Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
kenapa banyak hewan mati?


__ADS_3

"Dasar anak perawan, tidur ngebo banget. Jam segini masih betah saja tidur" Varo mendumel sambil tetap membabat rerumputan yang sudah setinggi lutut di halaman belakang rumah Vee.


"Apa itu?" gumamnya saat tak sengaja ujung aritnya menyentuh sesuatu seperti, kulit ular?


"Astaga, untung sudah mati. Bahaya banget sih. Kalau sampai masuk rumah dan bikin sarang, kan repot" Varo menggerutu saat menemukan kulit ular yang cukup besar.


Tapi sudah dalam keadaan kering seperti kulit ular yang siap digunakan untuk membuat tas atau lebih mirip kerupuk sih.


Varo mengamankan benda itu di teras belakang, biar nanti dia gunakan untuk mengomeli adiknya yang pemalas itu.


Setelahnya, kembali Varo melanjutkan kegiatannya membabati rerumputan dengan sabit.


"Astaghfirullah, apalagi ini" gumamnya.


Belum ada satu meter dari tempat dia menemukan kulit ular, sekarang dia malah menemukan beberapa kadal kering.


"Seperti keripik kadal saja" kata Varo lirih.


Kembali dia meletakkan kulit-kulit kadal itu bersama dengan kulit ular yang tadi.


Tadi sehabis subuh, Varo merasa terganggu dengan pemandangan di halaman belakang yang rumput liarnya sudah sangat tinggi.


Varo memahami jika sang adik pasti tidak ada waktu untuk membersihkannya sendiri.


Jadi sebagai kakak yang baik, biarlah Varo membantu adik kesayangannya itu.


Sementara di dapur, Vee yang sudah terbangun sudah merasa lapar saja. Rencananya dia akan membuat sarapan.


"Hoam" dia masih menguap sambil celingukan, bingung mau memasak apa. Duduk sebentar dan minum air putih dulu untuk mengembalikan kesadaran.


"Menjijikkan" komentar Hideo saat melihat Vee tak ada malunya menguap dihadapannya.


Tentu gadis itu tak ambil pusing, dia tetap melanjutkan meminum air putih sampai tandas.


Sreg, Sreg, Sreg.


"Bunyi apaan sih?" gumam Vee sambil mencari sumber suara.


"Kayak dari halaman belakang" masih bergumam, Vee berjalan mengendap-endap ke belakang rumahnya setelah meletakkan gelas kosong diatas meja dapur.


Hideo tentu mengekor pada Vee, sudah seperti amplop dan perangko saja yang tak bisa dipisahkan.


"Kak Varo? Ngapain?" tanya Vee yang sedikit berjinjit saat melihat ada banyak kulit hewan di teras belakang rumahnya.


"Kamu lihat kakak lagi ngapain?" bukannya menjawab, Varo malah melempar pertanyaan pada adiknya.

__ADS_1


"Bersih-bersih ya?" jawab Vee tanpa rasa bersalah.


"Kalau kamu nggak ada waktu buat membersihkan halaman ini sendiri, suruhlah orang untuk membersihkannya, Vee" kata Varo yang menghentikan sejenak aktivitasnya.


Berjalan menghampiri sang adik yang masih bermuka bantal.


"Lihat apa yang kakak temukan direrumputan sana" kata Varo sambil menunjuk banyaknya kulit hewan yang sudah dia kumpulkan.


Vee memandangi kulit-kulit itu. Ada lumayan banyak jenis hewan melata yang sudah mengering disana.


"Aku kira tadi itu punya kakak loh. Bisa bagus gini ya, tinggal sedikit diolah saja kalau mau dipakai untuk tas atau sepatu" komentar Vee malah membuat Varo menggelengkan kepalanya.


"Yang kakak takutkan, bagaimana kalau sampai ular-ular itu masuk ke rumah dan membuat sarang? Atau lebih parahnya, kalau sampai ular-ular itu menggigitmu, Vee" kata Varo sedikit gemas, dangkal sekali pemikiran adiknya ini.


"Tapi bagaimana caranya bisa jadi seperti ini ya, kak?" tanya Vee sambil mengangkat satu per satu kulit hewan itu.


"Mana kakak tahu?" kata Varo sambil mengendikkan bahunya.


"Dimakan kucing nggak mungkin, karena tubuh hewan-hewan ini masih utuh dan tak ada luka sama sekali. Saling berkelahi juga nggak mungkin kan kak?" tanya Vee.


"Apa mungkin hasil percobaan seorang ilmuan ya kak? Kayak di film-film gitu" komentar Vee malah membuat Varo tergelak.


"Kamu ini ada-ada saja. Nggak mungkin lah Vee" kata Varo.


"Kalau bukan ulah manusia, mungkinkah hewan-hewan ini bisa jadi seperti ini karena ulah Para bocil setan?" gumam Vee.


"Astaghfirullah kaget!" kata Vee yang tiba-tiba jatuh terduduk dari posisinya yang berjongkok.


"Kamu ngapain sih Vee? Kenapa bisa sampai terjatuh begitu?" tanya Varo yang gemas sekali melihat tingkah adik besarnya ini.


"Hehe, nggak apa-apa kak" Vee malah cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aneh sekali kamu ini" Varo menggerutu dan kembali melanjutkan kegiatannya memotongi rumput liar.


Vee mendelik pada ketiga bocil yang sempat mengagetkannya.


"Heh, kalian apain binatang-binatang ini? Kenapa bisa sampai begitu?" tanya Vee lirih dengan ekspresi marah pada HoRoCi.


Mereka malah menggeleng sambil dadah-dadah. Tapi wajah mereka malah seperti sedang ketakutan.


"Kenapa malah ketakutan?" tanya Vee yang merasa aneh.


"Ayo ikut aku" mendengar perintah Vee, ketiganya mengekor saat Vee memasuki rumah.


Berhenti di ruang tamu, Vee duduk di kursi dan menyilangkan kakinya.

__ADS_1


HoRoCi tampak saling pandang satu sama lainnya. Seolah sedang melakukan komunikasi sebelum menjawab pertanyaan Vee.


Vee yang melihatnya jadi semakin merasa aneh, tapi tidak dengan Hideo. Dia hanya menatap lurus pada ketiga bocil setan yang ketakutan.


"Jadi, siapa yang mau menjelaskan sama aku mengenai kulit-kulit binatang yang mengering itu?" tanya Vee penuh selidik.


"Apa masih kurang makanan yang aku kasih ke kalian? Kenapa masih memakan binatang lain?" tanya Vee lagi.


Cukup lama Vee menunggu ketiganya buka mulut, tapi sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang berencana untuk menjelaskan pada Vee.


"Ayo dong bilang, kenapa malah diam?" tanya Vee yang sudah tidak sabaran.


"Bu, bukan kami pelakunya Vee" kata Ho yang sudah menunduk.


"Itu benar Vee, kami kan hanya makan tulang" kali ini Ro sampai ikut bicara.


"Terus, yang ditemukan kak Varo itu apa?" tanya Vee dengan nada rendah, tak berniat untuk marah karena diapun merasa kasihan pada mereka yang ketakutan.


"Bisa kamu tanyakan langsung sama pangeran" kata Ho tanpa mau mengangkat wajahnya.


"Hideo?" tanya Vee lirih, lebih pada dirinya sendiri sebetulnya.


Saat Vee menoleh pada makhluk serupa asap yang tengah melayang di dekatnya, Hideo terlihat sedang menatap lurus pada HoRoCi.


Sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk takut.


"Maksudnya apa sih kak?" tanya Vee yang tak juga mendengar satupun penuturan dari Hideo.


Ditanya begitu, asap ini menoleh pada Vee yang sedang menatapnya penuh.


"Tidak apa-apa" jawab Hideo dengan santainya.


"Jadi kamu mau bilang kalau HoRoCi sedang berbohong?" tanya Vee.


Hideo masih bergeming, dia sendiri bingung harus menjawab bagaimana.


"Ngomong dong, kak" kata Vee sedikit memaksa kali ini.


Berada di posisi terjepit, tidak mungkin Hideo terus-menerus diam. Bisa benar-benar dicurigai oleh Vee.


"Kamu mau saya bicara apa, Vee?" tanya Hideo seolah tak ada beban sama sekali.


Vee mencebik, bisa sekali arwah gentayangan satu ini kalau disuruh ngeles.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2