
"Gawat! Bisa telat kalau kayak gini." Xora melirik arloji. Lima menit waktunya untuk sampai di restoran mewah untuk bertemu klien yang sudah dijadwalkan jauh hari. Kabarnya, klien yang satu ini tidak boleh dikecewakan. Very very very important person. Istimewa. Dan sangat perfeksionis.
"Pak, saya turun di sini aja. Ini uangnya," cetus Xora sembari buru-buru membuka pintu taksi kemudian setengah berlari menuju lokasi.
"Tenang, Xora. Tempatnya di depan sana. Tinggal sebentar lagi. Ayo bertahanlah, reputasimu dipertaruhkan di sini," gumam Xora sambil menyemangati dirinya sendiri.
Bunyi bel panjang membuatnya berhenti di tengah jalan saat akan menyeberang. Kemudian disusul dengan makian mengerikan dari orang di dalam mobil barusan. Dengan wajah bodoh, Xora meminta maaf sembari berjalan ke pinggir.
"Brengsek!" umpat Xora. Sambat lagi.
Xora berhenti tepat di sebuah restoran bintang lima. Ia menenangkan diri sebentar sambil menetralkan debit keringatnya yang tadi mengucur deras. Dengan selembar kertas dari dalam tas ia mengipasi wajah dan rasanya ingin sampai ketiak juga. Untung ia masih bisa menahan diri. Jika tidak, mungkin bentuknya sudah seperti … ah sudahlah tidak usah dibayangkan.
Gadis itu mengedarkan pandangan, mencari kliennya yang akan melaksanakan pernikahan bulan depan. Ciri-cirinya cantik. Oke, menurut Xora, dirinya pun cantik. Sayangnya hanya ciri-ciri ini yang keluar dari mulut Reno--rekan kerjanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
Xora terperanjat. Seorang wanita berpakaian rapi menyapanya dari belakang.
"Oh, saya mau ketemu klien."
"Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya wanita itu dengan sopan.
__ADS_1
"Kania Wiratama."
Seakan langsung paham, wanita berseragam itu langsung mengangguk. "Di meja nomor lima. Yang pakai baju putih. Itu Mbak Kania."
Xora mengikuti petunjuk itu. Dari tempatnya berdiri, ia melihat wanita dengan pakaian putih duduk membelakanginya. "Makasih banyak, ya, Mbak," balas Xora sambil berjalan masuk. Sesekali ia mencuri pandang ke dinding restoran yang didominasi oleh cermin-cermin antik gaya eropa. Sebagai seorang wedding organizer, penampilan adalah hal utama, harus meyakinkan. Kemudian cara bicara juga harus diperhatikan. Jika tidak, klien tinggal kenangan.
"Selamat siang, Mbak Kania," ucap Xora sesaat setelah sampai di meja Kania. Wanita itu mendongak dan tersenyum sinis kepada Xora.
Pertanda ketidaksukaan. Jika ini adalah sebuah games sejenis dinner dash, kemungkinan gambar hati di atas kepalanya sudah berkurang satu.
"Maaf saya agak terlambat," kata Xora kemudian.
"Tidak apa-apa. Silahkan duduk," balas perempuan berambut panjang bergelombang itu. Masih tanpa senyum.
"Saya mau pernikahan yang mewah, megah, memesona semua pengunjung," celetuk Kania tiba-tiba. "Nuansanya merah marun dan emas," lanjutnya.
Xora masih mendengarkan kliennya itu dengan seksama.
"Sudah."
"Sudah?" ulang Xora sambil mengulang kata sudah milik Kania.
__ADS_1
"Iya. Sudah. Sudah selesai. Saya percayakan semua sama kamu. Kamu direkomendasikan karena reputasimu di atas rata-rata. Jangan buat aku kecewa," ungkap Kania. "Oh ya, dekorasi dan lainnya memang saya serahkannsemuanya ke kamu. Tapi tidak untuk kateringnya. Minggu depan kita meeting di sini. Bawa orang katering terbaik di kota ini. Oke? Saya harus pergi sekarang. Ada meeting setengah jam lagi." Kania tersenyum tipis ke arah Xora kemudian pergi meninggalkannya melongo. Melongo karena belum ada satupun kata pembuka yang keluar dari mulut Xora. Kemudian, ia masih melongo karena berhadapan dengan Kania Wiratama ternyata tidak sesulit yang dibicarakan rekan-rekannya.
Gadis berambut lebatssebahu itu mengambil ponsel di dalam tas, lalu menekan nomor telepon Reno. Tak lama berselang, nada sambung beralih menjadi kata 'Halo' dari mulut Reno.
Xora : Ya Halo
Reno : Gimana? Udah ketemu Tuan puteri Kania Wiratama?
Xora : Udah.
Reno : Terus … terus?
Xora : Ya udah. Pokoknya beres. Nggak sesulit kayak yang kamu ceritain lah pokoknya.
Reno : Ah, itu sih belum aja.
Xora : Tenang. Dia enggak seserem yang kalian bayangin, kok. Nggak seserem bapaknya pokoknya. Ya udah, biar aku yang handle dia.
Reno : Serius? Ya ampun Xora. Makasih ya. Nanti aku traktir deh.
Xora langsung menutup panggilan telepon begitu kata traktir keluar dari mulut Reno.
__ADS_1