Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
aku gugup


__ADS_3

Sosok itu kembali menangis, suaranya terdengar sangat menyedihkan dan membuat merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Saya tidak mau lagi bertemu dengan anak saya. Dia terlalu menyakiti hati saya" kata orang tua itu.


Dimana terakhir kali pertemuan mereka, dia melihat Adit yang memilih pergi daripada menolong papanya.


Kaki orang ini tersangkut akar pohon saat berusaha mencari pijakan untuk berenang ke permukaan.


Ditambah rasa perih di keningnya karena rupanya benturan yang dia alami membuat lukanya mengeluarkan banyak darah.


Saat dia pasrah dan menunggu kematiannya tiba. Dalam hatinya hanya tersisa rasa bersalah dan kecewa yang membuatnya lebih memilih kematian daripada berusaha menggapai permukaan.


"Lantas, sekarang kenapa kamu ada disini?" tanya Hideo.


"Sayapun tidak mengerti. Tiba-tiba saja saya bisa berjalan di dalam sungai dan melihat jasad saya sudah membusuk di dalamnya" ujarnya.


"Dan saya yang putus asa mencari jalan untuk pergi ke alam selanjutnya. Tapi saya tidak bisa, saya tidak tahu bagaimana caranya" ucap sosok itu.


Hideo pikir ini memang sudah garisnya untuk mendapatkan energi dari sosok putus asa dihadapannya itu.


"Baiklah, jika memang kamu sudah bertekad untuk pergi ke alam selanjutnya. Coba kamu tatap mata saya" kata Hideo.


Sosok itu menurut, menatap kedua bola mata Hideo tanpa berkedip.


Sedikit berkomat-kamit membaca sebuah mantra dalam hatinya, Hideo kini tengah berusaha menarik semua energi dalam diri sosok ini.


"Aaargh!" sosok itu terlihat sangat kesakitan saat Hideo menghisap habis energi darinya.


Cukup lama terjadi, sosok basah itu sudah tampak mengering dan perlahan berubah menjadi abu yang hilang diterpa angin.


HoRoCi melihat itu dengan bergidik.


Bagaimanapun mereka juga takut saat melihat Hideo dalam mode menghisap seperti itu.


"Pangeran sudah nampak lebih baik" ucap Ho yang masih nampak takut.


"Jangan beritahukan pada Vee" perintah Hideo.


"Tentu, pangeran" ucap HoRoCi bersamaan.


"Sekarang, tugas saya tinggal satu saja. Membuat seseorang menyadari adanya jasad di dasar sungai itu" ucap Hideo sedikit berfikir.


"Ah, saya tahu" gumamnya sambil melayang pergi, dan HoRoCi pun ikut melayang dibelakangnya.


"Mau kemana pangeran?" tanya Ho yang melihat Hideo melewati rumah Vee.

__ADS_1


Rupanya Hideo menuju pos satpam, dan dengan kekuatannya. Hideo merasuki satpam yang sedang berjaga malam itu untuk segera menuju ke arah sungai.


HoRoCi mengerti maksud Hideo, dan mereka hanya membuntuti Hideo yang sudah berada di dalam tubuh satpam itu dan terlihat berlari menuju sungai.


"Woi, mau kemana?" tanya temannya yang terjaga saat Hideo membawa satpam itu pergi.


Dan terjadilah aksi saling mengejar, dua orang satpam berlarian ke arah sungai.


"Kamu mau ngapain kesungai malam-malam begini, Min?" teriak satpam yang ikut berlari di belakang Hideo.


"Saya melihat sesuatu" teriak Hideo melalui tubuh satpam yang dirasukinya.


Aneh memang, tak biasanya temannya ini berkata 'saya'. Tapi demi keamanan bersama, dia tetap setia mengikuti temannya yang sedang berlari.


Hideo menghentikan larinya saat dekat dengan tempat jasad pria putus asa tadi.


Menghidupkan senternya untuk mencari jasad yang terlilit akar pohon.


"Ada apa sih, Min?" tanya Satpam yang ikut menyenteri dasar sungai didepannya.


"Lihat disana" kata Hideo yang membuat satpam itu terbelalak kaget.


"Astaga Tuhan. Ada mayat, Min. Mayat" katanya kaget, sampai menjatuhkan senter ditangannya dan menutupi mulutnya.


Hideo keluar dari dalam tubuh satpam itu, dan membuat tubuh si satpam sempoyongan sebelum pingsan ditepi sungai.


"Tinggalkan saja mereka" kata Hideo yang melayang pergi dari tepi sungai.


Dia merasa tugasnya sudah cukup untuk membuat irang lain tersadar jika ada mayat di dalam sungai.


★★★★★


"Kamu tidak ada kegiatan hari ini, Vee?" tanya Hideo yang melihat Vee sudah nampak rapi dengan kamera di tangannya.


"Nggak ada kak. Sebenarnya ada class meeting saja di sekolah. Tapi aku malas. Aku mau pergi ke sekitar daerah sini saja. Mau hunting Foto bagus di lereng bukit" kata Vee sambil menaik turunkan alisnya.


Hideo mengamati penampilan Vee pagi ini.


Tubuh tinggi semampai untuk ukuran seorang wanita. Tubuh Vee terlalu sedap dipandang jika saja dia tidak menutupi bagian-bagian terindah dari seorang wanita yang nampak sangat menonjol dalam dirinya.


Kaos oversize lengan pendek dan celana jeans selutut. Ada tas ransel teronggok di belakang pundaknya dan tas slempang kecil untuk tempat hape dan uang.


Topi biru menjadi penghias kepalanya dengan rambut dikuncir kuda. Membuat rambut bergelombangnga tak bisa bergerak bebas.


Tak lupa kacamata berwarna coklat menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Kamu terlihat, berbeda hari ini Vee" kata Hideo.


"Kenapa, aku cantik ya kak? Sebenarnya itu sudah dari dulu kak. Hanya saja kamu terlalu fokus pada kecerobohanku hingga kamu tidak bisa melihat sisi lain dariku yang sebenarnya sangat cantik" Vee berujar sangat percaya diri kali ini.


Tapi memang dia sangat cantik. Hideo sampai tak berkedip melihat penampilan Vee hari ini.


"Jangan melihatku seperti itu, kak. Aku jadi GR" kata Vee salah tingkah.


"Tapi kamu memang sangat cantik, Vee" Hideo melayang mendekat pada Vee yang sedang bercermin, berdiri di belakang tubuh Vee.


Dalam posisi seperti ini, tinggi Vee hanya sebatas telinga Hideo yang jika dalam keadaan berdiri normal.


"Apa?" tanya Vee berlagak ketus.


Hideo masih saja terpesona pada kecantikan Vee yang hanya memakai pelembab dan krim anti sinar matahari. Tapi wajah putihnya terlihat sangat menyenangkan.


Lama beradu pandang dengan Hideo membuat hati Vee berdegub tak beraturan. Karena ini adalah pertama kalinya dia bertatapan dengan lawan jenis.


Selama ini Vee tidak pernah berpacaran. Mungkin para pria akan merasa takut untuk mendekati Vee karena ada Varo dan Kenzo yang menjadi pawang Vee selama ini.


"Emh, itu. Anu, aku mau berangkat" kata Vee yang masih salah tingkah.


Meski hanya dalam wujud asap, tak dipungkiri jika Hideo memiliki wajah yang tampan rupawan.


Tak heran jika para gadis di zamannya berebut untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Kamu berdebar, Vee?" tanya Hideo yang tak menyadari jika Vee sangat malu.


"Nggak ada ya" jawab Vee galak.


"Minggir sana, menghalangi jalan saja" kata Vee yang menerobos Hideo hingga berceceran, tapi kembali asap itu bersatu lagi menjadi sosok pria tampan.


Vee melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak. Memperjelas jika dia sedang ngambek.


"Mau jalan kaki, Vee?" tanya Hideo yang masih setia mengekor.


"Kan aku sudah bilang kalau mau hunting foto disekitar bukit ini. Ya jalan kaki saja lah kak, nggak jauh juga kan" Vee masih saja menggerutu.


"Cerewet sekali" kata Hideo sambil memegang telinganya.


Vee hanya melirik tajam, dan meneruskan langkahnya menuju hutan lindung di dekat rumahnya.


Hanya perlu berjalan lebih jauh ke atas bukit ini untuk mendapatkan pemandangan liar biasa yang bisa melihat seluruh kota dari atas bukit ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2