Dan diapun terbelalak saat mendapati Vee tengah ikut berlutut dengan banyak luka sementara disampingnya malah ada wanita lain yang bergelayut manja yang mengatakan bahwa dirinya adalah permaisuri.
"Pandangan macam apa ini?" gumam Seno yang masih berdiri di panasnya hari dengan payung yang meneduhkannya.
Hatinya sakit saat melihat Vee berada dalam keadaan seperti itu. Tapi saat dia ingin merengkuhnya, sebuah tangan melarangnya, bahkan si pemilik tangan itu tengah mengancamnya.
"Itu adalah konsekuensi dari keputusan raja saat memakai mahkota itu. Maka terimalah jika orang-orang yang kau sayangi harus rela menjadi budak di kerajaan kita" kata wanita yang berdiri di samping Seno.
Dalam kalutnya pikiran, Seno terkejut saat Ho yang sudah kembali ke bentuk asalnya tengah berusaha mengembalikan kesadaran Seno yang seolah sedang terhipnotis oleh mahkota yang sedang dia pandangi.
"Pangeran! Jangan tatap mahkota itu terlalu berlebihan. Karena dampaknya bisa sangat berbahaya bagi manusia biasa seperti pangeran" kata Ho mengingatkan.
"Ya, kau benar Ho. Mahkota ini terisi oleh makhluk serupa wanita yang bisa mewujudkan semua keinginanmu meski hanya dalam khayalan" kata Seno yang sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Saat pemiliknya tak kuat dengan kekuatan besar dari mahkota ini, maka dia bisa menjadi gila" gumam Seno yang masih terdengar di telinga Ho.
Seno segera membawa mahkota itu dan menutupnya dengan menggunakan kain terlebih dahulu.
Dan saat dia melihat ke arah raja ular yang tak bermahkota, rupanya sang raja sudah benar-benar berubah menjadi seekor ular besar yang sedang melilit di kaki meja.
"Saya akan mengirimkan ular itu kembali ke alamnya" kata Seno yang sudah beranjak dari tempatnya, berjalan perlahan mendekati ular besar serupa piton yang cukup panjang.
"Kenapa bisa ada ular disini?" tanya Aish yang sudah bisa meninggalkan pertarungannya, karena hanya tersisa beberapa orang yang sedang dihadapi oleh anak buah Yudha.
__ADS_1
"Saya akan mengembalikan ular ini ke alamnya" jawab Seno.
Kembali terlihat oleh Aish saat Seno sedang merapal mantra. Dan tangannya terulur untuk mengelus kepala ular itu beberapa kali hingga membuat ular besar itu tiba-tiba lenyap dan membuat aura kecemasan di sekitar ruangan itu berkurang.
"Bagaimana bisa lo lakuin semua ini, Sen?" tanya Aish sedikit ngeri.
Karena Seno yang dia kenal adalah anak yang periang dan sedikit penakut, juga bukanlah orang yang percaya akan hal gaib.
Aish semakin yakin jika Seno yang dia temui sejak beberapa bulan yang lalu ini bukanlah Seno yang dia kenal. Dan entah bagaimana caranya agar Aish mendapatkan bukti tentang semua keyakinannya.
"Berhenti, semua angkat tangan dan buang senjata kalian" tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dan membuat beberapa orang yang masih bersitegang kini berhenti dan mengangkat tangannya.
Rupanya Richard telah datang bersama segerombolan pasukan berseragam coklat.
Langkah mantap Richard menuntunnya untuk menuju ke arah Aish yang berdiri terpaku di sebelah Seno.
Kekacauan yang terlihat membuat Richard semakin khawatir pada istrinya. Banyak orang tergeletak di ruangan itu.
"Apa yang sudah terjadi, sayang?" tanya Richard yang sudah merangkul pundak istrinya dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Panjang ceritanya, yang penting sekarang kita harus menyelamatkan Vee dan papanya" jawab Aish.
"Oh sial, saya membiarkan Vee kesakitan" gerutu Seno sambil berlari menghampiri istri nakalnya.
"Vee, dia masih belum sadar juga" kata Seno sambil meraih wanitanya.
"Gue juga minta bantuan ambulance. Mereka ada diluar" ucap Richard.
"Terimakasih atas bantuannya" kata Seno dengan bahasa formalnya, tentu hal itu membuat Richard semakin bingung.
"Nanti aku jelasin" bisik Aish.
Richard yang mengerti hanya berusaha diam kali ini. Dan membiarkan polisi melakukan tugasnya untuk mengamankan keadaan ruangan itu.
Saat menunggu semua untuk dievakuasi, betapa terkejutnya Richard saat melihat Helen yang digiring keluar dari sebuah ruangan yang sebelumnya tertutup rapat.
"Kenapa bisa ada Helen juga disini, sayang?" tanya Richard semakin tidak mengerti.
"Aku juga nggak begitu paham kenapa dia bisa disini. Nanti saja kita dengar penjelasan dari Seno" ucap Aish sedikit kencang, berharap volume suaranya bisa Seno dengar agar sahabatnya itu bisa menceritakan semuanya.
__ADS_1
Satu per satu orang yang keluar dari dalam rumah itu terbagi dalam dua kelompok.
Para korban yang harus dibawa ke rumah sakit dan juga beberapa orang yang diduga sebagai pelaku kejahatan yang harus ikut ke kantor polisi.
Seno memilih untuk ikut Ambulance agar bisa tetap menjaga Vee dan Yudha. Sementara mobilnya dia percayakan pada Hendra. Aish tentu bersama Richard kali ini.
Dan jangan lupakan Helen yang terus saja berteriak tak jelas saat polisi menggiringnya agar naik ke mobil bak terbuka bersama pria berkupluk hitam dan beberapa anak buahnya
Sementara Daren yang juga masih tak sadarkan diri juga harus dibawa ke rumah sakit dengan mobil yang Hendra kendarai.
"Aku hanya meninggalkanmu beberapa hari saja agar kau bisa menghabiskan waktu bersama sahabat dan keluargamu, sayang. Tapi kenapa malah terjadi hal seperti ini?" tanya Richard yang masih tidak mengerti dengan keadaan yang sedang dialaminya.
Kini, dia dan Aish sudah bersama dalam satu mobil dan tengah membuntuti rombongan Seno yang sedang menuju ke rumah sakit terdekat.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Yang jelas beberapa hari ini terasa sangat lama sampai kejadian hari ini terjadi" kata Aish.
"Sepertinya banyak sekali hal yang akan terungkap setelah ini, sayang. Dan aku rasa, kita harus menyiapkan diri untuk menerima kejutan-kejutan itu" lanjut Aish.
"Ya. Aku rasa sahabatmu itu banyak berubah. Aku bahkan tak mengenalinya sebagai Seno yang manja" kata Richard.
"Akupun juga merasa seperti itu. Entahlah, semoga saja nanti dia mau berterus terang dengan apa yang sudah dia alami hingga dia bisa berubah drastis seperti itu" kata Aish.
"Ya. Dan hal yang paling membuatku merasa aneh adalah adanya Helen di rumah itu. Memangnya apa yang dia lakukan disana?" tanya Richard.
"Helen yang mirip denganku itu ya? Kamu khawatir sama dia? Takut terjadi apa-apa sama dia?" tanya Aish yang sudah berubah menjadi wanita yang sedang cemburu pada pasangannya.
"Bukannya begitu, sayang. Cuma kan tempat dia seharusnya buka di situ, wajar lah kalau aku sedikit terkejut saat melihat dia dalam keadaan aneh begitu" ucap Richard yang menyadari kesalahannya karena membahas wanita lain di hadapan istrinya.
Jadilah Aish sedikit ngambek kali ini. Membiarkan suasana hening merajai sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit.
Apalagi Richard yang tidak pandai dalam mencairkan suasana tentu merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Richard juga membiarkan saja saat Aish sibuk dengan ponselnya yang ternyata sedang mengabari kedua orang tua Seno agar menyusul ke rumah sakit tujuannya.
.
.
.
__ADS_1